SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
537 Jenderal Pasukan Kegelapan



"Astaga apa sebenarnya benda bercahaya ini Geho Sama? ucap Eyang Sindurogo yang langsung berubah menjadi waspada.


Geho Sama sendiri matanya terus memelototi sesuatu dari segumpal cahaya terang yang kini bertambah besar. Dia sempat memincingkan mata mencoba mengenali benda apa yang dengan cepat berubah menjadi besar.


Awalnya esensi cahaya itu sebesar sebutir debu, lalu setelah muncul di dunia manusia dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang sangat terang benderang. Lalu perubahan lain secara nyata dapat dilihat dengan mata


telanjang.


"Astaga apakah cahaya ini membentuk seorang bayi?" sambung Eyang Sindurogo dengan wajah terkejut.


Dia bertambah terkejut, sebab wajah bayi yang penuh cahaya terang benderang itu mengingatkan dirinya pada saat pertama kali menemukan Suro. Perbedaannya pada saat itu bayi yang dia temukan berada dalam sebuah kapsul dengan pendar berwarna hijau.


Sebelum Geho Sama menjawab wajah keduanya semakin dibuat terpana, sebab dalam hitungan detik sesosok bayi yang muncul itu berkembang menjadi seorang anak lelaki. Semua berlangsung dengan begitu cepat dan membuat mata Eyang Sindurogo seperti melihat perkembangan Suro sedari bayi sampai menjadi seorang


pemuda yang dia kenal.


Sebuah pakaian berwarna keemasan juga telah melapisi tubuhnya yang membuat wajah Geho Sama seperti disihir.


"Mustahil, aku tidak menyangka sama sekali. Jadi ini rencana tuan Suro!" seru Geho Sama yang membuat Eyang Sindurogo cukup terkejut.


Mata keduanya tertegun menatap ke arah pemuda yang sangat mirip dengan Suro. Hanya pakaian yang selayaknya para raja membuat mereka merasa itu bukan Suro. Sosok itu masih terpejam dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dadanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi setelah dirimu menghilang?" tanya Eyang Sindurogo sambil terus memusatkan pendangannya ke arah sosok ganjil di depannya.


Cahaya yang sebelumnya terang benderang mulai meredup bersama berubahnya ukurannya. Kini cahaya itu secara perlahan seperti masuk ke dalam tubuh sosok misterius itu.


"Geho Sama sialan, apa yang sebenarnya terjadi mengapa mulutmu juga kini berubah kembali menjadi paruh burung?!"


"Muridmu kini berada di alam kegelapan terus berada disana untuk menjaga Dewa Kegelapan ."


“Menjaga?” ucap Eyang Sindurogo sambil mengernyitkan dahinya. “Memangnya kalian gagal menghabisi Dewa Kegelapan?” tanyanya kemudian.


“Dia sudah terlanjur meminum Tirta Amerta air keabadian, sehingga sulit untuk dihabisi, atau musthail untuk dimusnahkan, seperti juga para dewa. Namun Tuan Suro menemukan caranya, yaitu dengan memastikan seluruh pasukan kegelapan musnah dari muka bumi,” jawab Geho Sama.


“Karena itulah Tuan Suro memerintahkan diriku kembali ke alam manusia untuk menghabisi pasukan kegelapan sampai tuntas,” ujar Geho Sama.


Terlihat Eyang Sindurogo tidak cukup puas dengan jawaban Geho Sama , sebab belum menjawab sosok yang kini mirip dengan Suro di depan mereka, “lalu siapa sosok yang mirip dengan muridku ini Geho Sama, bukankah kau katakan muridku ada di dunia kegelapan?”


“Aku tidak cukup yakin, tetapi Tuan Suro menyebut ini adealah esensi kekuatan dan eksistensi dirinya,” jawab Geho Sama.


“Apakah ini artinya dia menciptakan tubuh dirinya yang lain?” gumam Eyang Sindurogo sambil menggaruk kepalanya. Karena dia kini tidak dapat mengerti dengan jawaban Geho Sama yang menyebut esensi dan eksistensi Suro.


“Aku tidak cukup yakin untuk menjelaskannya, jadi lebih baik kita tunggu saja, aku yakin sosok yang mirip Tuan Suro ini akan mampu menjawabnya,” sahut Geho Sama.


Beberapa saat kemudian kedua mata sosok misterius di depan mereka berdua mulai membuka dan mulutnya terbentuk sebuah senyuman kecil, “eyang guru sudah ada disini rupanya, kebetulan sekali, sebab ada hal yang ingin aku jelaskan,”ucapnya.


Mata Eyang Sindurogo langsung melotot dan terlihat ada kebingungan dan juga keraguan di dalamnya. Beberapa kali dia menoleh ke arah Geho Sama yang justru menjawab dengan mengangkat bahunya, seolah dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.


“Apakah kau adalah muridku Suro?” tanya Eyang Sindurogo dengan ragu.


“Bisa dikatakan demikian,” ucapnya. “Aku memiliki kesadaran dan ingatan yang sama dengan diriku, hanya saja tubuhku yang asli tetap berada di Dunia Kegelapan.


“Ada yang ingin aku jelaskan....,” ucap Suro yang mulai menjabarkan situasi yang kini terjadi, walaupun sebagian penjelasan Suro sudah di sebutkan oleh Geho Sama, namun rincian penjelasan yang lebih terperinci membuat mata Eyang Sindurogo berbinar.


“Jika seperti itu aku yakin dapat mengalahkan pasukan kegelapan yang telah merengut ribuan pasukan para pendekar!” seru Eyang Sindurogo dengan penuh rasa percaya diri.


Geho Sama yang juga mendengar penjelasan Suro ikut terkejut. Dia kini tidak lagi berbagi ruang kesadaran dengan Suro tentu saja tidak mengetahui isi hatinya, oleh karena itulah mengapa sejak dia membawa esensi kesadaran Suro dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi.


“Tunggu apa lagi, kita habisi seluruh pasukan kegelapan!” ucapEyang Sindurogo yang memandang ke arah bawah sana dimana peperangan masih berlanjut.


Bersama anggukkan kepala Suro, maka mereka bertiga langsung melesat ke tengah medan pertempuran. Perwujudan Suro yang sekarang tentu saja tidak serta merta disadari dan dikenali oleh para pendekar, hanya saja saat dia datang bersama Geho Sam dan Eyang Sindurogo mereka langsung menganggap dirinya sebagai bagian dari rekan seperjuangan.


Wajah Suro dalam beberapa saat termenung seperti menyadari sesuatu hal yang langsung membuatnya sedih.


“Jadi begitu,” gumamnya.


“Ada apa tuan Suro?” tanya Geho Sama yang berada di sampingnya tentu saja merasakan sedikiut kejanggalan yang diperlihatkan dengan sikap Suro.


“Apakah memang benar dengan kondisi Paman Dewa Rencong dan Paman Dewa Pedang?” tanya Suro yang segera menoleh ke arah Eyang Sindurogo.


Sperti mengerti dengan apa yang ditanyakan Suro lelaki itu menganggukkan kepala dengan wajah yang mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.


“Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?” tanya Geho Sama dengan kebingungan.


“Mereka berdua telah gugur dalam pertempuran saat melawan salah satu jendral perang yang dimiliki oleh Dewa Kegelapan,” sahut Eyang Sindurogo menjelaskan sesingkat mungkin kondisi dua pendekar yang ditanyakan Suro.


“Jendral pasukan Dewa Kegelapan, apakah itu yang dimaksud adalah sosok yang memiliki senjata Tongkat berujung tengkorak?” tanya Geho Sama yang menampakkan kemarahan yang langsung memuncak.


Sebelum Suro memanggil dirinya untuk ikut pergi menuju Dunia Kegelapan, seungguhnya mereka berempat antara Geho Sama, Eyang Sindurogo, Dewa Pedang dan Dewa Pedang bertempur sedang melawan seseorang yang mengaku sebagai Jenderal perang pasukan kegelapan.


Walaupun sebenarnya lelaki itu dulu dikenal sebagai Pendekar Tongkat iblis memimpin Perguruan Tengkorak Merah. Lelaki itu menghilang dari dunia persilatan dan tidak mampu diketahui oleh Suro maupun oleh Eyang Sindurogo dan juga Dewa Pedang, sebab dia bersumbunyi dan mengabdi kepada Dewa Kegelapan.


Dia tidaklah sendiri , tetapi dia juga bergabung dengan pasukan aliran hitam dan juga siluman yang bergabung menjadi bagian pasukan kegelapan. Diantaranya adalah pasukan dari iblis Kalipurusha.


“Aku akan menghabisi makhluk itu dan seluruh pasukannya!” ucap geram Suro


dan Geho Sama berbarengan.