SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 141 Tulang terkuat



Suro menatap wajah tampan Nagatatmala yang memancarkan cahaya kehijauan. Sosok itu masih tersenyum menunggu jawaban dari Suro. Dia terlihat begitu berwibawa dengan pakaiannya yang sangat mewah melebihi pakaian seorang raja besar sekalipun. Aura kekuatan yang dia pancarkan juga membuat siapapun seakan tidak mampu melihatnya cukup lama dan memaksanya untuk menundukkan kepala.


Suro masih terdiam tidak segera menjawab pertanyaan Nagatatmala, karena saat itu Hyang Kavacha sedang berbicara padanya.


'Akhirnya tuanku telah tersadar dari samadhi. Entah mengapa saat tuanku sedang bersamadhi sebuah kekuatan telah menghalang-halangi diriku untuk masuk ke dalam kesadaran tuanku.'


'Tidak mengapa Hyang Kavacha. Karena secara tidak sengaja, justru saat itu diriku kembali diwedar kaweruh, sehingga kali ini aku memahami dengan baik Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sesosok yang wedar kaweruh itu mengaku bernama resi Wisrawa.'


'Sungguh anugerah yang tak disangka.' Hyang Kavacha terkagum-kagum mendengar cerita dari Suro.


'Hyang Kavacha, benarkah lelaki didepan ini adalah Nagatatmala yang pernah diceritakan?' Suro mencoba memastikan, jika sosok yang sedang tersenyum ke arahnya adalah Nagatatmala.


Sebab dia tidak ingin seorangpun mengetahui ruangan ini, salah satunya karena begitu banyaknya kitab dunia persilatan kelas wahid yang kini justru berserakan disekitar tempatnya bersila.


'Benar tuanku, dialah putra dari Sang Hyang Anantaboga yang pernah aku ceritakan.'


'Apa yang sira inginkan akan ulun kabulkan?" Kembali Nagatatmala mengulang perkataannya sambil memandang Suro yang masih tertegun.


"Saat ini hamba belum meninginkannya, tetapi jika hamba membutuhkan bantuan dari pekulun, sudikah pepulun memberikan bantuan kepada hamba?"


Sosok yang berwibawa itu tertegun mendengar jawaban dari Suro yang tidak disangkanya itu.


"Sabdo ulun adalah sabdo Pandito Ratu, apa yang sudah ulun ucapkan akan ulun tepati. Ulun akan datang, jika sira membutuhkan bantuan ulun."


Kemudian Nagatatmala mengajarkan kepada Suro sebuah mantra pemanggil untuknya, jika sewaktu-waktu dia membutuhkan bantuannya.


"Sekarang tugasku sudah selesai, itu artinya ulun sudah diijinkan untuk bisa kembali ke kahyangan Saptapratala dilapisan bumi katujuh." Pandangan Nagatatmala menyapu ke seluruh ruangan. Seakan dia hendak mengenang kembali hidupnya yang telah dihabiskan diruangan itu.


"Hmmmm!" Nagatatmala memejamkan matanya sambil menghela nafas panjangnya. Dibibirnya tersungging sebuah senyuman setelah menyelesaikan tugasnya yang diembankan di pundaknya. Sebuah tugas yang memakan waktu beribu-ribu tahun terus terkurung dalam ruangan itu.


Dia kembali menatap Suro sambil tetap tersenyum.


Suro menundukan kepala dengan pelan sebagai rasa hormat dirinya kepada sosok Nagatatmala.


"Terima kasih, sudah menolongku lepas dari hukuman yang aku jalani!" Senyum dari Nagatatmala kembali menghiasi bibirmu sebelum sosoknya menghilang dari hadapan Suro.


"Huufttt! Akhirnya lega rasanya melihatnya pergi. Aura yang dia miliki hampir mirip seperti yang dimiliki Sang Hyang Anantaboga begitu kuat dan berwibawa" Suro menghela nafasnya begitu Nagatatmala hilang dari pandangan.


"Tubuhku terasa penuh tenaga Hyang Kavacha." Setelah itu Suro baru menyadari ada perasaan yang berbeda didalam tubuhnya.


"Hamba tidak menyangka jika tuanku sanggub menyerap energi didalam ruangan ini sebegitu kuatnya. Sehingga dalam waktu tidak sampai satu purnama telah menyamai kekuatan setara dengan energi yang telah diserap Nagatatmala selama berpuluh-puluh tahun atau mungkin justru sampai ratusan tahun.'


Suro terkejut mendengar penjelasan Hyang Kavacha.


"Bagaimana mungkin diriku memiliki kemampuan yang sehebat itu? Bahkan jauh melampaui pekulun(tuan) Nagatatmala."


'Hal itulah yang menjelaskan, mengapa kitab-kitab ini berserakan dan menumpuk disini. Karena energi dari segala penjuru ruangan ini terhisap masuk dengan deras ke dalam tubuh ini. Kemudian membentuk sebuah pusaran energi yang besar disekitar tubuh tuanku.'


Suro mencoba mengingat kembali saat dia mulai bersamadhi sambil mengaruk-garuk kepalanya.


'Benar, aku memang merasakan perbedaan yang jauh dibandingkan dulu saat aku menyerap energi didalam ruangan ini. Tetapi aku tidak menyangka, jika apa yang aku lakukan mampu membuat kitab-kitab ini menjadi berterbangan dan awut-awutan seperti ini.'


'Dengan kondisi itu telah membuat tubuh tuanku, terutama kwalitas tulang yang tuanku miliki, melebihi kerasnya sebuah baja.' Hyang Kavacha kembali melanjutkan penjelasannya kepada Suro.


"Mengagumkan sekali, apakah Hyang Kavacha tidak sedang mengada-ada?" Suro berdecak kagum seakan tidak percaya mendengar penjelasan Hyang Kavacha. Dia tidak menyangka jika kekuatan yang dia serap telah merubah tulangnya mampu sekuat itu.


'Tentu saja hamba mengatakan yang sebenarnya. Karena kekuatan yang terhisap telah diserap seluruh tulang dalam tubuh tuanku sehingga semuanya tak ubahnya dengan kulit Nagatatmala. Jika berkenan tuanku juga bisa memiliki kulit sekeras milik Nagatatmala. Dengan kecepatan penyerapan yang dilakukan sebelumnya, menurut hamba tuanku dapat memilikinya hanya dalam waktu cukup beberapa ratus purnama saja.'


"Waduuuh....!" Suro buru-buru bangkit dari duduknya.


"Ada-ada saja Hyang Kavacha apa yang akan orang katakan tentang diriku nanti? Apa mereka tidak akan menyebutku sebagai archa berjalan? Apalagi Hyang Kavacha sudah melindungiku sekarang, jadi Suro rasa tidak perlu melakukannya sampai sejauh itu. Dengan wujud seperti itu justru orang-orang akan mengira diriku termasuk makhluk halus!"


'Tetapi dengan itu, tubuh tuanku tidak akan mampu dilukai oleh senjata apapun, kecuali senjata para Dewa terkuat.' Hyang Kavacha mencoba meyakinkannya kembali.


"Terima kasih Hyang Kavacha atas masukannya, tetapi Suro tidak berniat bertarung dengan para Dewa. Selain itu bukankah Hyang Kavacha bisa melakukannya untuk memastikan serangan senjata yang datang padaku tidak melukaiku? Jadi cukup tulangku saja yang perlu Suro perkuat." Suro kembali menegaskan kepada Hyang Kavacha jika dia tidak berminat atas usulannya.


Pandangan Suro kini menyasar ke arah seluruh hamparan kitab yang sudah awut-awutan.


"Gawat ini! Apa yang akan aku katakan pada eyang guru, jika dirinya telah sadar?" Suro mengaruk-garuk kembali rambutnya dengan kedua tangannya.


"Sebaiknya aku segera merapikannya terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruangan ini."


Beruntung kitab-kitab itu ditulis dalam lembaran-lembaran kulit dan juga gulungan lontar. Sehingga kondisi kitab itu tidak membuatnya rusak berat.


Suro kemudian bangkit berdiri dan mulai memunguti setiap kitab yang berserakan disekitar tempatnya bersamadhi.


Setelah selesai merapikan dan memeriksa setiap lembaran maupun gulungan yang copot dari induk kitabnya telah kembali pada tempatnya, maka Suro pun keluar dari ruangan itu.


Ruangan itu ditutup dengan menggeser batu besar yang menjadi pintunya. Setiap langkah kakinya ke arah keluar, maka anak tangga yang ada dibelakangnya menghilang tertutup oleh tanah yang dikendalikan Suro.


Sampai diruangan dimana ada peti yang berisi koin emas, maka lorong berundak menuju perpustakaan telah sepenuhnya menghilang dari pandangan. Kini dihadapan pintu itu tidak terdapat apapun kecuali tanah


"Aku akan membuka jalan ini jika Eyang Sindurogo telah pulih." Suro memandang tanah yang berada didepannya sambil menepuk-nepuknya secara perlahan. Meskipun terasa berat, tetapi Suro harus melakukannya untuk memastikan ruangan itu tidak diketahui oleh siapapun.


"Maung sekarang kita akan bertemu dengan Sang Hyang Anantaboga. Antarkan aku ke sisi utara menuju goa Sang Hyang Anantaboga!" Suro segera menaiki punggung Maung, setelah harimau besar itu bangun dari tidurnya.


Mereka segera menuju ke sisi utara dari gunung Arjuno disebuah tebing besar itu ada sebuah ceruk yang tidak dalam. Tetapi memiliki nama goa Anantaboga. Disitulah dulu gurunya Eyang Sindurogo mengajak Suro bertemu Sang Hyang Anantaboga.