
Suro dan Dewa Rencong terus melesat ke arah kanan. Dengan adanya Naga Taksaka membuat perjalanan mereka lebih cepat.
Mereka melesat sampai sebegitu jauh tetapi tidak menemukan apapun didepan mereka. Mereka bahkan sudah melewati daerah pegunungan yang terbentang lumayan panjang. Tetapi mereka tidak menemukan tanda apapun yang berhubungan dengan Dewa Pedang maupun Dewi Anggini. Mereka hanya menemukan fakta jika semua daerah itu dipenuhi hawa kegelapan.
"Kenapa langit terlihat begitu gelap tidak terlihat apapun? Apakah di alam ini tidak ada matahari atau bintang, paman?"
"Entahlah, mungkin karena hawa kegelapan menutupi udara sampai ke langit, sehingga membuat kita tidak dapat melihat apapun diatas sana."
"Benar juga apa yang paman katakan sangat masuk akal. Tetapi ngomong-ngomong kita sudah melesat sampai jarak yang sudah cukup jauh paman. Bahkan sampai dijarak yang sejauh ini pun, kita tetap tidak menemukan apapun. Apakah kita akan melanjutkan perjalanan ini, paman?"
"Memang kira-kira berapa jauh jarak yang sudah kita tempuh, bocah? Aku sepertinya terlalu asik mencoba merasakan kecepatan kekuatan langitku ini sampai lupa mengira-ira."
"Mungkin sudah lebih dari lima puluh li, paman!"( 1 li setara dengan 500 meter)
"Terlalu jauh, kita tadi diserang tidak lebih dari jarak sepuluh li. Sebentar kita akan berbalik arah dahulu. Sebab tadi pada jarak sekitar lima belas li dari tempat makhluk yang kamu habisi. Aku sekilas melihat seperti bekas pertempuran. Aku ingin memastikannya kembali. Mungkin saja kita akan menemukan sesuatu petunjuk."
"Benar sekali paman, itu patut kita pastikan kembali. Semoga saja kita akan mendapatkan petunjuk. Naga Taksaka, kembali ke arah sebelumnya!" Suro kemudian memerintahkan Naga Taksaka untuk berbalik arah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk berbalik arah, kembali ketempat yang sebelumnya sudah mereka lewati. Sampai ditempat yang di perkirakan, Suro kemudian memerintahkan Naga Taksaka untuk melenyapkan hawa kegelapan disekitar area itu. Setelah semua terlihat lebih jelas, sesuai dugaan Dewa Rencong memang ditempat itu terlihat bekas pertempuran.
Seluruh tempat di alam itu walaupun hawa kegelapan sudah dibersihkan oleh Naga Taksaka, kondisinya memang tidak bisa sejelas seperti siang hari. Karena kondisi alam itu seperti saat senja kala saja. Hal itu disebabkan cahaya yang masuk terlalu minim, sehingga suasana alam itu terasa kelam.
Suro kemudian membebaskan Naga Taksaka setelah melaksanakan perintahnya barusan. api hitam itu yang berbentuk Naga itu kemudian menghilang, setelah Lodra si jiwa dari api itu mengijinkannya untuk padam.
"Seperti dugaanku tempat ini hancur setelah berkali-kali diserang hantaman berpuluh-puluh genggaman tangan makhluk yang baru saja kamu habisi bocah."
"Aku yakin disinilah adimas Dewa Pedang dikirim. Lihatlah jejak energi tebasan pedang menyebar di area ini. Kemungkinan jarak antara kita dan adimas terpisah lebih dari dua puluh lima li, pantas saja kita tidak mampu mendeteksinya." Dewa pedang menatap ke seluruh area yang terlihat hancur lebur.
Suro ikut memeriksa seluruh area itu dengan lebih teliti, mencoba mencari jejak yang mungkin saja dapat menjadi petunjuk bagi mereka.
Disekitar tempat mereka berdiri penuh dengan bekas hantaman benda yang terlihat seperti sebuah kepalan tangan yang besarnya setara dengan seekor gajah dewasa. Selain bekas pukulan terlihat juga jejak energi pedang yang sangat kuat, sehingga daratan itu seperti terpangkas dan juga tertebas, sehingga membuat tanah terbelah cukup dalam.
"Lihatlah paman, ada jejak kaki hewan disini."
Dewa Rencong segera mendekat ke arah Suro. Setelah sampai ditempat yang ditunjuk Suro, dia kemudian mencoba mengingat-ingat hewan yang memiliki tapak kaki seperti yang terlihat.
"Hewan jenis apa ini? Bentuk telapaknya mirip telapak kaki Badak, tetapi ukurannya seperti kaki Gajah."
"Mungkin saja paman, jika pemilik tapak kaki ini bentuknya memang menyerupai Badak. Bukankah makhluk yang ada di alam ini tidak ada yang wajar, tidak bisa disamakan dengan hewan yang ada di alam kita."
"Ini juga ada tapak kaki yang lain. Tetapi bentuknya seperti kaki burung. Jika melihat dari ukurannya makhluk ini lebih besar dari pada seekor burung unta." Dewa Rencong memandang tapak kaki itu, yang menyebar di sekitar area itu.
Dewa Rencong kemudian kembali menemukan beberapa telapak kaki yang bentuknya berbeda dan ukurannya jauh lebih kecil dari pada telapak kaki yang sebelumnya.
"Telapak kaki ini berbeda dengan yang lain." Dewa Rencong berjongkok untuk melihat lebih jelas. Mendengar perkataan lelaki yang berumur lebih dari setengah abad itu, Suro menjadi penasaran, dia kemudian berjalan mendekat untuk ikut memeriksa.
"Benar!"
Setelah membaca seluruh tapak kaki disekitar bekas pertempuran, mereka mengambil kesimpulan, jika sebelumnya Dewa Pedang dan Dewi Anggini ada ditempat itu. Mereka juga menyimpulkan jika semua jejak kaki menuju ke arah utara.
"Kita ikuti jejak telapak kaki makhluk yang bentuk tapaknya seperti tapak Badak ini. Setelah tapak kaki yang paling besar ini mengarah ke utara. Karena semua tapak kaki selain yang mirip kaki badak tidak diketahui jejaknya kecuali hanya ditempat itu."
Mereka kemudian mengikuti jejak yang menuntun mereka ke arah utara. Kali ini mereka tidak terbang di udara, karena harus membaca jejak yang tertinggal di daratan.
Setelah sekian lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di celah diantara dua gunung.
"Apa aku tidak salah dengan apa yang aku lihat? Ini seperti sebentuk sebuah jalan. Walau jalan ini seperti jalan setapak. Tetapi ini menandakan, jika alam ini ada penghuninya."
"Mungkinkah ada penduduk yang menghuni alam ini? Sepertinya perjalanan ini tidak sesederhana yang kita pikirkan sebelumnya." Dewa Rencong menggaruk-menggaruk kepalanya sambil melihat jalan setapak yang membentang.
Daratan disekitar mereka tidaklah berpasir seperti gurun. Tetapi tanah di daratan itu terlalu kering, sehingga bekas orang yang lalu lalang melewati tempat yang sama akan membentuk jalur sebuah jalan.
"Kita ikuti saja jalan ini paman, mungkin kita akan mendapatkan sesuatu petunjuk mengenai alam ini?"
"Tetapi tunggu sebentar paman, lima puluh tombak dibelakang kita ada yang datang mendekat. Mereka seperti sebuah rombongan."
"Sebaiknya kita sembunyi dahulu, kita akan ikuti mereka secara sembunyi-sembunyi. Jika mereka makhluk penghuni alam ini pasti akan membantu kita menemukan kota atau minimal menemukan tempat dimana kelompok mereka berkumpul."
"Semoga saja itu akan membantu kita mengantarkan kepada keberadaan adimas Dewa Pedang dan tetua Dewi Anggini."
Dewa Rencong kemudian mengajak Suro bersembunyi dibalik batu besar. Selang tidak beberapa lama dari kejauhan Suro merasakan rombongan makhluk semakin mendekat ke arah mereka berdua.
Mereka kemudian melihat iring-iringan makhluk yang memiliki ukuran dua kali gajah dewasa. Secara keseluruhan binatang itu ada empat ekor.
Bentuk makhluk itu mirip badak dari jaman purbakala. Selain cula yang ada diujung hidungnya, dilehernya terdapat semacam perisai yang dipinggirnya tumbuh tanduk lebih dari empat buah, sehingga perisai itu hampir menyerupai kipas. Namun binatang itu memiliki gigi justru mirip seekor serigala. Dengan itu telah menegaskan, jika binatang itu adalah jenis makhluk pemakan daging.
Di atas setiap punggung binatang itu ada makhluk lain yang menaikinya. Bentuknya tak kalah mengerikan dibandingkan tunggangannya.
Makhluk diatas punggung binatang itu setinggi hampir satu tombak. Kepalanya memiliki tanduk seperti seekor domba. Taring-taringnya terlihat mencuat keluar dari mulutnya. Entah makhluk apa tetapi seperti perpaduan antara manusia setengah iblis atau setengah binatang. Mereka juga memiliki ekor sedikit mirip seperti ekor ikan pare. Dipunggung nya menggantung sebuah pedang dan beberapa dari mereka membawa busur di punggungnya.
Pakaian yang dikenakan sepenuhnya terbuat dari semacam kulit binatang yang sebagian permukaannya dilapisi semacam duri-duri dari logam. Mereka semua ada berdelapan, karena setiap satu binatang itu dinaiki dua orang.
'Lihat telapak kaki mereka yang menaiki binatang itu. Bukankah itu sangat mirip tapak kaki burung yang kita temukan ditempat yang sebelumnya paman?' Suro berbisik kepada Dewa Rencong yang berada disampingnya.
"Benar, berarti kita menuju tempat yang tidak salah. Jika membaca dari jejak yang ditinggalkan ditempat sebelumnya, paman yakin kemungkinan besar adimas Dewa Pedang dan tetua Dewi Anggini telah di tawan oleh makhluk seperti mereka. Entah bagaimana ceritanya aku yakin dengan hal itu?"
Mereka berdua kemudian bergerak mengikuti rombongan binatang yang barusan lewat dari jarak yang tidak mereka sadari. Sebab Suro dan Dewa Rencong mengintai rombongan itu dari tempat di ketinggian.