SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 109 PERTEMPURAN MELAWAN PASUKAN MEDUSA part 6



"Lihatlah kekuatanku ini Dewa Pedang aku akan menghancurkan tubuhmu tanpa sisa!"


Dewa Pedang menyadari perubahan peningkatan kekuatan yang dimiliki Pedang iblis. Hal itu dia rasakan bersamaan dengan perubahan fisik yang dia lihat.


'Manusia ini agaknya jiwa dan tubuhnya telah dirasuki Iblis kali.' Dewa Pedang segera mengerahkan kekuatan spiritual tahap Dewa miliknya. Bersamaan dengan itu pancaran cahaya keemasan mulai melingkupi tubuhnya.


Pedang iblis yang telah mencapai tahap penyatuan sempurna dengan iblis segera menyerang dengan begitu buas dan lebih mengerikan kekuatan yang diperlihatkannya. Pedang yang dia gengam kini telah diselimuti jenis perubahan api yang sangat langka yaitu api hitam.


Tenaga dalam yang dimiliki Pedang iblis sudah pada tingkat yang sama seperti juga Dewa Pedang, yaitu tingkat shakti tahap puncak. Tetapi tanpa Pedang iblis ketahui tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit yang dimiliki Dewa Pedang telah membuatnya lebih unggul daripada tenaga dalam yang dia miliki.


Hal itu disebabkan tehnik tenaga dalam sembilan putaran langit memberi pasokan chakra yang lebih banyak, dibandingkan tehnik kundalini pada umumnya. Selain itu kekuatan spiritual yang dimiliki Dewa Pedang telah terbuka lebar seiring terbukanya nadi chitrini saat menyelesaikan seluruh tahap sembilan putaran langit.


Tidak setiap orang mampu membuka nadi chitrini seperti yang telah dilakukan Dewa Pedang. Dengan jalan iblis maka kesulitan itu akan mudah dilewati, sehingga mereka akan mendapatkan sebuah kekuatan spiritual yang berlimpah.


Tetapi banyak dari mereka tidak mengetahui bahwa kekuatan spiritual yang mereka peroleh bukanlah kekuatan spiritual yang akan membuat orang mencapai kebijakan tertinggi. Karena kekuatan spiritual yang mereka peroleh adalah kekuatan spiritual iblis.


Kekuatan itu justru akan membuat penggunanya semakin bertambah sadis dan buas. Karena semakin tinggi tingkatan yang diperoleh akan dibayar mahal dengan semakin terikikisnya naluri kemanusiaan dalam dirinya.


"Sudah aku katakan kekuatan yang kamu peroleh itu seperti tong kosong meskipun terlihat megah sejatinya hanyalah tipuan belaka. Aku tau bagaimana pengamal jalan iblis berakhir!"


"Setan alas aku tidak butuh nasehatmu!"


Serangan yang dilancarkan Pedang iblis berkali-kali mampu dipatahkan oleh Dewa Pedang. Beberapa luka mulai terlihat disekujur tubuhnya. Dengan luka itu justru membuat serangan Pedang iblis semakin ganas.


"Aku tidak menyangka engkau masih mampu mematahkan setiap seranganku, meski aku sudah dalam tahap penyatuan sempurna dengan iblis."


"Selama ini tidak akan ada yang mampu mematahkan seranganku saat aku sudah berada dalam kondisi seperti ini!"


"Tentu saja karena engkau tidak berada disini. Jika engkau ada disini sejak dulu, maka aku pastikan nyawamu sudah sejak lama telah dihabisi Eyang Sindurogo." Dewa Pedang tersenyum sinis melihat lawannya sudah bermandikan darah sebab luka-luka yang dia torehkan.


'Sepertinya aku harus menggunakan jurus pamungkasku.' Pedang iblis mendengus dengan penuh kemarahannya yang sudah memuncak.


Setelah setiap serangannya masih saja dapat dipatahkan oleh Dewa Pedang, akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan jurus terkuat miliknya.


"Jurus Amukan Iblis Kalipurusha!"


Satu teriakan keras dari Pedang iblis mengiringi kekuatannya yang begitu mengerikan. Lesatan tubuhnya memancarkan aura kekuatan kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya. Aura itu membentuk sesosok iblis yang disebut iblis kali. Kobaran api hitam di bilah pedang yang dia gengam berkobar semakin besar.


Dewa Pedang melihat gelagat buruk segera mengerahkan kekuatan spiritual tahap puncak yaitu kekuatan tahap pedang Dewa dengan kekuatan penuh.


"Jurus Tebasan Sejuta Pedang!" Teriakan Dewa Pedang bersama lesatan tubuhnya yang menyambut serangan musuh. Aura tubuhnya dibungkus warna keemasan yang begitu menyilaukan.


Duuuuuum!


Kemudian sebuah benturan keras terjadi ditengah udara, membuat suara yang mengetarkan sampai jarak lebih dari lima belas lie. Ledakan keras akibat dua kekuatan dahsyat yang beradu juga menyapu bersih wilayah disekitar pertarungan dalam radius lima puluh tombak. Bahkan awan yang sedang berarak diatas mereka tersingkir akibat kuatnya efek ledakan itu.


Dewa Pedang terlempar sekitar dua puluh langkah sedangkan Pedang iblis terpental lebih dari sepuluh tombak dengan tangan kanan yang memegang bilah pedangnya telah hancur.


"Bagaimana mungkin tahap penyatuan sempurna dengan iblis dan dengan jurus terkuatku bisa dikalahkan!" Dia langsung mutah darah begitu tersadar, kemungkinan akibat luka dalam setelah hantaman keras dari Dewa Pedang yang telah menghancurkan jurusnya.


Pendarahan hebat dari tangannya yang hancur segera dia totok,agar tidak kehabisan darah. Tubuhnya dia sandarkan pada pokok kayu dibelakang tubuhnya yang masih tersisa, setelah hampir semua pohon tercabut bersama-sama akarnya, akibat ledakan yang begitu dahsyat.


"Kekuatan Pedang iblis ini ternyata benar-benar mengerikan. Aku yakin jika jurus yang aku gunakan tidak sekuat Tebasan Sejuta Pedang, kemungkinan besar justru aku yang celaka!"


Dewa Pedang pertama kali berdiri dan kemudian memandang sekitar tempatnya berdiri. Seluruh tanah yang ditutupi pepohonan barusan, kini sudah tidak nampak lagi alias telah hancur lebur. Pedang Naga langit yang menjadi andalannya masih berada dalam gengamannya.


Matanya yang sebelumnya menghitam semua, kini telah kembali normal. Tatapannya lurus menuju ke arah Dewa Pedang yang mulai melangkahkan kaki mendekati dirinya.


"Sebaiknya aku menghabisimu selagi aku bisa melakukannya! Karena orang sepertimu hanya akan membuat kerusakan di marcapada ini." Dewa Pedang kemudian bergerak cepat, agaknya dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Satu jurus penghancur terkuat kembali dikerahkan untuk memastikan kematian Pedang iblis.


"Jurus Tebasan Sejuta Pedang!"


Pengerahan kekuatannya kali ini tidak lagi mampu dengan kekuatan penuh. Disebabkan terkurasnya tenaga dalam yang dia miliki dan juga luka dalam yang barusan dia alami saat memapak jurus Pedang iblis dalam tahap kekuatan puncaknya, yaitu tahap penyatuan sempurna dengan iblis. Meskipun begitu dia yakin jurusnya kali ini akan membuat musuhnya hancur tak berbentuk.


Dewa Pedang meluncur cepat, satu hantaman pedangnya kali ini pasti akan mengakhiri riwayat Pedang iblis. Dalam sekejap mata hampir bilah pedang itu sudah akan menghancurkan tubuh Pedang iblis.


Mendadak sebuah lesatan benda atau sesuatu mengelinding kencang menahan serangan yang dikerahkan Dewa Pedang.


Braaak!


Hantaman jurusnya yang seharusnya mengakhiri riwayat Pedang iblis, akhirnya menghantam tubuh keras makhluk yang menghalangi serangannya.


"Makhluk apa ini!"


Saat sebentuk bola itu membuka Dewa pedang segera menyadari musuh lain telah hadir.


"Ternyata siluman trengiling! Untuk apa kau menghalangi seranganku siluman sialan!"


Siluman yang menghadang serangan Dewa Pedang bukanlah sesosok siluman yang biasanya menyerang Pedang Halilintar. Karena kali ini yang mampu memapak serangan Dewa Pedang dengan telak adalah Raja siluman Trenggiling Besi.


"Sepertinya kekuatanmu terlalu merepotkan, manusia! Bahkan terlalu kuat untuk dihadapi Medusa dan pasukannya!"


Siluman itu telah berdiri diantara Dewa Pedang dan Pedang iblis.


"Ternyata kalian para siluman bisa berbicara dengan bahasa manusia!" Dewa Pedang terkejut dengan bahasa yang diucapkan siluman itu begitu lancar.


Dia sebenarnya juga terkejut melihat jurus pedangnya mampu ditahan oleh siluman itu. Walaupun bukan dengan kekuatan tahap pedang Dewa, tetapi pada serangan sebelum-sebelumnya saat dihantam jurus itu para siluman akan mati.


"Aku rasa kau adalah jenis siluman yang tidak setingkat dengan para siluman yang telah menyerang Perguruan Pedang Halilintar? Kekuatanmu terlalu kuat sehingga bisa menahan jurusku."


"Hahahahaha...! Aku adalah Raja siluman trenggiling besi dari Alas Purwo! Tidak akan ada jurus manusia yang mampu menembus pelindungku yang telah berumur sepuluh ribu tahun ini!" Siluman itu begitu sombong membanggakan perisai yang mampu menutupi keseluruhan tubuhnya.


Siluman itu kemudian menghajar Dewa Pedang dengan pinggir perisai tubuhnya yang setajam pedang.


Dewa Pedang sekali lagi menyerang, tetapi hantaman pedangnya benar-benar tidak mempan manghancurkan perisai yang dimiliki Raja siluman trenggiling itu.


Ternyata setelah bertarung dengan Pedang iblis sampai beratus-ratus jurus, membuat tenaga dalamnya telah terkuras banyak. Karena begitu banyaknya tenaga yang harus digunakan, bahkan untuk mengerahkan lima puluh persen kekuatannya pun sudah tidak mampu.


Sedangkan untuk menghancurkan perisai Raja siluman trenggiling besi minimal dia memerlukan tujuh puluh persen kekuatannya.


Belum selesai dia menghadapi siluman Trenggiling besi yang telah menyelamatkan Pedang iblis, satu musuh lagi telah hadir, yaitu siluman api. Para siluman itu mengeroyok Dewa Pedang yang sudah dalam kondisi terburuk.


Beruntung setelah serangan terakhir Pedang iblis sudah tak mampu menegakkan tubuhnya. Terlihat dia menggunakan waktu sebaik mungkin selama para siluman itu bertarung dengan Dewa Pedang.


Dia mulai mengumpulkan tenaga dalamnya kembali dan juga mulai memulihkan tubuhnya secepat yang dia mampu. Dia sadar sedang bekejaran dengan waktu, jika Dewa Pedang telah menghabisi para siluman dan dirinya belum memulihkan tubuhnya atau belum mengumpulkan tenaga, maka itu adalah hari terakhir dirinya tetap bisa bernafas.