
"Aku tidak menyangka anak muda ini memiliki Jurus Tapak Dewa Matahari." Tohlangkir tersurut beberapa langkah. Dia benar-benar terkejut dengan penampakan jurus tersebut.
Dia yang telah malang melintang didunia persilatan tentu sudah mengetahui betapa mengerikannya jurus tersebut. Hal yang paling menakutkan dari jurus itu adalah serangan jarak jauhnya yang sangat sulit untuk dihindari.
"Pantas saja anak muda itu tetap berada pada tempat yang setinggi itu, agaknya dia menghindari serangan kabut beracun milik kita, agaknya sedikit banyak dia telah mengetahui kelemahan jurus itu. Sebab jurus itu tidak akan menjangkau pada jarak setinggi itu." Lodra mencoba menguasai diri setelah melihat penampakan jurus yang dikerahkan Suro.
"Dia cukup cerdas untuk tidak mendekati kita. Itu pertanda orang itu tidak kebal dengan dahsyatnya racun milik kita."
"Kita akan mengikuti permainan anak muda ini. Kita lihat apa dia mampu menghindari serangan kita kali ini?"
"Kita rubah rencana awal kita, sepertinya tidak mudah untuk menangkapnya hidup-hidup."
"Benar wakil ketua, jaring laba-laba siluman milik kita hancur diterjang jurusnya!" Lelaki yang dipanggil wukir oleh Tohlangkir kembali meminta petunjuk tindakan yang akan dilakukan.
"Benar kali ini kita habisi saja secepatnya tidak perlu bertanya lagi, agaknya anak muda ini tidak semudah yang kita kira."
Kemudian Tohlangkir membisikan sesuatu kepada Wukir yang mendengarnya dengan sebuah senyuman yang melebar.
"Sendiko dawuh!" Lelaki yang bernama Wukir itu lalu melompat turun dari atap.
Meskipun dirinya ditempat yang begitu tinggi, tetapi serangan jaring barusan telah membuktikan bahwa tempatnya setinggi itu tidaklah seaman yang dia pikirkan.
'Lodra yang agung apakah jurus Garuda yaksa mampu menghancurkan perguruan ini?' Suro kali ini meminta pendapat kepada Lodra yang agung.
Pada saat perang di Banyu Kuning Suro sempat belajar jurus Pedang Kristal Dewa dalam alam bawah sadarnya. Latihan itu seperti di alam mimpi saja. Dia belajar langsung dibawah bimbingan Lodra. Suro mengingat seluruh latihan yang dilakukannya, sehingga dia mengetahui bentuk jurusnya. Tetapi dia sama sekali belum mempraktekkan kekuatan sebenarnya dari jurus tersebut.
"Bocah jurus itu diciptakan untuk membakar khayangan jongring salaka saat tuanku Wisanggeni mengamuk.'
'Kamu bandingkan besarnya khayangan Jongring salaka hanya dengan perguruan ini, sungguh terlalu...!"
Jurus api hitam dari Pedang Kristal Dewa terbagi menjadi beberapa tehnik pengendalian.
Tahap awal adalah bentuk pengendalian api tebasan miring. Jurus ini adalah tahap paling dasar dalam pengendalian api hitam. Jurus ini hanya berupa jurus pedang dengan dilambari api hitam. Tehnik itu diperlihatkan Suro saat menyerang musuh digerbang perguruan barusan.
Jurus ini bisa digabungkan dengan banyak jurus pedang lainnya, sehingga akan mampu membuat serangan yang dilakukan menjadi lebih mematikan.
Jenis pengendalian api berikutnya adalah tehnik pertahanan. Tehnik pertahanan ini memiliki bentuk yang bermacam-macam, tetapi hanya pernah digunakan sekali oleh Lodra, yaitu saat dia mencoba menahan Eyang Sindurogo, dengan membentuk sebuah dinding api yang sangat besar.
Jenis pengendalian api berikutnya adalah tehnik tertinggi yaitu mampu mengendalikan api seakan memiliki nyawa. Tehnik ini diperlihatkan Lodra dengan membentuk ular atau bentuk lainnya. Bentuk terkuat yang pernah diperlihatkan Lodra saat mengusir Eyang Sindurogo hitam, adalah dengan menciptakan seekor burung yang sangat besar. Burung api raksasa itu melesat mengejar Eyang Sindurogo kemanapun dia menghindar.
Sebelum bertanya lebih lanjut kepada Lodra, mendadak lesatan panah yang tidak terhitung banyaknya menerjang ke arah Suro. Segera dia melesat ke atas ke tempat yang lebih tinggi, sambil menepis semua serangan yang datang.
"Aku sudah berupaya selunak mungkin dengan kalian. Tetapi sepertinya kalian justru menyukai kekerasan. Karena kalian yang telah memintanya, maka akan kuturuti kemauan kalian. Rasakan jurus ku ini!"
Dia meraih bilah pedang yang sedari tadi menjadi tumpuan tubuhnya. Kali ini dia menangkis semua serangan yang datang dengan kombinasi juru Tapak Dewa Matahari dan jurus pedang dari Kitab Dewa Pedang dengan pengendalian api hitam.
Melihat pengerahan jurus yang dilakukan Suro berbeda dari sebelumnya membuat mereka kembali terkejut. Sebab baru kali ini mereka menyaksikan api hitam yang hanya ada dalam cerita.
Selain itu pengendalian api seperti yang dikerahkan Suro tidaklah sama yang pernah mereka lihat dari para penganut kitab api. Mereka tidak memahami bagaimana mungkin ada tehnik api yang menyembur dari bilah pedang, bisa berkumpul dan terus memutari tubuh penggunanya.
Pada awalnya mereka mengira, jika api hitam itu hendak membentengi tubuh Suro dari serangan yang mereka lakukan. Karena itu mereka semakin gencar terus menghujaninya dengan anak panah yang tidak terhitung jumlahnya.
Suro sudah mengira jika serangan yang mampu mencapai tempatnya hanyalah serangan panah. Serangan itu bagi dirinya tidak membuat terlalu risau.
Tetapi serangan berikutnya yang dilakukan para tetua tingkatannya tidaklah sama dengan serangan sebelumnya. Karena jurus itu termasuk jurus andalan milik Perguruan Racun Neraka. Jurus itu bernama Tapak Selaksa Dewa Racun.
Walaupun jurus itu pada prinsipnya hampir mirip seperti yang dilakukan Suro untuk menghabisi orang-orang yang dipintu gerbang, yaitu merubah kabut beracun menjadi jarum es.
Tetapi jurus itu tidaklah sama, lebih rumit dan sangat mematikan, jarang ada yang mampu selamat. Contohnya adalah tetua Tunggak semi. Karena jarum yang mereka bentuk sangatlah kecil, seakan satu tetes air di bagi menjadi seratus lalu setiap bagiannya dibentuk menjadi jarum es.
Bagi orang awam atau pendekar yang belum membuka mata ketiganya atau chakra ajna maka tidak akan menyadari kehadirannya. Karena itulah saat Suro melihat serangan yang dilakukan para tetua menerjang ke arahnya, dia segera menyadari jika kekuatan serangan kali ini berbeda dari sebelumnya.
Serangan itu sekilas seperti kabut yang melesat cepat ke arahnya. Melihat hal itu Suro kali ini tidak lagi menahan jurus yang sedari tadi ragu untuk dia kerahkan. Sebab potensi kerusakannya sangat mengerikan.
"Kalian yang memaksaku melakukan ini. Naga Taksaka mengamuk lah!"
Bersamaan dengan tebasan Suro ke arah bawah, maka api hitam yang bergulung-bergulung dengan sekala yang terus bertambah besar dan terus mengelilingi tubuh Suro, kini seperti mengerti perintah dari Suro. Seluruh api itu langsung meluncur cepat ke arah bawah. Api itu menyerupai bentuk seekor naga yang sangat besar.
Hooooaaaaargggh!
Suara keras karena benturan angin yang bergesekan dengan panasnya api hitam yang suhunya luar biasa tinggi menimbulkan suara seakan raungan naga.
Serangan Tapak Selaksa Dewa Racun oleh para tetua langsung dilibas habis musnah tak tersisa.
Buuuum! Buuum!
Ledakan demi ledakan terdengar menyapu tempat yang dihantam oleh dahsyatnya serangan api hitam. Kali ini tidak ada satupun yang selamat begitu terkena terjangan serangan itu.
Para pemanah jitu yang tidak sempat menghindar langsung dilibas habis. Sebelumnya mereka para pasukan pemanah jitu terus menghujani Suro dengan anak panah yang dilumuri racun yang sangat ganas. Tidak perlu menancap, cukup dengan goresannya saja sudah mampu membunuh lawannya.
"Gunakan jurus perubahan air-es!" Tohlangkir berteriak keras menyuruh semua orang pengguna perubahan itu untuk mengerahkan jurus perubahan air-es. Dia mengira jurus gabungan milik mereka mampu memadamkan api yang begitu cepat membakar apapun yang dilintasinya.
Gabungan jurus perubahan air-es milik mereka tidak sekejab pun mampu menghentikan amukan dari api yang telah dikendalikan Suro.
"Muunduur!" Kembali terdengar suara Tohlangkir yang memerintahkan anak buahnya untuk menghindari terjangan api hitam yang dengan mudahnya menghancurkan beberapa bangunan.
Seperti yang telah diancamkan Suro kepada mereka sebelumnya, kini perguruan itu telah dirubah menjadi lautan api.