
Dewa Obat lalu mulai membacakan mantra-mantra kepada Suro untuk dihafal. Semua diucapkan hanya sekali.
Suro lalu mengucap ulang mantra yang barusan diajarkan kepada dirinya. Dengan sekali dengar mantra itu sudah dapat dihafalkan oleh Suro. Melihat kemampuan Suro begitu luar biasa membuat Dewa Obat tersenyum ceria.
"Melihat dirimu begitu mudah menangkap apa yang aku ajarkan, agaknya aku tidak membutuhkan waktu panjang," ujar Dewa Obat sambil tertawa kecil.
"Jika sudah, kerahkan kekuatan jiwamu. Lalu ucapkan mantra secara bersamaan dengan keempat penjaga gaibmu. Aku akan memberi contoh kepadamu bagaimana cara diriku memanggil senjata astra. Setelah itu kau kerahkan langsung, seperti yang aku lakukan..."
Pertama Dewa Obat memanggil Brahmastra lalu dia memanggil astra dengan yang mirip Brahmastra, tetapi mengandung kekuatan yang luar biasa jauh mengerikan.
"Ini adalah Brahmashirsha astra kekuatannya empat kali dari Brahmastra. Karena kekuatannya telah disempurnakan oleh Batara Brahma."
Setelah satu selesai, maka Dewa Obat melanjutkan memanggil Astra yang lain. Tanpa henti Suro terus diajari oleh Dewa Obat cara memanggil para Astra.
"Dan yang terakhir ini adalah Narayanastra senjata milik Batara Wisnu, ini mampu memanggil ribuan senjata Astra lainnya. Tidak akan ada yang mampu selamat darinya, kecuali berpasrah diri secara total pada penjelmaan Batara Wisnu."
Suro menganggukan kepala lalu mengikuti Dewa Obat memanggil Narayanastra. Melihat keberhasilan Suro, Dewa Obat tersenyum cukup puas.
"Sudah cukup, itu adalah para Astra yang aku miliki. Latihan yang aku berikan kepadamu telah selesai."
Dewa Obat seakan tidak percaya melihat Suro mampu melakukan semua dengan begitu sempurna.
"Ingat dalam menggunakan Astra ini tenagamu bisa berakibat seluruh tenaga dalammu akan terkuras. Karena itu sebaiknya kau menggunakan pill yang lebih kuat dari Pill tujuh bidadari. Minimal setara dengan Pill tujuh nirwana milikku.
Sharkara Deva milikmu memang ampuh memulihkan kekuatanmu, tetapi jumlahnya sangat terbatas."
"Aku memiliki pill lain yang dibuat oleh eyang guru, tetapi menurut dirinya pill ini dibuat mengikuti petunjuk dari tuan guru Dewa Obat. Pill ini bernama Bahavana Sahasra Nirwana." Suro berbicara sambil memperlihatkan sebutir pill.
"Apa?! Bagaimana kalian mampu menemukan bahan untuk membuatnya? Bahan untuk membuat pill itu paling susah dicari. Sebab aku sendiri tidak pernah menemukannya, yaitu sisik dari seekor naga paling langka. Naga sisik emas."
Suro lalu menceritakan kepada Dewa Obat membuat lelaki itu terkagum-kagum.
"Baiklah berarti semua masalah telah selesai jika kau memiliki pill itu. Sebab, jika tanpa kekuatan tambahan, maka mantra pemanggil itu dapat berakibat fatal bagi penggunanya sendiri. Terutama jika penggunanya tidak memiliki cukup tenaga.
Memang seperti itulah adanya, karena sesungguhnya para Astra ini milik para dewa. Sehingga dengan kekuatan tingkat surga seperti milikku atau juga milikmu akan sangat terbebani.
Meskipun kita mampu memanggil para Astra, tetapi itu bukanlah kekuatan maksimal. Karena pada dasarnya kekuatan dahsyat para Astra itu berasal dari penggunanya.
Sehingga semakin besar tenaga yang diserap, tentu kekuatannya juga semakin besar. Jika kekuatanmu sudah setara dewa, maka kemungkinan para Astra ini akan memperlihatkan kekuatan yang sebenarnya."
Dewa Obat tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan. Dia sangat mengagumi apa yang dilakukan Suro.
"Apa yang kau lakukan ini sesuatu yang sangat luar biasa. Sebab aku belajar memanggil para Astra dari ayahandaku guru Dorna membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi kau mampu melakukannya hanya dalam waktu semalam dengan begitu sempurna.
Ini bukanlah kemampuan pada lumrahnya manusia. Kau memang sebuah keajaiban. Sebenarnya sejak aku melihatmu, langsung membuat diriku teringat kepada seorang anak dari musuh bebuyutanku.
Dia memiliki kemiripan dari segi kecerdasan, paras, maupun kekuatan dahsyat yang dikuasai. Kau tau siapa musuh bebuyutan yang memiliki anak yang beberapa hal termasuk wajahnya mirip denganmu?"
Suro mengangkat bahu, "entahlah guru."
"Dia adalah Arjuna. Ksatria yang juga disebut dengan beberapa nama. Dia disebut sebagai Permadi (tampan), Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas).
Dan wajahmu ini mewarisi dirinya yang memiliki julukan lelaki paling rupawan diantara semua lelaki."
Suro hanya tertawa-tawa saat dirinya disebut memiliki wajah yang rupawan.
Suro mendengarkan semua wejangan atau nasehat dan pengajaran Dewa Obat sambil berdiri diatas udara. Mereka melakukan itu selama semalaman.
Saat matahari telah muncul diufuk timur, maka Dewa Obat menyudahi apa yang dia ajarkan kepada Suro.
**
Setelah selesai dari pengajaran Dewa Obat, Suro dan Geho Sama segera bersiap untuk menuju kota kerajaan.
"Geho Sama, tampangmu yang berwujud sebegitu mengerikan sebaiknya kau rubah, bukankah dirimu dikenal juga sebagai ahli sihir yang mumpuni. Rubah dahulu penampilanmu seperti layaknya manusia," ucapan Dewa Obat menghentikan langkah Geho Sama dan Suro yang hendak mengerahkan Langkah Maya.
Geho Sama mengangguk mendengar ucapan Dewa Obat. Dia kali ini tidak menggerutu mendengar usul Dewa Obat.
"Apakah seperti ini sudah cukup?"
Setelah merapal sebuah mantra, maka wujud Geho Sama tidak lagi seperti sebelumnya. Tidak terlihat sayap di punggungnya.
Walaupun hidungnya masih panjang, tetapi tidak sepanjang sebelumnya. Tubuhnya masih cukup tinggi, bahkan Suro yang memiliki tubuh sedikit jangkung sekalipun hanya sampai sepundaknya.
Dewa Obat hanya menganggukkan kepala setuju dengan bentuknya yang baru.
Akhirnya mereka bertiga Suro, Mahadewi dan Geho Sama menuju kota Louyang kota kerajaan kekaisaran Yang.
**
"Apakah kita sudah benar dikota yang dituju?" Geho Sama menatap Suro sambil melihat sekeliling.
Mereka terus berjalan menyusuri kota kerajaan. Tempat itu sangat ramai sehingga sangat berbeda dengan kota Shaanxi.
Para pedagang dan penduduk kota raja memenuhi jalanan. Membuat mereka harus sedikit memelankan langkah kakinya.
Mahadewi begitu tertarik dengan suasana kota Luoyang. Karena itu Suro membiarkan dara itu menikmati pemandangan yang tidak setiap hari dapat dia lihat.
"Apakah kau yakin mereka masih ada di kota Luoyang ini?" Geho Sama bertanya kepada Suro.
Suro kembali mengingat perkiraan yang diucapkan oleh Yang Xiaoma mengenai perjalanan rombongan menuju kota ini membutuhkan waktu sekitar lebih dari enam hari. Karena mereka pergi dalam rombongan besar, sehingga tidak bisa secepatnya.
Dengan perhitungan mereka kemungkinan Dewi Anggini dan yang lain baru sampai sehari yang lalu. Sehingga tidak mungkin mereka langsung balik.
Sebelum mereka menentukan tempat dimana Dewi Anggini berada, mendadak suara teriakan-teriakan keras memecah kerumunan jalan kota yang cukup padat.
Suara gaduh juga mengiringi teriakan-teriakan. Mereka adalah para pedagang yang diusir dari jalanan.
Dagangan mereka disingkirkan begitu saja tanpa peduli, jika itu membuatny hancur. Suara barang pecah belah yang terlempar atau ditendang terdengar semakin dekat.
"Putra Mahkota datang!"
"Putra Mahkota datang!"
"Mingiiir! Mingiiir kalian semua menghalangi jalan putra makhkota saja!"
"Cepat mingir!"
Bruuuaaak!
"Aaarrggghhh!"
"Cepat minggir!"
Suara teriakan-teriakan prajurit yang berada di bagian depan berusaha membuka jalan iring-iringan panjang. Suara ringkikkan kuda dan derapnya semakin membuat riuh jalanan padat.
Ditengah-tengah iringan itu terlihat sebuah kereta mewah dijaga ketat oleh para prajurit. Dari tirai kereta yang terbuka terlihat jika didalamnya ada seorang anak muda melongokan kepala.
Tanpa sengaja pasangannya tertambat pada paras seorang dara muda yang sedang melihat takjub suasana kota kerajaan. Saat itu lah kereta lewat didepan mata dara. Pandangan mereka berdua bertemu.
"Berhenti!"
Suara dari dalam kereta menghentikan iring-iringan panjang. Membuat beberapa kuda sempat bertabrakan.
Melihat putra mahkota meminta turun. Maka dengan sigap para prajurit segera turun dan menyuruh setiap orang untuk menundukkan badan sampai beberapa lainnya terjerebab dan tengkurap dijalan. Mereka semua dilarang melihat pemuda yang sekarang keluar dari kereta.
"Tundukkan kepala kalian atau aku congkel kedua matamu!"
Suara riuh prajurit pengawal membuat para penduduk segera menundukkan kepala dan duduk berjongkok penuh ketakutan.
Bruuuaakk!
Dubraaak!
"Kurang ajar, berani sekali kau memukul kepalaku!" Geho Sama yang memang memiliki tubuh paling jangkung dari pada yang lain menjadi sasaran utama batang tombak para prajurit.
Geho Sama langsung murka. Sebab para prajurit langsung menghantamkan batang tombak ke arah kepala Geho Sama. Sebelum tombak itu menyentuh kepala, justru tendangan dengan kecepatan tinggi sudah bergerak.
Tentu saja tubuh prajurit itu langsung terbang terlempar tinggi dan berakhir dengan kondisi tersangkut diatas atap rumah penduduk.
Setelah itu prajurit-prajurit yang lain juga menyusul dan bernasib sama, yaitu tersangkut di atap, tiang dan beberapa prajurit justru tubuhnya meluncur dan menghancurkan kereta putra mahkota.
"Sudah, sudah, sudah Geho Sama...lihat kau sudah membuat keributan tidak perlu." Suro mencoba menghentikan amukan Geho Sama.
"Biarkan saja orang lemah seperti mereka berani-beraninya menyuruhku menundukkan kepala!"
Tetapi itu sudah terlambat, sebab hampir semua prajurit sudah tidak sadarkan diri terkena amukan Geho Sama.
"Jika kau menyuruh diriku menundukkan kepala kepadamu bocah, itu suatu yang wajar. Tentu aku akan melakukannya. Tetapi jika mereka menyuruhku menundukkan kepala, jangan harap!"
"Apa salahnya Geho Sama?" ucap Suro dengan nada kesal.
"Tentu saja salah, menundukkan kepala dan mengalah kepada orang-orang yang bertabiat buruk, hanya akan membuat dunia semakin buruk, kau tau mengapa?
Mereka akan semakin besar kepala, seakan tidak ada yang mampu mengalahkannya. Sombonglah dirimu kepada orang yang sombong seperti mereka...!!!" Geho Sama berbicara sambil menunjuk-nunjuk pangeran yang justru tatapannya masih terpaku pada wajah Mahadewi.
Suro hanya menepuk-nepuk jidatnya melihat sikap Geho Sama yang kukuh menolak menundukkan kepala.
"Dasar orang gila, jika tidak membuat masalah, maka akan membawa masalah!" ujar Suro sambil menepuk jidatnya.
Suro berjalan ke arah pemuda yang masih terpana menatap paras Mahadewi. Disamping kanan dan kiri pemuda itu para prajurit yang tersisa terus bersiaga dengan senjata terhunus.