
"Jurus yang diciptakan nakmas Suro ini bernama JURUS SEJUTA TEBASAN PEDANG!"
Dewa pedang kembali menepuk-nepuk pundak Suro.
Suro yang mendapatkan tepukan dipundaknya hanya menoleh sebentar ke arah Ketua sekte dan memberikan senyuman kecil, sebelum tertunduk kembali. Dia menyadari saat ini seluruh mata sedang tertuju ke arahnya.
'Sungguh luar biasa muridmu kakang. Aku masih tidak mempercayai akhirnya engkau mempunyai murid. Tetapi sejak pertama kali melihat ilmu meringankan tubuh yang dia perlihatkan, aku sudah menduga pasti ada hubungannya denganmu kakang? Ternyata perkiraanku tidak salah, karena ilmu meringankan tubuhnya sama dengan langkah kilat milikmu. Ditambah tehnik yang digunakannya untuk mengatur bilah-bilah pedangnya mirip tehnik Tapak Dewa Matahari membuatku semakin mengingatkanku kembali tentangmu kakang.' Dewi Anggini menggumam lirih sampai tidak terdengar kecuali dirinya sendiri. Kenyataan yang dikatakan Dewa Pedang masih terlalu sulit untuk diterima, fakta bahwa seorang Eyang Sindurogo, seorang penyendiri yang lebih banyak memilih berbicara kepada alam, akhirnya kini telah memiliki murid tentu sangat susah diterima. Apalagi ternyata muridnya memiliki talenta yang sangat luar biasa.
"Pantas saja kakang mas Suro bisa begitu dalam memahami jurus milikku ternyata gurunya yang dimaksud adalah Eyang Sindurogo." Mahadewi terlihat menggeleng-gelengkan kepala baru menyadari setiap perkataan Suro yang menyinggung gurunya ternyata bukan Dewa Pedang tetapi adalah Eyang Sindurogo.
Tidak berbeda dengan gurunya, Mahadewi kini bisa mengerti mengapa Suro mampu memahami jurus miliknya sebegitu dalam. Karena gurunya adalah orang yang berada dibalik terciptanya jurus tersebut.
Para kandidat bertambah semakin kasak-kusuk mendengar kemampuan luar biasa itu. Mereka benar-benar sulit menerima fakta tersebut.
"Jurus ini sangat rahasia, sehingga hanya para tetua saja yang boleh mempelajarinya. Karena efek kehancurannya berkali-kali lipat, lebih besar dari jurus pamungkas seribu pedang menyatu. Hal itu dilakukan agar tidak jatuh ditangan orang yang salah."
"Selain itu berkat jurus ini salah satu faktor yang membuat kami berhasil mendesak Naga Raksasa yang menyerang Javadwipa hingga kami mampu memperkecil kekuatannya."
"Setelah selesai dari sini, aku ingin mengumpulkan seluruh tetua. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan berkaitan dengan jurus ini!"
Setelah Dewa Pedang selesai berbicara hampir semua orang yang ada disana mulai bergerak meninggalkan tempat. Tetapi berbeda dengan yang dilakukan Dewi Anggini, dia masih berdiri mematung seakan sedang memikirkan sesuatu atau mengingat sesuatu.
"Guru!" Sebuah suara mengagetkan Dewi Anggini, sehingga dia kembali tersadar dengan situasi. Muridnya Mahadewi sudah berada dihadapannya menunggu dirinya yang masih terpaku.
Dewi Anggini tidak segera menjawab justru kembali tatapannya kosong. Kemudian selang seseruputan teh dia menatap ke arah muridnya Mahadewi.
"Kemungkinan aku masih lama di sekte pusat. Apakah kamu ingin pulang ke Medang atau tetap ikut gurumu, Mahadewi?"
"Mahadewi akan tetap disini bersama guru." Mahadewi menjawab pertanyaan gurunya sambil menunduk hormat.
Rithisak kembali pingsan mendengar perkataan Dewa Pedang tentang kemampuan Suro yang begitu mengerikan. Dia kembali terkejut dengan kemampuan asli Suro yang tidak disangka itu.
Setelah Dewa Pedang selesai berbicara Suro meminta ijin untuk kembali kekediaman. Karena dia memiliki janji dengan beberapa peserta setelah selesai seleksi tetua muda.
"Tidak nakmas pembicaraan dengan para tetua akan melibatkan nakmas. Bukankah nakmas sekarang sudah menjadi tetua muda?" Dewa Pedang tersenyum ke arah muridnya itu. Walaupun dia hanya mengajari tehnik sembilan putaran langit, tetapi dia merasa ada ikatan batin yang tidak dia pungkiri. Dia masih begitu terkesima dengan kejutan-kejutan yang banyak dilakukan Suro.
Suro kembali mengaruk-garuk kepalanya. Akhirnya Suro memangil Kolo Weling untuk mendekat ke arahnya.
"Paman Kolo Weling mohon sekali lagi bisa minta tolong bawakan kembali bilah pedang milikku ini ke kediaman?"
"Tentu saja nakmas, dengan senang hati paman akan membantu membawanya."
Kolo weling beserta satu temannya kemudian mengangkat buntalan kain yang berisi bilah pedang itu. Sepertinya beban yang mereka angkat terlalu berat, membuat mereka berdua terlihat kerepotan membawa bilah pedang itu.
"Terima kasih paman!"
Kolo weling menjawab dengan anggukan sambil berjalan keluar arena.
Suro menatap ke arah Kolo Weling sambil mengingat sesuatu.
"O iya, paman tunggu paman."
"Iya ada apa nakmas?"
Suro berlari mendekat ke arah Kolo Weling ada sesuatu yang dia ingin katakan.
"Paman mohon maaf bisa nanti paman siapkan obat untuk pemulih kekuatan yang beberapa minggu lalu aku buat? Ada beberapa orang sepertinya tertarik. Jika nanti ada yang datang meminta obat itu silahkan berikan saja. Tetapi jika dia minta lebih dari dua puluh butir silahkan paman tentukan sendiri harga per satu butirnya. Selain itu jika ada yang menagih jurus kepada saya mohon suruh tunggu sebentar. Paman guru Dewa Pedang memintaku untuk ikut datang didalam pertemuannya bersama para tetua."
"Baiklah nakmas aku akan menyampaikan seperti yang nakmas perintahkan."
Kolo Weling kemudian melanjutkan langkahnya pulang kekediaman. Suro masih menatap Kolo weling sebentar, sebelum berbalik ke arah Dewa Pedang yang masih menunggunya.
Dewa Pedang bersama Suro kemudian berjalan beriringan menuju ke tempat pertemuan dengan seluruh tetua. Dibelakangnya para tetua mengikuti langkah mereka berdua.
"Ketua! Dewa Pedang, tunggu sebentar!"
Dewa Pedang menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat Dewi Anggini berjalan cepat mencoba mengejar langkah mereka. Dibelakangnya Mahadewi ikut mengiringi gurunya.
"Ada apa tetua Dewi Anggini?"
"Benarkah kakang Sindurogo terjebak didalam dimensi lain?"
"Benar!"
"Bisakah secepatnya kita menolong Kakang Sindu, ketua?"
Dewa Pedang menarik nafas panjang sebelum menjawab perkataan tetua Dewi Anggini.
"Itu bukan perkara yang mudah tetua. Kekuatan dialam yang telah mengurung Eyang Sindurogo sangat berbeda. Ada kekuatan yang tidak nampak telah menyerap seluruh energi kehidupan didunia itu. Begitu cepatnya daya serap bahkan kekuatanku tidak mampu bertahan lama."
Dewi Anggini tak mampu menahan kesedihannya matanya sudah mulai memerah menahan tangis. Kemudian dia mengangguk pelan dan mulai mengikuti langkah kaki Dewa Pedang.
"Mengapa aku hanya mengundang pejabat sekelas tetua, karena yang akan kita bicarakan sebaiknya hanya diketahui oleh para tetua saja!"
Dewa Pedang mengawali pembicaraannya setelah semua tetua sudah masuk didalam ruangan pertemuan. Ruangan itu begitu besar tempat para tetua biasanya mengadakan pertemuan. Dewa Pedang bersama wakilnya Eyang Udan Asrep berada didepan para tetua lain.
Para tetua yang berkumpul kebanyakan belum mengetahui maksud Dewa Pedang mengadakan rapat tertutup. Didalam ruangan pertemuan itu hanya ada para tetua, termasuk juga para tetua muda yang baru saja dilantik ikut dalam pertemuan itu.
"Salah satunya adalah mengenai jurus yang sebelumnya telah aku sebutkan."
"Hal kedua yang akan aku bicarakan terkait Eyang Sindurogo yang masih terjebak di alam lain. Aku ingin meminta pendapat para tetua mengenai penanganan selanjutnya yang akan dilakukan sekte ini."
"Kembali soal pertama yang telah saya singgung terlebih dahulu, Jurus ini sebaiknya dipelajari oleh tetua cabang sebelum kembali ke Perguruan masing-masing! Agar kekuatan para tetua yang melindungi perguruan cabang dapat meningkat pesat!"
Mereka begitu penasaran dengan jurus yang disebutkan Dewa Pedang. Bagi para tetua sekte pusat yang telah melihat langsung jurus itu tentu sudah bisa memahami perkataan ketua sekte mereka. Tetapi bagi tetua cabang terasa berbeda, mereka masih begitu penasaran dengan perkataan Ketua yang menilai jurus itu begitu tinggi.
"Bagi yang belum menyaksikan kehebatan jurus ini tentu terdengar seperti mengada-ada perkataanku. Tetapi tentu kalian semua sudah melihat jurus pedang nakmas Suro yang terinspirasi tehnik tujuh pedang terbang milik tetua Kebo ijo yang digunakan untuk melawan tetua Tunggak Semi!"
Para tetua berpandangan mata mendengar perkataan Dewa Pedang. Mereka seakan tidak mempercayai bahwa jurus yang digunakan Suro melawan tetua Tunggak Semi adalah gubahan Suro sendiri.
Tetua Kebo ijo bangun dari duduknya.
"Maksud ketua sekte, jurus yang nakmas Suro gunakan untuk melawan tetua Tunggak Semi meniru jurusku? Kemudian dengan pemikirannya sendiri digubah menjadi jurus yang begitu mengerikan?"
"Tanyakan sendiri kepada nakmas Suro, dia sudah menjadi tetua muda berhak duduk bersama tetua lain disini."
Suro kemudian bangkit dan menjura ke arah tetua Ki Kebo Ijo.
"Mohon maaf tetua jika saya meniru jurus tetua tanpa minta ijin terlebih dahulu!"
"Bukan, bukan itu maksud pertanyaanku. Aku tidak meminta nakmas mengucapkan maaf mengenai jurus yang nakmas gubah. Selain itu jurus yang nakmas gunakan sangat berbeda dari tehnik yang aku miliki, karena tidak mengunakan benang untuk menggerakkan bilah pedang. Justru aku kagum sekan tidak percaya jika nakmas bisa mengubah jurusku menjadi begitu dahsyat. Beruntung bukan diriku yang menjadi lawan nakmas, tentu akan sangat merepotkan menahan serangan pedang sebegitu banyaknya."
"Darimana nakmas punya pemikiran untuk membuat jurus pedang terbang dengan bilah pedang sebanyak itu? Lalu tehnik apa yang nakmas gunakan untuk mengatur bilah pedang bisa bergerak seluwes dan sekokoh itu?"
Suro mengaruk-garuk kepalanya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Tetua Ki Kebo Ijo.
"Entahlah tetua, hanya saja setelah melihat peserta yang menggunakan jurus itu, saya tertarik untuk mengembangkan tehnik itu ke tingkat yang lebih hebat. Mengenai tehnik yang aku gunakan untuk mengatur pergerakan bilah pedang, Suro mengunakan tehnik Tapak Dewa Matahari milik Eyang Guru."
Mereka semua terkejut jika Suro mampu mengunakan tehnik tapak Dewa Matahari. Sebab setau mereka tehnik itu hanya bisa dilakukan pada tingkat shakti ke atas. Karena memerlukan chakra yang luar biasa besar.
Bahkan pada saat tingkat shakti Eyang Sindurogo pernah hampir kehilangan nyawanya karena memaksakan diri menggunakan jurus keempat yaitu, Jurus Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya.
Tetua Kebo Ijo kembali duduk tetapi dia seakan masih belum mempercayai fakta tersebut. Karena dia melihat sendiri betapa mengerikannya jurus yang digunakan Suro untuk melawa tetua Tunggak Semi. Jurus miliknya tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jurus milik Suro.
"Baiklah nakmas untuk mempersingkat waktu silahkan nakmas praktekkan didepan para tetua. Batu besar ini sengaja aku letakkan disini untuk bisa nakmas gunakan untuk memperlihatkan kebolehan jurus tebasan Sejuta Pedang."
Dewa Pedang menunjuk batu setinggi orang dewasa yang berada disamping Dewa Pedang. Dia sudah mempersiapkan batu itu sejak kemarin lusa. Karena memang sejak awal Dewa Pedang akan mengadakan pertemuan dengan seluruh tetua untuk membahas jurus ciptaan Suro.
Suro menganguk dan berjalan ke depan batu tersebut. Semua mata fokus menatap Suro. Sebelum memulai jurusnya Suro memperlihatkan pancaran sinar chakra sebesar satu helai rambut keluar dari ujung jempolnya.
Semua orang terkesima dengan hal yang dilakukan Suro. Karena menurut mereka itu adalah tehnik yang terdapat pada pencapaian tahap pedang langit. Walaupun itu sebenarnya menjiplak tehnik Telapak Dewa Matahari jurus kedua.
Braaak!
Dalam satu tebasan batu besar itu hancur lebur menjadi debu.
"Kehancuran yang ditimbulkan jurus ini tergantung seberapa kuat tenaga dalam yang digunakan!" Dewa Pedang menjelaskan seklumit tentang rahasia jurus itu.
Para tetua kembali dibuat terkesima dengan apa yang dilakukan Suro. Setelah melihat jurus itu, kini mereka memahami mengapa seorang Dewa Pedangpun menilainya begitu tinggi.
"Silahkan nakmas jelaskan kepada seluruh tetua mengenai jurus yang telah nakmas ciptakan!"
Suro kemudian mulai menjelaskan mengenai tehnik jurus Tebasan Sejuta Pedang. Begitu gamblang Suro menjelaskan jurus yang telah dia ciptakan itu, membuat para tetua begitu mudah menerima penjelasannya.
"Hanya aku saja yang merasa atau kalian juga merasakan bahwa cara bocah ini menjelaskan begitu mudah untuk diterima?"
"Benar tetua Dewi Anggini, cara dia menjelaskan membuat kita bisa dengan mudah memahaminya." Eyang Kaliki yang berada disamping Dewi Anggini langsung menyahut perkataan tetua yang terkenal kecantikannya itu.
Dewi Anggini yang mendapatkan jawaban dari Eyang Kaliki terlihat menganggukan kepalanya dan memberi senyuman terindahnya. Eyang Kaliki yang mendapatkan senyuman begitu indah membuat kakinya serasa tidak menyentuh tanah lagi, seakan sedang mengambang diudara.
'Pantas saja Mahadewi bisa meningkatkan kemampuannya dengan begitu cepat. Pasti dia mendapatkan banyak masukan dari nakmas Suro. Energi pedang yang dia kerahkan dalam pertarungan sebelumnya mengalami peningkatan pesat. Gerakan jurus yang dia kerahkan juga mengalami peningkatan. Semua sejak dia berlatih bersama nakmas Suro.' Dewi Anggini membatin sambil mendengarkan seluruh penjelasan Suro dengan seksama.
Mereka tidak menyangka bahwa jurus yang barusan diperlihatkan pada dasarnya hanya membalikan konsep jurus Seribu pedang menyatu. Setelah mereka mendengarkan penjelasan Suro barulah mereka menyadari kemampuan berpikir bocah yang berada didepan mereka semua, sudah pada posisi yang mungkin mereka pun belum tentu bisa mengapainya. Sebuah talenta yang sangat sulit ditandingi.
"Baiklah, agenda pertama sudah selesai. Lalu bagaimana cara ketua sekte akan membebaskan Kakang Sindu?" Dewi Anggini bangun dari tempat duduknya dan menatap lurus ke arah Dewa Pedang. Membuat semua mata menuju ke arahnya. Sebab mereka semua masih mencoba mencerna dan meresapi semua perkataan Suro yang baru saja selesai menjelaskan tentang jurus ciptaannya.
"Baiklah karena kalian semua sudah mendapatkan wedar kaweruh dari nakmas. Jika masih ada yang kurang jelas mengenai jurus tersebut nanti bisa ditanyakan langsung kepada nakmas Suro. Sesuai dengan agenda kedua dalam pertemuan ini, maka saya akan membahas, tentang bagaimana cara menyelamatkan Eyang Sindurogo?"