SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 173 Kegiatan Baru



"Kakang Suro!" Suara Mahadewi terdengar keras menambah keramaian pagi bergabung bersama dengan riuhnya suara burung yang berkicau. Suara Jalak, Kepodang, Kutilang,Cucak rowo dan burung-burung yang masih banyak berterbangan di alam bebas kala itu.


"Bukankah ini masih pagi buta?Mengapa Mahadewi sudah sampai disini saja?" Entah mengapa setiap mendengar suara Mahadewi secara sepontan, Suro akan bangun dan terjaga selelap apapun tidurnya.


Kepalanya terasa pusing akibat bangun secara mendadak. Padahal dia baru saja terlelap. Sebab sejak semalaman Suro dan Kolo Weling berdiskusi mengenai kitab dewa racun hingga menjelang fajar. Dia masih memijat-mijat kepalanya, sebelum kembali suara teriakan terdengar dari luar.


"Kata wakil Ketua perguruan eyang Udan Asrep, latihan ketua Dewa Pedang belum selesai. Jadi adinda meminta kakang melatih jurus pedang mulai hari ini juga. Adinda tidak mau ditunda lagi..! TITIK!"


Mahadewi hanya berani berteriak-teriak dari luar rumah. Dia tidak berani masuk, karena dia mengetahui didalam rumah ada Maung yang ikut tidur di samping Suro.


"Hadeeeh wanita ini benar-benar, seperti tidak punya subasita(tatakrama) sama sekali. Bukankah dia anak akuwu(sebuah gelar jabatan jaman dahulu). Seharusnya sikapnya menyerupai putri kedaton. Tetapi entah mengapa dia justru terlihat seperti tidak memiliki sopan santun. Kalah dibandingkan diriku yang sedari kecil hidup di hutan dan sering berbicara hanya kepada kucing hutan ini." Suro berbicara masih bersandar pada tubuh Maung yang masih lelap dalam tidurnya.


"Sepagi ini dia sudah berteriak-teriak didepan rumah orang lain seperti kesetanan. Entah setan apa yang terlalu rajin merasuki wanita itu sepagi ini. Untung tidak ada tetangga yang mendengar. Kalau ada, bisa gawat. Dikira ada geger apa?"


"Hmmmmm...memang susah menjadi seorang lelaki berwajah ganteng selalu dikejar-kejar dara cantik!" Suro kemudian bangkit dan mulai berjalan keluar sambil menggerutu.


Mahadewi yang menunggu persis didepan pintu sudah memasang wajah cembetut.


"Eh.. eh..eh.. adinda Mahadewi sudah menunggu didepan pintu. Pantas saja pagi ini terasa begitu indah tidak seperti pagi yang biasanya. Ternyata suara merdu bidadari yang membangunkanku barusan adalah milik adinda tho! Sungguh suara yang sangat merdu membuat kakang langsung terjaga dari tidur kakang yang telah lelap sekalipun."


"Suara merdu itu juga membuat kakang tanpa sadar ingin melihat rupa dari pemilik suara barusan. Tidak taunya, ternyata pemilik dari suara merdu barusan adalah adinda Mahadewi!" Melihat Mahadewi yang memasang wajah cembetut, Suro langsung memasang wajah tertampannya. Rentetan kata-kata yang disandur dari kitab seribu cara menaklukkan wanita langsung keluar semua.


Dan memang, kitab itu sungguh sangat dahsyat. Setelah mendengar kata-kata penuh aura magis dan penuh dengan keindahan yang sulit dibantah kan itu, Mahadewi langsung meleleh. Mukanya langsung bersemu merah menahan malu mendengar kata-kata pujian penuh makna barusan.


Tidak ada lagi nada meninggi, apalagi emosi, semua sirna sudah. Kemudian tergantikan oleh suara yang lemah lembut seperti Dewi Wara Sumbadra istri Raden Arjuna.


Menurut kabar, kitab itu diciptakan oleh seorang pujangga besar. Sebuah rasa kehilangan dan kerinduan yang begitu besar yang dialami sang pujangga yang melatar belakangi terciptanya karya fenomenal itu. Karena sebuah musibah besar yang menjadi penyebab kehilangan pujaan hatinya. Seluruh harapan dan impiannya itu musnah tidak tersisa. Musibah besar itu bernama sebuah perjodohan.


Menurut cerita juga, karena terlalu memendam beban kerinduan yang tidak mampu ditanggung oleh jiwa seorang manusia, maka pujangga besar itu akhirnya menjadi kehilangan kewarasannya. Dikemudian hari pujangga besar itu lebih dikenal dengan nama si Majnun atau si gila. Jadi inti cerita barusan, kitab itu sebenarnya diciptakan oleh seseorang yang biasa disebut sebagai orang gila.


"Ah, kakang bisa saja." Mahadewi semakin tersipu malu melihat Suro tersenyum dengan begitu lebarnya, sehingga dari kanan sampai kekiri yang terlihat hanya bibir dia semua.


"Apakah adinda sudah menyiapkan sepuluh pedang yang akan digunakan untuk latihan?"


"Tentu saja kakangmas Suro." Mahadewi kemudian memperlihatkan sepuluh bilah pedang miliknya.


"Ini bilah pedang kwalitas bagus. Bagaimana adinda mendapatkan sebanyak ini pedang dengan kwalitas sebagus ini?" Suro mulai memeriksa setiap bilah pedang yang dimiliki Mahadewi.


"Ramanda Mahadewi yang telah mengirimkan pedang-pedang kwalitas terbaik ini." Mahadewi terlihat tersenyum lebar mendengar pedang miliknya disebut kwalitas terbaik.


"Baiklah kita akan memulai latihan dihalaman ini saja. Tempat ini cukup luas digunakan untuk latihan." Suro kemudian mengajak Mahadewi membawa serta sepuluh bilah pedangnya ke halaman.


Sebelum Suro memulai melatih Mahadewi dari dalam suara seseorang berlari sambil berbicara agak keras.


"Nakmas, tunggu nakmas!" Kolo weling terlihat berlari sambil membawa serta setumpuk bilah pedang.


Suro mulai menggaruk-garuk kepala melihat Kolo weling membawa bilah pedang sebanyak itu, agaknya bukan Mahadewi saja yang tertarik dengan jurus yang akan dia ajarkan.


"Apakah paman tertarik juga dengan jurus ini?" Suro menatap ke arah Kolo Weling yang senyam senyum sendiri tidak berani meminta ijin kepadanya.


"Benar nakmas, itu jika nakmas mengijinkan!" Kolo weling terlihat tersenyum malu-malu mengutarakan niatnya.


"Selamat pagi tetua!" Dari arah luar seseorang berjalan memanggul buntalan.


"Mohon maaf tetua muda Suro, sebelumnya Mahadewi bercerita kepada saya, jika hari ini dia akan dilatih sepuluh bilah pedang terbang seperti yang pernah tetua perlihatkan saat pemilihan tetua. Jika tetua berkenan, saya ingin ikut berguru kepada tetua."


Suro mulai mengaruk-garuk kepalanya sebelum menjawab.


"Baiklah, kalian bertiga akan Suro latih jurus itu."


"Sebelum memulai latihan dengan menggunakan bilah pedang, sebaiknya aku jelaskan terlebih dahulu mengenai hal mendasar lainnya yang memungkinkan kalian mampu menggunakan jurus ini."


"Ilmu pedang itu hanya bisa dilakukan oleh ku saja. Hal itu terjadi karena ada alasan yang melandasinya, terutama benang chakra yang digunakan untuk menggerakkan bilah pedang. Suro melakukannya dengan menggunakan tehnik yang berdasarkan ilmu tapak dewa matahari."


"Karena aku tidak punya wewenang untuk menurunkan ilmu itu kepada sembarang orang, maka Suro akan mengajari kalian membentuk benang chakra itu melalui cara lain."


"Sebelum aku menjabarkan cara lain yang memungkinkan kalian mampu membentuk benang chakra seperti milikku, sebaiknya aku ceritakan hal ihwal keputusanku untuk menggunakan benang chakra."


"Alasan pertama jurus ini diilhami jurus milik Mahesa pemilik tujuh pedang terbang, kedua pada jurus Mahesa penggunaan benang khusus untuk mengatur pergerakan memiliki banyak kelemahan."


"Meskipun jurus ini hanyalah tiruan, tetapi justru jurus ini lebih sempurna. Karena justru jurus ini menutupi kekurangan yang dimiliki jurus Mahesa. Karena jurus miliknya masih menggunakan benang khusus yang banyak memiliki kelemahan."


"Dengan menggunakan benang chakra akan membuat pergerakan bilah pedang semakin mudah dikendalikan. Selain itu tidak akan membuat pengendalian bilah pedangnya mudah terputus."


"Cara lain yang aku sebutkan di awal barusan, mampu membentuk benang chakra seperti melalui ilmu tapak dewa matahari. Cara yang aku maksud adalah melalui pelatihan meditasi pertiwi akasa. Cara ini akan menggantikan peran ilmu tapak dewa matahari. Tetapi dengan cara ini batas bilah pedang yang dapat dikendalikan maksimal hanya sepuluh bilah pedang."


"Dengan meditasi pertiwi akasa akan dapat menyerap kekuatan langit dan bumi. Kekuatan itu diperlukan untuk membantu membuka chakra kecil diujung jari."


"Setelah terbuka chakra kecil itu, maka kekuatan langit dan bumi yang diserap dapat dipancarkan menjadi energi teja surya atau kekuatan sinar matahari. Energi itu adalah perwujudan dari benang chakra."


"Latihan ini tidak akan mudah dilewati. Ada proses panjang yang tidak semudah dalam bayangan. Karena untuk menggunakan jurus ini harus mampu membuka chakra nadi kecil yang ada diujung jari terlebih dahulu. Maka latihan awal adalah memastikan kalian mampu melakukan tahap awal itu. Agar kalian mampu memancarkan benang chakra dari ujung jari kalian nantinya."


"Pada meditasi pertiwi akasa tahap awal, yang harus kalian lakukan adalah mengumpulkan kekuatan langit yang terpusat di chakra sahasrara yang berada di ubun-ubun. Kemudian disalurkan ke nadi anahata dijantung. Setelah mampu mengumpulkan kekuatan langit dijantung, maka energi itu akan bergabung dengan kekuatan bumi yang dikumpulkan dari chakra muladhara. Pengabungan energi itu selanjutnya disalurkan ke arah nadi yang bermuara pada chakra kecil di ujung jari tangan."


"Walaupun cara mengumpulkan chakra ini memiliki cara yang hampir mirip seperti dalam ilmu tapak dewa matahari, namun itu sesuatu hal yang berbeda."


"Penjelasanku yang panjang lebar itu sebenarnya dapat disingkat hanya dalam beberapa kata, yaitu kalian akan bermeditasi dibawah terik matahari selama beberapa hari ini. Jadi secara tidak langsung kalian akan dijemur dibawah terik matahari selama berhari-hari."


Mereka bertiga kemudian tanpa sadar mulai saling berpandangan. Mahadewi terlihat begitu gelisah.


"Apa tidak ada cara lain kakang?" Mahadewi sebagai putri kedaton tentu terasa berat jika harus dijemur dibawah terik selama waktu yang cukup lama.


"Ada cara lain, yaitu mengikuti jurus yang digunakan Mahesa, yaitu dengan menggunakan benang khusus." Jawaban Suro barusan membuat Mahadewi masygul. Tetapi sepertinya Suro pura-pura tidak melihatnya. Justru dia kembali melanjutkan ucapannya tanpa menatap reaksi dari Mahadewi yang dapat terlihat jelas di raut wajahnya.


"Jika kalian sudah mampu mengerahkan teja surya yang membentuk benang chakra dari ujung jari kalian. Maka itu artinya kalian baru akan memulai berlatih menggunakan sepuluh pedang yang kalian miliki. Jangan kalian nanti berpikir langsung bisa menggunakan sepuluh bilah pedang sekaligus! Kalian akan mulai menggunakan satu bilah pedang terlebih dahulu. Kemudian secara bertahap kalian akan mampu menggunakan sepuluh bilah pedang."


Selama menunggu latihan Dewa Pedang dan Dewa Rencong selesai, kegiatan yang Suro lakukan hanya berkutat pada kegiatan dirinya untuk terus mempelajari kitab dewa racun. Dan melatih jurus sepuluh bilah pedang terbang kepada tiga orang tersebut.


Biasanya Suro mulai sibuk bergelut dengan bahan-bahan yang digunakan untuk meracik racun dan membuat penawarnya bersama Kolo weling, setelah dia selesai melatih mereka bertiga dengan jurus sepuluh bilah pedang terbang.


**


Ditunggu dukungannya dan komentarnya