SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 502 Pedang Nandaka



"Tuan guru! Apakah kau baik-baik saja!" Suro berteriak dari jauh.


Tetapi sebelum Dewa Obat memberikan jawaban, Suro segera menghilang dan muncul didekat Dewa Obat.


"Jangan menghawatirkanku, tetapi bisa kah kau berikan kepadaku Sharkara Deva milikmu? Aku membutuhkannya untuk melawan Jendral Batjargal."


Suro menggaruk-garuk kepala sambil menyengir ke arah Dewa Obat. Pandangannya lalu menatap ke arah Jendral Batjargal yang agak jauh dari mereka.


"Sudah aku habiskan, tetapi aku masih memiliki pill tujuh Nirwana satu butir dan ini pill tujuh bidadari, jika tuan guru berkenan?"


Terlihat rasa kecewa terlukis di wajah Dewa Obat. Tetapi itu hanya sekilas, sebab tangannya langsung menyambar dan dia bawa melesat ke arah Jendral Batjargal.


"Sudah kau cari saja lawanmu sendiri! Dia biar aku sendiri yang akan menghadapinya!" Dewa Obat berbicara sambil menelan salah satu pill yang diberikan Suro.


**


"Kali ini aku akan mencincang tubuhmu!" Jendral Batjargal berbicara sambil menyeringai menunjukkan taringnya mirip seekor harimau.


"Aku tidak menyangka kau sanggup menembus kekuatan puncakmu. Kekuatan zirah iblismu kini setara dengan ilmu kebal Genta Kumala tahap dua belas, artinya golokku ini juga tidak berguna"


Dewa Obat justru tersenyum menatap ke arah musuhnya. Dia mengetahui musuh telah mulai menekan dirinya dengan aura pembunuhnya yang begitu besar. Namun dia justru memasukkan golok besar miliknya yang sudah ada dalam genggamanya ke dalam sarung yang menggantung di pundaknya.


"Tetapi kau sedang sial. Karena lawanmu adalah aku!" Dewa Obat masih terlihat tenang melihat pancaran kekuatan Jendral Batjargal yang lebih kuat berkali lipat dibanding sebelumnya.


Dewa Obat lalu membentuk segel tangan Varada Mudra, dia hendak memanggil salah satu astra yang dia kuasai. Seketika muncul sebuah bilah pedang ditangan kanannya yang memancarkan warna keemasan cukup menyilaukan mata.


"Kau mungkin tidak mempan jika aku serang hanya dengan golokku, tetapi tidak dengan Pedang Nandaka milikku ini. Jangankan tubuhmu yang terbuat dari daging. Seandainya tubuhmu terbuat dari baja sekalipun, niscaya aku akan tetap dapat memotongnya!"


"Tcih...! Banyak mulut!"


Jendral Batjargal murka, segera dia cabut tombak pendek yang berada dipundaknya. Pada awalnya Dewa Obat masih tenang saja melihat musuhnya telah melesat ke arahnya dengan tombak ditangannya.


"Kau pikir aku datang menghadapimu tidak dengan sebuah persiapan!"


Dewa Obat terkejut setelah melihat kekuatan dari tombak pendek yang sedari tadi terselip dipundak Jendral Batjargal. Dia segera mengenali senjata milik lawannya.


"Tombak Nagashura! Bagaimana kau memilikinya?" Dewa Obat terkejut melihat tombak pendek yang panjangnya setengah depa( satu depa 182cm) kini memanjang sampai satu tombak(3,75 meter).


Dewa Obat berubah menjadi jirih melihat tombak yang digunakan Jendral Batjargal. Kekuatan tombak yang digunakan itu bukan hanya mampu memanjang dan memendek sesuka hati, tetapi bisa atau racun yang memancar dari tombak itu terkenal mematikan.


"Sudah aku duga, seperti dalam kabar yang tersebar! Seorang Dewa Obat hanya takut pada satu hal, yaitu racun!" ucap Jendral Batjargal sambil menggebuk musuhnya dengan sekuat tenaga.


Bldaaaar!


Ledakan kekuatan yang melambari hantaman kuat tombak itu membuat tanah terguncang keras. Tanah itu juga amblas hingga setengah tombak.


Dewa Obat tidak memikirkan dengan dahsyatnya kekuatan yang melambari hantaman keras tadi. Perhatiannya justru kepada hawa racun yang menyertai setiap serangannya.


Namun tetap saja racun yang menyambar membuat Dewa Obat harus segera menelan beberapa pill penawar racun miliknya. Dia bisa melihat betapa mematikannya racun itu, sebab rumput-rumput yang tersapu oleh hawa racun itu saja langsung layu dan mati.


Dewa Obat bergidik melihat betapa menakutkannya racun yang melingkupi pusaka Tombak Nagashura milik Jendral Batjargal.


Melihat musuhnya mundur beberapa tindak membuat senyum Jendral Batjargal semakin lebar. Dia semakin yakin tentang kabar yang dia dengar mengenai Dewa Obat.


Walaupun dia tidak mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi, karena dia terkenal akan ilmu pengobatannya. Tapi apapun itu telah membuat serangan Jendral Batjargal semakin mengganas.


"Dimana keperkasaanmu yang kau tunjukkan sebelumnya!"


"Kegilaanmu mengenai ilmu bela diri menyamai Naga Hitam dari Kelompok Mawar Merah!" ujar Dewa Obat mendengus kesal sambil kembali mundur beberapa tindak.


Pedang Nandaka yang berada ditangannya bergerak menebas tombak yang meluncur cepat memanjang seakan naga. Tombak itu bergerak memutar mencoba mengelak dari tebasan pedang milik Dewa Obat.


Serangan Jendral Batjargal terus mengejar Dewa Obat. Pendekar itu terpaksa harus terus mundur demi menghindari terjangan tombak yang menebarkan hawa racun begitu kuat.


"Hahaha...! Aku menyukai ini!" Suara Dewa Obat terdengar keras meski saat itu serangan Jendral Batjargal terus menghujani dirinya.


Suara tawanya yang keras membuat Jendral Batjargal semakin bertambah murka dan amukannya bertambah menggila. Kelakuan Dewa Obat juga mencuri perhatian Suro.


Pemuda itu sampai berhenti melesatkan panahnya dan memilih memperhatikan pertarungan Dewa Obat dengan Jendral Batjargal. Suro merasakan keanehan dari sikap Dewa Obat yang tidak segera menyerang Jendral Batjargal dengan astra berkekuatan besar lainnya.


Suro segera menyadari, jika Dewa Obat memang sengaja memancing musuhnya itu untuk mengejar dirinya. Sebab saat dia mundur setindak dua tindak itu dia telah membawa Jendral Batjargal keluar dari dalam benteng.


"Aku tau sekarang mengapa sedari tadi dia tidak mengerahkan serangan berkekuatan besar, sebab dia tidak ingin menghancurkan benteng ini," Suro yang berada di atas benteng membuat tatapannya mampu menyapu seluruh pertarungan. Termasuk pertarungan antara Dewa Obat dan Jendral Batjargal.


Seperti yang telah diperkirakan Suro sebelumnya, begitu Jendral Batjargal berhasil menjauh dari pasukan kekaisaran maka jurus pedang yang dimainkan Dewa Obat langsung berubah.


Serangan setiap tebasannya bergerak dengan dilambari kekuatan besar. Tanah yang terhantam energi tebasan itu membentuk jurang-jurang dalam.


Pasukan gabungan musuh yang kebetulan terjebak harus rela merenggang nyawa karena kuatnya serangan yang dikerahkan Dewa Obat. Jendral Batjargal terlalu bernafsu untuk menghabisi pendekar itu.


Nama Dewa Obat dalam dunia persilatan Negeri Atap Langit sangat tersohor. Bahkan sejak Jendral Batjargal masih dalam momongan namanya sudah dikenal luas.


Bahkan nama itu terus membekas dalam ingatan Batjargal kecil. Sebab dalam sebuah pertarungan ayahandanya harus meregang nyawa mati ditangan Dewa Obat.


Karena alasan itulah yang melatar belakangi mengapa jendral itu menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk memperkuat dirinya sampai tahap yang sangat ekstrim.


Dan begitu juga alasan Jendral Batjargal mampu meningkatkan kekuatannya hingga menembus gerbang terakhir dari benih iblis. Semua itu adalah didorong kemarahan yang melebihi tingginya gunung. Kemarahannya juga yang akhirnya menutup akal sehatnya dan begitu mudahnya dirinya digiring oleh Dewa Obat.


Tetapi dia memang sudah tidak memperdulikan hal semacam itu. Saat ini tujuannya hanya satu yaitu menghancurkan lelaki yang dulu telah membunuh ayahandanya.


Hanya saja pendekar yang sedang dia hadapi adalah salah satu Ciranjiwin yang memiliki astra para dewa yang bisa dia panggil sebanyak yang dia mau.