
Golok setan dan Pedang setan merupakan salah satu jagoan dari kelompok Mawar Merah sebelum bubar. Kekuatan dua pendekar itu telah sampai pada tingkat langit dan telah membuka gerbang lapis keenam.
Dengan kekuatannya itulah mengapa dia begitu yakin, jika seluruh pasukan pengawal gubernur kota Shanxi sekalipun tidak akan mampu menghentikan dirinya. Namun sebelum menyerbu rumah pejabat kota itu, dia memang hendak membuat perhitungan terlebih dahulu dengan putera semata wayangnya.
Sejak pagi dia bersama Pedang setan menunggu pemuda itu di Pavillium Angin Utara sambil menghabiskan arak berkwalitas tinggi. Dia memilih rumah makan tersebut, karena hampir setiap hari Yang muda menghabiskan waktunya di tempat itu.
Dengan menyerang Yang Xiaoma terlebih dahulu, dia hendak membuat pejabat kota itu menyesal seumur hidup, karena berani macam-macam dengan dirinya.
Setelah kabar kelompok Mawar Merah tempat dirinya bernaung telah dibubarkan, maka dia segera membentuk kelompok sendiri yang bergerak didalam kota Shanxi dan sekitarnya. Dia telah merekrut banyak mantan anggota kelompok Mawar Merah bergabung bersamanya.
"Pedang setan, kau jaga bocah Yang sialan itu. Jangan biarkan dia kabur. Urusan kita dengan keluarga Yang belum selesai.
Dipikir-pikir sedari pagi kita hanya duduk sambil minum arak. Tanganku terasa pegal, sepertinya meminta digerakkan sebentar."
Sambil melangkah ke arah Dewi Anggini, matanya menatap ke arah lelaki tinggi besar dengan dua pedang terhunus ditangannya.
"Feng Lei matamu yang sudah juling itu sepertinya sudah semakin parah, memanah orang-orang yang sedang berjejer didepan jendela saja tidak bisa!" Golok setan ternyata masih belum puas memaki anak buahnya itu.
**
"Mereka sedang berbicara tentang apa tetua Dewi Anggini?" Dewa Rencong yang mendengar teriakan-teriakan orang di lantai tiga itu, semakin lama dia pun menjadi jengah.
Dewi Anggini lalu menceritakan kondisinya kepada mereka semua sambil terus menikmati hidangan dimeja.
"Nah ini waktunya bagimu bergerak bocah setan, makan ayam goreng sampai sebakul. Sebenarnya kamu itu anak manusia apa anak genderuwo?" Dewa Rencong merebut bakul dari pemuda disampingnya. Bakul itu merupakan wadah untuk ayam goreng yang sedari tadi dipegang oleh Suro.
"Masalah yang lain nanti saja lah paman Maung. Aku belum puas makan. Daging domba panggang itu juga belum aku coba." Suro tidak memperdulikan ucapan Dewa Rencong.
Dia buru-buru memindahkan daging domba dari loyang besar ke nampan didepannya. Daging domba menjadi salah satu menu istimewa di Pavillum Angin Utara.
Daging itu dimasak secara khusus, yaitu dengan dipanggang menggunakan batu. Hasilnya daging domba itu menjadi terasa begitu empuk. Karena begitu empuknya, saat mengigit daging itu seakan gigi tidak perlu dibantu tenaga telah mampu mengunyahnya.
Mulut Suro sedari tadi tidak berhenti mengunyah. Apa saja yang terlihat nikmat dimasukan ke mulutnya. Terutama ayam goreng kesukaannya.
"Bocah gemblung, apa kau ingin meja ini hancur. Lihat itu si botak sudah berjalan ke arah sini!" Dewa Rencong menatap ke arah Golok setan yang sedang berjalan ke arah meja mereka.
"Mengapa susah sekali mencari tempat yang tenang untuk menikmati makanan? Padahal baru mau satu suap saja...benar-benar orang yang tidak punya adab!"
"Satu suap kepalamu, satu suap apa satu bakul? Lihat seluruh ayam goreng ini tinggal tulang semua, dasar bocah gendeng! Lihat ini Kelakuan muridmu!" Dewa Rencong mengomel saat mengetahui tempat ayam goreng yang sedari tadi dipegang Suro hanya menyisahkan tulang belulang.
Eyang Sindurogo menggaruk-garuk kepalanya melihat Dewa Rencong marah-marah karena tidak kebagian ayam goreng.
Lelaki itu lalu memberikan tanda kepada Suro untuk menghadang musuh yang mendekat ke arah mereka.
"Mengganggu saja mereka ini." Suro lalu bangkit sambil mengambil satu lengan kepiting yang lebih besar dari lengan milik Dewa Rencong.
"Akan kau bawa kemana itu, aku belum mencobanya? Sialan, dasar anak siluman!" Dewa Rencong mengoceh tidak berhenti, tetapi Suro justru tertawa lebih lebar melihat pendekar dari Bukit Lamreh itu meruntuk kesal.
**
Suro masih memegang satu lengan kepiting saat menghadang langkah Golok setan.
Suro mengernyitkan dahinya sampai tingkat maksimal. Dia lalu sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
Sepertinya dia tidak memahami apa yang diucapkan lelaki didepannya. Sebab bahasa yang digunakan merupakan bahasa daerah kota Shanxi, berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang-orang sewaktu menyerang markas Mawar Merah.
"Tetua Dewi Anggini, lelaki ini hendak bertarung atau sedang menawarkan dagangannya? Mengapa dia bercerita panjang lebar, sebenarnya barang apa yang hendak dia tawarkan? Lihatlah dia bercerita dengan penuh semangat."
Kali ini tetua Dewi Anggini tertawa lepas demi mendengar apa yang diucapkan Suro kepadanya. Wanita itu tidak mampu menahan geli, dia terus tertawa dan tidak segera menjawab.
'Apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Bukankah paman ini memang terdengar seperti orang yang dagangannya belum laku selama berhari-hari. Agaknya golok besar miliknya ini yang sedang dia tawarkan dengan begitu semangat.' Suro menggumam pelan sambil mengelap mulutnya dengan lengan baju.
Golok setan semakin murka melihat dia mengoceh tidak digubris bahkan pemuda itu berani menoleh ke belakang saat dia berbicara. Karena itu nada ucapannya semakin meninggi menandakan kemarahannya semakin bertambah.
"Paman, golokmu ini kwalitasnya buruk aku tidak menyukainya. Paman tidak percaya? Baiklah akan aku tunjukkan bagaimana Pedang Kristal Dewaku ini menebas golokmu."
Wuuuss...
Trang!
"Ha... Golok setanku putus?"
Wajah dari Golok setan yang berwarna hitam semakin bertambah gelap karena murka. Dia tidak melihat bagaimana pemuda itu menebas, karena begitu cepatnya. Dia hanya merasa ada sekelebat bayangan, sebelum akhirnya goloknya yang digunakan untuk menunjuk-nunjuk telah putus.
"Benar bukan, kwalitasnya buruk sekali. Sudah jangan menangis paman ini aku berikan ganti rugi." Sekantung emas bergermincing terdengar didalamnya.
Golok setan segera menyadari yang ada didepan matanya. Terlihat berkantong-kantong emas tergantung di pinggang Suro, sehingga membuat lelaki itu memiliki tujuan lain. Dia sudah tidak peduli dengan urusan Yang Xiaoma.
**
Dewi Anggini masih belum juga berhenti menertawakan apa yang terjadi didepan matanya. Dia geli mendengar apa yang diucapkan mereka berdua yang tidak nyambung. Dia bahkan sampai berhenti menikmati makanan didepannya.
"Kakang sebenarnya muridmu ini bodoh atau pintar?"
"Dia bukan bodoh tetapi sableng!" Dewa Rencong langsung menyahut pertanyaan Dewi Anggini.
Eyang Sindurogo tidak menjawab pertanyaan Dewi Anggini dia justru sibuk menggaruk-garuk kepalanya menatap muridnya itu.
Untuk menghentikan kesalah pahaman semakin berlanjut, akhirnya Dewi Anggini mencoba memberi tahu kelompok yang berdatangan ke lantai tiga itu.
"Kami tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Yang. Jika kalian hendak menghabisi mereka, habisi aja!
Bahkan pemuda Yang itu juga merencanakan akal busuk untuk mencelakai kami dengan mengundang kerumahnya!"
Suara Dewi Anggini barusan membuat Yang Xiaoma terkejut, dia masih mengingat jika ucapan itu dia katakan dengan suara yang cukup pelan, sehingga tidak seorangpun yang mendengar, kecuali dua temannya itu.
Pikirannya yang sudah kalut bertambah tidak karuan. Karena pikirannya hanya pada kelompok Golok setan, dia sampai tidak menyadari, jika aura kekuatan besar terpancar dari mereka berlima.
Dia baru menyadari jika kelima orang itu bukanlah kumpulan orang-orang biasa, tetapi mereka adalah kumpulan para pendekar berkemampuan tinggi.
"Kami berubah pikiran, kami ingin menjarah kalian, ternyata dibalik pakaian gembel kalian tersimpan harta yang banyak!" Golok setan segera memerintahkan pasukan miliknya untuk mengepung mereka berlima.