SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 192 Kota Mati



Suro dan Dewa Rencong menatap dari kejauhan rombongan makhluk yang mereka ikuti. Setelah melewati celah diantara dua gunung yang menjulang tinggi, mereka kemudian memasuki semacam gerbang dari bagian sebuah benteng besar. Benteng itu menutup celah diantara gunung yang menjulang tinggi. Begitu luar biasanya benteng itu, memiliki tinggi hampir setengah dari tebing yang merupakan gunung yang menghimpit celah itu.


Setelah mereka memasuki gerbang itu, sebuah pemandangan lain segera terpampang didepan mata. Pemandangan itu benar-benar membuat mereka berdua berdecak kagum.


"Bangunan apa itu paman banyak sekali dan terlihat begitu megah? Dengan melihat begitu banyaknya bangunan terlihat seperti sebuah kota kerajaan? Tetapi sepertinya tempat ini sudah sangat lama ditinggalkan dan terkesan tidak terurus."


"Aku rasa itu semacam tempat pemujaan atau semacam candi. Tetapi entahlah mungkin saja memang ini adalah sebuah kota kerajaan kuno yang sudah tidak lagi ditinggali. Dan bangunan itu kemungkinan adalah rumah para penduduk." Dewa Rencong menatap pemandangan dibawahnya yang menyebar di seluruh lembah dibalik gunung.


"Entah bagaimana cara membangunnya? Apa mungkin itu dibuat oleh makhluk-makhluk seperti yang barusan kita lihat? Tetapi aku meragukannya. Apa lagi bangunan itu dibuat dengan begitu indahnya. Lihatlah betapa besar dan mengagumkannya setiap bangunan yang berdiri. Bagaimana mungkin ditempat seperti ini ada bangunan menjulang tinggi dengan begitu indah dan megahnya?" Dewa Rencong terlihat berpikir keras mencoba mencerna apa yang dia lihat.


Dewa Rencong dan Suro masih mengawasi dari ketinggian, sehingga pandangan mata mereka mampu menjangkau ke tempat yang lebih jauh. Mereka masih terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat. Karena sepanjang mata memandang, seluruh lembah yang sangat luas itu, dipenuhi bangunan yang bentuknya tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Dewa Rencong dan Suro memutuskan turun untuk melihat lebih jelas kota mati yang baru saja mereka berdua temukan. Mereka juga ingin mengetahui alasan rombongan yang mereka ikuti datang ke tempat seperti itu.


Rombongan itu melewati tempat yang di kanan dan kirinya penuh dengan semacam bangunan berbentuk punden berundak atau justru seperti piramid dan juga beberapa menara. Tinggi bangunan itu beraneka ragam. Tinggi bangunan terkecil hampir tiga kali rumah pada umumnya.


Rata-rata bangunan itu sebesar bukit. Bentuk punden berundak mirip peninggalan kebudayaan Megalitikum atau jaman batu besar. Jaman yang sudah berlangsung sejak sekitar dua ribu lima ratus tahun sebelum masehi.


Jika peninggalan pada jaman Megalitikum menyebar diseluruh dunia banyak yang hanya berupa sarkofagus atau peti batu, dolmen(meja batu), menhir(tugu batu) dan juga archa batu yang berukuran besar. Tetapi bangunan yang mereka berdua saksikan, justru lebih dari itu.


Sebab meskipun sama-sama bangunan yang terbuat dari batu, tetapi apa yang mereka saksikan sesuatu yang dibuat begitu indah. Karena selain bangunan besar berbentuk piramid ditempat itu juga terdapat patung-patung besar yang menghiasi sepanjang jalan itu. Tinggi patung itu melebihi tinggi sebuah rumah atau sekitar tiga tombak.


Walaupun kondisi sebagian patung itu sudah tidak utuh. Tetapi patung yang berdiri dengan gagahnya itu masih memperlihatkan betapa mengagumkan cara pembuatannya yang sangat mendetail.


Patung ini memperlihatkan sesosok wujud yang menyerupai manusia dengan pakaian kebesaran layaknya para raja besar. Semua terlihat bertelanjang dada. Reruntuhan bangunan dan patung-patung batu itu terlihat berserakan disepanjang jalan dan seantero tempat itu.


Terlihat juga beberapa menara yang kebanyakan sudah rubuh tinggal sebagian bangunannya saja yang masih berdiri.


Lembah luas itu kemungkinan dahulunya pernah berdiri sebuah bekas kerajaan besar. Pemilihan lembah itu menjadi sebuah ibukota kerajaan, boleh jadi karena tempatnya yang strategis untuk menghalau musuh. Sebab lembah itu sepenuhnya dikelilingi oleh benteng alam berupa gunung. Pegunungan itu benar-benar benteng alam yang sangat sempurna untuk menahan musuh.


Kota mati itu seperti sebuah kerajaan kuno yang sudah lama tidak ditinggali. Jika melihat begitu luar biasanya setiap bangunan, maka bisa dibayangkan betapa megahnya kota itu saat masih ada penghuninya.


Entah mengapa sejauh mereka mengikuti rombongan itu mereka berdua tidak melihat ada satu pohon pun yang tumbuh. Entah bagaimana para makhluk dan termasuk Suro mampu bernafas. Walaupun sejak kedatangan mereka adanya hawa kegelapan membuat nafas mereka tidak nyaman, tetapi mereka masih bisa bernafas seperti biasanya.


Mereka terus berjalan melewati tempat itu tanpa ada siapapun yang ditemui. Seakan tidak ada makhluk lain selain rombongan yang dikuntit Suro.


"Ini terasa aneh apakah dulu tempat ini pernah berdiri sebuah kerajaan besar?" Dewa Rencong menatap masih dengan wajah takjub.


Mereka berdua berjalan cukup berhati-hati agar tidak diketahui. Mereka berjalan dengan sembunyi dibalik patung-patung yang berjejer rapi di sepanjang jalan yang mereka lalui.


"Wajah dari patung-patung ini mirip seperti manusia pada umumnya. Apakah di alam ini juga dihuni para manusia sebelumnya?" Melihat wajah dari setiap patung itu mirip manusia, membuat Dewa Rencong bertanya-tanya.


Setelah cukup jauh mereka berjalan, kini dihadapan mereka terlihat sebuah benteng berikutnya yang sangat megah. Benteng itu setinggi lebih dari sepuluh tombak.


'Paman kita sepertinya tidak bisa mengikuti lebih dari ini jika melewati darat. Lihatlah ada beberapa penjaga yang wujudnya seperti kera.' Suro berbisik kepada Dewa Rencong yang ikut bersembunyi dibalik potongan kepala patung raksasa yang tergeletak ditempat itu.


Didepan gerbang yang dimasuki oleh rombongan yang mereka kuntit, terlihat dijaga lebih dari selusin manusia setengah kera yang berukuran cukup besar. Tinggi makhluk itu lebih dari dua kali tinggi Dewa Rencong.


"Lihatlah di ujung langit sana apakah kamu melihatnya?" Dewa Rencong justru memperhatikan sebuah penampakan lain yang lebih menarik bagi dia untuk diperhatikan.


Pemandangan yang mampu mereka lihat dari kejauhan itu tidak lain, adalah penampakan sesuatu yang mirip pusaran asap hitam yang keluar dari balik dinding tembok benteng. Asap itu membumbung tinggi sampai ke langit kemudian menyebar ke segala arah.


"Apa itu paman, seperti cerobong asap tebal?"


"Menurutku itu bukan hanya asap biasa, tetapi itu adalah sumber dari seluruh hawa kegelapan yang ada di alam ini." Dewa Rencong menjawab sambil tetap bersembunyi dibalik potongan patung yang tergeletak.


Saat mereka memperhatikan kepulan asap hitam yang sangat pekat membumbung tinggi, ada makhluk lain yang muncul dari atas langit.


"Lihat paman makhluk yang baru saja turun dari langit itu, agaknya aku pernah melihatnya dalam kaca benggalaku. Aku masih mengingatnya, karena bentuknya yang unik mudah untuk diingat. Makhluk itu pernah aku lihat berada didekat singgasana eyang guru." Suro menunjuk satu makhluk yang baru saja turun dari langit.


Makhluk yang ditunjuk Suro itu memiliki sepasang sayap seperti kelelawar. Di dahinya terlihat mencuat sepasang tanduk seperti tanduk sapi. Makhluk itu juga memiliki ekor seperti sapi. Karena kulitnya begitu hitam, sehingga seolah mereka sedang melihat sebuah bayangan saja.


Selang beberapa saat kemudian, jenis makhluk yang sama datang dengan berduyun-duyun. Makhluk bersayap yang baru saja datang itu jumlahnya lebih dari dua lusin. Mereka yang baru datang langsung menghilang di balik benteng yang menjulang tinggi.


Satu makhluk yang pertama kali datang seperti menjadi pengawas. Dia masih terlihat diatas benteng. Matanya seakan mengawasi sekitaran benteng. Pandangannya menyapu keseluruh sisi dihadapannya seperti sedang mencurigai sesuatu.


"Apakah dia melihat kita paman? Matanya yang berwarna merah menyala, seperti sedang menatap ke arah sini?"


Suro dan Dewa Rencong yang bersembunyi dibalik kepala besar patung raksasa yang tergeletak, tidak sepenuhnya mampu menyembunyikan tubuh mereka berdua. Apalagi jika dilihat dari atas benteng yang setinggi itu.


Kwaak! Kwaak!


Makhluk yang diatas benteng itu seperti memberi perintah kepada manusia setengah monyet yang berada didepan gerbang benteng. Sebab setelah makhluk itu bersuara, makhluk yang menyerupai monyet itu berlari ke arah Suro.


Mereka berlari dengan menggunakan empat tangannya. Ada setengah lusin manusia monyet yang bergerak cepat ke arah Suro.


"Sebaiknya kita menghindari pertempuran, karena aku masih ingin mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya disembunyikan dibalik benteng itu? Aku ingin mencari tahu terlebih dahulu sumber dari hawa kegelapan yang membumbung tinggi sampai ke langit. Bukankah penampakan yang sangat ganjil itu pantas kita selidiki?" Dewa Rencong menatap Suro, seakan ingin mendapatkan jawaban. Suro hanya mengangguk setuju dengan apa yang dipikirkan pendekar disebelahnya.


Dewa Rencong kemudian mengajak Suro berpindah tempat dengan cepat. Mereka melakukan itu, sebelum para manusia kera sampai ditempat mereka berdua bersembunyi.


"Nguk-nguk!" Para monyet itu seakan memberi tahu ke arah makhluk bersayap kelelawar itu, jika mereka tidak menemukan apapun.


"Kwaak! Kwaak!"


Tetapi manusia kelelawar itu seakan tidak percaya. Kemudian para monyet raksasa itu kembali memeriksa disekitar tempat itu. Mereka terlihat menengok kanan kiri dan mengendus-endus melalui lubang hidungnya yang besar.


Para monyet itu kemudian menyebar mencoba mencari tahu. Ada satu monyet yang berjalan mengikuti jalur yang dilalui Suro dan Dewa Rencong. Beruntung mereka berdua sudah bergerak mundur cukup jauh.


"Nguk! Nguk!"


Tetapi monyet itu tidak melanjutkan pencariannya, dia memilih berbalik arah. Agaknya suara monyet dari arah lain yang terdengar barusan, memberi perintah untuk semua kembali ke pintu gerbang.


Manusia kelelawar kemudian menghilang di balik tembok benteng menyusul manusia kelelawar lain yang telah mendahuluinya.


"Syukurlah mereka tidak meneruskan pencarian." Suro terlihat bernafas lega, setelah para monyet itu kembali kedepan gerbang. Bersama Dewa Rencong mereka bersembunyi di sebuah lorong dibawah punden berundak yang cukup besar.


"Bangunan ini sangat menarik, mungkin kita bisa menyelidiki dari sini saja dahulu. Mungkin kita akan mendapatkan sesuatu mengenai kota mati ini? Aku mencurigai jika sebelumnya alam ini tidak seperti ini, sebelum hawa kegelapan memenuhi alam ini." Dewa Rencong menatap ke arah lorong gelap dibawah bangunan punden berundak tempat mereka sembunyi.