SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 46 KEMARAHAN BIDADARI KHAYANGAN Part 2



"Apa yang terjadi? Sepertinya aku mendengar suara pertarungan diluar?" Dewa pedang yang mendengar kegaduhan diluar membuat dia segera bangkit dari duduknya diikuti Dewi Anggini. Mereka berdua segera bergegas berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Apakah itu suara murid Dewi Anggini?" Terdengar suara wanita yang berteriak sedikit nyaring tetapi tidak begitu jelas apa yang dia katakan.


"Aku rasa iya!" Dewi Anggini ikut penasaran apalagi suara muridnya yang cukup ia kenal seperti berbicara dengan seseorang.


"Aku kira ada pertarungan dengan siapa ternyata murid tetua sedang berlatih dengan anakmas Suro. Panjang umurnya baru saja kita membicarakan dirinya. Ternyata sedari tadi dia sudah disini bahkan malah berlatih dengan murid tetua."


Dewa pedang dan tetua Dewi anggini setelah keluar segera menyadari kegaduhan yang terdengar sampai didalam adalah pertarungan Suro dan Mahadewi. Mereka hanya melihat dari jauh. Terlihat Suro yang bergerak dengan cepat sesekali memberikan koreksi ke arah lawannya. Persis seperti saat dia melatih Kolo weling dan kawan-kawannya.


Dewi anggini memperhatikan pertarungan mereka berdua. Tetapi perhatiannya justru lebih tertuju kepada Suro yang bergerak dengan begitu cepat menghindari serangan muridnya.


"Padahal setau saya dia akan selalu bersifat kikuk kepada lawan jenisnya. Tetapi melihat keakraban mereka membuat penilaianku sepertinya salah. Bagaimana dia bisa cepat akrab dengan murid tetua?"


"Entahlah? Justru aku mau menanyakan hal itu kepada ketua! Aku juga kagum dengan murid ketua yang bisa mengajak muridku untuk berlatih. Karena bukan hal yang mudah membuat muridku bisa cepat akrab seperti itu. Sepertinya selain ilmu kanuragan muridmu juga pintar mengambil hati perempuan."


"Hahahaha..! Sepertinya begitu. Tetapi cukup tetua ketahui sebenarnya anakmas Suro beberapkali aku lihat saat berdekatan dengan para dara akan berubah menjadi kikuk dan agak salah tingkah."


Dewi Anggini sedikit memincingkan mata saat Dewa pedang menyebut muridnya selalu dengan panggilan anakmas. Terasa agak janggal. Sebab penyebutan itu memberi arti Dewa Pedang seakan menaruh rasa hormat kepada muridnya. Terasa sangat janggal tetapi dia tidak berani bertanya. Dia hanya mendiamkan walau teras ganjil.


"Tetapi melihat keakraban mereka sepertinya sudah membuat penilaianku berubah." Dewa Pedang menatap pertarungan dari jauh dengan berkali-kali mengusap jenggotnya yang tumbuh memanjang dengan rapi.


"Begitu juga dengan muridku, tidak seperti biasanya dia bisa secepat itu dekat dengan seorang lelaki. Karena diperguruan cabang muridku ini akan selalu bersikap ketus dengan lelaki sebayanya atau yang sedikit diatasnya. Entah mengapa?"


"Mungkin dia sakit hati dengan perlakuan ayahandanya yang seorang akuwu banyak memiliki selir. Ibunya merupakan istri utamanya justru disia-siakan."


"Itulah mengapa dia yang seorang putri justru bisa berada di perguruanku. Dia sepertinya terlalu membenci sosok ayahandanya sampai tidak ingin melihat wajahnya. Sehingga berakibat membenci semua yang sekaum dengan ayahandanya."


"Itulah mengapa seingatku tak ada teman lelaki yang sebaya dengannya berani mendekati. Bahkan sepertinya hanya murid tetua satu-satunya yang bisa membuat muridku seakrab itu."


"Itulah mengapa aku jadi kagum dengan murid ketua entah kitab apa yang dia baca sampai membuat muridku tidak memaki-maki karena berani berdekatan dengannya. Walaupun dia seorang dara tetapi memiliki kondisi emosi yang tempramental dan meledak-ledak. Meskipun begitu mengenai kemampuannya diperguruan cabangku tak ada yang bisa menyaingi potensi kemampuannya."


"Dia anak akuwu(jabatan setingkat bupati. seperti akuwu Tunggul ametung dalam kisah Ken Arok) yang cukup disegani. Aku mengangkatnya menjadi muridku karena memang kepandaiannya diatas yang lain."


"Tetapi sepertinya didepan murid Dewa Pedang kemampuan muridku bukan lawan yang seimbang. Lihatlah setiap serangan muridku dihindari dengan mudah. Seakan dia sudah membaca gerakan lawannya."


"Pengamatanku ini tidak salah, bukan? Murid ketua sepertinya bisa membaca jurus tangan seribuku? Apakah Dewa pedang juga mengajari ilmu pedang yang aku miliki kepada bocah itu?"


"Aku rasa tidak! Entahlah? Mungkin saja dia telah membaca kitab ilmu itu diperpustakaan pribadiku! Seingatku semua ilmu andalan dari perguruan cabang menjadi salah satu koleksiku. Di saat senggang selain berlatih, biasanya dia akan menghabiskan waktunya membaca semua koleksiku."


"Tetapi aku sudah lupa apakah kitab mengenai ilmu tangan seribu ada diantara koleksiku. Entahlah? tetapi dia tak lagi memasuki ruangan itu setelah semua yang ada diruangan itu dia baca semua."


"Bahkan termasuk semua kidung-kidung dalam bahasa yang lebih kuno dari huruf palawa pun dia lahap."


"Apakah hanya dengan membaca kitab-kitab tersebut sudah langsung membuat dia menguasai isi kitab itu tanpa bimbingan ketua."


"Ya, setauku memang dia bisa memahami isi kitab dengan baik tanpa meminta pendapat kepadaku."


"Jangan bercanda ketua! Lihatlah dia hanya seorang bocah! Mana bisa memahami kitab-kitab yang serumit kitab tingkat tinggi tanpa bantuan dari ketua?"


"Ya! Tentu saja aku tidak sedang bercanda. Dia memang bisa melakukan itu!"


"Hmmmm...! Kalau memang benar seperti itu, berarti itu salah satu alasan kuat yang membuat seorang Dewa Pedang akhirnya mengangkat seorang murid."


Dewa pedang tidak segera membalas pertanyaan Dewi Anggini. Perhatiannya begitu fokus menatap Suro yang bergerak dengan langkah kilatnya.


"Apa benar itu yang membuat Dewa Pedang mengangkatnya menjadi seorang murid?" Dewi Anggini mengulang pertanyaanya kembali.


"Salah satunya iya."


"Lalu bagaimana dia bisa mengunakan langkah kilat milik kakang sindu?" Kembali Dewi Anggini menoleh ke arah Dewa pedang mengharapkan sebuah jawaban. Kakang Sindu yang dimaksud Dewi Anggini adalah Eyang Sindurogo. Dewa pedang tidak segera menjawab. Dia juga begitu kagum dengan gerakan langkah kilat Suro yang mengalami kemajuan pesat.


"Sejak kapan bocah ini mengalami kemajuan sampai setingkat ini. Bahkan latihanku yang terakhir dengannya tidak sampai secepat ini." Batin Dewa Pedang sambil mengelus-elus janggutnya.


"Memang tidak salah Dewa Pedang memilih seorang murid. Kemampuannya memang diatas rata-rata manusia biasa." Dewi anggini melanjutkan perkataannya.


Terdengar suro memberikan koreksi ke arah mahadewi yang dibalas dengan serangan yang semakin mengila. Suro yang melihat Dewa Pedang segera dia berusaha memangilnya sambil menghindari serangan Mahadewi. Tetapi sepertinya tidak didengar oleh Dewa Pedang yang dari jauh terlihat sibuk berbincang-bincang dengan tamu yang tak dia kenal.


"Paman guru Dewa Pedang!" Kembali Suro mencoba meminta pertolongan untuk menghentikan serangan Mahadewi.


"Lanjutkan latihan kalian!" Dewa pedang membalas teriakan Suro sambil beranjak masuk kembali.


"Lha siapa yang sedang latihan dengan wanita gila ini!"


"Apa yang kisanak katakan?" Mata Mahadewi semakin melotot sambil menebaskan pedangnya dengan lebih dahsyat.


"Apakah nisanak tidak mengenalku?"


"Siapa yang sudi mengenal wajah kumal, dekil, hitam sepertimu!"


"Duuh, Dewa Bathara salah hamba apa? Sehingga harus bertemu dengan murid Bathari durga yang gila ini!"


"Apa yang kisanak katakan! Ulangi sekali lagi akan aku kebiri kalau sekali lagi berani mengatakan itu!"


Suro mendapatkan balasan ancaman yang begitu mengerikan membuat dia semakin bingung dengan sikap wanita cantik yang terus menyerangnya. Nada ketus dari wanita cantik itu semakin menambah kesan angker seperti kuntilanak yang mengamuk gara-gara kehilangan anaknya.


Dara yang begitu cantik itu mengamuk seakan banteng ketaton(terluka). Suro hanya bisa mengeleng-geleng kepala sambil terus menghindari serangan Mahadewi.


Dia terus sibuk menghindari serangan yang tak berhenti. Darah Mahadewi seakan bertambah mendidih mendengar perkataan yang menuduhnya sebagai wanita gila dan murid dari Bathari Durga.


"Tolong nisanak berhenti menyerangku! Ini hanya salah paham! Selain itu aku sepertinya mengenali nisanak kemarin berada dibarisan belakang murid utama yang ikut seleksi tetua muda. Saya juga ada dipodium diantara para murid utama itu."


"Satu lapangan juga melihatku sedang bertarung."


"Apakah nisanak tidak melihat diriku? Aku benar-benar duduk bersama mereka!"


"Siapa yang sudi melihat kucing kurap sepertimu?"


"Jangan karena kisanak salah satu murid utama yang ikut seleksi tetua muda lalu bisa dengan mudahnya selamat dari mulutmu yang tidak punya tatakrama itu!"


"Salahkan kepada mulutmu yang telah lancang menghinaku gila dan menghina guru disamakan dengan Bathari Durga."


Sabetan pedang mengayun semakin cepat melabrak Suro tanpa ampun. Beruntung langkah kilat yang dia latih mengalami kemajuan pesat sehingga mampu menghindari serangan Mahadewi.


Apalagi jurus yang dimainkan Mahadewi sudah dia hafal gerakannya bahkan sebelum dia menguasai tenaga dalam. Eyang Sindurogo sangat menyukai jurus tangan seribu itu. Sering dia mempraktekan jurus itu didepan Suro. Dikala sedang sendiripun dia sering mempraktekkannya. Seakan dengan melakukan gerakan jurus itu dia mengingat tentang sesuatu atau sedang merindukan sesuatu. Dengan mempraktekan jurus itu seakan rindunya berkurang.


Jika sedang mempraktekkan jurus itu seakan dia tenggelam dalam alamnya sendiri. Dia akan begitu menghayati setiap gerakan jurusnya. Bahkan seperti sedang membayangkan seseorang. Karena saat dia mempraktekkan itu matanya akan terpejam dan bibirnya tersenyum-senyum sendiri. Mimik wajahnya akan terlihat begitu senang, begitu bahagia. Entah bagian mananya yang membuatnya begitu bahagia.


Sangat berbeda sekali dengan makhluk buas yang ada didepannya. Tidak ada sedikitpun tertangkap ekspresi bahagia yang tergambar diwajahnya yang menawan itu. Reaksi yang sangat berlawanan dengan yang biasa dia lihat saat Eyang Sindurogo memberikan contoh jurus itu.


Reaksi Mahadewi yang melihat Suro begitu mudah menghindari serangannya, membuat makhluk buas itu semakin mengamuk. Setiap kali serangannya gagal dia selalu memberi reaksi dengan suara gerungan kemarahan. Seperti suara macan beranak.


Walaupun Mahadewi semakin meradang karena tak satupun serangannya mengenai lawan, tetapi seiring rasa kesalnya ada rasa kekaguman yang menyelimuti hatinya. Kekaguman atas kecepatan gerak lelaki yang ada dihadapannya. Bahkan kecepatannya mengingatkan gerakan gurunya.


"Ini hanya salah paham nisanak! Nanti akan ada yang terluka nisanak."


"Lihatlah! Nisanak sendiri sepertinya dalam keadaan terluka serius? Siapa yang begitu kejam melukai nisanak?"


"Kebohongan apa lagi ini? Sebelumnya kisanak ada dibarisan peserta bagaimana tidak tau kalau aku baru saja bertarung di arena?"


"Aku hari ini sedang ada urusan sehingga tidak hadir di sana!"


"Berbohonglah seribu kali mulut yang tidak memiliki tatakrama! Aku tidak peduli!"


***


MOHON BANTUAN REKAN-REKAN PEMBACA YANG BUDIMAN DAN BUDIWATI SEKIRANYA UNTUK MEMBERIKAN TIP POIN UNTUK NOVEL INI DIAPLIKASI NOVEL TOON. GERATIS KUK TIDAK PERLU BELI POIN BUKAN TIP KOIN YANG MEMERLUKAN PEMBELIAN.


TERIMAKASIH BANYAK KEPADA PARA PEMBACA YANG TELAH MENYUMBANGKAN POIN NYA UNTUK DIBERIKAN SEBAGAI vote DUKUNGAN UNTUK MENAMBAH RATING NOVEL INI AGAR LEBIH DIKENAL


SEKALI LAGI TERIMAKASIH SUWUN