SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 41 PERTARUNGAN PARA BIDADARI KHAYANGAN



Pertarungan antara Bajang Awarawar melawan Jaladara akhirnya selesai. Dengan sebuah kemenangan berada dipihak Jaladara. Walaupun dia sudah memenangkan pertarungan tidak terlihat sedikitpun keangkuhan yang ditunjukan kepada lawannya. Bahkan setelah tetua La Patiganna yang menjadi wasit mengumumkan kemenangan atasnya dia menjura dengan dalam kepada Bajang Awarawar yang terlihat menahan sakit dikakinya akibat tendangan Jaladara.


"Boleh aku bantu kisanak? Maafkan tendanganku tadi telah membuat kisanak terluka."


"Jangan menghina seorang pendekar dengan belas kasihan kisanak! Aku tau kisanak tidak melakukan itu untuk niat melukai. Kita datang dan berdiri disini bukan untuk kasih mengkasihani. Kita disini untuk beradu kekuatan dan keahlian olah kanuragan. Semua itu untuk membuktikan yang terbaik."


"Meskipun diriku kalah tetapi aku merasa terhormat karena kisanak menganggab aku sebagai lawan yang cukup diperhitungkan. Melawanku dengan kemampuan dan kekuatan maksimal yang dimiliki kisanak. Itu justru sudah membantuku menemukan kekuranganku agar aku bisa mencapai kemajuan dalam pelatihan ilmu olah kanuraganku selanjutnya."


"Jangan merendah kisanak. Kemenanganku hanyalah keberuntungan semata. Seandainya tanpa luka dikaki aku tidak yakin bisa mengalahkan ilmu Welut Putih dan Jurus Alap-alap Kumitir."


"Mari aku bantu jalan kisanak Galih Awarawar." Jaladara memanggil nama asli dari lawan tandingnya walaupun dia menang dia tetap menunjukan jiwa ksatria dalam dirinya. Dia tetap menaruh penghormatan kepada lawan yang telah dia kalahkan. Segera dia mendekati Bajang Awarawar dan membantu memapahnya setelah melihat lawannya agak kesulitan berjalan.


"Hahahaha...! Kisanak Arjuna dari Gunung Slamet terimakasih." Mereka berdua turun dari panggung dengan beriringan.


Sebelum pertarungan itu terjadi, sebenarnya sudah ada satu sesi pertarungan yang sudah selesai. Yaitu Pertarungan sesi pertama. Dalam pertarungan tersebut seorang murid utama yang berasal dari negeri sebrang berhasil menjadi pemenangnya.


Hasil pertarungan itu dimenangkan oleh seorang murid utama yang bernama Datuk bandaro putih. Dia berasal dari perguruan cabang yang masih masuk wilayah Kerajaan Kandis. Sebuah kerajaan yang terletak disuatu pinggir aliran Sungai Batang Kuantan. Kondisinya yang sengaja dibangun dan berdiri dipinggiran sungai.


Alasannya dibangun dipinggiran sungai kemungkinan berhubungan erat dengan pilihan transportasi air yang masa itu masih menjadi pilihan paling tepat untuk menjadi alat menjelajahi tempat. Bahkan menjadi satu-satunya sarana yang memungkinkan mengirim berbagai komoditi yang dihasilkan kerajaan.


Kapal-kapal itu bersandar dipinggir sungai yang dijadikan bandar pelabuhan kota kerajaan. Dengan kapal-kapal itulah digunakan untuk membawa berbagai hasil komoditi hutan dan pertanian untuk dijual ke berbagai daerah lain.


Selain Pemasukan kerajaan yang berasal dari pertanian,rotan dan hasil hutan lainnya, masih ada tambahan lain. Tambahan pendapatan kerajaan yang dimaksud adalah hasil tambang logam mulia emas.


Bahkan ada satu tambang yang sengaja dibangun melalui titah Raja. Mereka mengirim komoditi perniagaan yang berupa semua hasil hutan, pertanian dan emas dengan mengunakan kapal-kapal. Bahkan hubungan perniagaan itu sampai ke tanah Javadwipa. Melalui hubungan diplomasi antar berbagai kerajaan di Javadwipa, menjadikan perniagaan mereka maju pesat.


Kerajaan itu berada dinegeri sebrang. Disuatu pulau besar yang bernama Suvarnabhumi. Sebuah pulau yang terletak disebelah barat Javadwipa.


Setelah Sesi pertarungan pertama dimenangkan Datuk bandaro putih dan sesi ke dua dimenangkan Jaladara. Maka pada pada babak penyelisihan ini masih menyisahkan dua pertarungan lagi.


Pada sesi ketiga dan keempat agak berbeda pada sesi-sesi sebelumnya. Sebab mereka para peserta semua adalah pendekar-pendekar wanita yang sangat tangguh.


Berturut-turut pada sesi ke tiga dan ke empat, pertarungan antara Gayatri melawan Arimbi dan Mahadewi melawan Anjani.


Pada sesi pertama pertarungan Gayatri melawan Arimbi berlangsung sangat seru. Pertarungan mereka tak kalah seru dengan para peserta pria. Tehnik-tehnik yang sangat mematikan digelar dengan begitu dahsyat.


Antusias penonton pada sesi pertarungan akhir ini justru lebih semarak, begitu luar biasa antusiasnya. Seakan sebuah sesi penutup yang sangat mengesankan. Mereka berteriak bergemuruh menyebutkan nama-nama dara yang menjadi peserta.


Antusias penonton yang terlihat begitu aktif daripada sebelumnya. Para penonton yang terlihat lebih riuh didominasi oleh para penonton pria. Tentu saja antusias penonton itu disebabkan penampilan dara-dara yang begitu elok. Baik dari parasnya maupun lekuk tubuhnya yang begitu indah. Para dara dengan tubuhnya yang mempesona itu berkelebatan bergerak dengan cepat semakin membuat jantung para pemuda berdesir dan bergoncang.


Gayatri yang memiliki tubuh tinggi putih dengan rambut panjang diikat dibelakang. Saat dia berjumpalitan para penonton pria seakan melihat dewi khayangan yang sedang menaiki seekor kuda sembrani yang sedang terbang membelah awan.


Bagi para bujang lapuk melihat keindahan seperti itu akhirnya harus merelakan dari kedua lubang hidungnya memancur deras darah muda yang tak tersalurkan.


Jangankan para kaum muda yang darahnya masih mengelora. Bahkan aksi para dara itu juga telah membuat para aki-aki melotot seakan tak berkedip. Mereka melihat keindahan dara-dara yang melakukan pertarungan dengan sengitnya terlihat begitu antusias bahkan sampai lupa keadaan alam sekitar.


Dalam bayangan para aki-aki, mereka yang bertarung terlihat seakan menjelma menjadi para Dewi-dewi khayangan sedang turun ke marcapada dan mengelar tetarian sesajen bumi.


Tatapan mereka yang seakan kosong dan air liur yang berada dipinggir bibir mengalir deras membasahi bajunya tanpa mereka sadari. Tentu saja mereka tidak menyadarinya sampai berkali-kali centong sakti menggetok tempurung kepala para aki-aki itu dengan dahsyat.


"Dasar lelaki mata keranjang tidak tau umur sudah mendekati kubur masih saja melotot tak berkedip melihat daun muda didepan mata. Bikin malu anak cucu saja! Lihat liurmu membasahi bajumu!"


Pukulan dahsyat centong sakti dari nini-nini seperti belaian mesra para Dewi khayangan. Omelan para nini-nini yang mencecar, seakan kicauan burung kutilang sehabis diberi makan pepaya. Tentu saja semua itu telah membuat sadar para aki-aki itu. Hal itu telah membuat para aki-aki menghentikan aksinya dan mulai menyadari matanya yang melotot belum berkedip.


Tetapi itu hanya berlangsung dalam satu seruput saja. Sebab setelahnya, mereka kembali asik dengan begitu terpana, matanya memelototi setiap lekuk tubuh yang bergerak berjumpalitan. Bahkan mereka belum sempat mengelap liurnya yang masih menetes dipinggir bibirnya.


Melihat para dewi dari khayangan yang turun ke marcapada untuk melakukan tarian sesajen bumi. Membuat mereka merasa para nini-nini yang mengoceh tanpa jeda dan titik terasa begitu merdu seakan nyanyian jiwa. Mereka membiarkan saja air liurnya kembali mulai menetes membanjiri pakaiannya.


Teriakan-teriakan gelora para darah muda bagi aki-aki terdengar seperti kidung yang mengiringi tarian para Dewi khayangan dalam lamunan mereka.


Jurus Pedang Ular milik Gayatri begitu lincah meliuk-liuk seakan ular Puspo kajang atau ular sanca kembang. Jurus itu bergerak cepat seperti gerakan ular yang memangut korbannya dengan cepat sedikit mirip Jurus Cecaran Hujan milik Perguruan Gerbang Mahakam. Tetapi gerakannya yang meliuk-liuk seakan membelit mengingatkan gerakan Jurus Pedang Lentur milik Made Pasek.


Jurus yang begitu pas digunakan oleh seorang perempuan. Tubuhnya yang ramping itu bergerak begitu indah dan lincah mengelar jurus unik itu. Tubuh yang ramping dengan leher jenjang dan tangan lentiknya telah menebas pedang kearah lewan dengan begitu mengerikan.


Gerakan yang lentur dan luwes itu begitu sempurna dipraktekan Gayatri dalam serangannya ke arah Arimbi.


Suatu tehnik yang mengunakan sebuah benang khusus yang sangat tajam dan kuat. Kemampuan benang itu begitu terkenal karena sebuah pohon besar pun akan mampu terpotong. Dengan kondisi tehnik dan penyaluran chakra kepada benang itu tepat.


Bagian paling mengerikan dari tehnik ini adalah jebakan-jebakan yang sedikit tak kasat mata jika matanya tidak jeli. Bila seseorang terjebak dalam formasi jala, maka kemungkinan besar adalah hari terakhir dia hidup. Sebab jala yang terentang itu benar-benar tajam. Jika lawannya itu tidak menyadari dan menerjangnya maka yang terjadi kemudian adalah, tubuh yang terpotong-potong sebelum sang empunya menyadari.


Gayatri segera berjumpalitan menghindari belitan benang yang mencoba memotong lehernya. Sambil meluncur diantara celah tali benang yang mencoba menangkap tubuhnya pedangnya segera membabat Arimbi.


Sriiing!


Sebuah belitan benang menangkap pedang Gayatri. Arimbi mencoba menarik lepas dari tangan lawannya. Tarikan itu begitu kuat sehingga terjadi pergesekan yang menghasilkan bunga api.


Tarikan yang sebelum ditahan digunakan Gayatri untuk menyerang lawannya. Dengan mengikuti arus tenaga lawannya kakinya yang terlihat putih bersih dibalik pakainnya menendang ke arah tengkorak Arimbi.


"Huwaaaa! Gayatri aku padamu!"


Teriakan para penonton yang berasal dari para penduduk yang sebelumnya dilarang masuk kini oleh ketua sekte diperbolehkan masuk. Hal itu dikarenakan keberadaan Baginda Sri Maharaja Wasumurti telah meninggalkan Sekte Pedang Surgo dan kembali kekerajaannya sepertinya ada nawala yang cukup wigati.


Terlihat mukanya langsung memerah menahan marah dia segera bergegas meninggalkan sekte dan kembali ke istananya setelah urusannya dengan Dewa Pedang juga Suro telah selesai.


Arimbi segera menyelamatkan kepalanya dari gempuran Gayatri. Hingga membuat dia harus tersurut tiga langkah. Tangan kanannya segera menyabet pedang pendeknya ke arah kaki Gayatri.


Sabetan pedang Arimbi membuat Gayatri segera menyelamatkan dua kakinya yang indah itu.


Arimbi sebenarnya tak kalah dari Gayatri dari segi parasnya hanya saja dia lebih muda dari lawannya sehingga lekuk tubuhnya belum terlihat matang. Tetapi dari segi paras justru sedikit lebih cantik daripada Gayatri. Dagunya yang nyigar jambe membuat parasnya semakin bertambah cantik.


Benang milik Arimbi segera bergulung-gulung memutar menerjang ke arah Gayatri. Serangan yang seakan hanya sebuah permainan anak kecil justru itu adalah sebuah serangan yang sangat mematikan. Karena apapun bagian tubuh yang mampu dililit benang itu maka hanya akan berakhir sebagai potongan-potongan tak beraturan.


Satu-satunya jalan untuk menghadapi serangan itu hanyalah menghindar sejauh mungkin dari jangkauan benang tersebut. Tubuh gayatri meliuk liuk seakan ular sehingga membuat para penonton kembali bereaksi begitu heboh.


Teriakan-teriakan yang sahut bersahutan sudah tak begitu jelas terdengar. Entah apa yang mereka teriakan sepertinya mereka juga tidak begitu peduli yang mendengar memahami atau tidak. Karena mereka hanya sedang mencoba melepaskan sedikit hasrat yang sudah terlanjur memuncak dalam bayangan mereka.


Suro tidak terlihat diantara barisan tempat duduk para peserta. Ada kasak-kusuk diantara mereka yang mengayuti pikiran. Ada rasa khawatir dan juga ketakutan jika Suro akan mengadukan apa yang telah mereka lakukan terhadapnya. Mereka seolah-olah sedang menunggu hukuman dari Dewa Pedang karena murid utamanya telah mereka cerca sedemikian parah. Tentu saja yang merasa paling takut adalah Rithisak. Dengan ketidak adanya Suro diantara mereka semakin membuat mereka resah.


Apalagi sebelumnya mereka melihat Dewa Pedang menatap ke arah barisan duduk para kandidat dengan begitu tajam dan menakutkan. Tatapan menakutkan itu berlangsung agak lama seperti menyisir setiap lekuk wajah mereka. Seakan mengisyaratkan tidak membiarkan satu jengkal bagian tubuh mereka yang dibiarkan utuh. Keringat dingin Rithisak mengalir deras, bahkan hampir membuat mereka semua tidak berani lagi menatap ke arah Dewa Pedang.


Padahal yang terjadi Dewa Pedang sedang mencari sosok Suro diantara mereka. Sampai agak lama dia menegaskan bahwa memang Suro tidak ada diantara mereka para Kandidat.


"Kemana gerangan bocah itu. Aku juga tidak melihat rombongan Kolo Weling yang kemaren bersorak-sorak tak berhenti-henti sepanjang pertarungan Suro."


"Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia lakukan dengan hadiah dari Maharaja Wasumurti."


"Kakang wakil ketua!" Dewa Pedang memanggil wakilnya Eyng Udan Asrep. Dia yang sedang duduk dipodium kehormatan, berada di kursi yang posisinya paling tinggi diantara kursi kehormatan yang lain. Deretan kursi yang berada paling tinggi hanya berisi tiga kursi. Wakilnya sedang berdiskusi dengan para tetua lain. Berada agak dibawah berjarak dua deretan kursi dari kursi Ketua Perguruan.


"Ada apa Ketua Perguruan memanggilku?" Wakil ketua Perguruan Eyang Udan Asrep segera mendekati Dewa Pedang.


"Apa benar warta dari anggota perguruan yang mengatakan anak buah Suro. Kelompok Kolo Weling telah memborong bahan makanan pokok dipasar tadi pagi?"


"Benar ketua! Itu menurut laporan mereka yang awalnya sempat mencurigai iring-iringan pedati yang mengangkut begitu banyak bahan pokok. Mereka telah memborong begitu banyak bahan makanan dan dibagi-bagikan langsung kepada para penduduk yang sebagian adalah korban serangan Naga raksasa. Sebagian lagi dibagikan kepada para penduduk di pinggiran kademangan yang biasanya hidup serba kekurangan."


"Tetapi menurut laporan mereka juga justru Suro tidak ikut dalam rombongan iringan pedati yang membawa bahan makanan itu."


"Lalu dimana Suro kalau tidak bersama mereka?" Dewa Pedang bertanya seperti sedikit khawatir.


"Kata mereka Suro pergi ketempat Ki Pawirodirejo seorang tukang pandai besi yang ahli membuat senjata kwalitas bagus. Dia telah memborong banyak bilah pedang bahkan satu pedati penuh dengan bilah pedang itu. Menurut laporan mereka juga, selain itu Suro telah memesan seratus bilah pedang dengan kwalitas pedang yang mendekati kwalitas pedang tingkat tinggi."


"Untuk apa bocah itu membeli sebegitu banyaknya bilah pedang?"


"Apakah itu digunakan untuk mempersenjatai mantan kawanan perampok itu ketua?" Salah satu petinggi sekte menyahuti perkataan Dewa Pedang, yang langsung disambut tatapan tajam Dewa Pedang kearahnya. Membuat dia langsung beringsut ketakutan.


"Aku rasa dia sedang melatih suatu jurus. Entah jurus apa yang sedang dia latih sehingga membutuhkan sebegitu banyaknya bilah pedang."


"Cara berbikir bocah itu lain daripada yang lain. Sangat susah ditebak. Kadang aku melihatnya terlihat begitu mengagumkan dengan pemahamannya yang sangat jenius. Bahkan aku menganggabnya terlalu pintar. Tetapi kadang dia itu terlihat seperti terlalu bodoh hanya untuk sekedar memahami sesuatu yang sederhana saja. Entahlah karena kepolosannya yang sangat keterlaluan atau memang kepintarannya membuat dia terlihat begitu bodoh."


Pertarungan dua bidadari dimata para penonton masih begitu menegangkan. Serangan jebakan Arimbi membuat beberapa bagian pakaian Gayatri robek. Tentu saja hal itu membuat para penonton semakin terlihat seperti kesurupan.