
"Apa yang sebenarnya terjadi pada anakmu paman Zhou? Bisakah paman ceritakan awal mula sebelum putrimu itu menjadi seperti ini?"
Suro menatap ke dalam kerangkeng besi dimana didalamnya seorang perempuan muda atau mungkin justru masih berumur sekitar belasan. Suro tidak mampu melihat dengan jelas wajah perempuan itu.
Karena riap rambutnya yang panjang, agak gimbal dan awut-awutan menutupi sebagian besar wajahnya yang pucat dan kusam. Hal itu sudah menggambarkan, jika wanita muda itu sudah cukup lama berada dalam kondisi seperti itu.
Walaupun begitu, setelah cukup lama mengamati wajahnya, sekilas masih terlihat ada paras cantik yang tersembunyi dibalik wajah kumalnya itu.
Namun orang tidak akan memperhatikan lagi wajah cantiknya. Mereka justru akan menyebut wanita muda itu terlihat begitu menakutkan.
Hal itu bisa dimaklumi dengan kondisi perilakunya yang tak ubahnya seperti binatang buas. Walaupun sekujur tubuh gadis itu terlihat seakan jerangkong hidup. Karena hanya berupa tulang berbalut kulit, namun kekuatan gadis muda itu sangat tidak wajar.
Untuk menggambarkan kekuatan bekas amukan gadis muda itu terlihat di dalam kerangkeng tersebut. Tembok yang membelakangi wanita muda itu disana-sini terlihat bekas cakaran yang mampu menggores dinding cukup dalam.
Besi jeruji yang terlihat kokoh itu juga tidak luput dari amukannya. Besi bulat itu bengkok disana-sini seperti hendak dicabut. Kondisi itu sudah menggambarkan seperti apa amukan yang dilakukannya.
Selain kukunya yang hitam dan cukup panjang, ada hal lain yang membuat tampilan gadis itu semakin menyeramkan, yaitu seringainya.
Entah mengapa saat menyeringai gigi taring gadis itu terlihat memanjang mirip para hewan buas. Hal janggal lain yang ada pada putri Jendral Zhou, adalah suara yang keluar dari mukutnya terdengar seperti bukan suara seorang perempuan.
Sebab saat merancau suara yang terdengar justru terdengar berat. Bisa dikatakan suara itu justru mirip suara seorang lelaki dewasa.
Kejanggalan lain yang nampak, adalah kondisi tubuhnya yang kurus kering kerontang. Sebab putri dari Jendral Zhou itu bukan tidak mau makan, justru perempuan itu makan dengan sangat lahap. Porsi sekali makan perempuan itu cukup untuk makan lima lelaki dewasa.
"Aku tidak bisa memastikannya penyebab anakku menjadi seperti ini. Tetapi aku curiga jika semua ini ada hubungannya dengan peristiwa beberapa tahun lalu.
Pernah ada seorang pemuda datang ke rumahku hendak melamar putriku. Tetapi aku menolaknya, karena memang anakku masih muda. Selain itu anakku juga diriku tidak mengenalnya.
Entah alasan apa pemuda itu datang tiba-tiba kekediaman ini dan hendak melamar putriku. Tentu saja para penjaga berusaha mengusirnya.
Aku pikir itu adalah orang gila. Karena beberapa kali dia kembali datang dan memaksa hendak memasuki kediaman ini. Kemudian mereka para penjaga bermaksud menangkapnya.
Tanpa sepengetahuanku terjadi pertarungan antara penjaga dan pemuda itu. Dari penjelasan para penjaga yang melihat kejadian tersebut, ternyata dia adalah seorang pendekar.
Kekuatan pemuda itu berada ditingkat shakti lapisan awal. Dengan kekuatan itulah dia berhasil meloloskan diri dari kejaran para penjaga kota.
Tetapi dalam pertarungan itu beberapa penjaga yang hendak mengusir lelaki itu, justru tewas dengan tubuh membiru. Aku meyakini itu adalah sejenis ilmu racun.
Setelah kejadian itu lelaki itu menghilang dan tidak pernah menampakkan diri. Entah mengapa sejak kejadian itu perangai putriku berubah," Jendral Zhou mulai menceritakan kejadian yang sudah cukup lama.
"Setelah satu purnama, perangainya semakin berubah menjadi begitu liar. Seakan dia menjadi binatang buas. Setelah itu aku sudah tidak mampu mengontrolnya dan terpaksa aku menempatkannya di ruangan ini." Jendral Zhou terlihat menghela nafas dengan berat.
"Lihatlah apakah itu seperti normalnya manusia biasa? Aku juga tidak mengetahui kemana sebenarnya makanan sebanyak ini dia telan." Jendral Zhou menunjuk anaknya yang memakan makanan yang disediakan dengan begitu rakus.
"Hampir setiap sore dan fajar seperti ini dia meminta makan. Jika tidak segera disediakan, maka dia akan mengamuk. Menjerit-jerit seperti yang pendekar dengar saat masuk ke kediamanku."
Suro mendengarkan semua cerita Jendral Zhou tentang putrinya sambil menatap dengan pandangan terenyuh.
Dengan mata ajna atau mata ketiga yang dibangkitkan dengan kekuatan jiwa miliknya, Suro bisa melihat dengan jelas, jika dibelakang punggung perempuan muda itu sesosok makhluk hitam dengan wujud mengerikan merangkul tubuh perempuan itu.
"Sayang sekali paman bertemu denganku saat putrimu sudah terlanjur seperti ini," gumam Suro sambil mengusap-usap dagunya.
"Apakah itu artinya, pendekar Suro tidak mampu mengobati anakku?" Jendral Zhou bertanya dengan terbata-bata.
Dia tidak mampu menyembunyikan kekecewaan dirinya begitu mendengar ucapan Suro. Tubuhnya langsung jatuh terduduk dikursi yang berada dibelakangnya.
"Aku tidak mengatakan, jika Suro tidak mampu menyembuhkannya. Hanya saja iblis yang menungganginya telah menggerogoti tubuhnya sudah sedemikian parah.
Tetapi untung saja paman memberitahukan hal ini kepadaku, aku akan mencoba menolongnya secepat yang aku bisa paman.
Iblis itu sudah menyatu dengan raga putri paman. Dengan kondisi itu aku tidak dapat mengusirnya secara paksa.
Sebab itu dapat membahayakan nyawanya. Justru jika aku lakukan, maka aku takut makhluk yang bercokol dalam raganya dapat membawa serta nyawa putri paman pergi bersamanya."
"Lalu apa yang akan pendekar lakukan?"
"Aku akan meruwatnya terlebih dahulu agar dapat melemahkan kekuatan iblis yang bersemayam dalam raga putri paman. Setelah itu aku akan mencoba memancingnya, agar lepas dari tubuh putri paman. Tetapi pertama-tama sebaiknya paman memerintahkan orang-orang untuk tidak mendekat.
Jendral Zhou lalu keluar dan memerintahkan para pelayan untuk tidak mendekat. Setelah dia selesai memberi perintah kepada seluruh penghuni kediamannya, termasuk anak-anak dan istrinya, lelaki itu lalu kembali menemui Suro.
Setelah selesai menghabiskan makanan yang sebegitu banyaknya, putri jendral Zhou itu kembali mengamuk dan berusaha menghancurkan jeruji besi yang memisahkan mereka. Wanita itu memelotot dengan matanya yang telah memerah darah.
Mulutnya merancau dan mencaci maki ke arah Suro. Wanita itu juga menggerung seperti suara harimau dan berusaha hendak menyerang Suro.
Makhluk yang berada dibelakang punggung wanita tersebut terlihat oleh Suro menatap dirinya dengan nanar penuh nafsu membunuh. Gigi dari makhluk hitam legam itu menyeringai dipenuhi air liur.
"Kau bertemu dengan diriku, akan menjadi akhir dari hidupmu."
Jendral Zhou memicingkan mata saat Suro berbicara sendiri ke arah anaknya yang menggerung keras.
"Apa yang terjadi, seharusnya setelah makan seperti tadi, dia akan menjadi sedikit tenang. Apakah ini ada hubungannya dengan kedatangan kita? Seharusnya putriku tidak bereaksi dengan sedemikian menakutkan."
"Mungkin saja makhluk yang bercokol dalam tubuh putri paman sedang ketakutan," ucap Suro sembari mengambil sebuah seruling dari balik bajunya.
"Ketakutan dengan siapa pendekar?"
"Mungkin makhluk itu ketakutan dengan kumis paman." jawab Suro dengan tertawa kecil.
"Kumisku ini jika digunakan untuk menakut-nakuti penjahat yang berada di kota Shanxi tentu akan berhasil. Tetapi itu tidak ada pengaruhnya jika digunakan untuk menakut-nakuti makhluk yang telah menguasai anakku.
Buktinya aku berkali-kali hendak dicakar. Untung saja jeruji besi ini melindungi diriku. Karena alasan itu, aku terpaksa mengurung dirinya seperti ini. Sebab amukannya akan membahayakan orang lain."
Melihat Suro mengusap-usap seruling ditangannya, Jendral Zhou mulai memincingkan matanya. Dia cukup penasaran dengan benda yang ada ditangan Suro.
"Apakah ini pusaka sakti yang dapat menyembuhkan anakku, pendekar?"
Melihat Suro mencabut sebuah seruling, Jendral Zhou langsung menerka jika itu adalah sebuah seruling bambu sakti yang memiliki tuah keramat.
"Benar paman, ini seruling yang aku dapatkan dengan sudah payah. Seruling ini milik Mbah Karto. Aku mendapatkannya dengan membayar dua keping perak." Suro tertawa kecil dengan sedikit bercanda.
Jendral Zhou tertawa menyadari jika pemuda didepannya hanya bercanda. Dia sempat menanggapi ucapan Suro dengan begitu serius.
"Hahaha...tetapi benar paman, ini memang seruling istimewa. Sebab suaranya cukup merdu. Aku membelinya di pasar.
Paman akan dapat merasakan keistimewaan seruling ini sebentar lagi." ucap Suro sambil terus menatap ke arah makhluk yang sedang menunggangi tubuh gadis muda itu. Setelah itu Suro lalu mulai meniup seruling ditangannya.
Suro memiliki alasan tertentu terkait permintaan dirinya untuk menyuruh orang-orang menjauh sebelum dia memulai memainkan serulingnya. Sebab alunan seruling itu bukanlah alunan seruling yang biasa.
Nada dalam setiap alunan yang terdengar begitu merdu itu telah dilambari dengan kekuatan miliknya. Walau itu kurang dari sepuluh persen kekuatannya, tetapi itu akan dapat membahayakan orang biasa.
Alunan suara seruling itu adalah bagian dari bait nyanyian Sri Krishna dalam sastra jendra. Selain dilambari kekuatan tenaga dalam, Suro menggunakan kekuatan jiwa miliknya untuk memperkuat alunan serulingnya.
Maka saat Suro sudah memainkan nada-nada dalam permainan sulingnya, Jendral Zhou sekalipun yang sudah berada ditingkat sakti langsung terbius jiwanya. Dia seakan dibawa ke suatu tempat yang indah bak sedang berada di Nirwana.
Selain itu aliran darah di seluruh tubuhnya ikut terpengaruh dan bersirkulasi dengan lancar. Dengan itu kekuatan tenaga dalamnya terpancing untuk bersinergi. Dia lalu memanfaatkan itu untuk bersamadhi.
Berbeda dengan Jendral Zhou, kondisi putrinya berubah liar dan berteriak histeris, meraung-meraung dengan begitu keras.
Kekuatan yang dikerahkan Suro memiliki keistimewaan yang dapat melemahkan hawa sesat, tetapi dalam waktu bersamaan dapat menguatkan jiwa manusia. Karena memang tujuan Suro adalah mengembalikan kesadaran perempuan muda itu.
Sehingga dapat membantunya dari dalam dan luar. Karena makhluk yang bercokol dipunggung wanita itu mulai meraung kesakitan.
"Ampun-ampun! Hentikan bocah sialan!"
Perempuan itu terlihat berubah menjadi bertambah mengerikan. Matanya merah dan kukunya memanjang.
Tubuhnya yang sejak tadi menggelepar, mendadak meloncat tinggi seperti gerakan seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.
"Akhirnya kau memperlihatkan wajahmu makhluk buruk rupa!"
Suro yang bersila tetap terdiam, tetapi sekelebat bayangan melesat dari tubuh Suro dan menerjang masuk kedalam kerangkeng. Dia menghantam makhluk mengerikan yang bergerak dengan begitu brutal.
Tubuh yang melesat itu sesungguhnya adalah sukma sejati dari Suro, sedangkan wadak atau raga Suro tetap dalam posisi duduk bersila sambil terus memainkan serulingnya.