
Setelah Suro terbang dalam waktu cukup lama akhirnya Suro melihat penampakam gunung api. Sesuai dengan perkataan Tohjaya gunung pertama yang ditemui itu bernama gunung Mahendra(Lawu).
Suro saat sampai digunung Mahendra kondisi matahari sudah tenggelam, sehingga Suro memilih memutuskan beristirahat terlebih dahulu. Karena saat malam seperti itu, dirinya tidak mendapatkan pasokan tenaga tambahan yang berasal dari kekuatan matahari.
Dia terbang dengan mengendarai bilah pedang miliknya memerlukan pasokan tenaga dalam yang tidak sedikit. Apalagi Maung harus dipanggul sepanjang jalan membuat tenaga dalamnya terkuras banyak.
Dengan adanya Maung dipundaknya membuat dia juga tidak bisa menghisap energi alam. Karena dengan tehnik empat sage mampu membuat energi kehidupan Maung bisa ikut terhisap. Jika hal itu terjadi, tentunya akan sangat membahayakan keselamatan harimau sahabatnya itu.
Dia mendarat ditempat yang jika dilihat dari atas sebagai sebuah danau yang cukup luas. Dia memilih tempat itu untuk beristirahat, karena selain dia dan Maung sudah cukup kehausan, dirinya juga sudah tidak mandi sejak beberapa hari yang lalu. Hal itu dikarenakan dia sibuk belajar ilmu racun dengan Tohjaya.
Telaga itu bernama telaga Sarangan. Maung yang diturunkan oleh Suro segera meminum air. Agaknya dia begitu kehausan. Mengingat selama perjalanan Suro tidak berhenti sama sekali.
"Maung carilah makanan untuk malam ini!" Suro membiarkan harimau itu pergi berburu.
Setelah mendengar perintah Suro, maka Maung langsung menghilang dikegelapan hutan. Langit sudah sepenuhnya gelap. Tidak ada sama sekali tersisa cahaya matahari di langit. Senja kala sudah tidak lagi tersisa langit sepenuhnya telah gelap.
Suro mulai membasuh seluruh badannya, sekaligus untuk menghilangkan penat di badannya. Perjalanan cukup jauh dengan memanggul Maung ternyata membuat badannya terasa letih.
Setelah selesai mandi dia mulai membuat api unggun untuk mengusir udara dingin pegunungan dan juga memberikan penerangan untuknya. Sambil menunggu Maung datang membawa hewan buruannya Suro merasakan sebuah energi alam yang begitu padat didekat dia membuat api ungun.
Setelah agak lama dia mencari pusat energi alam yang dia rasakan, akhirnya dia menyadari, jika diatas batu sangat besar yang sebagian berada dalam air, disitulah pusat energi yang dia cari sejak tadi.
Kondisi tubuhnya yang telah kehilangan begitu banyak tenaga dalam miliknya untuk terbang, tentunya begitu tergoda untuk menyerap energi alam itu. Tetapi dia tangguhkan sampai Maung datang.
Ghhhrrrrrrrrr!
Tidak beberapa lama Maung datang sambil membawa seekor rusa dewasa yang cukup besar.
"Akhirnya yang ditunggu datang!"
Suro segera mendekati hewan buruan yang baru saja dibawa Maung. Satu paha belakang dipotong oleh Suro, selebihnya diberikan pada harimau yang sedang menunggu mendapatkan jatah makannya.
"Karena kamu yang mencari makanan jatah makanmu juga lebih banyak. Habiskan Maung perjalanan kita masih jauh."
Setelah Suro mengambil jatah makannya, maka Maung mulai menyatap hewan hasil buruannya.
Berbeda dengan Suro, tentu saja dia tidak akan memakan daging itu mentah-mentah. Alih-alih menggunakan api unggun untuk memanggang daging yang cukup besar itu, Suro dengan tanpa rasa bersalah justru menggunakan bilah pedangnya untuk memanggang daging jatah makan malamnya itu.
'Bocah gila kenapa kau gunakan bilah pedangku yang mengagumkan ini untuk memanggang daging?'
"Sebentar saja kanjeng Lodra yang agung. Selain itu aku mudah untuk mengendalikan seberapa panas api yang aku inginkan, agar dagingnya matang tanpa membuatnya gosong!"
'Ini sebuah penghinaan pusaka yang kau gunakan itu adalah Pedang berkwalitas pusaka Dewa, bocah!'
"Sekali-kali tidak mengapa Kanjeng Lodra. Tenaga dalam yang telah engkau hisap membutuhkan pemulihan sekaligus membuat perutku ini cepat lapar." Suro sibuk membolak-balikan daging yang dia gantung itu.
Kali ini dia tidak membuat bilah pedang itu keluar jilatan api hitam, tetapi dengan penguasaan pedang yang telah dia kuasai, pedang itu hanya membara. Tetapi bara dari bilah pedang itu hanya di bagian tengah sampai ke ujung saja.
'Sontoloyo, bocah cubluk pusaka dewa yang mengagumkan ini kau samakan dengan tungku dapur!'
Mendengar ocehan barusan membuat Suro tidak tahan untuk menahan tawanya. Semakin lama mendengar ocehan Lodra membuat Suro semakin menikmatinya.
Walaupun tidak seindah kicauan burung kutilang dipagi hari yang bernyanyi indah dengan riuhnya, tetapi itu lebih baik daripada ditemani sepi. Karena jika datang sepi membuat Suro hanya kembali teringat kepada gurunya Eyang Sindurogo.
Jika dia teringat pada gurunya akan membuat kesedihannya yang timbul seakan bertumpuk-tumpuk. Bagaimana tidak sedih setelah kehilangan gurunya digerbang gaib dan membawanya ke alam lain, kini dia mendapati gurunya sudah dalam kondisi lebih buruk daripada hilang di alam lain. Sebab saat bertemu gurunya sudah dalam kondisi yang tidak ubahnya seperti sebuah boneka. Dan yang lebih membuatnya sedih kini dia menjadi lawan dari gurunya sendiri.
Dari bentrokan saat pertarungannya di Banyu Kuning dia memastikan, jika gurunya benar-benar sepenuhnya telah kehilangan ingatannya.
Karena itulah mengapa dengan adanya Lodra, membuat Suro cukup terhibur, seperti sekarang Suro terlihat tertawa cukup keras mendengar ocehan Lodra. Bahkan Maung yang telah tertidur setelah menghabiskan makan malamnya, mendengar tawa Suro barusan membuat dia terbangun.
"Grrrrrr!" Maung menggerung seakan harimau itu hendak memberitahu tidurnya telah terganggu oleh tawanya.
"Maaf Maung membuat tidurmu terganggu. Hahaha....!" Suro berbicara dengan Maung sambil tetap sibuk memanggang daging miliknya.
"Panas dari bilah pedang ini membuat daging ini matang dengan sempurna tanpa ada yang gosong. Luar biasa ternyata dirimu sangat berguna sekali selain untuk bertarung, Lodra!"
"Berkat dirimu rasa daging ini terasa begitu nikmat. Bahkan hidangan makanan di Kerajaan Kalingga kalah nikmat. Luar biasa.. paman guru harus mencobanya. Pasti dia akan ketagihan." Suro berbicara sendiri sambil sibuk menyantap makanannya setelah dirasa cukup matang, meski suara Lodra terus berkicau tanpa henti.
Setelah acara makannya selesai dia kemudian meneruskan niat awalnya yang sejak tadi tertunda, yaitu menyerap energi alam diatas batu besar yang sebagian berada di bawah air.
Maung sudah cukup lelap dalam tidurnya dengurannya cukup keras terdengar sampai ditempat batu besar yang akan digunakan Suro untuk bersemadhi.
Energi alam yang berpusat dibatu besar itu cepat membuat tenaga dalam Suro kembali pulih. Bahkan Suro baru kali ini merasakan energi alam yang terasa begitu padat. Suro tidak mengetahui entah karena alasan apa, sehingga membuat energi alam ditempat dia bersamadhi bisa begitu padat. Suro terus melakukan itu secara terus menerus, entah sudah berapa lama karena Suro telah tenggelam dalam samadhinya.
Arus perputaran energi segera terbentuk, setelah Suro memulai tehnik empat sage miliknya. Dari yang tidak terasa sampai mulai membentuk pusaran angin. Walaupun awalnya angin itu terasa seperti sepoi-sepoi, tetapi dengan berjalannya waktu angin itu menjadi begitu besar. Bahkan sebagian air mulai ikut beriak.
Bersamaan dengan itu, mendadak bumi bergoncang dengan hebat. Sepontan Suro menghentikan samadhinya. Maung yang merasakan ancaman bahaya besar segera terbangun dan meloncat cepat mendekati Suro.
Begitu kedua mata Suro terbuka sebuah pemandangan mengerikan terpampang dihadapannya.