
"Apakah nakmas masih ingat, kira-kira dimana letak persisnya gerbang gaib alam lain yang pernah kita masuki?" Dewa Pedang terlihat kebingungan melihat alam sekitar. Sebab setelah sekian lama, tempat itu sekarang penuh dengan semak belukar yang cukup lebat.
"Dulu saya pernah memberi tanda dengan menanam sebuah pohon mangga." Suro segera membabat semak-semak yang cukup tinggi disekitar tempat dia berdiri.
"Sejak pertarungan melawan naga raksasa di pantai ini hingga sekarang, berarti sudah berlangsung hampir satu tahun yang lalu. Dengan rentang waktu yang selama itu, Suro rasa tinggi pohon mangga itu sudah setinggi orang dewasa." Suro mencoba mengingat-ingat tempat dia menanam pohon mangga
Mereka berempat kemudian berpencar mencoba mencari pohon mangga yang dimaksud Suro secara bersama-sama. Mumpung malam belum datang mereka terus mencari. Dengan masih adanya cahaya membuat mereka ada kesempatan untuk menemukan pohon mangga itu lebih mudah dibandingkan saat sudah gelap gulita.
"Ketemu aku menemukannya! Apakah pohon ini yang nakmas maksud?" Tetua Dewi Anggini berteriak dari arah barat. Mereka bertiga serentak mendekat ke arahnya.
"Apakah pohon mangga yang tetua temukan bercabang tiga dipangkalnya?" Suro berjalan agak dipercepat.
"Benar nakmas, pohon mangga ini bercabang tiga." Dewi Anggini menjawab dari kejauhan sambil membabat pepohonan disekitar tempat itu.
"Agaknya pohon ini tetua. Aku hanya mengingatnya memiliki tiga cabang. Apakah sekiranya paman guru bisa mengingat untuk memastikan saja?" Setelah mereka berkumpul Suro mencoba mengingat-ingat kembali tempat dimana dia sedang berdiri, memang benar adalah tempat dulu, dimana gerbang gaib pernah terbuka.
"Aku rasa memang disini." Dewa pedang menjawab sambil mengingat-ingat kembali kejadian waktu itu.
"Sebelum kita memasuki gerbang gaib alam lain, sebaiknya kita memulihkan kekuatan kita terlebih dahulu. Apalagi perjalanan kita yang kita tempuh barusan cukup menguras tenaga dalam." Dewa Rencong mencoba memberikan usul.
"Kalau tidak, apa sebaiknya kita memasukinya besok saja?" Dewa Rencong menambahkan.
"Kebetulan malam ini adalah malam purnama dengan kondisi itu gerbang gaib dapat terbuka dengan lebih mudah. Seperti kejadian waktu itu Naga raksasa sekalipun menunggu saat seperti ini, agar dapat dengan leluasa membuka gerbang gaib dengan begitu lebar. Kemungkinan kekuatan cahaya bulan mampu membantu membuka gerbang gaib." Suro mencoba menjelaskan.
"Suro tidak mengetahui secara pasti apa hubungannya cahaya bulan dan gerbang gaib bisa saling terkait. Tetapi pemikiran yang Suro miliki berdasarkan dengan peristiwa penyerangan Naga raksasa akan dilakukan setiap bulan purnama, bulat dengan sempurna."
"Benar kata nakmas, aku juga mengingat pada saat itu kita bertarung diterangi cahaya bulan." Dewa Pedang membenarkan perkataan Suro barusan.
Dewa Rencong menghela nafas mendengar penuturan Suro.
"Berarti memang malam ini juga kita akan memasuki gerbang gaib?" Dewa Rencong menggumam pelan.
"Benar paman Salya kita akan memasuki gerbang gaib malam ini juga, tetapi sebaiknya semua memulihkan tenaga dalam terlebih dahulu seperti saran paman. Semuanya harus berada pada kondisi terbaik, agar dapat mengatasi halangan dan rintangan yang mungkin saja datang. Karena itu Suro sudah menyiapkan obat untuk memulihkan kondisi tubuh dan tenaga dalam dengan cepat. Pill inilah yang Suro maksud. Sebaiknya semua mulai menelan pill tujuh bidadari ini!" Suro kemudian mengambil dari dua botol yang berbeda masing-masing dua butir pill.
"Paman Salya pasti masih mengingat pill ini saat bertarung dengan seekor ular siluman di sebuah desa yang bernama Kali Goa."
"Benar khasiat pill itu sangat mengagumkan, tetapi mengapa sekarang warnanya berlainan?" Dewa Rencong membenarkan perkataan Suro, tetapi setelah melihat pill di telapak tangan Suro dua di antara memiliki warna yang berbeda.
"Benar paman, pill warna putih itu yang pernah paman minum. Berhubung sekarang paman guru dan paman Salya sudah pada tingkat langit, maka Suro memberikan pill yang kwalitasnya berada ditingkat yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. Pill warna biru ini untuk paman berdua. Saya dan tetua Dewi Anggini akan menelan yang warna putih."
Setelah menelan masing-masing satu pill mereka mulai bersamadhi untuk menyerap khasiat pill. Kekuatan pill itu begitu manjur untuk memulihkan tenaga dalam mereka dengan waktu cepat.
"Mengagumkan sekali obat ini. Pill ini mengingatkan diriku saat masih berada ditempat kelahiranku, yaitu sewaktu masih berada di daratan kekaisaran Wei utara. Pill ini memiliki kwalitas tingkat atas."
"Pill ini memiliki nama ledakan energi tingkat shakti dan yang berwarna biru itu bernama pill ledakan energi tingkat langit. Setiap satu pill ledakan tingkat langit setara dengan dua ratus koin emas."
Dewa Pedang dan Dewa Rencong melotot mendengar harga yang begitu mahal.
"Benarkah, sungguh disayangkan sudah terlanjur aku telan. Kalau tau harganya sebegitu mahalnya mending aku jual saja?"
Suro tertawa mendengar perkataan Dewa Rencong barusan.
"Pill yang warna biru itu yang digunakan eyang guru. Beberapa bahan yang digunakan untuk meramu memang sangat susah didapat."
"Apakah paman dan tetua sudah merasakan perbedaan setelah menyerap obat yang aku miliki? Seharusnya tenaga dalam paman dan tetua telah pulih kembali seperti semula."
Suro tersenyum mendengar perkataan Dewa Pedang. Dia kemudian bangkit dari duduknya.
"Berarti semua sudah siap untuk memulai petualangan? Suro akan memulai membuka gerbang gaib."
Dewa Pedang mengangguk diikuti Dewa Rencong dan juga tetua Dewi Anggini.
Suro lalu mulai merapalkan mantra sihir untuk memunculkan roda-roda kunci pembuka gerbang gaib. Dari lengan tangan kirinya mulai terbentuk lingkaran, pentagram, heksagram yang menyala. Lingkaran, pentagram dan heksagram cahaya itu terus berputar semakin kencang memutari lengannya. Kemudian semuanya melesat ke depan dengan cepat. Lalu semuanya berhenti dan saling menumpuk, persis didekat pohon mangga.
Setelah melesat ke udara cahaya yang berputar itu semakin membesar. Kemudian ditengah-lingkaran cahaya mulai membentuk sebuah pusaran awan. Awan itulah yang merupakan sebuah lorong gerbang gaib yang membuka ruang dan waktu ke alam lain.
"Siapa yang lebih dahulu memasukinya?" Suro menatap ke arah mereka bertiga.
"Biarkan aku dan tetua Dewi anggini yang masuk terlebih dahulu, nakmas. Setelah itu nakmas bersama kakang Salya menyusul." Dewa Pedang melangkah ke depan bersama Dewi Anggini.
Mereka berdua kemudian segera lenyap ditelan pusaran gerbang gaib. Itu terjadi sesaat setelah mereka melangkahkan kaki memasuki pusaran awan hitam di tengah lingkaran cahaya yang menjadi batas gerbang gaib.
Suro menatap ke arah Dewa Rencong yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Kenapa paman Maung? Suro melihat paman terlihat ragu?" Suro menatap Dewa Rencong yang terdiam tidak segera melangkahkan kakinya.
Dewa Rencong terlihat ragu, dia justru sibuk menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Suro.
"Rasanya seperti apa ketika memasuki pusaran itu?"
"Seingat Suro tidak merasakan apapun paman? Tetapi bisa saja paman akan merasa mual dan muntah. Seperti ketika baru pertama kali naik kuda yang berlari sangat kencang " Suro menjawab sambil tersenyum.
Dia masih berdiri menunggu Dewa Rencong melangkahkan kakinya.
"Jika cuma itu agaknya bukan hal besar yang perlu dikhawatirkan."
Mereka kemudian melangkah bersama memasuki gerbang gaib didepan mereka.
Sesaat setelah tubuh mereka ditelan pusaran awan Dewa Rencong sepontan berteriak sangat keras sambil menggengam tangan Suro dengan begitu erat.
"Dasar bocah gemblung sialan! Seperti naik kuda apanya? Ini seperti masuk pusaran angin taufan, bocah sialan!"
Suro mendengar makian Dewa Rencong justru tertawa begitu keras. Sebab setelah tubuh mereka masuk ke gerbang gaib mereka langsung terhisap dalam sebuah pusaran awan. Tubuh mereka berdua kemudian berputar, seperti sebuah baling-baling yang berputar cukup kencang.
Sesaat kemudian, tubuh mereka terlontar keluar dari gerbang gaib. Setelah terlontar keluar Suro secepatnya mencoba membaca situasi dialam kegelapan itu. Tempat dimana mereka terlempar keluar dari gerbang gaib penuh dengan asap hitam. Suro masih mengingat kondisi penuh asap hitam sama seperti pada waktu itu.
Gerbang gaib yang melontarkan tubuh mereka masuk ke alam lain sudah tidak terlihat lagi. Gerbang gaib itu seperti sebuah pintu masuk yang hanya bisa dimasuki sekali saja, kemudian akan menghilang. Untuk balik ke alam sebelumnya, Suro harus membentuk gerbang gaib kembali, seperti pada awal.
Pandangan mereka terhalang, sehingga tidak dapat melihat dengan jelas. Langit di alam itu juga gelap seperti langit malam. Sebelum mereka menemukan keberadaan Dewa Pedang dan Dewi Anggini suara yang sangat keras segera terdengar.
Dum! Duum! Duuum!
"Suara apa itu bocah? Seperti berasal dari jarak yang sangat jauh, tetapi terdengar seperti bergerak semakin mendekat?" Dewa Rencong yang kepalanya seperti dipelintir merasakan pusing tujuh keliling. Dia belum sanggub membuka mata. Beberapa kali dia sampai ingin mutah, karena kepalanya terasa berputar dengan kencang. Bahkan dia tidak berani berdiri dan memilih duduk berjongkok sambil memijat-mijat keningnya.
"Aku rasa formasi sihir alam ini sudah merasakan kehadiran kita paman Maung. Jika tidak salah, itu adalah sebentuk kekuatan yang mirip dengan rantai Pujangga gila."
"Paman guru!Tetua! Kalian berdua sedang berada disebelah mana?" Suro berteriak cukup keras mencoba mencari tahu keberadaan Dewa Pedang dan Dewi Anggini yang lebih dahulu masuk ke dalam gerbang gaib. Sebab mereka berdua tidak terlihat berada didekat Suro dan Dewa Rencong yang baru saja datang.