SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 367 Badai Pasir Hitam part 2



Bersama teriakan Wang Fuhu meledak aura hitam yang melingkupi tubuhnya. Melihat hal itu Eyang Sindurogo bergegas mengerahkan tehnik pedang dewa dengan menggunakan sinar chakra yang berasal dari kesepuluh jarinya. Sekujur tubuh eyang Sindurogo kini diselimuti sinar chakra yang mencoba menahan serangan Wang Fuhu.


Eyang Sindurogo tidak mengetahui, jika ledakan energi yang bernama Badai Pasir Hitam itu sebenarnya tehnik perubahan tanah jenis logam yang dikerahkan bersama kekuatan energi pedang.


Eyang Sindurogo hanya merasakan energi pedang yang begitu kuat melesat ke arahnya, karena itulah dia berupaya menahan serangan itu dengan menggunakan energi pedang juga. Tetapi dia menyatukan tehnik pedang tersebut dengan ilmu Tapak Dewa Matahari.


"Apa ini?"


'Aku tidak menyangka ternyata ini adalah pasir besi,' batin Eyang Sindurogo.


Setelah menyadari kekuatan lawan yang melesat kearahnya. Dia lalu membuat pilihan lain, yaitu menghindari serangan itu. Eyang Sindurogo segera mengerahkan jurus Langkah Maya, lalu menghilang dari hadapan musuhnya.


Dia tidak menyangka, ternyata aura hitam yang dia lihat sebelumnya sesuatu yang sangat rumit dan tidak akan mampu ditahan hanya dengan energi pedang saja. Karena itulah pilihan yang tepat untuk menghadapi jurus itu adalah menghindar.


Dia segera memahami, jika energi pedang yang melesat itu bukan energi pedang biasa. Sebab itu adalah penggabungan berbagai tehnik yang sangat rumit dan perlu penguasaan tingkat tinggi.


Aura dan energi pedang yang begitu kuat telah membuat pasir besi yang dikerahkan dengan tehnik perubahan tanah jenis logam semakin mengerikan. Sehingga mampu membuat setiap butirnya melesat bagaikan peluru.


Selain kekuatan barusan, sebenarnya ada hal lain yang tak kalah mematikannya, yaitu kandungan racun yang terdapat dalam setiap butiran pasir itu. Sekilas terlihat racun berwarna unggu yang menyertai lesatan serangan itu.


Racun itu bukanlah racun sembarangan, sebab itu bisa disandingkan dengan kekuatan racun dari kitab Dewa Racun milik Dukun sesat dari Daha. Itu adalah salah satu racun andalan yang dimiliki Wang Fuhu.


Racun itu juga tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan bubuk racun yang dia gunakan sebelumnya. Jika ada yang tertembus satu butir pasir besi itu, walaupun itu hanya luka goresan, maka orang itu akan mati dalam waktu tidak lebih dari beberapa helaan nafas saja.


Kekuatan terjangan dari pasir hitam itu juga mengerikan. Setelah eyang Sindurogo menghilang, maka dinding yang sebelumnya berada dibelakangnya akhirnya hancur terhantam kekuatan itu.


Hal itu terjadi, karena setiap butir pasir yang menerjang itu bisa dikatakan seakan mewakili sebuah bilah pedang.


'Aku tidak menyangka ternyata kepiawian iblis racun dalam tehnik pedang sangat mengerikan,' batin eyang Sindurogo


Kanda yang sebagai sumber chakra dalam kundhalini lelaki itu memiliki dua unsur yang berlainan, yaitu unsur tanah jenis perubahan logam dan unsur air jenis perubahan racun.


'Aku tidak menyangka perkembangan kekuatan lelaki ini begitu mengerikan. Sebuah tehnik serangan yang sangat langka.' Eyang Sindurogo terus bergerak menghindar, sebab Wang Fuhu tidak membiarkan musuhnya lepas.


'Pantas saja lelaki ini begitu ditakuti, ternyata tehnik yang dia kuasai bisa sampai setinggi ini. Selain dilambari energi pedang yang begitu kuat, racun yang terkandung di setiap butir pasir itu tidak bisa diremehkan.'


"Lembuswana bantu eyang guru!"


Wuuuussssh...


Ghooaaaarrrr!


Duuuum!


Melihat gurunya keteteran melawan musuhnya, Suro segera memanggil hewan yang sebelumnya dijadikan tunggangan oleh Mahadewi.


Hewan itu langsung mengepakkan sayapnya dan menukik tajam menghantamkan kakinya ke arah Wang Fuhu atau iblis racun. Namun lelaki yang juga dipanggil Pedang Pembantai itu tidak tinggal diam.


Saat makhluk yang besarnya setengah dari gajah itu menghantamkan kakinya, maka dia segera membentuk benteng dari pasir besi miliknya. Maka sekejap kemudian sebuah balok besar dari besi menghadang hantaman kaki milik Lembuswana.


"Tombak Pembasmi!"


Di saat Wang Fuhu sedang berjibaku dengan Lembuswana, eyang Sindurogo melihat ada peluang. Segera dia menggunakannya untuk menyerang lawan. Beberapa larik sinar dari ujung jari telunjuknya menghantam Pedang Pembantai.


"Jurus ini lagi, apakah kau tidak memiliki ilmu lain Sindurogo? Jurus yang sama tidak akan mempan kepadaku!"


Eyang Sindurogo mendengus kesal melihat serangannya dipandang sebelah mata. Tetapi memang sesaat kemudian, kembali serangannya dapat diserap lalu dikembalikan lagi kepadanya.


Belum berhenti disitu pasir yang sebelumnya berhasil menghancurkan tubuh Lembuswana, kali ini mengejar eyang Sindurogo.


Serangan yang telah menghancurkan makhluk yang berasal dari tehnik perubahan tanah milik Suro sangat luar biasa. Sebab tombak yang menembus tubuh Lembuswana meledak saat berhasil memasuki tubuh hewan itu.


Ledakan itu adalah energi pedang yang terkandung didalamnya. serangan itu memecah menjadi ribuan bahkan lebih. Energi pedang itu melesat bersama butiran pasir yang membentuk tombak itu.


Kini puluhan tombak bergerak mengejar kemanapun eyang Sindurogo. Melihat serangan yang dilakukan iblis racun Dewa Rencong ketar-ketir, sebab baru kali ini ada seseorang yang mampu melakukan serangan mematikan seperti itu.


"Sial tempat ini tidak membiarkan diriku mengerahkan serangan terkuatku!" Eyang Sindurogo walaupun dihujani dengan serangan begitu mematikan, namun dia tetap dapat menghindari semuanya.


Dia dalam kondisi serba salah, sebab jika dia menggunakan serangan jarak jauh, maka serangannya dapat dikembalikan. Tetapi jika menyerang dari jarak dekat, itu artinya dia harus bersiap menghadapi racun kuat yang dimiliki Iblis racun. Seperti pada awal saat mendekat tubuhnya langsung terkena racun pelumpuh tulang.


Namun berkat jurus Langkah Maya yang berasal dari Geho sama telah berkali-kali menolong pendekar itu untuk dapat menghindari serangan lawannya. Sebab berkali-kali lesatan pedang atau tombak yang dibentuk dari pasir besi sebelum mendekat, justru meledakkan energi pedang yang tersimpan didalamnya.


"Kau mungkin dapat menghindari seranganku, bagaimana jika mereka bertiga?"


"Gawat! Angger Suro jangan biarkan iblis ini menyerang mereka bertiga!"


Duuum!


Duuuum!


Suro yang mendengar teriakan gurunya segera melakukan perintahnya. Tubuh dia segera lenyap dari pandangan. Dia kemudian muncul di ujung lorong, dimana dibelakangnya, Dewa Rencong, Mahadewi dan tetua Dewi Anggini berada.


Mereka bertiga telah mundur ke arah lorong yang menjadi jalan masuk mereka sebelumnya. Suro telah menutup lorong itu dengan dinding tanah yang dikerahkannya, sehingga mereka dapat terhindar dari serangan yang hendak dikerahkan lawan.


"Bagus aku menyukai keputusan kalian untuk mati disini! Dinding batu seperti itu tidak akan dapat menahanku," ucap Wang Fuji dengan nada mengejek.


Senyumnya yang merendahkan lawan didepannya, seketika langsung menghilang. Sebab sebuah tehnik api yang dia kenal dikerahkan oleh pemuda didepannya.


"Bagaimana kau memiliki tehnik api milik tetua Naga Hitam?"


Kali ini Suro mengerahkan tehnik api hitam tanpa menggunakan Pedang Kristal Dewa, bahkan tanpa campur tangan Lodra.


"Kau salah, tetuamu itu hanya meniru api hitam dari pedang milikku ini."


Wang Fuhu terkejut mendengar jawaban Suro, dia sampai memicingkan mata. Dia terlihat kebingungan dengan ucapan barusan.


Ditengah kebingungannya dia kembali terkejut.


"Apakah yang kau maksud tehnik api hitam ini?"


"Serigala Neraka!"