SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 263 Tulah Siluman Ribuan Tahun



Setelah lenyap dari pandangan, mereka kemudian muncul kembali di kediaman Dewa Pedang yang berada disisi utara Perguruan Pedang Surga. Penjaga kediaman Dewa Pedang langsung mengabarkan hal tersebut kepada eyang Udan asrep.


Karena memang eyang Udan asrep telah berpesan untuk memberitahu dirinya, jika Dewa Pedang telah datang. Didalam perjalanan, penjaga itu juga memberitahukan kedatangan pemimpin perguruan mereka kepada para tetua yang ditemui.


Para tetua yang mendengar kepulangan Dewa Pedang kembali dari Perguruan Pedang Bayangan, segera bergegas menemuinya. Karena mereka hendak mempertanyakan keputusan Dewa Pedang yang tidak meminta bantuan para tetua dan justru pergi bersama Dewa Rencong yang bukan orang perguruan.


Mereka merasa jika kedudukan para tetua tidak memiliki artinya dimata pimpinan perguruan itu. Apalagi kepergiannya adalah untuk melawan pasukan kegelapan yang kembali menyerang perguruan cabang.


Dengan urusan sepenting itu, mereka berpikir sangat tidak elok jika mereka tidak dilibatkan. Bahkan wakil ketua mereka juga tidak diberitahu tentang hal sepenting itu, padahal nyawa orang perguruan cabang menjadi taruhannya.


Mereka semua merasakan kekecewaan karena tidak dilibatkan dalam pertempuran menghadapi pasukan kegelapan di Perguruan Pedang Bayangan. Karena itulah mereka hendak melakukan protes atas keputusan itu kepada Dewa Pedang.


"Selamat datang kembali ketua!"


"Syukurlah Ketua Dewa Pedang telah kembali."


"Bagaimana nasib perguruan cabang yang kembali diserbu pasukan kegelapan, ketua?"


Sebelum runtutan pertanyaan itu keluar, para tetua lebih dahulu menjura hormat kepada Dewa Pedang. Setelah kedatangannya barusan, Dewa Pedang mengajak semua yang baru saja pulang dari perguruan cabang berkumpul di sebuah pendopo.


Kabar kepulangan Dewa Pedang dari perguruan cabang di dekat kota Sundapura telah menyebar. Karena itulah hampir semua tetua telah berkumpul dipendopo bagian depan kediaman Dewa Pedang.


Sebelumnya para tetua itu berniat menyusul ke Sundapura, namun oleh Eyang Udan asrep tidak diperkenankan. Karena dia tidak mengetahui alasan mengapa Dewa Pedang pergi tanpa membawa serta para tetua lain.


"Bukankah ini Pendekar Tapak Dewa Matahari? Maharesi Eyang Sindurogo?"


Eyang Sindurogo yang mendapatkan pertanyaan itu hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Bersama Suro, tetua Dewi Anggini, Geho sama dan juga Dewa Rencong mereka sebenarnya hendak beristirahat sejenak dipendopo milik Dewa Pedang, namun tidak menyangka kini mereka justru dikerubutin orang sebanyak itu.


Para tetua terkejut dan baru menyadari jika eyang Sindurogo telah diselamatkan dari pegaruh kekuatan kegelapan. Mereka awalnya tidak mengenali, karena penampilannya yang jauh berbeda tidak seperti biasanya.


Eyang Sindurogo memang tidak menggunakan pakaian para pertapa, tetapi masih menggunakan pakaian yang dia pakai saat masih dikuasai kekuatan kegelapan. Apalagi sekarang rambutnya dibiarkan tergerai tanpa digelung atau diikat seperti penampilan yang biasanya, rambut itu tergerai sampai ke pinggangnya.


Mereka mengira jika eyang Sindurogo telah diselamatkan oleh pemimpin perguruannya. Karena itulah mereka mendesak Dewa Pedang, agar bersedia menceritakan bagaimana dirinya menyelamatkan eyang Sindurogo hingga bisa disadarkkan kembali.


"Kalian salah sangka, yang menyelamatkan eyang Sindurogo adalah muridnya sendiri, yaitu nakmas Suro. Begitu juga nasib perguruan cabang Pedang Bayangan, berkat kedatangan nakmas Suro berhasil mencegah pembantaian yang terjadi."


"Bahkan kedatanganku bersama kakang Dewa Rencong tidak akan dapat mencegah hal itu terjadi. Seandainya nakmas tidak bersama kami dalam pertempuran itu, maka kamipun kemungkinan akan menjadi salah satu korban pembantaian itu."


Para tetua tentu saja tidak akan mempercayai hal tersebut.


"Bagaimana mungkin ketua dan tuan pendekar Dewa Rencong akan dapat dibantai? Memang sekuat apa musuh yang menyerang perguruan cabang?"


"Karena lawan yang kami hadapi memiliki kekuatan tingkat Surga yang tentu saja hampir mustahil kami lawan."


"Kekuatan tingkat surga? Benarkah ada makhluk yang telah mencapai kekuatan seperti itu?" Para tetua tentu saja sangat terkejut mengetahui lawannya sudah berada ditingkat surga.


Karena selama ini mengetahui ada manusia sampai tingkat langit saja adalah sebuah keajaiban. Seperti saat mendengar ketua perguruan mereka telah mencapai tingkat langit adalah sebuah pencapaian yang sangat mengesankan.


Kini ada lagi musuh yang telah mencapai tingkat surga, tentu sebuah kabar yang sangat sulit dipercaya. Sebab itu artinya kekuatan mereka yang masih di tingkat shakti tidak berarti apapun jika menghadapi lawan sekuat itu.


"Benar makhluk itu telah mencapai tingkat surga. Beruntung dari pihak kita ada dua orang yang telah mencapai tingkat kekuatan itu, sehingga dapat mengimbangi kekuatannya. Bahkan akhirnya mampu mengalahkannya."


Mereka semua terkejut mendengar ada orang perguruan yang telah mencapai kekuatan yang tidak masuk akal itu.


"Mustahil ada yang mampu mencapai tingkat itu!"


"Mengapa kami sebelumnya tidak pernah mendengar hal itu, ketua?"


"Siapa diantara para tetua perguruan Pedang Surga yang telah mencapai tingkat itu, ketua? Mengapa kami tidak sekalipun pernah mendengar hal itu?"


Para tetua memberondong dengan pertanyaan kepada Dewa Pedang, karena mereka sangat penasaran mendengar ucapan ketua perguruan mereka barusan.


"Jangan-jangan?" Pandangan mereka mengarah kepada satu orang yang sudah disebutkan telah menyelamatkan guru dan juga perguruan cabang.


"Benar dia adalah nakmas Suro dan satu lagi adalah eyang Sindurogo yang datang menyusul. Mereka berdualah yang akhirnya dapat mengakhiri perlawanan musuh."


Suro yang disebutkan namanya sejak tadi hanya cengar-cengir sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Geho sama, kalian sudah mengenal bukan? Dia juga menjadi kunci kemenangan perguruan kita."


Dewa Pedang kemudian menceritakan semua kepada para tetua yang mendengar dengan begitu antusias. Para tetua yang mendengar cerita dari Dewa Pedang tidak menyangka jika kekuatan Suro sudah mencapai tingkat surga. Sesuatu hal yang sangat tidak mungkin. Mereka tidak habis pikir bagaimana mungkin anak muda itu mampu mencapai kekuatan yang sangat jauh dari mereka dalam waktu yang sangat relatif singkat.


"Maaf aku terlambat menyambut kedatangan ketua dan semuanya." Eyang Udan Asrep terlihat datang tergopoh-gopoh. Dia telat mendengar kedatangan Dewa Pedang dibandingkan para tetua lain.


"Beruntung nyai memberitahukan kepada saya mengenai kepergian adimas. Kalau tidak kami tidak akan mengetahui tentang kabar penyerangan kembali pasukan kegelapan di Perguruan Pedang Bayangan." Eyang Udan Asrep kemudian juga ingin mendengar akhir dari pertempuran yang terjadi.


"Mengapa para tetua yang lain tidak diikut sertakan ketua?" Pertanyaan eyang Udan Asrep barusan telah mewakili unek-unek yang sejak tadi hendak ditanyakan.


"Percayalah kami memang tidak memiliki banyak waktu. Sedikit saja kami telat datang, maka akan terjadi pembantaian di perguruan cabang. Aku sebelumnya juga hendak mengajak kalian semua. Atau minimal memberi tahukan kepada kakang Udan Asrep. Tetapi nakmas Suro meyakinkanku, jika tidak ada waktu lagi untuk melakukan hal tersebut."


Dewa Pedang mencoba menjelaskan kepada semua orang yang mendatangi pendoponya.


"Jika para tetua ingin datang membantu perguruan cabang Pedang Bayangan, aku rasa belum terlambat paman. Karena mereka memang masih berbenah dan memerlukan penjagaan tambahan. Suro akan bersedia mengantarkan tetua sekalian jika ada yang berkenan." Suro kemudian ikut berbicara mencoba mengobati kekecewaan para tetua.


Suro menyadari jika keputusannya sebelumnya akan membuat para tetua akan tersinggung. Sebab mereka merasa tidak diikut sertakan dalam misi penyelamatan perguruan cabang. Namun dia tidak memiliki pilihan lain, karena tidak ada waktu lagi yang tersisa. Sebab jika mereka terlambat sedikit saja maka semua yang ada di perguruan cabang pasti akan dibantai oleh pasukan kegelapan.


Setelah Suro pergi, belasan tetua lain ingin ikut menyusul, Geho sama kemudian mengantar mereka.


Eyang Sindurogo kemudian pergi bersama Dewi Anggini menuju kekediaman pribadinya yang disediakan perguruan pusat.


**


Dewa Pedang sendiri langsung pergi bersama eyang Udan asrep untuk menemui utusan yang berasal dari Kerajaan Champa.


Mereka datang untuk mengucapkan terima kasih, karena sebelumnya Suro telah menyelamatkan kerajaan mereka dari pembantaian yang akan dilakukan pasukan kegelapan.


"Mungkin ucapan terima kasih ini yang paling pantas menerimanya, adalah tetua muda kami sendiri. Tetapi saat ini nakmas Suro sedang pergi ke perguruan cabang."


"Baik tuan pendekar jika seperti itu, kami akan menunggu tuan pendekar Suro. Karena kami juga membawa surat dari tuan putri khusus untuk tuan muda Suro."


"Sang putri berpesan kepada kami untuk menunggu surat balasan dari Suro, jika ingin kembali ke negeri Champa. Karena pesan itu, membuat kami tidak ada pilihan lain, kecuali tetap menunggu kedatangan tuan muda Suro."


Mereka oleh Dewa Pedang dipersilahkan menunggu kedatangan Suro, sekaligus beristirahat di tempat yang dikhususkan bagi tamu dari luar perguruan.


**


Kabar tentang Suro mendapatkan surat khusus dari putri Kerajaan Champa menjadi berita hangat di Perguruan Pusat Pedang Surga. Kabar itu kemudian merebak menjadi kabar lain, jika Suro hendak dijadikan menantu bagi Kerajaan Champa.


Semua orang diperguruan pusat bahagia mendengar kabar tersebut, kecuali satu orang yang meradang mendengar kabar tersebut, yaitu Mahadewi. Setelah mendengar berita yang sangat menghebohkan, dia segera pergi ke rumah Kolo Weling. Dia mengira Suro sudah ada di kediaman Kolo weling. Karena gurunya telah pulang dari perguruan cabang bersama seseorang yang diperkenalkan gurunya sebagai eyang Sindurogo.


Mahadewi segera mengetahui jika itu adalah guru dari Suro. Karena itulah dia yakin jika Suro juga sudah pulang dan berada di kediaman Kolo weling.


Dia sebenarnya hendak mempertanyakan kebenaran tentang kabar yang tersebar diantara para anggota perguruan kepada Suro langsung. Namun dia tentu saja tidak akan berterus terang, mengenai niat kedatangannya itu.


Dia berpura-pura hendak berlatih pedang sambil mengendus keberadaan Suro. Namun sejak dia berlatih hingga selesai berlatih pedang terbang, dia tidak melihat keberadaan Suro.


Dengan berlatih pedang, Mahadewi dapat melampiaskan kemarahannya. Latihan pedang dengan penuh kemarahan seperti itu tentu tidak berani ia perlihatkan didepan gurunya yang saat itu bersama eyang Sindurogo. Karena itulah dia sengaja pergi ke rumah Kolo weling.


Alasan lain yang membuat Mahadewi memilih pergi kerumah Kolo weling, karena tidak mau mengganggu gurunya bersama eyang Sindurogo. Dia sudah mendengar betapa gurunya sangat merindukan lelaki itu. Dia melihat wajah bahagia gurunya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya."


Sebab setelah perjumpaan mereka berdua di perguruan cabang Pedang Bayangan, dua sejoli yang sebenarnya sudah tidak muda lagi terlihat seperti pasangan muda yang sedang dimabuk asmara.


Melihat kondisi itu tentu Mahadewi tidak mau merusak suasana hati gurunya. Dalam hati dia ikut berbahagia melihat gurunya akhirnya bertemu dengan lelaki yang selalu diidamakannya.


Tetapi mereka berdua tetaplah pasangan dua pendekar kelas atas, karena itu saat mereka sedang dimabuk asmara hal yang mereka lakukan adalah mempelajari kitab-kitab yang sebelumnya dibawa eyang Sindurogo dari Perguruan Pemuja Kegelapan.


Jumlah yang dia bawa sangatlah banyak dua karung besar. Walaupun saat dia mengambil kitab-kitab itu sudah memilih diantara tumpukan kitab yang lain, namun karena jumlahnya terlalu banyak, hal yang biasa dilakukan adalah memilih dengan membacanya sekilas saja.


Kitab-kitab yang lain sengaja dia musnahkan, karena kebanyakan adalah praktik ilmu sesat yang sangat berbahaya jika dipelajari oleh orang lain. Karena itulah setelah eyang Sindurogo selesai memilih, dia memusnahkan seluruh koleksi yang ada. Termasuk juga bangunan dari Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan. Seluruh bangunan itu rata dengan tanah.


Karena dia ingin memastikan, jika Batara Karang dan anggota perguruannya tidak akan kembali ketempat itu. Keputusan itu sangatlah tepat, karena mereka dapat kembali ketempat itu kapan saja dan akan kembali meneror para penduduk sekitar perguruan, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


Mahadewi meninggalkan gurunya yang sedang kasmaran itu dan memilih untuk pergi ke kediaman Kolo weling. Dia sudah menganggap tempat itu sebagai rumah sendiri. Karena memang hampir tiap hari dia berlatih ilmu pedang di kediaman Kolo weling.


"Sudah nimas tidak usah khawatir dengan nakmas Suro kalau jodoh tidak kemana."


"Siapa yang mau berjodoh dengan pemuda sinting itu? Huuuuft?"


"Yakin tidak mau berjodoh dengan nakmas Suro? Sekarang berubah bertambah ganteng lho! Yakin tidak menyesal?"


"Apa sih paman Weling?"


Kolo weling tertawa terbahak-bahak melihat sikap Mahadewi antara marah dan malu-malu mengakui, jika dirinya sedang cemburu berat.


Made Pasek yang melihat itu tidak berani tertawa lepas seperti Kolo weling.


"Mengapa tetua muda Suro tidak segera kembali paman?" Made Pasek mencoba mengalihkan pembicaraan, karena Mahadewi sudah memasang muka cemberut tingkat puncak. Made Pasek tidak mau menjadi pelampiasan kemarahannya saat mereka berlatih tanding.


Tetapi keputusan itu adalah kesalahan terberat yang dia lakukan.


"Apa maksudmu Made Pasek? Apa kamu juga ingin menjodohkanku dengan pemuda sinting itu?"


"Bukan, bukan, jangan salah sangka Mahadewi. Aku tidak ada niatan seperti itu!" Made Pasek terlihat begitu panik karena pedang yang ada di pinggang Mahadewi telah dicabut.


Beruntung saat Made Pasek telah terlihat begitu panik, seseorang mendadak muncul di kediaman Kolo weling.


"Trala...! Aku datang..!" Suro mendadak muncul bersama Geho sama dibelakangnya.


"Apa kabar Adin...daaaaaa! Huwaaaaaa...! Mati akuuuu!"


"Huwaduuuh... gawat ada Batari durga mengamuk! Toloooongggg Geho samaaaa!"


Belum selesai Suro berbicara pedang milik Mahadewi langsung melesat ke arahnya. Pedang terbang itu mengejar Suro. Beruntung dengan langkah Maya dia dapat menghindari serangan yang dilakukan Mahadewi.


Melihat serangan miliknya dapat dihindari dengan mudah beberapa pedang langsung menyusul mengejar.


Geho sama yang melihat itu hanya tertawa puas melihat tuannya dikejar-kejar pedang. Dengan melihat itu kekesalannya selama ini telah terbayarkan sudah.


"Sukuriiiiiiin! Akhirnya bocah sinting ini kena tulah dari siluman ribuan tahun! Sukurin! Kalian berdua guru dan murid memang tidak jauh berbeda? Disana dikejar-kejar betina disini juga sama."