SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 225 Sebelum Memulai Pengejaran



Setelah menghilang dari pandangan Dewa Pedang dan lainnya Geho sama dan Suro langsung muncul dihadapan Made Pasek dan Kolo Weling yang sedang berlatih sepuluh pedang terbang.


"Se..seetaaaannnn!"


Made Pasek terkejut melihat sesosok raksasa yang memiliki sayap dan paruh seperti burung. Apalagi melihat ular sebesar paha orang dewasa melingkar ditubuhnya. Tentu saja pemandangan yang muncul tiba-tiba didepannya membuat jantungnya seakan copot.


Made Pasek berbalik langsung berlari kencang. Kolo weling yang sedang menghadap ke arah lain tidak melihat kedatangan Geho sama. Sehingga dia terkejut dengan teriakan Made Pasek.


Dia langsung bereaksi cepat dan berbalik hendak mengetahui apa yang terjadi. Tetapi Made Pasek yang begitu terkejut sampai tidak menyadari Kolo weling dibelakangnya mereka bertubrukan dengan begitu keras.


Beruntung tubrukan itu tidak membuat mereka pingsan, walau hidung Made Pasek akhirnya mengeluarkan darah.


Geho sama mendengar teriakan Made Pasek justru terkejut dan menoleh ke arah Suro.


"Bagaimana dia mengenal namaku Gagak setan, padahal aku belum menyebut namaku?"


Mendengar pertanyaan Geho sama barusan membuat Suro tidak dapat menahan tertawanya. Dia tertawa cukup keras mendengar pertanyaan Geho sama yang mengira teriakan keras Made Pasek adalah memanggil dirinya yang memiliki nama lain Gagak setan. Suro segera berjalan ke arah Made Pasek dan juga Kolo weling yang masih bergumul di tanah. Hal itu disebabkan Made Pasek yang masih kalut dalam kepanikkan.


Suro kemudian teringat ucapan Rhitishak, jika Made Pasek memiliki ketakutan terhadap makhluk halus. Itulah alasan yang melandasi mengapa dia berteriak dengan begitu histeris.


Suro yang hendak menolong Made Pasek, tentu saja membuat lelaki itu semakin bertambah ketakutan.


"Si..siapa kalian?" Kali ini baik Made Pasek dan Kolo weling berteriak bebarengan, sebab Kolo weling segera menyadari jika ada sosok raksasa dengan wujudnya yang begitu mengerikan hendak mendekati mereka berdua. Selain itu pemuda yang mendekat ke arah mereka juga tidak dia kenal sebelumnya.


"Bagaimana kalian sudah tidak mengingat diriku yang memiliki wajah paling tampan?" Suro tertawa melihat Made Pasek dan Kolo weling yang tidak juga mengenali dirinya.


Kolo weling yang mendengar ucapan Suro barusan, mulai mengenali suaranya. Walau dia belum sepenuhnya mengenali pemuda yang ada didepannya.


"Apakah aku ini berubah menjadi terlalu tampan, sehingga kalian semua tidak ada yang mengenaliku lagi?" Suro segera mengeluarkan kaca benggala dari balik bajunya dan mulai berkaca.


"Beberapa hal aku memang terlihat cukup tampan, tapi sebenarnya tidak banyak berubah. Sebab mataku masih dua, hidungku lubangnya juga masih dua. Tidak ada yang berubah padahal? Tetapi kenapa kalian sampai tidak mampu lagi mengenaliku?" Suro menatap ke arah mereka berdua yang justru terlihat bengong mendengar ucapannya barusan.


"Apakah ini nakmas Suro?"


"Benarkah ini tetua muda Suro?" Made pasek yang mendengar ucapan Kolo weling ikut memperjelas pandangan matanya. Dia melototkan mata agar penglihatannya dapat lebih jelas.


"Tidak dapat dipercaya bagimana nakmas bisa berubah dengan begitu drastis?"


Suro tertawa mendengar Kolo weling yang akhirnya mampu mengenali dirinya. Walaupun belum mampu mempercayai seratus persen. Dia mampu mengenali Suro setelah dia mengeluarkan pusaka Kaca benggala dari balik bajunya.


Tidak ada yang memiliki pusaka itu kecuali junjungannya yang memiliki. Selain itu gaya berbicara Suro yang sudah dia hafal memang tidak dapat dibohongi, jika pemuda itu memang Suro.


"Dimana Mahadewi? Aku tidak melihat dirinya berlatih?"


"Dia sudah cukup mahir mengerahkan jurus sepuluh bilah pedang dibandingkan kami. Jadi hari ini dia memilih pergi ke perguruan pusat hendak bertanya mengenai gurunya tetua Dewi Anggini yang tidak segera kembali."


"Para tetua yang ikut ke perguruan cabang masih ada disana." Suro menjelaskan kepada Kolo Weling sambil berjalan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan langsung menuju rumah yang berada di atas bukit dibelakang kediaman Kolo weling.


"Dia cukup betah setiap sore minta diajak jalan-jalan memutari kademangan Cangkring. Lumayan setiap sore ada penduduk yang pingsan ketakutan. Nakmas sudah hafal bukan tabiat Maung yang sengaja bercanda dengan cara menakut-nakutinya?"


Suro tertawa mendengar cerita Kolo weling mengenai sahabatnya itu. Made Pasek memilih berjalan paling depan karena Geho sama selalu berjalan dibelakang Suro. Bagi Made Pasek wujud Geho sama tetaplah sesuatu yang menakutkan.


"Dalam perjalanan sebelumnya Suro telah memastikan setiap penawar racun yang paman Kolo weling buat memang berfungsi dengan baik. Sebab dalam perjalananku, akhirnya aku bertemu dengan Dukun Sesat dari Daha. Dalam pertempuran itu Suro sengaja mengulur waktu, sehingga dia terpancing untuk mengerahakan seluruh racun yang dia miliki."


"Dengan melihat racun yang dia gunakan sesuai panduan yang ada dalam Kitab Dewa Racun, akhirnya aku berhasil memastikan penawar itu bekerja dengan sangat baik. Kemudian aku berhasil menghabisinya dengan bantuan racun yang dibuat paman Tohjaya."


Kolo weling takjub mendengar Suro, karena berhasil menghabisi legenda racun yang terkenal dengan kekuatan racunnya yang begitu menakutkan.


"Paman, kali ini Suro hendak melakukan perjalanan yang mungkin membutuhkan waktu yang cukup panjang. Suro juga tidak tau akan selamat atau tidak? Karena kali ini Suro akan mencoba menyelamatkan eyang guru. Karena itu Suro menitipkan Maung kepada paman."


Kolo weling tidak tau harus memberi nasehat apa. Akhirnya dia hanya menghela nafas panjang.


"Semoga nakmas dapat segera pulang dengan selamat. Semoga eyang Sindurogo berhasil dibebaskan. Karena paman yakin nakmas pasti berhasil membebaskannya. Karena tidak ada yang mampu melakukannya kecuali nakmas sendiri "


Mereka akhirnya sampai di kediamannya yang berada di atas bukit. Maung dalam jarak jauh sudah mengendus bau badan Suro. Dia menunggu sahabatnya didepan pintu gerbang. Harimau itu terlihat begitu bergembira melihat sahabatnya akhirnya kembali lagi.


Mereka bermain cukup lama untuk melepas rindunya. Berputar mengelilingi bukit beberapa kali. Suro duduk diatas pungung harimau sahabatnya itu sambil memeluk lehernya Setelah itu Suro kembali menemui Kolo Weling.


"Paman Kolo weling waktu itu aku pernah membuat seratus bilah pedang kepada pandai besi Ki Pawirodirejo. Bagaimana perkembangannya?"


"Ini baru genap enam purnama nakmas Suro, Ki Pandai besi mengatakan membutuhkan waktu minimal lima belas purnama."


"Secara keseluruhan dia belum menyelesaikan semuanya. Tetapi beberapa hari yang lalu Ki pandai besi mengirim bilah pedang yang telah selesai."


"Apakah dari Ki Pawiredirejo sudah dibuatkan warangka yang mampu menampung ketiga puluh pedang tersebut, paman?"


"Sudah, persis seperti apa yang pernah nakmas katakan kepada paman."


"Baguslah kalau begitu, karena semua akan aku bawa dalam perjalanan kali ini."


"Besok Suro akan kembali melanjutkan perjalanan mencari eyang guru. Suro meminta tolong untuk disiapkan penawar racun dan Pill tujuh bidadari dan yang lainnya untuk bekal Suro dalam perjalanan."


"Baik nakmas, jangan khawatir paman akan menyiapkan semuanya."


Malam itu Suro memilih beristirahat dengan berbantalkan tubuh Maung. Dia sepertinya cukup lelah melewati perjalanan panjang hampir satu purnama yang lalu.


Malam itu Suro sebelum tertidur dia menyempatkan mengambil Kaca benggal di balik bajunya dan mulai memandang pusaka itu cukup lama.


Entah apa yang sebenarnya yang sedang dilihat oleh Suro, tetapi ada satu senyuman terukir di sudut bibirnya. Setelah cukup lama dia menatap sesuatu bayangan yang ada di pusaka itu, dia lalu menyimpan kembali pusaka itu dibalik bajunya.


Kemudian dia memejamkan mata tertidur dengan menjadikan tubuh Maung sebagai bantalnya. Suara denguran harimau taring pedang itu tidak membuat Suro terganggu. Justru dia merasa dengkuran harimau itu seperti lagu Nina Bobo untuknya. Karena sejak kecil dia terbiasa tertidur ditemani suara dengkuran harimau itu.


Geho sama malam itu bersemadhi sambil dibantu kekuatan Naga sisik emas. Energi alam ditempat itu mulai berkumpul dan membuat setiap orang yang berada diatas bukit itu merasakan manfaatnya. Sebab dengan adanya energi alam yang padat, maka orang awam sekalipun akan dapat merasakan tubuhnya dapat kembali bugar. Geho sama sengaja melakukan itu agar tubuh Suro yang tertidur ikut segar kembali. Sebab esok mereka akan melakukan perjalanan panjang.