
"Paman Subutai aku ingin mengetahui tentang sekelompok orang yang menguasai kota iblis Moguicheng. Sebuah kelompok yang menamakan diri mereka sebagai Penyembah Dewa Kegelapan."
"Apakah yang di maksud pendekar Suro adalah pasukan penyihir kegelapan yang memiliki ilmu hitam sesat? Mereka cukup disegani karena penguasaan ilmu hitam yang terkenal menakutkan itu?"
"Aku tidak mengerti semenakutkan apa ilmu mereka? Apakah itu artinya paman mengetahui tentang mereka?" Suro mencoba menegaskan pertanyaannya.
"Itu tergantung berapa harga yang diberikan atas informasi yang pendekar inginkan itu?" Subutai menyeringai sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi.
Dia kemudian memberikan kode kepada Suro dengan menggunakan jari telunjuk dan jempol yang kedua ujungnya saling diusap-usapkan. Setelah itu dia sibuk memlintir kumisnya yang tumbuh cukup lebat.
Matanya tersenyum penuh kemenangan seakan dia yang paling berkuasa karena merasa paling mengetahui informasi yang dibutuhkan. Melihat tingkah Subutai, Dewa Rencong jengah. Giginya bergemeletuk menahan marah.
"Hei kunyuk busuk, aku sedari tadi sudah muak dengan gayamu yang petentang-petenteng diajak berbicara tidak memandang siapa yang sedang kau ajak berbicara?
Jika tidak memandang guru dan murid ini, sudah aku pelintir kepalamu." Dewa Rencong menggebrak meja dengan cukup keras.
Matanya melotot ke arah Subutai. Tetapi lelaki itu justru menyeringai tidak memperdulikan ucapan Dewa Rencong, walau dia mengetahui jika kekuatan pendekar didepannya telah mencapai tingkat surga.
"Tentu saja aku mengetahui dirinya adalah orang yang telah menghancurkan kelompok Mawar Merah, tetapi apa peduliku.
Informasi yang kalian butuhkan ada padaku. Karena semua kekuatan yang menguasai seluruh daratan ini aku ketahui semua.
Jika kalian hendak melawan kekuatan mereka, langkah pertama yang diambil adalah mencari tau kekuatan dan kelemahan yang ada pada mereka. Tentu saja itu bukan perkara mudah untuk mengumpulkan informasi tentang mereka.
Dan usaha yang kalian lakukan tidak tentu akan berhasil. Jalan yang akan dilalui pasti dengan susah payah.
Atau dengan cara yang lebih mudah, yaitu bertanya kepadaku. Tetapi terserah keputusan kembali kepada kalian sendiri, bukan padaku. Aku hanya memberikan solusi kepada kalian." Subutai mengangkat kedua bahunya dan kembali duduk.
Tetapi apapun keputusannya sebenarnya dia hendak menunjukkan kepada Dewa Rencong bahwa mereka membutuhkan dirinya.
"Jangan sombong kisanak, kami sanggup tanpa bantuanmu untuk mencari tau dan menghadapi musuh sekuat apapun. Kau belum mengetahui kekuatan kami yang sesungguhnya!"
Ucapan Dewa Rencong yang keras itu justru tidak dianggap oleh Subutai lelaki itu justru bersiul-siul sambil menatap langit-langit kediaman mewah Yang Taizu.
Melihat perilaku Subutai, sebenarnya Dewa Rencong meradang, namun dia akhirnya sedikit mereda, sebab Eyang Sindurogo memintanya untuk tenang.
Hanya saja dia sudah geram kepada Subutai, sebab lelaki itu seperti tidak memandang kekuatan yang mereka miliki.
"Jika mulutmu itu tidak bisa dipegang, jangan harap dapat lepas dariku! Tanganku sendiri yang akan membakar tubuhmu dengan petirku!"
Subutai justru tertawa keras melihat Dewa Rencong yang berbicara penuh kemarahan padanya.
"Manusia kurang ajar, kau ingin menguji kekuatanku!'
"Sudah, sudah jangan dipermasalahkan paman. Bagi kita uang bukan masalah besar. Apa paman Maung lupa? Kita ini kaya raya, walaupun orang memandang kita seperti gembel." Suro mencoba menengahi pertengkaran kecil itu.
Dia sebenarnya bisa saja menggunakan pill yang membuat kondisi Subutai seperti mabuk berat, sehingga lelaki itu akan menjawab apapun pertanyaan yang dia ajukanl. Tetapi efek samping dari pill tersebut membuat ucapannya kadang tidak jelas dan sedikit melantur.
Dengan menimbang hal tersebut, akhirnya Suro memilih memberikan apa yang dipersyaratkan Subutai. Apalagi sejak awal pertempuran, lelaki itu bisa dia manfaatkan.
Beruntung saat ini kepeng bagi Suro bukan suatu masalah besar, sebab persediaan harta karun Kaisar Gong begitu banyak seperti sebuah gunung emas.
Maka bukan masalah besar, jika hanya satu atau dua kantong emas diberikan kepada lelaki itu. Apalagi informasi yang dimiliki Subutai cukup berharga.
Lelaki itu sesungguhnya seorang Telik sandi dari negeri timur Kerajaan Goguryeo. Tetapi dia justru dikenal sebagai mata-mata milik Khan Langit. Sebab dia diutus oleh Khan Langit untuk membantu sekutunya, yaitu pasukan Elang Langit.
Sebuah kondisi yang cukup rumit. Apalagi tujuan awalnya adalah untuk mengetahui kekuatan Khan Langit yang berada disisi utara.
Tapi dari situlah kisah hidupnya bergulir mengikuti jalur takdir yang sedikit susah dipahami. Seakan seluruh penguasa dimana dirinya berpijak hendak memanfaatkan dirinya.
Kondisi itu membuat dirinya kehilangan tempat berpijak untuk memposisikan orientasi kesetiaannya kepada siapa. Sehingga lelaki itu seperti sudah kehilangan jati dirinya sendiri.
Tetapi memang kemampuan dirinya mengumpulkan informasi sangat luar biasa. Dengan berjalannya waktu akhirnya dia bisa memposisikan dirinya, yaitu mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Itu juga yang dia lakukan saat Suro memberinya peluang tetap hidup dengan syarat dia mau menunjukkan beberapa hal yang dia ketahui. Dia merasa apa yang dia lakukan itu juga bagian pekerjaannya sebagai mata-mata.
Selain itu dia mendapatkan keuntungan dengan keputusan yang diambil, meskipun ada pihak lain yang merasa dirugikan. Tetapi selama dirinya diuntungkan, maka itu bukan masalah.
Lelaki itu memang tidak memiliki darah dari daerah utara padang rumput luas. Tetapi nama lelaki itu adalah " Daewon". Sebab lelaki itu berasal dari Kerajaan Goguryeo.
"Harganya adalah pill penawar racun ini dan sekantong emas yang aku janjikan sebelumnya." Suro lalu memberikan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Ini aku berikan lebih cepat jika paman mau menceritakan mengenai kelompok itu."
Suro sebelumnya menceritakan tentang apa yang dia temukan saat mengobati anak dari Jendral Zhou. Selain Hawa sesat, dia juga merasakan adanya hawa kegelapan didalamnya.
Karena itulah dia cukup penasaran untuk mencoba mencari tau siapa dalang sebenarnya dibalik ilmu hitam yang telah diderita Lin'er putri dari Jendral Zhou. Sesuai dugaannya memang ada rahasia besar yang melibatkan musuh yang dia kejar.
Subutai lalu bercerita panjang lebar kepada mereka semua yang dia ketahui.
Menurut penjelasan lelaki itu, sesungguhnya Negeri Wajin dan pasukan dari utara yang dipimpin Khan Langit hendak menggulingkan kaisar Yang. Untuk itu mereka mencoba menyatukan kekuatan mereka.
Salah satu pasukan yang mendukung untuk ikut menghancurkan Kaisar Yang adalah penguasa kota iblis Moguicheng. Selain itu ada satu kekuatan lain yang berasal dari Kerajaan Goguryeo juga ikut bergabung.
Tetapi Subutai tidak bercerita secara keseluruhan kepada yang lain. Ada beberapa hal yang ditutupi, terutama cerita bagaimana dia, akhirnya menjadi seperti yang sekarang ini.
Sebab apa yang dia alami sekarang berhubungan dengan keputusan raja kerajaan Goguryeo. Kerajaan Goguryeo berada di timur dari wilayah kekaisaran Yang. Beberapa kali serangan yang dilakukan kekaisaran Yang ke wilayah Goguryeo membuat penguasa kerajaan itu berupaya menjatuhkannya.
Namun raja itu juga memahami, jika kekuatan kerajaannya tidak akan dapat mengalahkan kekuatan kekaisaran Yang. Oleh karena itu dia mencoba mempelajari kekuatan kerajaan lain yang dapat dia jadikan sekutu.
Salah satunya adalah mengirimkan orang pilihannya untuk masuk ke pusat kekuasaan kerajaan tetangga. Tepatnya kekuasaan Khan Langit dan berusaha merebut kepercayaannya. Utusan yang dia kirim itu adalah Daewon.
Tetapi lelaki itu justru lebih dikenal dengan sebutan lain, yaitu Subutai atau anjing perang milik Khan Langit, dibandingkan namanya yang asli, atau asal daerahnya yang berasal dari kerajaan Goguryeo.
Tetapi itu adalah tugas yang dia emban selama hidupnya dari Raja Kerajaan Goguryeo yang bernama Yeong-yang-wang. Sebab raja itu sudah berikrar hendak memusnahkan Kaisar Yang dari muka bumi dengan cara apapun.
Maka tugas dari Subutai adalah memprovokasi Khan Langit dan juga pasukan Elang Langit agar mau membantu menyerbu Kekaisaran Yang. Dengan kepintarannya dia merencanakan semua dengan apik.
Kemudian setelah Khan Langit mengikrarkan untuk menguasai Kekaisaran Yang, maka Raja Yeong-yang-wang dari Goguryeo segera memberikan dukungan kepadanya.
"Tetapi semua kekuatan itu tidak akan pernah berkumpul, kecuali satu dan lain hal yang membuat mereka memiliki kepercayaan tinggi dapat menjatuhkan Kekaisaran Yang, yaitu sebuah kekuatan yang selama ini terus menyokong pasukandari kelompok Mawar Merah yang telah kalian hancurkan itu." Subutai tertawa kecil sambil menimbang-nimbang kantong emas ditangannya.
"Tanpa aku katakan seharusnya sudah mengetahui siapa kekuatan yang tidak nampak itu. Seperti juga pasukan penyihir kegelapan yang menguasai daerah gurun, berjuluk kota iblis Moguicheng."
Tidak ada suara semua terdiam setelah mendengar apa yang diceritakan Subutai. Mereka tidak mengira jika urusan yang mereka hadapi kali ini begitu pelik.
Bahkan melibatkan kekuatan dari beberapa kerajaan, sehingga kemungkinan akan memicu perang besar yang melanda Benua Tengah.
"Kita akan mendatangi tempat itu, tetapi itu nanti. Banyak hal yang akan kita lakukan untuk saat ini."
Setelah mereka terdiam cukup lama selesai Subutai bercerita, maka Eyang Sindurogo yang pertama berbicara dan mencoba mengambil keputusan.
"Yang pasti setelah kita selesaikan urusan dengan kelompok Elang Langit. Dan juga setelah selesai mendatangi gunung Taihang Shan.
Mengenai Dewa segala tau, jika dia menghendaki bertemu kita, maka kita pasti akan menemukannya di gunung Taihang Shan atau dimanapun.
"Berarti lelaki itu mengetahui kita sedang mencarinya eyang?"
Eyang Sindurogo menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Dewa Rencong.
"Sekarang juga kita menuju timur hendak menyelidiki pasukan Elang Langit, sekaligus melewati gunung Taihang Shan," ucap Eyang Sindurogo sambil menatap ke seluruh orang yang berada di ruangan itu.
"Apakah perlu bantuan dari pasukan penjaga kota?" tanya Yang Taizu walikota Shanxi.
"Terima kasih tuan walikota, biarkan kami mencoba menyelidiki terlebih dahulu. Selain itu kami kesana dengan menggunakan cara kami." balas eyang Sindurogo.
"Kalian tidak perlu buru-buru mencari pasukan Elang Langit, aku rasa nanti malam mereka akan kembali mendatangi kota ini dan menyerbu dengan kekuatan lebih besar. Aku rasa mereka kali ini tidak datang dengan diam-diam.
Jadi kalian bisa beristirahat saja. Hari sudah pagi, matahari sudah naik sepenggalan. Dan perutku juga sudah lapar.
Aku mendengar dikota ini ada sebuah restoran yang terkenal dengan kelezatan masakannya, apakah kalian membiarkan seorang tamu mati kelaparan?" Subutai berbicara sambil tetap duduk bersandar sambil menepuk-nepuk perutnya, seakan dia adalah pemilik kediaman itu.
"Kebetulan sekali aku juga sudah lapar," seru Suro sambil ikut mengusap-usap perutnya.