SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 284 Segel Sihir Kebekuan Abadi



Setelah datangnya lautan air yang muncul begitu saja, kini Hantu Laut mengerahkan serangan susulan berupa sihir perubahan es.


"Segel Sihir Kebekuan Abadi!"


Saat siluman itu mulai mengerahkan tehnik sihir perubahan es, maka suhu udara langsung turun drastis. Sebab setelah Hantu Laut selesai merapal ilmunya, dua ledakan perubahan es keluar dari telapak tangan Hantu Laut dengan kekuatan yang tidak dapat dimasuk akal. Kemudian mengubah segala yang dilewatinya berubah menjadi es.


Termasuk pasukan yang berlarian mencoba menghindari pertarungan berkekuatan monster, mereka seketika itu juga kaku tak bergerak menjadi sebongkah es. Kekuatan sihir itu terus melesat menerjang ke arah lautan air yang sebelumnya mengurung jurus api hitam.


Lautan air yang berhasil menenggelamkan kobaran api hitam terus berputar membentuk pusaran besar. Lautan air itu terus berusaha mengekang gerakan kobaran api hitam yang berbentuk burung raksasa.


Namun setelah sihir perubahan es tingkat tinggi itu menerjang pusaran air, maka seketika pusaran itu seluruhnya berubah menjadi sebuah gunung es . Bahkan hutan disekitar pusaran ikut terperangkap di dalamnya. Termasuk pasukan yang tidak sempat menyelamatkan diri.


"Mustahil! Lodra apakah api hitammu dapat dipadamkan?"


Suro yang mengambang diudara dapat menyaksikan dengan jelas amukan jurus api hitamnya berhasil dihentikan.


'Tidak tuan Suro, hanya saja sihir ini begitu kuat dan unik. Bahkan mampu menyerap kekuatan api hitamku secara cepat.'


Suro terkejut mendengar penjelasan Lodra.


Entah apakah akhirnya jurus api hitam itu akan berhasil dipadamkan oleh jurus milik Hantu Laut atau tidak? Namun yang jelas saat ini, jurus api itu berhasil dihentikan oleh sihir Hantu Laut.


Belum sempat Suro berpikir untuk menghancurkan sihir perubahan es tingkat tinggi milik Hantu Laut, siluman ular bersama Dewi Kematian dan para tetua lainnya serentak bergerak menyerang Suro.


"Habisi bocah itu selagi guru Hantu Laut menahan api hitamnya!" Dewa Kematian melesat bersama puluhan tetua yang telah mencapai tingkat langit. Namun siluman ular melesat mendahului mereka semua.


Entah rencana apa yang hendak dilakukan siluman itu. Sebab dia kini telah berubah menjadi ular raksasa.


"Kalian ingin menghabisiku, mimpi!" Meski musuh telah mengepung dirinya, namun Suro masih bersikap tenang tidak terlihat sedikitpun kepanikan di wajahnya.


Blaar! Blaar! Blaar!


Suro langsung melesatkan sinar yang keluar dari jari telunjuknya beberapa kali ke arah Dewi Kematian dan juga para tetua yang hendak mendekati dirinya. Satu tangan lainnya segera mengerahkan naga bumi untuk menghadapi siluman ular yang kini telah berubah menjadi ular raksasa.


Ketika melihat pasukan yang dipimpin Dewi Kematian dapat menghindari serangannya dan melesat semakin mendekat, maka Suro segera merubah serangannya. Kali ini dia menggunakan ilmu yang dimiliki Dukun Sesat dari Daha, namun racun yang dia gunakan sesuatu yang dibuat spesial oleh Tohjaya.


Racun itu juga pernah digunakan Suro untuk menghadapi pemilik jurusnya sendiri, yaitu Dukun Sesat dari Daha. Berkat racun mematikan itu ada peluang bagi Suro untuk menghabisi tokoh hitam itu selama-lamanya.


Dia menggunakan jurus itu, sebab cangkupan serangannya dapat begitu luas. Sebelum memulai serangan dia segera mengerahkan tehnik perubahan air dan membentuk kabut tebal disekitar tubuhnya.


"Tapak Selaksa Dewa Racun!"


Suro segera melesatkan jurus beracun milik Dukun Sesat dari Daha. Demi melihat jurus yang sangat dia kenal, Dewi Kematian cukup terkejut melihat musuhnya ternyata mengerti ilmu racun.


"Apa hubunganmu dengan Perguruan Racun Neraka anak muda? Bagaimana kau bisa memiliki jurus dari Dukun Sesat dari Daha?" Setelah tersurut cukup jauh Dewi Kematian berhasil menyelamatkan diri dari serangan Suro.


Bukan jawaban yang didapat Dewi Kematian, namun kembali lesatan ribuan jarum beracun dalam ukuran yang sangat kecil menghujani mereka. Serangan itu begitu dahsyatnya sehingga tidak ada sejengkalpun bagi mereka dapat menghindar, kecuali mereka kembali buru-buru melesat kebelakang atau menangkis serangan itu.


"Setan alas, bocah sialan!" Umpatan yang tak ada ujungnya.


"Jurus Ubur-ubur Iblis Nomura!"


Ctaar! Ctaar! Ctaar!


Selain setiap hantaman yang meleda-ledak sangat mematikan dengan kandungan racunnya, ada unsur petir muncul setiap kali sulur itu menghantam ke arah Suro.


Untuk menghindari serangan dari sihir ubur-ubur raksasa, beberapa Suro harus menggunakan jurus Langkah Maya.


Saat tatapannya sedang berkonsentrasi pada jurusnya, Dewi Kematian baru menyadari jika beberapa tetua yang sebelumnya hendak menyerang Suro, justru terkena jurus beracun itu. Lesatan jarum yang sangat kecil dalam jumlah yang tidak terkira banyaknya tidak mampu dihindari. Meskipun sebagian berhasil menahan jurus itu dengan cara menangkis.


Mereka yang terkena jarum kristal es beracun itu, akhirnya meregang nyawa dengan cepat, setelah sebelumnya sempat mutah darah hitam. Walaupun tetua itu sempat menelan obat penawar racun.


"Racun apa yang kau gunakan, seharusnya jika itu jurus milik Dukun Sesat dari Daha obat penawar kami akan dapat menyembuhkan tetua kami?" Dewi Kematian terkejut melihat beberapa tetuanya tidak dapat bertahan hidup terkena lestan jarum kristal es beracun milik Suro.


Suro tidak mempedulikan pertanyaan Dewi Kematian, sebab dia sedang sibuk berkonsentrasi menghindari sihir yang dikerahkan Dewi Kematian. Kemudian dari telapak tangannya memancar cahaya putih yang berasal dari bola chakra kekuatan yang dimampatkan sedemikian rupa, sehingga menyerupai matahari.


Jurus keempat Tapak Dewa Matahari dihantamkan kembali oleh Suro ke arah ubur-ubur raksasa.


Duuuuum!


Namun dia menghantamkan jurusnya itu searah dimana Dewi kematian dan juga para tetua berada. Maka selain jurus milik Dewi Kematian hancur, mereka kembali dipukul mundur semua dan harus kalang kabut menyelmatkan diri dari jurus tersebut.


Setelah berhasil memukul mundur Dewi Kematian dan para tetua, Suro kembali berkonsentrasi mencoba mengendalikan jurus naga bumi miliknya yang sedang berhadapan dengan siluman ular. Wujud siluman ular kini telah berubah menjadi ular raksasa yang tak kalah dengan besarnya naga bumi milik Suro.


'Lodra apakah kekuatan api hitammu masih tersisa setelah jurus barusan?' Ditengah pertarungan Suro mencoba memastikan kekuatan pedang yang ada ditangannya, sebab dia berniat mengerahkan kembali jurus api hitam miliknya.


'Jika tuan Suro berniat mengerahkan kembali jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda, maka sudah tidak cukup kekuatan hamba. Namun jurus lain hamba yakin dapat mengerahkannya kembali.'


Suro setelah mendengar jawaban dari Lodra dia segera tersenyum, sebab itu artinya dia masih punya simpanan kekuatan untuk mengalahkan Hantu Laut dan juga Siluman Ular yang mencoba mematahkan jurusnya.


Namun sebelum dia memulai kembali jurusnya, dia menelan pill tujuh bidadari beberapa butir. Sebab dua kali mengerahkan jurus keempat dari ilmu Tapak Dewa Matahari telah menguras lebih dari tiga puluh persen kekuatannya.


"Naga Taksaka bergabunglah dengan naga bumi!" Suro segera mengerahkan jurus api hitam lainnya untuk dapat mengalahkan siluman ular.


Sebab dia tidak ingin pasukan perguruan yang berhasil dia hancurkan dengan serangannya barusan kembali menyerang dirinya. Meskipun demikian setelah melihat kekuatan mengerikan yang dikerahkan Suro tidak ada yang berani mendekat ke arah Suro, jika kekuatannya masih dibawah tingkat shakti.


'Bocah ini kuat sekali.' Siluman ular yang sedang bergumul dengan naga bumi hanya bisa mendengus kesal karena kekuatan perubahan tanah milik Suro ternyata tidak mudah dia kalahkan.


"Manusia jenis apa sebenarnya dirimu!"


Siluman ular yang sedang bergelut dengan naga bumi akhirnya memilih mundur, setelah Suro mengerahkan Naga Taksaka miliknya dan bergabung dengan naga bumi.


Kobaran api hitam Naga Taksaka menyelimuti tehnik perubahan tanah dari Naga bumi. Dalam waktu yang cepat telah berubah menjadi Naga Api dengan tubuh berupa lahar.


Siluman ular kembali dalam bentuk wujud manusianya dan melesat ke arah Dewi Kematian. Tubuhnya sebagian terlihat gosong terbakar di beberapa bagian. Seandainya dia terlambat sedikit saja menyelamatkan diri, maka dapat dipastikan dia akan musnah menjadi abu.


"Sepertinya kita menghadapi musuh yang setara dengan Batara Antaga. Bagaimana caranya menghadapi makhluk mengerikan seperti itu?" Siluman ular menunjuk naga api yang kini gerakannya tak ada lagi yang mampu menghentikannya.


Tubuhnya telah berubah merah membara dengan diselimuti kobaran api hitam. Kini sepenuhnya tubuh naga itu berubah menjadi lelehan lahar. Gerakannya yang begitu cepat melesat mengejar ke arah siluman ular yang melesat mundur.


Pasukan musuh yang sial karena diterjang Naga Api milik Suro langsung merenggang nyawa dengan tubuh gosong, bahkan sebagian tubuhnya berakhir menjadi abu sepenuhnya.