
"Kalian tidak akan memahami bagaimana rasanya terpisah setelah ribuan tahun lamanya? Aku jamin kalian tidak akan sanggup menanggungnya, karena rasanya itu terlalu berat," gumaman Raja siluman lebah iblis mengiringi lesatan tubuhnya.
Dia sudah tidak menggubris lagi makian para siluman yang lain, dia sudah memantapkan hatinya. Tubuhnya tetap melesat ke arah Suro. Kemudian siluman itu mendadak lenyap, setelah berjarak kurang lebih setengah depa di depan Suro.
Setelah kejadian itu, Suro mengerutkan dahinya menatap ke arah Geho sama. Dia masih belum memahami tindakan yang dilakukan Geho sama barusan.
Sebab keputusannya untuk tidak menghabisi dan justru membiarkan Raja siluman lebah iblis itu berkumpul kembali dengan ratunya terasa sedikit janggal. Karena jika dia mau, seharusnya Geho sama dapat menghabisinya sejak awal. Meskipun musuh memiliki kekuatan tingkat surga.
"Kekerasan bukan satu-satunya cara untuk menaklukkan lawanmu." Geho sama tersenyum ke arah Suro, karena dia mengetahui apa yang sedang dipikirkan tuannya itu.
'Ternyata isi kepalanya sudah ada perbaikan setelah banyak bersemadhi.' Suro tertawa mendengar kata-kata bijak keluar dari manusia setengah siluman itu.
Selang tidak beberapa lama Raja siluman lebah iblis kembali muncul sambil menyerahkan mustika jiwa miliknya kepada Suro. Setelah itu dia kembali lenyap masuk kedalam pusaka yang berada di tangan Suro.
Dengan menyerap mustika jiwa milik siluman lebah, kini Suro merasakan ada perubahan di dalam tubuhnya. Dia mengalami peningkatan kekuatan. Sehingga kekuatan tingkat surga miliknya akhirnya menembus lapis kedua.
"Satu masalah telah selesai, sekarang waktunya bagi kita untuk menghabisi mereka yang tersisa!"
"Aku yakin tuan Suro sanggup menghadapi laba-laba itu!"
Geho sama lalu melesat hendak membantu Dewa Rencong. Karena dari kejauhan pendekar dari bukit Lamreh itu terlihat sudah cukup kewalahan menghadapi siluman Harimau yang terus menyerangnya.
Suro menganggukkan kepala. Pusaka sarang lebah iblis lalu lenyap dari tangan Suro. Dia telah menyimpannya dalam dimensi, dimana hanya dia sendiri yang dapat membukanya.
"Kalian mencari lawan yang salah!" Teriakan Geho sama masih terdengar oleh Suro. Demi mencegah terjadi hal yang buruk, Suro segera memberikan saran, agar mereka berdua dapat menghabisi para siluman harimau dengan cepat.
"Gunakan pedang cahaya api biru atau putih untuk menghadapi para siluman itu! Jika tidak, gunakan jurus Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi!"
Suro teringat pengalamannya saat bertempur melawan para siluman di Banyu Kuning. Karena pada saat itu dengan dua tehnik tersebut dia dapat menghabisi para siluman. Apalagi saat ini dua tehnik itu telah dikuasai baik oleh Geho sama maupun Dewa Rencong.
"Aku lebih memilih menggunakan tehnik empat sage. Sangat disayangkan kekuatan mereka dapat meningkatkan kekuatanku!" Geho sama berteriak membalas seruan Suro sambil melesat menyerang siluman harimau.
"Benar, dengan jurus itupun mereka juga dapat dihabisi," Suro menggumam pelan sambil menatap Geho sama yang berhasil menyerang siluman Harimau.
**
Saat Suro sedang sibuk memberi saran cara mengalahkan siluman kepada yang lain, siluman laba-laba iblis mendapatkan celah untuk menyerang Suro. Dia segera menggunakannya dengan melesatkan anak panah yang keluar dari mulutnya.
Trang!
Anak panah miliknya akhirnya berhasil menghantam tubuh Suro bagian dada, namun sesuatu hal ganjil terjadi. Sebab saat menghantam, terdengar suara berdenting dan anak panah yang dia lesatkan justru terpental seperti menghantam sesuatu yang sangat keras.
"Mustahil anak panahku tidak dapat menembus tubuhnya!" Anak panah yang terpental itu kemudian dia tarik kembali dengan menggunakan sulurnya.
Siluman laba-laba itu cukup terkejut melihat sesuatu yang tidak dapat dipercaya. Dia tidak mengetahui dibalik pakaian Suro terdapat zirah Kavcha melindungi tubuhnya. Tetapi siluman itu masih penasaran dengan kejadian barusan, dia kembali menghujani tubuh Suro dengan anak panahnya.
Kekuatan anak panah siluman itu selain sangat beracun juga memiliki ketajaman dan kekerasan melebihi baja. Karena itulah dia tidak mempercayai dengan kejadian barusan. Dia kembali menyerang dengan jurus yang sama untuk memastikan jika anak panahnya benar-benar tidak mampu menembus tubuh Suro.
"Oh, ternyata kau dapat menembus jurus pedang terbang dan juga Naga Taksaka milikku!"
Sebenarnya sejak tadi siluman itu terus dibuat sibuk oleh Suro selama dia membantu Geho sama, yaitu dengan menggunakan Naga Taksaka dan juga serbuan puluhan pedang terbang miliknya.
Untuk menghadapi puluhan pedang terbang milik Suro, siluman itu tidak terlalu pusing, karena dia juga memiliki jurus pedang terbang juga. Namun dia cukup dibuat kerepotan dengan keberadaan jurus api hitam yang seolah memiliki nyawa sendiri itu.
Bilah pedang terbang yang digunakan siluman laba-laba bentuknya sedikit unik, karena sebenarnya bilah pedang itu adalah anak panah yang selalu dia lesatkan dari mulutnya.
Walaupun itu adalah anak panah, namun memiliki bentuk yang tidak seperti anak panah yang biasanya. Sebab bentuknya pipih melebar dan ujungnya tidak mirip mata anak panah, namun secara keseluruhannya lebih mirip sebuah bilah pedang. Jurus pedang terbang yang dikerahkan siluman itu bergerak dengan menggunakan sulur yang keluar dari mulutnya.
Sulur itu sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh siluman itu. Tetapi tehnik itu dapat ditiru oleh Suro, ia berhasil mengganti sulur laba-laba dengan benang chakra. Hal itulah yang membuat Suro akhirnya berhasil menciptakan jurus seratus pedang terbang.
Suro yang melihat serbuan hujan anak panah dari siluman laba-laba segera menggunakan puluhan pedang terbang miliknya untuk menangkis. Andai saja puluhan bilah pedang milik Suro hanya pedang biasa, maka pedang itu akan hancur terkena zat asam dan racun yang melumuri bilah pedang milik siluman laba-laba.
"Sudah tidak ada yang aku pelajari darimu! Ternyata hanya seperti ini jurus pedang terbang dari kitab laba-laba iblis. Aku tidak melihat hal yang istimewa, meski dimainkan oleh pemiliknya sendiri!"
"Bagaimana kamu mengetahui mengenai kitabku yang hilang? Jangan-jangan jurus pedangmu...?"
"Aku sudah membaca seluruh isi kitab laba-laba iblis milikmu. Aku sengaja mengulur waktu untuk melihat dirimu memainkan jurus pedang terbang yang kau milikmu! Ternyata hanya biasa saja. Keunggulannya hanya pada racun yang melambari tiap bilah yang kau gunakan."
"Sialan berani sekali kau melecehkan jurus pedangku? Pantas saja aku merasa mengenali jurus pedang terbang yang kau gunakan!" Mendengar perkataan Suro membuat kepala siluman itu terasa mendidih.
"Bocah sialan berani-beraninya kau meniru ilmu pedangku, bahkan berani menjajal ilmu pedang tiruanmu itu untuk melawan ilmu pedang laba-labaku ini? "
"Hahaha...! Siluman dungu, ternyata kau tidak mengenali jurus pedangmu sendiri. Memang jurus pedang terbangku aku tiru dari isi kitabmu, namun aku telah kembangkan dengan caraku sendiri." Suro terkekeh melihat siluman laba-laba seperti ditelanjangi, setelah mengetahui jurusnya telah ditiru.
Sebelum siluman itu melampiaskan kemarahannya, Suro telah membuatnya berkeringat dingin. Sebab dia dipaksa harus bergerak dengan sangat cepat.
Karena saat itu Suro mengendalikan Naga Taksaka dengan lebih serius. Api hitam yang membentuk wujud seekor naga itu menyerang dengan lebih ganas daripada sebelumnya. Api hitam itu terus menerjang ke arah siluman laba-laba, bahkan juga menyapu bilah pedang yang diciptakan dari air liur siluman itu.
Naga Taksaka tidak membiarkan siluman itu memberi serangan balik, karena itu dia terus mengejarnya. Beberapa kali lesatan anak panah digunakan untuk menghentikan. Namun naga yang mengejarnya hanyalah kobaran api hitam yang tidak memiliki nyawa. Karena itulah serangannya tidak dapat menghentikan gerakan Naga Taksaka, meskipun serangan itu dilambari kekuatan tingkat surga.
"Kurang ajar makhluk jenis apa sebenarnya dirimu? Bagaimana mungkin bocah ingusan seumuranmu mampu memiliki kekuatan tingkat surga dan juga memiliki jurus begitu mengerikan seperti ini?"
Saat ada celah, kembali Siluman itu menebarkan sulur-sulur yang sangat beracun mencoba memperangkap tubuh lawannya. Namun tehnik itu tidak berhasil, karena Suro dapat menghindarinya dengan tehnik Langkah Maya. Seandainya Suro tidak memiliki jurus langkah maya, tentu dia dapat dihabisi oleh serangan barusan.
Sebab selain sulur-sulur itu melesat dengan cepat dan cangkupannya cukup luas, jaring dari siluman laba-laba itu memiliki hawa racun yang sangat pekat. Untuk membunuh manusia tidak perlu melukai. Sedikit saja menyentuhnya, maka lawan akan keracunan dan mati dengan cepat.
Sulur benang yang menebar kesegala arah terus dikerahkan siluman laba-laba untuk menangkap Suro. Sebenarnya sejak awal siluman itu sudah menggunakan sulur-sulur beracun itu untuk menyerang Suro, namun selalu saja dapat dihindari oleh Suro. Sulur yang sangat beracun dan bersifat asam itu bahkan telah meluluh lantakan apapun yang terkena, semuanya meleleh.
"Aku adalah makhluk yang akan mencabut nyawamu!" Bersamaan dengan ucapannya Suro, dia mengerahkan jurus Langkah Maya miliknya dan muncul dari arah bawah tubuh siluman laba-laba. Tetapi sebelum dia memberikan serangan telak, dia terlebih dahulu mengerahkan tehnik perubahan tanah untuk membelenggu tubuh siluman laba-laba dalam beberapa saat.
Kesempatan yang hanya sekejap itu sudah cukup bagi Suro untuk membuat serangan susulan yang sangat mematikan.
Bldaar!
Suro melesatkan sinar yang sangat menyilaukan mata yang keluar dari telapak tangannya. Serangan itu adalah jurus keempat dari Telapak Dewa Matahari. Sinar dari terjangan jurus itu melesat naik ke langit.
Siluman laba-laba itu tidak sempat menghindari dari serangan susulan yang dikerahkan Suro.
**
Setelah musuhnya kalah, Suro segera melesat ke arah pertarungan yang sedang dihadapi Geho sama dan Dewa Rencong yang sedang melawan siluman Harimau.
Sebelum Suro ikut menyerang, justru Geho sama telah melenyapkan tubuh siluman itu dengan tehnik empat sage. Sebelum Geho sama mengerahkan serangan pamungkas itu, dia dan Dewa Rencong lebih dahulu menghajarnya dengan menggunakan sinar yang keluar dari sepuluh jari tangan mereka.
Walaupun tehnik yang mereka gunakan adalah jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari, namun dalam memainkan jurus itu mereka berdua menggabungkannya sesuai dengan pemahaman yang mereka miliki.
"Sudah selesai, akhirnya aku berhasil menyerap habis kekuatannya." Geho sama tersenyum ke arah Suro.
"Tehnik empat sage mu itu cukup menggerikan." Dewa Rencong bergidik melihat seluruh tubuh siluman harimau amblas dalam sekejap ditelan jurus Geho sama. Sebelum Geho sama memulai tersenyum dengan penuh rasa bangga, Dewa Rencong kembali melanjutkan ucapannya. Ucapan itu membuat Geho sama membatalkan niatnya untuk tersenyum dengan lebar.
"Tetapi saat pertempuran di daerah dekat gunung Rahtawu(Gunung Muria) bocah sinting itu pernah melakukan lebih mengerikan dibanding dirimu!" Dewa Rencong menatap ke arah Suro yang baru saja muncul.
"Aku lagi yang kena."
Suro hanya menggaruk-garuk kepalanya merasa dirinya disinggung oleh Dewa Rencong.