SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 236 Pertempuran Guru Vs Murid part 3



Bldaar! Bldaar!


Suara ledakan beruntun terdengar begitu keras. Suara itu adalah akibat terjangan sinar yang berasal dari jari telunjuk Eyang Sindurogo. Sasarannya adalah tempat dimana Suro dan Geho sama sebelumnya berdiri, kini tempat tersebut telah hancur. Dan mereka berdua telah lenyap sekejap setelah sinar itu menerjang.


Geho sama berhasil menggapai tubuh Suro dan dibawa pergi ketempat yang tidak terlihat oleh Eyang Sindurogo, yaitu dibalik puncak gunung disebelah kanan. Kekuatan Eyang Sindurogo yang begitu menakutkan membuat mereka berdua menyadari betapa berbahayanya lawan yang sedang mereka hadapi.


Karena itu Suro harus membuat rencana ulang, agar dapat menaklukkan gurunya. Setelah mengetahui betapa kuatnya gurunya, seharusnya rencana yang dia buat kali ini lebih baik daripada sebelumnya.


Karena situasi menjadi lebih buruk dengan kondisi eyang Sindurogo yang sudah diliputi kemarahan.


Pandangan Eyang Sindurogo masih terus menyapu ke segala penjuru untuk menemukan Suro dan Geho sama.


"Sihir apa yang mereka berdua miliki? Tehnik yang mereka gunakan untuk menghindari seranganku bukanlah ilmu meringankan tubuh, tetapi sesuatu yang lain. Ilmu itu mirip sihir miliki Batara karang yang mampu membuka gerbang gaib, seperti yang dia lakukan untuk mengantarkanku ke tempat ini."


"Bagaimana mereka berdua memiliki ilmu yang lebih dahsyat dibandingkan milik Batara Karang. Sebab mereka mampu melenyapkan tubuhnya hanya dalam waktu sekejap tanpa ada gerbang gaib yang menelannya."


"Aku kira hanya Batara Karang yang memiliki kemampuan seperti itu? Ternyata mereka justru memiliki kemampuan yang lebih istimewa."


Eyang Sindurogo masih berusaha mendeteksi keberadaan Suro dan juga Geho sama yang tidak juga terlihat.


"Sialan tugasku untuk mencari relik kuno untuk dapat membebaskan kekuatan Dewa Kegelapan menjadi tertunda. Pengikutku semua sepertinya telah dihabisi oleh makhluk yang menyerupai manusia burung tadi? Bahkan mayatnya pun tidak disisakan."


"Sialan! Bagaimana bisa mereka memiliki tehnik empat Sage miliku? Selain itu, bocah satunya justru memiliki tehnik perubahan tanah yang begitu mengerikan. Apalagi dia juga memiliki ilmu Tapak Dewa matahari. Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa sebenarnya mereka berdua?"


**


Sebelum menemukan cara terbaik untuk melumpuhkan gurunya, Suro kembali meneruskan penjelasannya kepada Geho sama terkait pertanyaan dia sebelumnya.


"Mandala kalacakra ini disebut juga dengan nama roda raksasa penguasa waktu. Kemampuan pusaka ini seperti namanya, dapat mengendalikan waktu. Namun ada hal yang perlu diingat saat menggunakan pusaka ini, bahwa waktu yang diputar maju atau mundur akan mempengaruhi seluruh dunia."


"Jika bukan dalam situasi yang sangat terpaksa, aku tidak akan pernah menggunakan pusaka ini. Karena waktu yang mundur ataupun maju akan membuat perbedaan besar kepada seluruh dunia."


"Sang Hyang Ismaya memiliki alasan berani memberikan pusaka ini kepadaku. Sebab hanya orang yang sudah mencapai penyucian jalan arhat yang diperbolehkan menguasai pusaka ini. Dengan menggunakan kebijaksanaan yang telah mendapatkan pencerahan sempurna akan mencegah pusaka ini menjadi penyebab kehancuran dunia, tetapi justru akan mampu menjadikannya sebagai alat untuk menyelamatkan dunia."


"Lalu apa gunanya Sang Hyang Ismaya memberikan pusaka ini jika kita tidak dapat digunakan sekarang?" Geho sama sedikit menggerutu saat mengucapkan hal itu.


Sebab dia merasa saat ini adalah situasi yang sangat mendesak. Mengingat lawannya adalah Eyang Sindurogo yang telah mencapai kekuatan tingkat surga.


"Bisa saja aku gunakan Geho sama, tetapi itu juga akan membuat segala sesuatu berubah. Dan aku tidak tau dengan akibat yang akan terjadi, jika aku membuat waktu mundur. Sehingga eyang Sindurogo tidak perlu mengalami kondisi seperti ini."


"Tetapi dengan itu akan berimbas kepada seluruh tatanan alam raya, jalur takdir pasti akan berubah tidak seperti sebelumnya. Termasuk juga yang akan menimpa padamu Gagak setan."


"Sebab kemungkinan yang terjadi adalah dirimu tetap terkurung dalam segel dewa. Dan kemungkinan lain adalah dirimu tidak akan terbebaskan. Bahkan akan menutup kemungkinan dirimu memiliki tubuh seperti sekarang ini. Apakah dirimu menginginkan hal itu Geho sama?"


"Itu adalah salah satu hal yang bisa terjadi. Karena tatanan jalur takdir telah berubah, maka alur kehidupan yang sebelumnya terjadi akan dapat berbelok ke arah yang tidak sama dengan yang terjadi sekarang ini."


Geho sama tercekat mendengar perkataan Suro kali ini. Tentu saja dia tidak menginginkan hal itu.


"Sang Hyang Batara Narada memiliki Waskito(penglihatan) yang mampu melewati waktu dimasa depan. Aku juga tidak mengetahui mengapa Sang Hyang Ismaya juga setuju mengenai hal itu. Mungkin mereka memiliki perhitungan jika aku memiliki pusaka ini, maka aku akan memiliki kesempatan untuk mencegah kehancuran alam semesta dari bangkitnya Dewa Kegelapan secara sempurna."


"Apalagi mereka para Dewa tidak bisa secara langsung ikut campur dalam dunia manusia, karena itu akan mempengaruhi aliran alami dari takdir yang berjalan. Semua itu ada pada tanggung jawab manusia sendiri. Para dewa hanya memberi fasilitas. Mengenai keberhasilannya adalah tergantung ditangan kita."


"Jika Sang Hyang Ismaya tidak datang membantu kita, lalu bagaimana kita akan berhasil membuat guru tuan dapat mengingat kembali ingatannya?"


Suro menatap Geho sama yang berada disampingnya, dia lalu tersenyum ke arah makhluk itu.


"Kita lakukan apa yang harus dilakukan Geho sama. Untuk saat ini kita akan mencoba terlebih dahulu semampu yang kita bisa. Tetapi jika dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri tidak berhasil, maka aku akan meminta bantuan kepada sesosok yang telah berjanji akan membantuku."


"Jika sosok itu yang tuan Suro maksud, hamba yakin dia akan mampu menaklukkan guru tuan." Geho sama yang kesadarannya terbagi dengan Suro segera memahami siapa sosok yang dia maksud.


Melihat gambaran yang Suro perlihatkan kepada Geho sama, dia terlihat mengangguk-anggukan kepala. Suro hanya tersenyum melihat reaksi dari makhluk yang ada disampingnya itu. Sesaat kemudian Suro mulai menjelaskan rencana baru yang dia punya.


"Aku akan merubah rencana awal. Kali ini kita tidak perlu melumpuhkan terlebih dahulu. Tetapi aku akan mencoba merangsang ingatannya agar eyang guru mampu mendapatkan kembali jati dirinya, yaitu melalui Nyanyian Sang Krishna yang dikerahkan dengan tehnik gendam."


"Apakah dirimu sanggup Geho sama?"


"Jangan meremehkan kemampuan hamba, tuan Suro! Hamba sudah melewati ribuan pertarungan, meskipun lawanku seorang yang sudah ditingkat surga, tetapi hamba yakin mampu menahan dirinya selama beberapa waktu."


Saat Suro berbicara dengan Gagak setan kesadaran lain juga ikut berbicara.


'Hamba akan melindungi tubuh tuanku dari resiko serangan balik yang berasal dari kekuatan milik guru tuan. Hamba dapat menjamin jika tuanku tetap selamat, meskipun hamba harus menahan seluruh kekuatan surga miliknya. Namun dengan melihat dahsyatnya kekuatan itu, kemungkinan hamba akan menghilang untuk tertidur sementara waktu.' Hyang Kavacha yang menyaksikan kekuatan eyang Sindurogo juga ikut memberi gambaran betapa bahayanya kekuatan yang dimilikinya.


Menurut Hyang Kavacha dirinya dapat muncul dalam bentuk zirah perang, setelah Suro berhasil menyerap kekuatan Sang Hyang Batara Surya dalam jumlah yang sangat besar. Sebagian kekuatan yang diserap Suro dari sinar matahari, sesungguhnya sejak awal ikut diambil dan disimpan oleh Kavacha.


Kekuatan yang disimpan itu digunakan untuk untuk melindungi tubuh Suro. Semakin besar tenaga yang dapat di tahan oleh Hyang Kavacha berbanding lurus dengan energi matahari yang dibutuhkan.


Dengan perhitungan Kavacha kekuatan surga yang akan ditahan dapat menghabiskan seluruh cadangan energi matahari yang telah disimpan Kavacha. Itu artinya dia akan menghilang dan menunggu Suro dapat mengumpulkan kekuatan dari Batara Surya yang memungkinkan dirinya dapat kembali muncul.


'Berapa lama waktu tidur yang akan kau butuhkan, jika dirimu harus menahan seluruh kekuatan dari eyang guru?"


'Setelah tuan mampu menyerap kekuatan matahari dalam jumlah yang banyak, maka wujud dari zirah kavacha akan segera muncul kembali. Entah berapa lama hamba tidak dapat memastikannya. Semakin banyak kekuatan Sang Hyang Batara Surya yang tuan serap, tentu akan semakin mempercepat kemunculan hamba.'


Suro segera mengangguk pelan mendengar penjelasan Kavacha. Dia kemudian kembali menoleh ke arah Geho sama disampingnya.


"Geho sama, saat aku memberi tanda biarkan wujud ilusimu saja yang akan menghadapi eyang guru. Karena aku tidak mengetahui apakah akan berbahaya atau tidak bagimu, jika dirimu ada didalamnya saat aku mengerahkan ilmu gendamku yang dipadukan dengan ilmu Raungan Naga Taksaka."


"Baik tuan."


'Apakah perlu aku bantu Raden Pangruwatdewa?' Lodra kemudian bertanya ke arah Suro, tetapi dia menggunakan panggilan lain. Suro kebingungan dia memanggil dengan nama yang begitu asing.


'Maaf tuan hamba lupa. Setelah melalui pencapaian jalan arhat, entah mengapa tuan Suro semakin mengingatkan hamba kepada pemilik bilah pedang ini, yaitu Kanjeng Wisanggeni. Nama itu adalah salah satu dari sekian nama yang dimilikinya.'


'Sebaiknya tidak Lodra, aku tau kekuatan api hitam milikmu sangat dahsyat, tetapi tujuanku bukan untuk memusnahkannya."


Setelah menjawab pertanyaan Lodra barusan, Suro kembali meneruskan rencana yang telah disusun. Entah kali ini rencana mereka akan berhasil atau tidak?


"Apakah dirimu sudah siap Gagak setan?"


Setelah Geho sama menganggukkan kepala, mereka kemudian memulai kembali serangannya. Kali ini Geho sama langsung mengepung eyang Sindurogo dari segala arah. Sebab dia muncul bersama sembilan tubuh ilusinya.


Pertarungan mereka yang berada diatas udara, membuat awan sekalipun mampu tersibak oleh dahsyatnya ledakan kekuatan yang beradu. Meskipun dikepung oleh sepuluh sosok, kekuatan Eyang Sindurogo dapat mengimbangi lawannya.


Beruntung Geho sama sebelum bertempur melawan eyang Sindurogo telah menyerap kekuatan dua puluh lawannya yang rata-rata sudah berada ditingkat langit. Dengan bermodalkan kekuatan itu dia mampu memberikan perlawanan kepada musuhnya yang sudah berada tingkat surga.


Setelah beradu kekuatan beberapa kali, Geho sama menyadari jika dia harus merubah jurus yang digunakannya.


"Formasi Sihir Penghancur Dewa!"


Bersama dengan ucapan Geho sama, maka seluruh kembarannya langsung membuat serangan membentuk kurungan. Jurus serangan itu berwujud ribuan lesatan kekuatan yang berasal dari jenis energi alam yang berbeda-beda.


Tubuh eyang Sindurogo seperti tenggelam dalam hujan lesat energi dari berbagai arah. Perbedaan sumber energi alam yang berbeda dari serangan Geho sama, adalah karena energi itu berasal dari sembilan tubuh ilusi Geho sama. Setiap tubuh ilusi itu menguasai satu dari sembilan perubahan unsur alam.


Lesatan energi itu mengurung tubuh eyang Sindurogo dengan sangat rapat. Tidak ada celah sedikitpun untuk mampu lepas dari kurungan tersebut. Tetapi pendekar yang disebut sebagai Pendekar Tapak Dewa matahari itu, justru terlihat cukup percaya diri menghadapi serangan dari Geho sama. Sekejap kemudian dari sepuluh ujung jarinya melesat sepuluh sinar yang menghadang setiap serangan yang mencoba menembus pertahanannya..


Saat eyang Sindurogo dalam keadaan terkurung Suro memberi tanda, kemudian tubuh Geho sama yang asli mundur.


Keempat kembaran Suro telah mengepung di seluruh penjuru arah mata angin. Tubuh Suro sendiri melayang persis diatas kepala eyang Sindurogo. Tetapi jaraknya cukup jauh dari jangkauan serangan Geho sama , apalagi dari jangkauan rangkaian tarian kematian milik eyang Sindurogo.


Kemudian secara serentak Suro bersama kembarannya menggunakan jurus Raungan Naga Taksaka untuk membuat ilmu gendamnya itu mampu menjebol penjara semesta hitam yang telah mengurung ingatan eyang Sindurogo di alam bawah sadarnya.


Lantunan Nyanyian Sri Kreshna menghentak ke arah gurunya itu. Setelah beberapa waktu terdengar teriakan keras dari eyang Sindurogo.


"Setan alas! Kau membuat kepalaku sakit!"