SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 258 Kembalinya Eyang Sindurogo



Setelah muncul bersama Maha Naga Taksaka dari dalam tanah, Suro segera menyadari jika pasukan kegelapan tidak bergerak mundur dari Medan pertempuran.


Para tetua dan murid perguruan yang masih dalam pengaruh sihir Batara Antaga masih mengamuk. Mereka kini berada di pihak musuh. Karena itulah mengapa mereka saat ini berada di barisan pasukan kegelapan.


"Kemana makhluk yang telah kau tenggelamkan barusan?" Dewa Rencong yang melihat kedatangan Suro muncul dari dalam tanah bersama ular naga raksasa dengan kobaran api disekujur tubuhnya tidak membuatnya terkejut. Karena dia pernah melihat pengerahan jurus tersebut.


Namun tidak bagi orang-orang yang ada disana. Wujud naga yang begitu besar membuat mereka berteriak ketakutan, tetapi itu hanya berlangsung sebentar. Sebab mereka segera menyadari, jika makhluk yang baru saja muncul dengan tubuhnya merah membara terbuat dari magma dan diselimuti api yang menyala dengan begitu mengerikan, ada dalam kendali Suro.


Kondisi itu membuat mereka tenang. Karena itu artinya makhluk itu ada dipihak mereka. Mereka semakin yakin dengan gerakan Maha Naga Taksaka yang langsung menyerang barisan pasukan kegelapan.


Maha Naga Taksaka bergerak cepat mengobrak-abrik dan melenyapkan para makhluk yang tidak dapat dihabisi hanya dengan luka biasa. Suro sendiri mencoba membaca situasi sambil mengendalikan makhluk raksasa itu dari kejauhan. Dia berada di barisan bersama Dewa Rencong.


"Dia menghilang paman maung masuk ke dalam gerbang gaib yang diciptakannya. Seperti yang kita ketahui, jika mereka memang menguasai sihir ruang dan waktu, seperti milik Gagak setan."


Mendengar jawaban dari Suro, lelaki yang berasal dari Bukit Lamreh diujung Swarnabhumi itu hanya mengangguk.


"Apakah kamu mampu menolong para anggota perguruan dan para tetua yang telah terkena sihir dari Batara Antaga, bocah?" Kembali Dewa Rencong bertanya kepada Suro tentang nasib tetua dan murid perguruan yang telah menjadi bagian pasukan kegelapan.


Sejak mereka menjadi bagian pasukan kegelapan, keberadaan para anggota perguruan dan para tetua yang telah hilang ingatan itu cukup membuat mereka semua kerepotan.


Selain karena disebabkan mereka tidak ingin melukai para tetua dan murid perguruan yang kehilangan ingatan itu, ada hal lain yang membuat pasukan yang dipimpin Dewa Pedang harus menghentikan mereka secepatnya.


Hal itu berkaitan dengan sesuatu hal yang telah diikatkan dalam jiwa mereka oleh Batara Antaga, yaitu Rantai Pemasung Jiwa. Dengan senjata itu mereka beberapa kali berhasil membuat pasukan yang kini dipimpin Dewa Pedang kehilangan nyawanya setelah dihabisi dengan rantai itu.


Menurut penjelasan Pujangga gila rantai itu memang menjadi modal bagi dirinya untuk mencari jiwa manusia untuk dijadikan bakal calon pasukannya yang berwujud Bhuta kala. Dan itu memang terbukti didepan mata mereka.


Sebab setelah berhasil jiwanya mereka kuasai, maka raganya berubah menjadi makhluk kegelapan yang biasa disebut Bhuta kala, walaupun ukuran mereka tidak sebesar rumah seperti yang ada di hutan Gondo mayit. Matanya berubah merah menyala dan taring mencuat keluar dari bibir mereka.


"Suro mungkin bisa melepaskan pengaruh sihir yang membuat mereka lupa ingatan dengan Sastra Jendra, paman. Kekuatan sastra Jendra adalah meruwat jiwa. Dengan kekuatan itu ingatan mereka dapat kembali, tetapi tidak dapat melepaskan rantai Pemasung jiwa yang merupakan bagian dari ilmu sihir."


"Karena itulah Suro tidak yakin mampu melepas rantai hitam yang telah terlanjur masuk didalam tubuh mereka dan membelenggu jiwa mereka dengan kontrak sihir kegelapan."


"Karena eyang Sendiri tidak mampu melepasnya. Bahkan dia dapat terlepas dari rantau itu, setelah Pujangga gila yang melepaskan sihir rantai yang terlanjur mengikat jiwanya."


"Saat aku menolong Pujangga gila dengan Sastra Jendra, aku hanya mengembalikan kewarasannya dan juga kesadarannya. Bahkan Pujangga gila yang telah tersadar, masih tidak dapat melepas kontrak sihir yang dibuat Batara Antaga. Waktu itu dia dapat melepas jiwanya dari kontrak sihir, setelah aku menyerap kekuatannya. Kondisi itu ternyata dapat memperlemah kekuatan sihir yang membelenggu jiwa mereka."


"Namun cara itu tidak mungkin aku gunakan pada mereka. Karena cara itu justru dapat membahayakan nyawa mereka. Aku melakukan pada Pujangga gila, karena kondisinya sudah tidak berbeda dengan mayat hidup. Dia bersikeras ingin menyempurnakan kematiannya yang tertuda. Karena itulah Pujangga gila menyuruh Suro untuk menghisap seluruh kekuatannya, agar dengan cara itu sihir yang bersarang dalam tubuhnya yang menyerap kekuatan raganya dapat dipatahkan."


Suro mencoba menjelaskan kondisi para tetua dan murid perguruan yang memiliki kondisi berbeda dari Pujangga gila. Kondisi mereka masih bisa diselamatkan, sedangkan Pujangga gila sudah tidak dapat diselamatkan. Tetapi tentu saja cara membebaskan jiwa mereka tidak dengan cara yang sama saat dirinya membebaskan jiwa Pujangga gila.


"Mengenai hal itu lebih baik aku akan memanggil Geho sama saja, agar dia mampu melepas kontrak sihir yang dibuat Batara Antaga. Bukankah dia dikenal sebagai ahli sihir."


"Terserah bagaimana dirimu akan menyelamatkan mereka. Aku serahkan mereka padamu, bocah."


"Baik Paman maung, Suro akan menangani mereka."


"Namun sebelum menolong mereka dengan memisahkannya dari pasukan kegelapan, sebaiknya Suro menghabisi pasukan naga dan manusia kelelawar yang menyerang puncak bukit itu terlebih dahulu!"


Suro menatap puncak bukit dengan penuh kekhawatiran, karena pada saat itu para naga terus menyemburkan api untuk menghancurkan formasi sihir pelindung dibantu manusia kelelawar.


"Sebaiknya paman Maung bantu saja paman guru Dewa Pedang. Lihatlah paman, pasukan kegelapan itu kini dipimpin tiga manusia bertanduk. Kekuatan mereka berada pada tingkat langit."


Diantara pasukan kegelapan yang mencoba menghancurkan pagar betis yang dipimpin Dewa Pedang, terdapat tiga manusia bertanduk yang memiliki praktik tenaga dalam tingkat langit. Selama Batara Antaga dihajar habis-habisan oleh Suro, maka mereka bertigalah yang memimpin pasukan kegelapan.


Dewa Rencong menyanggupi permintaan Suro dia segera menerjang dengan jurus perubahan petir miliknya. Bersama para tetua dan juga Dewa Pedang, dia berusaha menahan laju pasukan musuh yang terus menerjang kedepan. Mereka tidak mampu memahami alasan apa yang sebenarnya direncanakan musuh. Padahal pimpinan mereka Batara Antaga sudah tidak bersama mereka.


**


Ditempat lain Geho sama dan eyang Sindurogo sesuai petunjuk yang di jelaskan Suro sebelumnya, menemukan tahanan baik para laki-laki, wanita dan anak-anak tak kurang dari dua ribu.


"Apa yang sebenarnya mereka rencanakan dengan mengumpulkan manusia sebanyak ini?" Eyang Sindurogo tidak mengira, jika kekejaman Batara Karang ratusan tahun lalu kini diulang kembali. Meskipun kekejaman yang dia lakukan tidak berada di Yawadwipa.


Menurut penjelasan mereka, kemungkinan keseluruhan orang yang berhasil dikumpulkan mencapai jumlah sepuluh ribu manusia. Namun sebagian telah dibawa ke tempat yang tidak mereka ketahui. Sebab setiap yang keluar dari ruang tahanan tidak ada yang pernah kembali.


Dengan penemuan yang mengejutkan itu mereka tidak menyangka sama sekali. Dua kemungkinan dari pengumpulan manusia yang sebanyak itu salah satunya untuk tumbal. Kemungkinan lain, jika Batara Karang memang hendak membuat pasukan kegelapan dari para manusia. Karena alasan itulah mengapa mereka terus berupaya menyerang seluruh daerah yang mereka temui. Kemudian membawa mereka semua menjadi tahanan hidup.


"Apa yang harus kita lakukan tuan guru?" Geho sama menatap eyang Sindurogo yang justru terkejut dengan banyaknya tahanan yang mereka selamatkan.


Eyang Sindurogo merasa bersyukur saat pertarungan sebelumnya tidak menggunakan kekuatan maksimal, sehingga mereka para tahanan tidak ikut menjadi korban pengerahan kekuatannya.


"Untuk yang berasal dari berbagai daerah yang ada disini biarkan mereka kembali ke tempat mereka sendiri. Harta benda simpanan perguruan yang kita temukan akan kita bagi-bagikan kepada seluruh tawanan."


"Namun kepada mereka yang berasal dari negeri yang sangat jauh kamu antar dengan menggunakan gerbang gaib yang dapat membantu mereka sampai ke tempat asal mereka dengan lebih cepat."


Geho sama segera melaksanakan perintah eyang Sindurogo. Semua tahanan yang berasal dari tempat yang tidak terlampau jauh segera disuruh kembali ke daerah mereka masing-masing. Mereka semua mendapatkan bekal dari harta simpanan Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan yang diketemukan Geho sama dan eyang Sindurogo sebelumnya.


Sedangkan yang berasal dari tempat yang sangat jauh mereka dibantu Geho sama dengan membuka gerbang gaib. Setelah beberapa saat mereka semua akhirnya dapat kembali ketempat asal mereka dengan cepat.


Setelah mereka selesai menyelamatkan dan mengembalikan mereka ke daerah masing-masing, Geho sama dan eyang Sindurogo kemudian kembali menyisir seluruh perguruan. Mereka berharap mendapatkan petunjuk yang dapat membantu mereka menghentikan rencana Batara Karang membebaskan Dewa Kegelapan.


Mereka kemudian justru menemukan kitab-kitab kelas Wahid yang dimiliki perguruan itu. Mereka juga menemukan puluhan senjata kelas langit. Penyisiran akan terus mereka lakukan, jika bukan karena permintaan Suro kepada Geho sama yang memintanya untuk segera datang ke Perguruan Pedang Bayangan.


"Tuan guru sebaiknya kita pergi menyusul tuan Suro."


Geho sama kemudian menjelaskan situasi seperti yang dia dengar dari Suro.


"Tidak masalah, kita bisa kembali segera, selain itu juga aku sudah mendapatkan oleh-oleh kitab yang banyak. Kitab ini dapat aku jadikan untuk menambah koleksiku."


Geho sama mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, karena dia juga membawa oleh-oleh untuk tuannya.


"Tuan Suro juga pasti akan menyukai bilah-bilah pedang yang aku bawa ini." Geho sama tersenyum puas dengan temuan yang dia bawa.


Setelah memastikan tidak ada hal yang berharga dari tempat tersebut, maka eyang Sindurogo menghancurkan tempat itu rata dengan tanah.


**


Diperguruan Pedang Bayangan Suro akhirnya berhasil memisahkan para tetua dan anggota perguruan yang dalam pengaruh sihir Batara Antaga, dengan mengurung mereka dalam tempat yang jauh di dalam bumi.


Dia terpaksa melakukan itu karena tindakan mereka sangat membahayakan bagi yang lain. Karena dengan adanya rantai pemasung Sukma dalam diri mereka dapat menyerang dan menarik jiwa teman sendiri menjadi bagian pasukan kegelapan.


Dia tidak segera mengerahkan Sastra Jendra karena akan percuma, sebab selama rantai yang tertanam dalam jiwa mereka tidak dapat dilepaskan, maka akan membuat mereka kembali dalam pengaruh sihir. Itu artinya mereka akam kehilangan kesadarannya kembali.


Setelah pasukan kegelapan berhasil dipukul mundur, terjadi sesuatu hal yang membuat pasukan kegelapan dapat menghancurkan barisan pasukan yang dipimpin Dewa Pedang.


Hal itu dimulai dengan kedatangan Batara Antaga yang kembali muncul. Tetapi kali ini dia datang dengan membawa serta sebuah makhluk yang begitu besar hampir setengah dari bukit dimana Perguruan Pedang Bayangan berdiri.


Makhluk yang dibawa dari alam kegelapan memiliki bentuk mirip seekor katak namun memiliki lengan yang tidak terhitung jumlahnya. Makhluk itu pernah ditemui oleh Suro saat masuk ke alam kegelapan. Mereka menyebutnya sebagai katak seribu lengan.


Seperti namanya memang makhluk itu memiliki lengan yang begitu banyak. Setiap kepalan tangannya sebesar seekor gajah. Dengan kedatangan makhluk itu membuat barisan pasukan yang kini di pimpin Dewa Pedang harus kembali terdesak mundur.


Banyak sudah murid perguruan yang menjadi korban. Beberapa tetua juga ikut menjadi korban dari katak seribu lengan itu.


Makhluk katak seribu lengan memiliki kemiripan dengan rantai Pemasung jiwa, keduanya adalah bentuk sihir kegelapan yang sebenarnya hanyalah bentuk ilusi.


Keduanya dikerahkan oleh Batara Antaga. Karena itulah Maha NagaTaksaka yang mencoba membelit makhluk raksasa itu tidak dapat melakukannya.


Selain makhluk raksasa yang begitu merepotkan, keberadaan Batara Antaga yang terlihat berdiri diatas kepala makhluk raksasa itu membuat pasukan kegelapan kembali mendominasi pertempuran.


Saat serangan makhluk raksasa itu semakin menggila dua orang yang diminta datang untuk membantu oleh Suro, akhirnya muncul. Mereka adalah eyang Sindurogo dan Geho sama.


"Apakah aku sudah terlambat datang!" Eyang Sindurogo menatap ke arah medan pertempuran yang terlihat hancur lebur. Karena sekarang seluruh barisan pasukan yang dipimpin Dewa Pedang bergerak naik ke atas.


"Kakang Sindu!" Tetua Dewi Anggini menyadari kedatangan pujaan hatinya itu, sebab Geho Sama dan eyang Sindurogo muncul diatas puncak bukit dimana tetua Dewi Anggini menjaga tempat tersebut.