SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 10 MUSNAHNYA PERGURUAN AWAN MERAH PART 2



Bathara karang terpental menimpa beberapa anggota perguruan, dada bagian kiri jebol terhantam sinar dan tak bergerak lagi.


Seharusnya dengan luka seperti itu tidak mungkin bisa selamat karena jantungnya juga sudah hancur. Saat dua anggota perguruan mencoba menolong mengangkat ketua sekte mereka yang tergeletak. Tiba-tiba tangan mereka dicengkram dengan kuat oleh Bathara karang. Setelah itu sebuah kejadian mengerikan dua orang yang akan menolong sang ketua perguruan justru dihisap chakra dan seluruh tubuhnya tanpa menyisahkan apapun, yang tertinggal hanya sisa pakaian mereka.


"Kalian aliran hitam memang luar biasa anggota sendiri dijadikan tumbal untuk kepentingan pribadi!"


"Hahaha...hahaha... ! Mereka dengan senang hati jika kujadikan tumbal bahkan merasa mati terhormat. Kau lihat para wanita dan mereka yang aku tahan bagiku mereka hanya tumbalku yang akan kujadikan sarana praktek memperlancar ilmuku. Hahahaha..hahah...hahaha!"


Para anggota perguruan yang mendengar dan melihat kejadian barusan mengigil ketakutan bahkan ada beberapa yang mengompol. Para wanita dan hampir semua yang dikerangkeng mulai pada menjerit, meronta-ronta.


Mereka tidak mengira ternyata nasibnya lebih tragis daripada apa yang mereka sangka sebelumnya bahwa mereka akan dijual menjadi budak, tetapi kenyataanya mereka justru akan dijadikan tumbal.


"Tutup mulut mereka semua atau aku sembelih sekarang juga!"


Para wanita yang mendengar ancaman menahan tangis mereka sekuat tenaga dengan membekam mulut mereka masing-masing serapat mungkin walau air mata dan sesenggukan tak mampu mereka hentikan.


Eyang Sindurogo hanya mengeleng-gelengkan kepala tak mengira rencana awal hanya akan menghabisi ketua perguruannya saja ternyata akan menjadi serumit ini. Makhluk yang dia hadapi sepertinya semacam makhluk abadi.


"Berarti memang benar kalian yang telah menumpas habis keluarga Demang Tambak yoso dan hampir seluruh penduduk dikademangan yang kalian rampok, perkosa dan kalian bunuh yang mayatnya bertebaran dihampir seluruh kademangan dan lebih dari itu ternyata kalian telah mengumpulkan orang-orang sebegitu banyaknya untuk dijadikan tumbul!! Sepertinya kalian tidak pantas disebut manusia lagi. Kalian iblis berbentuk manusia."


Suara Eyang Sindurogo bergetar menahan marahnya.


"Hahahaha .....kalau iya kenapa? Prajurit kerajaan pun tak berani menyentuh kami. Mereka bagi kami hanya seperti anjing, setiap kali mereka menggongong cukup kami sumpal mulut-mulut mereka semua dengan tulang. Selanjutnya Anjing-anjing itu akan diam."


"Kalian sungguh bukan manusia. Baiklah aku tidak menahan lagi, masalah benar atau salah itu bukan tugasku untuk menilai, tugasku adalah memastikan orang-orang seperti kalian segera bertemu dengan Sang Hyang Yamadipati."


"Jika diantara kalian masih ada yang mau disebut manusia lepaskan para tahanan itu dan akan aku ingat budi kalian untuk tidak kumasukan daftar orang-orang yang aku basmi."


"Jika diantara kalian berani satu langkah mundur akan kubun..."


Sebelum selesei Bethara karang berbicara satu larik sinar menghanjar batok kepalanya hancur berhamburan badannya terpental tiga tombak. Sebelum tidak lama kemudian bangkit lagi lalu menyambar beberapa orang yang ada didekatnya lalu dihisap sampai hanya meninggalkan sisa pakaian mereka. Secara ajaib kepalanya yang hancur sebelah tumbuh kembali seperti semula. Jika diperhatikan bahkan hamparan bekas kepalanya seperti memiliki daya tarik medan magnet, tertarik kembali ke pemilik tubuhnya suatu kejadian yang sangat mengerikan tentunya.?


"Apa yang kalian tunggu bunuh di!!"


"BAAMMM! BAAMMM!!"


Sebelum selesai dia berbicara kembali dua larik sinar menghantam dada kirinya membuatnya terpental dan saat dalam keadaan melayang diudara paha kanannya kehantam satu larik sinar berikutnya. Hampir lima tombak terlempar sebelum menabrak tembok.


Serempak tanpa mereka menunggu perintah berikutnya langsung menghujamkan senjata mereka masing-masing ke arah Eyang Sindurogo yang memang telah mereka kepung sedari tadi.


"Sepertinya memang kalian satu jenis manusia yang tak pantas lagi hidup."


Sebelum senjata mereka menyentuh Eyang Sindurogo kurang dari dua langkah seluruh tubuh mereka terbelah dalam radius tiga tombak. Sekelebat sinar telah meratakan kerumunan orang yang telah mengepungnya menjadi tumpukan mayat.


"Aku bisa melakukan ini seharian." Senyumnya Eyang Sindurogo membuat para anggota perguruan bergidik ketakutan.


Salah satu tetua perguruan memberi intruksi untuk pasukan pemanah segera melepaskan anak panahnya. Ribuan anak panah yang sedari tadi mengincar Eyang Sindurogo melesat kencang seakan hujan.


"Jurus pertama Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"


Ribuan anak panah yang melesat seakan menghantam tembok baja, serentak berjatuhan semua sebelum menyentuh tubuh Eyang Sindurogo. Sebuah permainan pedang dan pemahaman tentang pedang yang sangat menajubkan tak ada yang mampu menyamai permainan pedang seperti ini kecuali si empunya jurus, yaitu Dewa Pedang.


Dia mulai bergerak mendekati bangunan yang berderet tempat para penduduk ditahan. Para pengepungnya mundur teratur tidak berani mendekati Eyang Sindurogo yang sangat tenang.


"Habisi jangan pernah berpikir kalian untuk mundur!"


Teriakan Bathara karang menghardik mereka kelihatannya dia sudah pulih lagi kebentuk semula entah berapa anggota perguruan yang telah dia hisap untuk memulihkan kondisi badannya yang sebelumnya hancur.


Sepertinya serangan Eyang Sindurogo yang telah menghantamnya berkali-kali kini membuatnya jerih terlihat dia mulai menjaga jarak dan lebih waspada. Walaupun memiliki tubuh yang tak bisa mati tetapi ada sesuatu yang menginggatkan dia tentang kedahsyatnya ilmu yang membuat dia ketakutan.


Kekuatan yang telah membuat ketuanya sendiri ketakutan apalagi para anak buahnya tentu telah membuatnya banyak yang mengompol ditempat. Ketakutan yang sangat beralasan setelah melihat kedahsyatan jurus yang mereka saksikan.


Tetapi hardikan Bathara Karang ternyata bagi mereka lebih menakutkan dibandingkan hardikan Sang Hyang Yamadipati membuat mereka kembali menyerang Eyang Sindurogo dengan lebih beringas berduyun-duyun seakan tak ada habisnya merangsek dan endingnya tetap sama dalam satu jurus mereka semua dijadikan tumpukan mayat.


"Setan alas kalian manusia tak berguna!!"


Satu sambaran mengenai salah satu anggota perguruan diangkat tubuhnya oleh Bathara Karang sungguh malang nasib orang tersebut yang menangis ketakutan tak berdaya dijadikan luapan kemarahan ketuanya yang telah meluap-luap.


"Siapa diantara kalian yang mundur akan kupastikan kalian akan bernasib seperti ini!!"


Sesuatu kekuatan yang mengerikan setelah selesai berkata tubuh yang dipegang Bathara Karang seketika itu juga terbakar hebat bahkan orang itu tak sempat menyadari apa yang terjadi.


Itulah Ilmu Karang sebuah kekuatan yang membuat penggunanya mampu menjadikan setiap orang yang dia sentuh menjadi abu.


Mereka bergidik ketakutan tak mampu menyembunyikan ketakutannya.


Secara tiba-tiba Eyang Sindurogo melompat dengan begitu enteng melewati para pengepungnya. Dengan cepat menghampiri ruangan-ruangan tahanan dan mendobrak jeruji- jeruji besi yang menahannya lalu melemparkan jeruji-jeruji besi tersebut yang beratnya berpuluh-puluh pikul ke arah para anggota sekte yang merangsek ke arah Eyang Sindurogo berada. Para anggota perguruan yang tertimpa tentu saja minimal langsung pingsan.


"AKULAH SINDUROGO PENDEKAR TAPAK DEWA MATAHARI MEREKA MENYEBUTKU PENDEKAR NOMOR SATU, LELANANGING JAGAT....KARENA SATU ALASAN, AKU...KUAT!!"


Suara yang menggelegar menekan semua anggota perguruan membuat mereka yang dibawah jagoan kelas atas mutah darah dan pingsan. Mereka yang masih berdiri bukan hal ringan yang mereka rasakan seakan hantaman godam berkati-kati melabrak dadanya. Yang membuat mereka tak kalah terkejutnya adalah nama yang dulu tak asing lagi sebuah nama besar yang menakutkan bagi aliran hitam.


Hal itu dilakukan Eyang Sindurogo untuk memberikan kesempatan para penduduk yang menjadi tahanan untuk segera lari keluar. Lari sejauh mungkin dari kawasan Perguruan Awan Merah yang tentunya akan menjadi pengalaman terburuk dalam hidup mereka.


" Hentikan mereka semua!"


Bentakan Bathara Karang mengagetkan para anggota sekte yang masih mencoba menguasai kondisi mereka yang masih linglung efek suara yang dikeluarkan Eyang Sindurogo.


Para jagoan kelas satu dan tingkat tinggi segera menanggapi bentakan tersebut untuk menghalang-halangi penduduk melarikan diri. Tetapi berlarik-larik sinar yang datang kemudian langsung menghentikan pergerakan mereka lebih jauh. Larik sinar menghantam para jagoan Perguruan Awan Merah, membuat mereka tak bergerak selamanya.


"Setan alas!! kalian semua, hajar setan tua itu!"


Satu senyum segera tersungging, memang itulah yang diinginkan Eyang Sindurogo agar mereka semua teralihkan dan fokus pada dirinya saja.


Sebelumnya dia telah bertanya ke salah satu penduduk yang telah dia bebaskan adakah kemungkinan tahanan lain yang seperti mereka ditahan ditempat lain. Tetapi mereka justru meyakinkan bahwa semua tahanan hanya dikumpulkan di ruangan-ruangan yang masih didalam satu area itu.


Mereka semua akhirnya bisa dibebaskan oleh Eyang Sindurogo melalui lubang yang telah dia buat ditembok yang mengelilingi kawasan Perguruan Awan Merah. Dibawah pengawasan dia tak ada lagi yang berani mencoba mencegah para penduduk melarikan diri.


Eyang Sindurogo akhirnya dapat bernafas lega setelah semua penduduk berhasil keluar dengan selamat.


Mereka sepertinya membuat strategi baru saat serangan jarak dekat tidak efektif mereka menyerang dari jarak jauh.


Senjata rahasia dan ribuan anak-anak panah kembali menerjang ke arah Eyang Sindurogo. Sebelum senjata rahasia dan anak panah menyentuhnya sebuah pusaran cahaya sinar dari ujung-ujung jarinya menepis semua tak satupun yang mampu menembus pertahanan Eyang Sindurogo. Sinar itu berseliweran seperti sebuah tentakel yang memiliki pikirannya sendiri.


"Formasi Pukulan Segoro Geni."


Senjata rahasia dan panah tak efektif, merubah keputusan Batara Karang dengan bentuk serangan yang lain. Rentetan bola api berduyun-duyun dari arah Bethara karang dan para murid tingkat tinggi dan para petinggi senior Perguruan Awan Merah menghantam Eyang Sindurogo.


Bukan sebuah dentuman yang memekakan telinga saat bola-bola api itu mendekati Eyang Sindurogo tetapi sebuah bentuk energi yang tak tampak justru membuat bola-bola itu bergerak mengikuti gerakan tangan Eyang Sindurogo yang bergerak dengan tempo gerakan yang lambat dan sedikit unik seakan menari berputar dan bola-bola api itupun ikut berputar mengikuti tubuh Eyang Sinduro.


Selanjutnya yang terjadi adalah bola-bola itu dikembalikan ke arah lawan. Mungkin itu bisa disebut sebagai senjata makan tuan .


Para anggota perguruan yang tak mengira itu terjadi mati terpanggang. Yang memiliki ilmu kanuragan lebih tinggi bersalto menghindar sejauh mungkin.


Kemurkaan Bathara Karang semakin menjadi formasi serangan yang menjadi andalan perguruannya dipecundangi dengan begitu mudahnya malah dijadikan senjata untuk menyerang balik.


Tehnik yang digunakan Eyang Sindurogo adalah salah satu tehnik yang berdasarkan tehnik kundalini. Dimana dalam tehnik kundalini pengolahan chakra diolah dalam nadi shusumna yang menyatukan chakra yang bersifat pasif atau yang atau yoni di nadi Ida dan chakra yang bersifat aktif atau ying atau lingga di nadi pinggala. Dalam penggabungan tersebut membutuhkan titik keseimbangan sehingga terjadi keharmonisan energi yang kemudian dapat diolah menjadi energi dalam tubuh sendiri


Dengan dasar tehnik itu terciptalah sebuah Tehnik yang bernama Tehnik Pusaran Naga. Dengan tehnik ini arus chakra yang menyerang diibaratkan sebagai air yang mengalir tidak perlu melawan arus air yang datang tetapi mengikuti jalannya arus dan kemudian dimanfaatkan sebagai kekuatannya sendiri.


Ilmu pukulan Ajian Segoro Geni sebuah pukulan yang mengandung hawa panas bahkan dalam tingkat tertinggi mampu melontarkan energi panas menjadi sebentuk bola-bola api.


Perguruan Awan Merah tidak berani gegabah setelah Pukulan Segoro Geni berhasil dipatahkan bahkan justru dijadikan senjata untuk menyerang mereka sendiri.


Matahari sepenuhnya telah tenggelam, cahayanya sudah tak tersisa di langit. Kini malam telah menghampiri dibalut bulan yang sedang tenggelam dalam cahaya Purnamanya.


"Ajian Gelap Ngampar."


Sebuah suara dibarengin gelegar kilat petir yang sangat besar menerjang dengan cepat kearah Eyang Sindurogo yang langsung disambut dengan Jurus Kedua Ilmu Tapak Dewa Matahari.


"Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran!" sebuah sinar yang sebelumnya pernah para anggota perguruan saksikan tapi dalam sekala besar.


"BLDAAAAARRR!!"


Pertemuan dua kekuatan yang sangat besar menimbulkan gelombang kejut yang luar biasa besar. Dinding ruangan bekas kerangkeng dibelakang Eyang Sindurogo langsung hancur terkena efek ledakan bahkan membuatnya rata dengan tanah.


Orang yang berada radius puluhan tombak masih terkena imbasnya terlempar tiga tombak. Orang yang lebih dekat entah terbang kemana.


Para anggota Perguruan Awan Merah paham bahwa yang mempunyai Ilmu Ajian Gelap Ngampar adalah Tetua Tengkorak Merah. Tetapi mereka tidak mengira bahwa ada yang mampu melawan ilmu itu secara langsung. Dan efek ledakan tak pernah mereka prediksi puluhan anggota perguruan yang sebelumnya mengepung Eyang Sindurogo, mati tak diketahui lagi jasadnya entah terlempar atau sudah hancur.


Imbas ledakan asap dan debu tebal masih menutupi sekitar area, keberadaan Eyang Sindurogo belum bisa dipastikan kondisinya. Tidak ada yang melihat dia masih hidup atau sudah hancur tubuhnya. Dan saat terjadi ledakan pun cahaya yang dihasilkan terlalu menyilaukan mata.