SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 261 Kembalinya Eyang Sindurogo part 4



Sesaat setelah jurus yang meledak dengan cahaya yang sangat menyilaukan mata menghantam, terdengar teriakan penuh kemarahan.


"Sialaaan! Aku nanti akan habisi kalian semua para manusia!"


Teriakan itu hilang dengan lenyapnya tubuh Batara Antaga.


Setelah terjangan api dan kepulan debu yang naik membumbung tinggi telah reda, kini dihadapan mereka terpampang sebuah bentuk kawah bekas ledakan. Kehancuran yang diciptakan dari kuatnya pengerahan jurus itu juga telah menghancurkan rumah penduduk rata dengan tanah.


"Apakah serangan barusan telah membuat Batara Antaga mati, tuan guru?"


"Entahlah, dia sejenis dengan Batara Karang. Mereka berdua punya seribu akal untuk kabur."


"Jika kita ingin menghabisi mereka, sebaiknya sekarang lah saat yang tepat. Karena kekuatan dewa yang mereka dua miliki masih disegel." Geho sama menjelaskan sedikit pengetahuannya mengenai dua musuh yang begitu susah dihabisi.


"Iya benar mengenai hal itu. Aku juga mengetahui tentang hal itu dari pak tua. Namun aku selalu kesulitan untuk menghabisinya. Bahkan sewaktu kekuatan dari Batara Karang masih ditingkat shakti sekalipun, aku tetap gagal menghabisinya. Aku mencoba mengejarnya namun dia berhasil melarikan diri. Bahkan dia pergi ke Benua Barat untuk menghindari pengejaranku."


"Tetapi jangan khawatir Geho sama, jika kita tidak dapat membunuhnya aku yakin angger Suro akan berhasil membunuhnya. Dia adalah kunci kemenangan kita, aku yakin mengenai hal itu."


"Jika pak tua dan Sang Hyang Narada saja percaya kepada bocah itu, mengapa kita tidak menaruh kepercayaan kita pada angger Suro!"


"Lihatlah apakah kamu pernah melihat anak seusia dia mampu memiliki kekuatan sebesar itu?"


Pandangan mereka terpaku pada Suro yang bergerak cepat meninggalkan mereka, dia melesat ke arah pasukan kegelapan bersama Maha Naga Taksaka.


"Tentu saja tidak tuan guru. Bahkan aku yang berhasil menyerap ribuan siluman, hanya mampu meningkatkan kekuatanku dipuncak tingkat langit."


Eyang Sindurogo menganggukkan kepala mendengar pengakuan Geho sama.


"Begitu juga kekuatanku. Setelah ratusan tahun hanya sampai ditingkat langit. Bahkan tingkat surga yang aku miliki ini, bukanlah asli dari pencapaianku sendiri. Sebenarnya kekuatan ini aku dapatkan setelah terjadi sesuatu hal pada diriku. Aku tidak dapat mengingatnya, karena saat itu aku dalam kendali kekuatan kegelapan."


"Kemungkinan itu berkaitan dengan Laghima yang ada di dunia kegelapan tuan guru. Kekuatan itu terbukti mampu meningkatkan kekuatan tenaga dalam dengan cepat.


"Karena laghima dan juga hawa kegelapan yang aku serap, membuat kekuatan tingkat langit lapisan puncak ini berhasil aku raih kembali. Jujur, itu semua terjadi berkat pertolongan tuan Suro."


"Kekuatan Laghima yang begitu ampuh meningkatkan kekuatan tidak sembarangan bisa diserap manusia biasa. Sebab jika manusia biasa menyerap kekuatannya, maka akan dapat menimbulkan hal yang buruk pada dirinya. Baik perubahan fisiknya maupun jiwanya. Contohnya adalah manusia bertanduk. Mereka memang mendapatkan penambahan kekuatan dengan pesat, namun ada harga mahal yang harus mereka bayar."


"Bagi tubuh sepertiku dan tuan guru yang telah tersentuh berkah Tirta Amerta tentu tidak akan terpengaruh."


Ucapan terakhir dari Geho sama bagaikan petir di siang hari dia sampai matanya melotot tajam ke arah Geho sama.


"Apakah ada yang salah tuan guru dengan penjelasanku barusan?"


"Ba, bagaimana kau bisa mengetahui jika diriku pernah meminum air kehidupan itu?"


"Uhuk, uhuk!" Geho sama terbatuk mendengar pertanyaan eyang Sindurogo dengan sangat terkejut.


"Tidak ada manusia didunia ini yang akan sanggup menerima kekuatan pecahan jiwa Dewa Kegelapan. Kecuali pernah meminum Tirta Amerta air kehidupan milik para dewa itu. Bahkan karena air itulah para dewa bisa mengalahkan para bangsa ashura yang terkenal sangat kuat."


Mendengar ucapan Geho sama, eyang Sindurogo berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai air kehidupan atau Tirta Amerta.


"Sebaiknya kita membantu thole Suro, Geho sama."


"Baik tuan guru!" Mendengar ucapan eyang Sindurogo, dia langsung sambil menganggukkan kepala. Mereka berdua kemudian melesat menyusul ke arah Suro yang berada ditengah pasukan kegelapan.


Setelah pemimpin pasukan kegelapan menghilang, maka pasukan kegelapan kali ini bergerak mundur. Suro yang sebelumnya bergegas melesat dengan cepat, adalah untuk memilah para tetua maupun anggota perguruan yang berada ditengah-tengah pasukan kegelapan.


Dia menyibak pasukan kegelapan dengan menggerahkan lebih dari setengah lusin naga bumi untuk menangkap para anggota perguruan yang dalam pengaruh sihir Batara Antaga.


Dia hendak menyadarkan mereka yang masih memiliki tubuh manusia dan belum terlanjur menjadi pasukan kegelapan. Sebab jika mereka telah menjadi pasukan kegelapan secara sempurna, maka sudah tertutup kemungkinan untuk dapat membalikan tubuhnya menjadi sebagai mana manusia normal lainnya.


"Geho sama ikut aku!" Setelah berhasil menangkap mereka semua, Suro membawanya masuk ke dalam tanah.


Sebelum masuk ke dalam tanah dia menatap gurunya yang terlihat begitu berbeda. Raut mukanya terasa begitu asing. Selama dia mengenal gurunya, sepertinya baru kali ini dia melihat gurunya memiliki pancaran aura yang aneh ini.


"Selamatkan mereka, biarkan eyang guru yang akan menangani mereka semua." Entah mengapa senyumnya eyang Sindurogo begitu lebar. Suro mengernyitkan dahinya sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Nuwun inggih eyang." Dia kemudian menganggukkan kepala.


"Lodra habisi pasukan kegelapan yang tersisa!" Suro menatap ke arah Maha Naga Taksaka yang sangat besar dan tubuhnya yang begitu mengerikan itu.


Ular naga raksasa setelah mendapatkan perintah Suro langsung melesat mengejar pasukan kegelapan. Dia menggulung dan melenyapkan mereka menjadi debu yang tidak mungkin dapat memulihkan tubuhnya kembali.


Tanpa berkata-kata lagi Suro langsung amblas masuk ke dalam tanah bersama Geho sama. Mereka berdua hendak menyusul orang-orang perguruan yang sebelumnya berhasil dia tangkap.


Dengan pengerahan serat sastra Jendra dia berhasil menyadarkan mereka yang terus mengamuk.


Setelah mereka tersadar dan dapat mengingat kembali semua. Kini mereka dapat diajak berbicara dengan tenang. Tahap selanjutnya adalah melepaskan sihir kegelapan yang berupa rantai hitam. Rantai itu tidak mudah dilepaskan, karena selain hanyalah sebuah bentuk ilusi yang tidak bisa disentuh, rantai itu juga menembus kedalam tubuh untuk mengikat jiwa manusia.


"Di mana ini?" Mereka terlihat kebingungan dan berusaha mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi.


"Apakah kalian mengenalku?"


"Tentu saja nakmas Suro, apa yang sebenarnya terjadi mengapa aku tidak mengingat sama sekali, setelah tertangkap oleh senjata musuh yang berupa rantai hitam?" Tetua Baurekso yang bertanya kepada Suro. Dia terlihat kebingungan dengan suasana ruangan didalam tanah yang dibuat oleh Suro.


Suro setelah memastikan jika mereka tersadar, lalu mulai menjelaskan alasan mereka dibawa ke dalam tanah. Setelah Suro selesai menjelaskan kepada mereka semua, pandangannya berpindah kepada Geho sama.


"Sekarang giliranmu Geho sama."


"Baik tuan." Geho sama mulai menggunakan ilmu sihirnya untuk membebaskan mereka satu persatu.


Ternyata tehnik untuk membebaskan sihir dari Batara Antaga tidaklah mudah. Entah bagaiman Geho sama mengetahui rahasia sihir rantai pemasung Sukma, namun dengan pengetahuannya sebagai ahli sihir itu memungkinkan dirinya berhasil menyelamatkan mereka semua.


Saat Suro sedang sibuk mencoba menyelamatkan para tetua dan juga para murid dari sihir Batara Antaga, diatas permukaan tanah pertempuran masih berlangsung. Tetapi Suro tidak khawatir, karena gurunya sudah berada diantara mereka untuk menghabisi pasukan kegelapan yang hendak melarikan diri.