
"Kau pikir ku dapat kau kalahkan hanya dengan kekuatan para dewa, aku lah penguasa ketiadaan yang menguasai Panca mahabutha!" teriak Dewa Kegelapan.
Suro menatap ke seluruh tubuhnya justru dipenuhi segala sulur yang menjerat tubuhnya. Ternyata Dewa Kegelapan meniru Pusaka Pedang Akar Dewa dengan kekuatan kegelapan yang dia miliki.
Keadaan itu membuat Suro seperti terserap seluruh kekuatannya dan juga kesadarannya. Hal itu membuat Suro merasa seperti di alam mimpi dan di alam nyata.
"Aku tidak akan memberikanmu kemenangan mudah Dewa Kegelapan!" teriak Suro yang masih memberikan perlawanan. Dia segera mengerahkan tenaga miliknya untuk mengayunkan Pedang Pemangsa Sukma untuk menghancurkan seluruh sulur yang membelenggu dirinya.
Suara menggelegar terdengar keras keluar dari Gunung Semeru. Rupanya pertempuran antara Suro dan Dewa Kegelapan telah membuat letusan Gunung Semeru semakin menggila. Langit di sekitar gunung menjadi gelap total seakan malam tanpa ada bintang dan bulan.
Beruntung pada saat itu Geho Sama, Eyang Sindurogo telah membawa semua pasukan yang sebelumnya bertempur di sekitar Gunung Semeru telah menjauh dari wilayah tersebut. Mereka hanya melihat petir dan letusan kawah gunung dari jarak puluhan kilometer.
"Astaga bumi serasa hendak hancur lebur oleh pertempuran mereka berdua!" ucap Maharesi Acarynandana.
"Ini diluar kemampuan manusia lagi, kekuatan Suro sudah melampaui siapapun, ini kekuatan dewa yang sanggup menghancurkan seluruh marcapada!" guman Eyang Sindurogo yang diliputi rasa penuh bangga, penuh kengerian dan juga ketakutan campur menjadi satu.
Semua mata memandang dari jarak yang sedemikian jauh itu dengan tatapan yang menjabarkan rasa ketakutan yang tak terlukiskan. Ketakutan yang lebih menakutkan dibandingkan akan sebuah kematian.
Apalagi pada saat itu Pasukan yang diciptakan oleh Dewa Kegelapan yang wujudnya tercipta dari magma terus bertambah menjadi semakin banyak dan menyerang ke berbagai penjuru.
Pasukan yang diciptakan Dewa Kegelapan yang sebelumnya telah dihancurkan Geho Sama dan juga para pendekar yang lain seakan tidak berkurang.
"Semuanya berlindung!" ucap Geho Sama yang bergegas mengerahkan jurus Empat Sage untuk menyerap kekuatan milik lawan untuk menghancurkan dari dalam. Pada awalnya jurus itu cukup ampuh dan membuat musuh berubah menjadi batu.
Namun seiring waktu dan bertambahnya jumlah musuh yang seakan tidak terhitung itu telah membuat Geho Sama lalu mengerahkan jurus pedangnya. Dalam sekali tebas pasukan musuh yang hendak merangsek ke depan langsung hancur seperti dibombardir. Bukit yang terkena tebasan itu juga luluh lantak tidak terbentuk menimbun musuh yang terus berdatangan.
Serangan itu dikerahkan dengan menggunakan jurus berbagai perubahan, sehingga bukan hanya energi pedang, tetapi kekuatan perubahan tanah, angin dan api menyatu. Sehingga kehancuran yang dibuat juga menjadi sedemikian mengerikan.
Apa yang dilakukan Geho Sama juga dilakukan Maharesi Acarynandana dan juga Eyang Sindurogo yang memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda darinya. Lesatan panah Brahmastra ikut menahan serangan pasukan Dewa Kegelapan yang hendak menghancurkan pasukan gabungan para pendekar dan juga beberapa kerajaan yang ikut.
Duuuuum! Duuuuum! Duuuuuuuum!
Keadaan semakin menjadi sedemikian kacau bersama ledakan yang baru saja terdengar, sebab setelah itu sebuah kejadian mengerikan menerjang ke arah mereka.
Karena setelah ledakan itu terjadi, maka bumi bergetar sedemikian hebat membuat mereka yang berdiri diatas tanah dan tidak mampu terbang seperri yang dilakukan Mahadewi atau para pendekar yang lain membuat mereka kebanyakan amblas masuk ke dalam tanah yang terbelah dan bergulung layaknya ombak lautan.
"Astaga, ini adalah efek pertarungan yang dilakukan Suro, padahal kita sudah sedemikian jauh!" seru Eyang Sindurogo yang tidak habis pikir.
"Mengerikan, semua pendekar dan pasukan kerajaan itu akhirnya tidak ada yang selamat, kecuali yang mampu terbang seperti kita," ucap sedih Dewa Pedang.
Pasukan gabungan yang berjumlah puluhan ribu itu telah amblas semuanya ke dalam tanah dan ditelan rekahan bumi yang terus bergoncang dengan sedemikian dahsyat. Keadaan itu diperparah dengan alam yang berubah menjadi gelap gulita tanpa ada sedikitpun cahaya yang menyinari.
Padahal saat itu siang hari. Ternyata sinar matahari telah terhalang oleh debu dari ledakan yang berasal dari Gunung Mahameru yang melontarkan isi perutnya dengan sedemikian dahsyat.
"Aku tidak menyangka pertarungan yang terjadi menjadi sedemikian mengerikan!" seru Eyang Sindurogo yang tidak mampu menutupi kengerian yang terpampang di depan matanya.
Bukan hanya Eyang Sindurogo yang ketakutan dan terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak dapat membayangkan pertarungan sedahsyat apa yang tengah terjadi pada Suro dan Dewa Kegelapan.
Mereka tidak dapat berbuat banyak atas apa yang telah terjadi, bahkan sebagian besar pendekar ikut tewas termasuk Dewa Rencong. Para raja yang ikut serta juga ikut tewas bersama seluruh pasukannya tanpa ada yang tersisa.
Kondisi Suro yang sedang menghadapi Dewa Kegelapan juga tidak kalah buruknya. Dia juga sudah menggunakan segala daya upaya untuk dapat mengalahkan lawannya, namun musuh begitu menakutkan kemampuannya yang kini telah mencapai kekuatan puncaknya.
"Sungguh mengerikan, aku tidak mengira dengan kekuatan milik Dewa Kegelapan setelah mendapatkan kekuatan puncaknya, ini sebuah kekuatan yang aku tidak mungkin mampu mengalahkannya," ucap Suro yang sedikit putus asa melihat bagaimana lawannya bertindak.
Berbagai serangan yang dikerahkan Suro seperti amblas tidak tersisa, seakan batu besar yang dilemparkan ke dalam gelombang lautan yang sangat dahsyat, sehingga tidak meninggalkan bekas sama sekali.
Bebagai kekuatan milik dewa telah dilesatkan oleh Suro, namun semuanya itu seakan tidak berguna. Hal itu semakin membuat Suro seperti kehilangan akal menyaksikan kekuatan Dewa Kegelapan.
Suro sengaja membawa musuhnya masuk ke dalam kawah berharap lawannya akan hancur oleh panasnya lahar. Nyatanya kekuatan panas bumi justru terus diserap oleh Dewa Kegelapan dan digunakan untuk mengadakan kekuatan serangannya ke arah Suro.
"Kau ingin mengalahkanku?! Mimpi kau anak manusia!" teriak Dewa Kegelapan dengan ledakan kekuatan yang jauh lebih besar. Dia beberapa kali menghajar tubuh Suro yang berusaha di serap
"Pusaka Kalacakra inilah waktumu untuk menunjukkan kesaktianmu!" seru Suro sebelum tubuhnya dihancurkan oleh Dewa Kegelapan.
"Pusaran Seribu Samsara!" teriak Suro sebelum tubuhnya menghilang lenyap dihajar oleh Dewa Kegelapan.
Dewa Kegelapan pada awalnya cukup setelah Suro berhasil dia habisi. Namun matanya langsung berubah melotot saat menyaksikan pemandangan yang tidak dia pahami. Semua itu terjadi karena kesaktian Pusaka Kalacakra telah diaktifkan, saat itulah wajah Dewa Kegelapan berubah terpana.
"Apa yang terjadi? Mengapa dia masih utuh?" seru Dewa Kegelapan yang menatap Suro telah berdiri kembali tanpa ada sedikitpun luka di tubuhnya. Bahkan Pedang Akar Dewa dan Pedang Pelahap Sukma telah tergengam ditangan Suro.
Bahkan mereka kini kembali bertarung diatas Gunung Mahameru.
"Mengapa kita kembali kesini?" ucap Dewa Kegelapan yang sedang terbang diatas udara. Sedang di depannya Suro telah bersiap dengan serangannya.
Dewa Kegelapan tidak mengetahui, jika semua itu berkat Pusaka Kalacakra yang Suro dapat saat berada di Negeri Shangrila atau Sambala. Pusaka itu memiliki kemampuan untuk mengatur waktu mundur atau maju sesuai keinginan pemiliknya.