SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 310 Tulang Tua Vs Tulang Bau Kencur



Suro melesat menaiki naga bumi bersama Geho sama. Mereka secara bersamaan mengerahkan jurus empat sage untuk mencari tempat dimana kekuatan milik Dewa Kegelapan disegel oleh para dewa.


"Bocah sinting kenapa kau bawa kita menuju ke arah kanan, bukankah tadi kekuatan kegelapan dalam jumlah yang besar justru berada disebelah kiri?"


"Benar, tetapi aku merasa kekuatan itu tidak diam, justru seperti mendekat ke arah kita. Jadi menurutku itu kemungkinan makhluk kegelapan yang hendak menyerang kita."


Mendengar ucapan Suro barusan, Geho sama segera menyadarinya. Sebab dia kembali merasakan kekuatan kegelapan yang sebelumnya dia temukan kembali mendekat.


"Apakah ini tidak menakutkan bocah, kekuatan yang semakin mendekat ke arah kita begitu besar?"


"Tenang saja Geho sama, bukankah kita memiliki Sarkara Deva dari Ratu lebah iblis," ucap Suro sambil menoleh ke arah belakang dimana Geho sama duduk dipunggung Naga bumi.


Tanah didepan mereka terus membelah panjang dan membuka cukup lebar. Seluruh dinding tanah disisi depan, sisi kanan dan kiri menjauh lebih dari lima tombak secara serentak seperti bergerak sendiri tanpa perintah.


Sehingga mereka melesat ke dalam tanah tanpa halangan sedikitpun. Tanah itu bergerak dengan cepat seiring lesatan Naga bumi yang dinaiki Suro dan juga Geho sama.


"Tetapi aku sudah meminumnya cukup banyak, sedangkan Ratu lebah itu sudah mengatakan, jika hanya itu yang mereka punya."


"Ucapanmu ada benarnya Geho sama, andai saja kita bisa membantu Ratu lebah itu membuat lebih banyak, tentu kita tidak akan khawatir dengan sebanyak apapun lawan yang mengejar kita seperti saat ini."


"Ting! A.. aha...," seru Geho sama sambil menjentikkan jarinya.


"Hahahaha...! Bocah sinting otaknya ternyata tidak selalu miring. Apa yang kau ucapkan itu mungkin akan menyelamatkan kita dari musuh yang sebentar lagi datang."


Mendengar ucapan Geho sama, Suro mengernyitkan dahinya. Dia segera mengetahui apa yang sedang dipikirkan Geho sama. Karena memang kesadarannya berbagi dengannya. Seketika wajah pemuda tanggung itu berubah begitu ceria dan membentuk sebuah senyuman cukup lebar.


"Kenapa hal itu baru kau ingat Geho sama?"


"Apa hakmu mengatur ingatanku, apa kau juga tidak tau kepalaku bertambah pusing setiap kali membaca pikiranmu hanya penuh dengan bayangan ayam goreng?"


"Hahahaha...! Aku jadi lapar gara-gara ucapanmu, kenapa sebelum pergi ke alam sialan ini dirimu tidak mengingatkanku untuk membawa bekal ayam goreng dalam jumlah banyak."


"Bocah sinting! apa urusanku dengan ayam gorengmu."


"Ayam goreng...kapan lagi aku makan ayam goreng mbah Wiro?"


Geho sama menepuk jidatnya beberapa kali mendengar ucapan Suro. Dia melakukan itu sebab saat itu mereka tidak lagi dapat meneruskan langkahnya. Baik Suro maupun Geho sama mengetahui kekuatan besar siap menghantam jika mereka meneruskan jalannya.


Alasan itulah yang membuat Suro segera menghentikan lesatan tubuh Naga bumi. Dia kemudian memilih turun bersama Geho sama. Naga bumi kemudian dia arahakan menuju ke depan untuk memancing lawan keluar.


"Apakah kau tidak merasakan takut mengetahui musuh dalam jumlah sebanyak ini telah berhasil mengepung kita? Bukannya memikirkan caranya selamat, justru sibuk memikirkan ayam goreng." Geho sama melotot ke arah Suro. Namun pemuda itu justru tertawa, setelah menangkap ketakutan diwajah Geho sama.


"Bukankah dirimu sudah memberikan solusi untuk mengalahkan mereka? Justru inilah kesempatan kita membuktikan ucapanmu. Akan aku jadikan mereka makanan bagi para lebah iblis."


"Menarik sekali cara berpikirmu bocah sinting, selama aku hidup sepertinya hanya dirimu yang memiliki ketetapan jiwa sepertimu. Bahkan suara irama jantungmu pelan, seakan dirimu sedang tidur.


Dub...dub...dub...dub tidak berubah tetap sama. Seharusnya jika orang ketakutan maka detak jantungnya akan berubah semakin cepat.


Dubdubdubdubdub...dan aku tidak mendengar satu kalipun jantungmu menjadi cepat karena kondisi segawat apapun."


Sebelum Geho sama melanjutkan ucapannya mendadak serangan di arah depan terjadi. Pancingan yang dilakukan Suro dengan menggerakkan naga bumi berhasil memancing lawan keluar untuk menampakkan diri.


Bldaar!


Serangan dari arah depan melesat menghancurkan tepat mengenai kepala naga bumi.


"Mereka sudah datang, Geho sama tugasmu adalah melumpuhkan. Aku yang akan membuat makhluk kegelapan itu bermanfaat untuk menjadi obat kuat buat kita berdua. Hehehehe...!"


"Baiklah kita mulai mengumpulkan mereka menjadi bahan yang bermanfaat. Hahaha...!" Geho sama melesat menerjang ke arah musuh yang baru saja menyerang mereka.


Suro sendiri menunggu musuh yang berada diarah belakang mereka, sebab musuh juga muncul dari arah itu. Dia juga merasa dari arah belakang kekuatan besar sedari tadi mengejar mereka berdua.


Kekuatan besar yang dirasakan Geho sama tidak juga muncul, kecuali pasukan seperti yang dihadapi Geho sama. Meskipun jumlah yang datang berjumlah lebih banyak.


Menyadari tempat pertarungan cukup sempit dan sangat berbahaya. Sebab musuh juga memiliki kemampuan pengendalian tanah, maka Suro segera mengerahkan jurus perubahan tanah.


Duuumm! Duuumm! Duuumm!


"Aku rasa tempat ini cukup luas untuk kita bertarung, bukan Geho sama? Hahahaha...," Suro tertawa ke arah Geho sama yang sudah sibuk bertarung dengan musuh yang memiliki bentuk seperti tikus tanah dengan ukuran yang besar.


"Ini aku sudah lumpuhkan!"


Tubuh makhluk yang menyerupai tikus itu dilempar ke arah Suro yang langsung menerima tubuh itu dengan telapak tangan terbuka. Seketika tubuh itu lenyap tidak berbekas.


Musuh yang menghilang itu bukan karena penggunaan tehnik empat sage, namun dipindahkan ke dalam dimensi yang ada dalam pusaka sarang lebah iblis.


Suro langsung berbicara kepada Raja dan Ratu lebah iblis yang menjadi pemimpin bangsa siluman yang mendiami pusaka yang disimpan didalam tubuhnya itu.


'Kalian serap habis seluruh kekuatan musuh yang masuk ke dalam dunia kalian. Gunakan itu untuk menciptakan Sarkara Deva atau madu dewa, kali ini aku sangat membutuhkannya dalam jumlah yang lebih banyak.'


Ratu lebah iblis yang mendengar ucapan Suro hendak menyela, jika hanya satu makhluk seperti tikus raksasa itu tidak cukup.


'Jangan khawatir, seberapa banyak yang kalian minta, kemungkinan akan dapat aku penuhi.'


Mendengar ucapan Suro Ratu lebah itu langsung memerintahkan rakyatnya yang berjumlah jutaan menghabisi tubuh makhluk kegelapan yang tidak mampu menyelamatkan diri. Ternyata para lebah itu membuat madu dewa atau Sarkara Deva bukan dari nektar bunga.


Cairan itu sesungguhnya berasal dari sari pati energi alam dan energi kehidupan makhluk. Ditambah kekuatan makhluk yang diserap lalu dimurnikan menjadi sebuah cairan yang mampu meletup-letupkan bunga petir.


Setiap makhluk kegelapan yang masuk kedalam pusaka sarang lebah iblis menjadi begitu lemah. Hal itu terjadi memang disebabkan kekuatan dari pusaka tersebut.


Setiap makhluk yang masuk tetapi tidak diinginkan, maka kekuatannya akan diserap pusaka tersebut. Kemudian kekuatan itu akan menjadi sumber bagi penghuni yang ada didalamnya.


Kondisi inilah yang dikatakan Geho sama kepada Suro melalui pikirannya. Dia menyebut, jika ingin membantu para lebah iblis membentuk Sarkara Deva, maka dia tinggal memberikan korban makhluk yang akan diserap seluruh kekuatannya, energi kehidupannya, maupun energi alam dari jasadnya.


Semua akan digunakan para lebah iblis menjadi Sarkara Deva. Dengan semakin banyak makhluk kegelapan ke dalam pusaka sarang lebah iblis, maka akan semakin banyak Sarkara Deva yang dibuat.


Begitu juga senyum Suro, semakin banyak musuh yang dilemparkan oleh Geho sama, maka senyumnya bertambah semakin lebar. Dia semakin bersemangat menyerang musuhnya.


"Tulang tuamu sepertinya sudah semakin susah digerakkan Geho sama! Lihatlah aku sudah menghabisi pasukan kegelapan lebih dari selusin!" Suro tertawa mengejek ke arah Geho sama.


Geho sama hanya meruntuk mendengar ucapan pemuda itu, apalagi nafasnya mulai kembang kempis. Karena tujuh makhluk kegelapan yang baru saja dilempar ke arah Suro telah menguras kekuatannya.


Dia kemudian menelan beberapa pill tujuh bidadari untuk memulihkan kekuatannya sambil bertarung.


"Semakin lama aku bersama bocah sinting ini, sepertinya aku juga ikut sinting. Tetapi justru membuat hidupku semakin bertambah mengasikan, hahahaha...!"


Dia kembali mengamuk menerjang ke arah lawan yang bertambah semakin banyak.


Setelah beberapa saat semua musuh yang berdatangan akhirnya berhasil dihabisi dan musnah masuk ke dalam dimensi pusaka sarang lebah iblis.


"Bocah, menurut perasaanku saja atau memang musuh yang sebelumnya mengikuti kita dengan kekuatannya yang cukup besar belum muncul juga?"


"Aku juga punya pikiran yang sama denganmu Geho sama. Sebaiknya kondisi ini kita gunakan untuk memulihkan tubuh terlebih dahulu. Sebentar lagi akan ada pertarungan yang lebih hebat dari sebelumnya."


Suro lalu membentuk dhyana mudra untuk mulai bermeditasi. Meskipun begitu kewaspadaannya tidak berkurang.


Kondisi alam yang telah diracuni hawa kegelapan cukup membantu Suro untuk memulihkan kekuatannya.


"Mengapa tidak gunakan Sarkara Deva saja jika ingin memulihkan tenaga?" Geho sama yang memperhatikan tindakan Suro merasa pilihan pemuda itu kurang tepat.


Sebab meskipun pemulihan dibantu menggunakan tehnik empat sage, namun kekuatan surga tidaklah sama seperti tingkatan langit. Hawa kegelapan yang berada disekitar mereka tidaklah cukup untuk memulihkan meski hanya lima persen kekuatannya.


"Tidak Geho sama, tujuanku bukan itu. Tujuan utamaku adalah mendeteksi arah keberadaan sumber hawa kegelapan berada. Arah yang kita tuju sudah benar.


Aku rasa kekuatan yang mengikuti kita sebentar lagi akan muncul, jadi bersiaplah Geho sama. Gunakan beberapa tetes Sakara Deva ini. Aku khawatir tulang tuamu kan berteriak, jika tidak dibantu dengannya."


"Terserah apa yang kau katakan..." Geho sama langsung menyambar kendi kecil ditangan Suro. Dia meneteskan hingga lima tetes sebelum mengembalikan kendi kecil tersebut.


Begitu juga Suro dia melakukan seperti yang dilakukan Geho sama. Dia menelan lebih dari enam tetes.


"Aku sudah siap menggila...kita buktikan tulang mana yang lebih kuat, tulang tuaku atau tulang bau kencurmu itu bocah sinting?"