
Geho sama terus berjaga di belakang Suro dengan penuh kewaspadaan. Keempat kembaran tubuh Suro telah lenyap, begitu juga kesembilan tubuh ilusi Gagak setan. Mereka berdua sengaja berhenti menggunakan ilmu itu untuk menghemat kekuatan tenaga dalam mereka.
Mereka melakukan keputusan itu, karena kekuatan yang mereka miliki akan digunakan untuk pertempuran yang kemungkinan akan kembali pecah sebentar lagi.
Setelah cukup lama bersemadhi Suro diberi tahu oleh Geho sama untuk segera menyelesaikan meditasinya melalui suara batinnya.
"Utusan kanan ini adalah orang yang hamba maksudkan!" Terdengar suara seseorang yang memberitahu kepada orang yang disebut sebagai Utusan kanan.
Suro segera membuka matanya menatap asal suara barusan. Wajahnya langsung menunjukan kekecewaan dan mulai mengerutkan kening.
"Bodoh kalian semua! Mereka telah menipu kalian!" Lelaki yang disebut Utusan kanan itu memaki mereka semua penuh dengan kemarahan.
Suro langsung bangkit siap bertempur karena orang yang disebut Utusan kanan bukanlah Eyang Sindurogo, tetapi Tongkat iblis.
"Apa yang kalian tunggu? Habisi mereka sekarang juga!" Tongkat iblis segera memerintahkan mereka semua tanpa mejelaskan alasan atas perintah yang dia berikan. Karena sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya.
Tatapan bingung terlihat di wajah pasukan kegelapan yang mendapat perintah mengejutkan itu. Sebelum mereka memahami apa yang sebenarnya telah terjadi, Suro justru memanfaatkan hal tersebut. Dia telah melesatkan jurus kedua Tapak Dewa Matahari. Sinar yang melesat dari jari telunjuk miliknya segera menerjang dan menebas secara horisontal ke arah mereka semua.
Mereka segera berjumpalitan menghindari serangan itu. Tongkat iblis tidak sempat menghindar karena jaraknya terlalu dekat. Pusaka iblis miliknya segera menahan kekuatan milik Suro.
Pusaka yang dipegang Tongkat iblis memang pantas disebut sebagai pusaka iblis, sebab tongkat itu tidak hancur meski telah terkena serangan itu.
Sebenarnya jika diperhatikan lebih teliti tongkat itu terjadi keretakan yang halus dan tidak terlihat oleh mata. Tetapi sudah tidak ada waktu untuk memperhatikan mengenai hal itu. Sebab serangan berturut-turut menghajar ke arah mereka semua.
Sembilan tubuh ilusi milik Geho sama langsung menyerang mereka semua dengan kekuatan sembilan perubahan unsur alam. Kekuatan api, petir, air, es, angin, tanah, kayu, logam, dan terakhir adalah racun.
Kemampuan yang dimiliki sembilan tubuh ilusi Geho sama menjadi begitu mengerikan adalah karena kombinasi serangan yang dikerahkan begitu sempurna.
Serangan itu di awali tehnik perubahan angin terjangan angin yang seakan badai menghajar mereka. Pada saat bersamaan pengguna perubahan racun menggunakan kabut racun ke dalam badai. Kemudian tehnik perubahan es melesatkan ribuan jarum ke arah mereka.
Belum berhenti disitu setelah lesatan ribuan jarum es tidak mampu membunuh mereka, tehnik pengguna perubahan air memanfaatkan tehnik angin. Dia membentuk naga air.
Pengguna perubahan es membuat naga air itu semakin kuat. Perubahan petir semakin membuat kekuatan naga itu semakin mengerikan.
Sebab perubahan es yang melapisi tubuh naga yang bergerak dengan sangat licah, selalu menebarkan jarum yang penuh dengan racun. Naga itu terus mengejar para musuh yang sebelumnya telah mengepung mereka berdua.
Terlihat mereka melesat ke udara. Memang sebagian yang telah mencapai tingkat langit langsung menghindari dengan terbang. Tetapi itu juga bukan tempat yang aman naga itu terus mengejar mereka.
Saat yang lain terbang di udara, maka yang masih berada di darat juga diserang oleh pengguna perubahan unsur yang lain.
Pertama diawali perubahan kayu mengikat tubuh mereka yang tertangkap. Tehnik perubahan es menghujani dengan jarum es. Serangan itu memang tidak mampu menghabisi mereka.
Kemudian serangan susulan dari tehnik perubahan tanah mulai membentuk tombak besar yang menghujam ke tubuh lawan. Setelah itu sebuah bentuk naga mulai terbentuk yang dikerahkan oleh tubuh yang menguasai perubahan tanah. Sosok yang menguasai tehnik perubahan kayu dan logam memperkuat wujud naga itu, sehingga wujudnya semakin mengerikan.
Setelah itu giliran tehnik perubahan api yang membuat wujud naga itu bertambah lebih mengerikan daripada sebelumnya. Bentuk itu mirip Naga Taksaka yang pernah diperlihatkan Suro. Kini dua bentuk naga yang berbeda sifatnya meluluh lantakan tempat itu.
Belum berhenti disitu sebab Suro juga mengerahkan tehnik api hitam dan tehnik perubahan tanah miliknya. Naga dari tanah yang diselimuti Naga Taksaka menerjang ke arah mereka.
Seseorang yang sebelumnya menyerap api hitam milik Suro hendak mengerahkan tehnik itu sekali lagi, tetapi justru dililit oleh naga yang telah berupa lelehan magma. Sebab tanah yang digunakan Suro untuk membentuk wujud naga, setelah diselubungi api hitam telah menjadikannya menjadi lelehan magma yang sangat panas dengan cepat.
Serangan itu ke tiga naga itu didukung oleh sedulur papat. Keempat kembaran Suro menyerbu dengan tiga puluh bilah pedang yang mereka kendalikan.
Serangan itu berhasil memukul mundur mereka semua. Serangan yang dikerahkan Geho sama dan Suro memencar dari tiga arah yang berbeda. Kemudian mengerucut ke arah gerbang gaib.
Sengaja Suro menggiring mereka mundur ke arah gerbang gaib. Saat mereka telah berada didekat gerbang gaib Suro segera mengerahkan jurus pamungkas yang membuat mereka hilang dari pandangan.
Serangan yang kali ini dikerahkan untuk menghabisi mereka semua adalah Tapak Dewa Matahari jurus keempat.
Tetapi sebelum dia mengerahkan tehnik itu dia sudah memerintahkan tubuh Geho sama yang asli untuk mundur.
Sebab setelah itu seluruh bentuk energi yang ada disekitar Suro terhisap dalam pusaran besar termasuk ke tiga naga yang terus mendesak mereka semua berkumpul di depan gerbang gaib.
Tongkat iblis yang sudah pernah melihat kedahsyatan jurus ini saat berada di alam kegelapan, memilih menyingkir selagi ada kesempatan. Dia terlihat melesat masuk ke dalam gerbang gaib di belakang dirinya.
Ukuran gerbang gaib mendadak melebar dan semakin besar. Agaknya dari dimensi lain yang berupa makhluk seperti para naga hendak membantu mereka menghadapi Suro.
Seluruh pusaran energi yang berputar semakin kencang kemudian bermuara pada telapak Suro dan membentuk bola energi yang sangat padat dan mulai bertambah semakin besar. Bentuknya yang cukup menyilaukan itu hanya terlihat sekilas, sebelum melesat menghantam segala hal yang ada di terjang oleh bola energi itu.
Semua hancur tidak lagi berbentuk, tidak ada yang selamat dari serangan penutup yang dikerahkan Suro. Jurus itu menggulung dan menghisap segala hal yang diterjangnya hancur menjadi debu.
Cahaya terang yang melesat itu terus menerjang masuk ke dalam gerbang gaib. Entah apa yang terjadi sebab setelah itu gerbang gaib juga lenyap dari pandangan mata.
"Akhirnya selesai sudah Geho sama!" Pandangan mata Suro menyapu ke segala penjuru. Dia memastikan pasukan kegelapan tidak ada yang tertinggal. Sebab dia sebelumnya memang telah menggiring seluruh pasukan kegelapan yang mengepung mereka, mundur mendekati gerbang gaib.
"Apakah tuan Suro hendak mengejar mereka ke dalam alam kegelapan?"
Suro yang mendapatkan pertanyaan Geho sama menggelengkan kepala dengan lemah.
"Tidak Geho sama. Mereka pasukan kegelapan yang kita jumpai kali ini bukanlah seperti yang kita lihat sebelumnya. Kekuatan mereka telah meningkat dengan sangat mengerikan."
"Kali ini aku ragu juga menghadapi seluruh kekuatan mereka, jika hanya kita berdua."
"Selain itu tenaga dalamku harus aku pulihkan terlebih dahulu. Kekuatan tenaga dalamku langsung seperti terkuras, setelah mengerahkan jurus barusan."
"Kita akan beristirahat sebentar di sini, kemudian kita akan meneruskan tujuan utama, yaitu mencari keberadaan eyang Sindurogo."
**
Kejadian yang menyilaukan mata membuat gempar seluruh pasukan kerajaan Champa. Mereka semua sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Sebab suara dentuman dan pedang yang beradu sejak tadi susul menyusul tanpa henti.
Saat itu mereka semua sedang sibuk mengatur rakyat yang sedang berkumpul untuk menjauh dari gerbang gaib. Sehingga saat berlangsungnya pertempuran itu masih berlangsung, mereka tidak sempat untuk memeriksanya. Sebab saat itu kesempatan yang ada digunakan mereka untuk dapat menyelamatkan penduduk sebanyak mungkin.
Tetapi saat cahaya sangat terang menyeruak dari dalam kawasan kota kerajaan. Membuat para senopati tidak mampu lagi menyembunyikan rasa penasaran mereka.
Setelah mendapatkan ijin dari Sang raja, dua senopati langsung melesat menaiki tembok kota raja yang menjulang tinggi.
Pemandangan yang mereka lihat membuat mereka semua terkejut.
"Apa yang baru saja terjadi, kakang?" Dua punggawa yang melesat naik ke atas tembok saling berpandangan. Lelaki yang berada di sebelah kiri menatap ke arah senopati yang lebih tua.
"Entahlah, tetapi sedari tadi yang kita dengar adalah pertempuran dahsyat sedang berlangsung."
Didepan mereka setengah kota raja hancur akibat tehnik naga yang memaksa seluruh pasukan kegelapan untuk mundur ke arah gerbang gaib.
Kehancuran itu juga diperparah oleh jurus pamungkas yang dikerahkan Suro. Lesatan bola energi yang melesat membuat kawah besar sepanjang lesatan bola energi yang menghancurkan segala hal itu. Tanah menghitam karena panasnya yang terkandung mampu melelehkan logam besi sekalipun.
Beruntung saat itu ada gerbang gaib yang menelan kekuatan besar dari pengerahan jurus keempat Tapak Dewa Matahari. Jika tidak, maka istana kerajaan akan lenyap tanpa meninggalkan bekasnya.
Kekuatan yang dikerahkan Suro jika tidak lenyap ditelan gerbang gaib, bahkan akan sanggup menghancurkan tembok kota kerajaan diujung timur.
"Kabarkan kepada Kanjeng Paduka Raja mengenai hal ini. Kemungkinan musuh sudah kalah. Aku akan mendekati dua pendekar yang telah menyelamatkan paduka raja dan permaisuri juga beserta putri dan pangeran." Lelaki yang lebih tua itu memberi perintah kepada lawan bicaranya yang lebih muda.
"Baik kakang." Lelaki itu lalu melesat turun berlari mendekat ke arah Raja Chambuwarman.
"Sembah Bekti kanjeng sinuwun, pertempuran yang berlangsung di dalam kota kerajaan sepertinya telah selesai."
"Dua pendekar yang sebelumnya telah menyelamatkan Kanjeng sinuwun telah berhasil mengalahkan musuh yang menguasai kota Kerajaan." Senopati itu masih menundukkan kepalanya.
"Bangunlah Senopati kita harus segera menemui dua pendekar yang telah menyelamatkan kerajaan dan juga seluruh rakyat Kerajaan Champa ini."