SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 200 Gerbang Perguruan Pedang Surga



Setelah penampakan semburan para naga yang melontarkan api warna merah yang berkobar dengan demikian hebatnya, membuat harapan hidup dua pendekar itu seperti sebentar lagi akan tamat. Apalagi tetua Dewi anggini, dia sudah begitu putus asa. Dia berpikir riwayatnya sebentar lagi habis, sebelum sebuah suara yang terdengar menggelegar dibelakang mereka berdua.


"Kemarahan Sang Hyang Garuda!"


Sebelum lautan api didepan mereka menelan tubuh dua manusia itu, mendadak sebuah penampakkan lain yang muncul bersamaan dengan suara barusan. Penampakan itu lewat diatas mereka berdua.


Bersamaan dengan teriakan Suro sebentuk burung raksasa yang berupa kobaran api hitam melesat dengan cepat, kemudian menghadang semburan naga yang datang. Bukan hanya menghadang, tetapi menelan semua api dari semburan para naga.


Setelah itu dia bergerak cepat menyergap para naga, kemudian dia menyelimuti semuanya dalam kobaran besar api hitam. Selesai dengan para naga raksasa, burung raksasa itu menukik ke bawah kemudian mengembangkan sayapnya sedemikian lebar dan menyapu bersih para serigala yang hendak menyantap Dewa Pedang.


Bersama setiap gerakan api itu juga melibas habis semua hawa kegelapan yang dilewati.


"Anak ini selalu saja membuatku kagum." Dewa Pedang terkesima dengan serangan yang dikerahkan Suro. Sebab serangan itu ampuh menghabisi semua musuh yang berupa makhluk yang hampir mustahil untuk bisa dibunuh.


"Ketemu juga akhirnya! Sukurlah akhirnya aku masih ada waktu sehingga tidak terlambat! Maaf paman, Suro datang agak terlambat!" Suara Suro terdengar dari kejauhan dan mulai mendekat ke arah mereka berdua.


"Apakah paman dan tetua baik-baik saja?"


"Aku pikir nakmas tidak datang menyusul ke alam ini?" Dewa Pedang akhirnya cukup lega setelah melihat kedatangan Suro.


Setelah semua musuh lenyap, maka api hitam yang bergerak dengan ganas itu ditarik kembali oleh Suro.


Melihat kedatangan Suro barusan, membuat senyum Dewa Pedang menjadi begitu cerah. Begitu juga apa yang terlihat diwajah tetua Dewi anggini, setelah melihat dahsyatnya serangan api hitam milik Suro yang melibas habis semua makhluk didepan mereka, kini hatinya menjadi tenang.


Suro kemudian menceritakan kepada mereka berdua tentang alasan mengapa dia dan Dewa Rencong tidak segera datang menyusul. Dua orang yang mendengar itu terlihat mengangguk-anggukkan kepala.


"Jadi begitu, seperti kejadian yang lalu, saat kita mengejar eyang Sindurogo. Aku paham sekarang mengapa kita dulu tidak dapat bertemu dengan eyang Sindurogo. Sukurlah hampir saja nasib kami berdua seperti yang dialami gurumu nakmas. Untung nakmas keburu datang, sebab aku tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi makhluk yang tidak bisa dimusnahkan itu?"


"Seperti dugaanku api hitammu memang mampu diandalkan nakmas." Senyum Dewa Pedang terus mengembang menatap Suro.


"Lalu dimana kakang Dewa Rencong? Mengapa nakmas datang sendirian?"


"Ada dibelakang menyusul bersama sisa pasukan Medusa yang berhasil Suro kembalikan wujudnya menjadi manusia. Sebab mereka sebelumnya berupa manusia kelelawar!" Suro lalu mengajak dua pendekar itu turun ke bawah sambil menunggu Dewa Rencong yang masih berada dibelakang.


Dua pendekar itu terkejut mendengar ucapan Suro barusan mereka terlihat berpandangan mata tidak memahami ucapan Suro.


Suro kemudian menarik nafas sebelum mulai bercerita panjang lebar.


"Dalam perjalan mencari paman dan tetua, kami juga menemukan beberapa hal yang sebaiknya paman dan tetua ketahui."


"Mengenai apa itu nakmas?" Dewa Pedang terlihat begitu penasaran begitu juga tetua Dewi Anggini, tetapi dia lebih memilih menjadi pendengar setia.


Suro kemudian menceritakan secara lengkap semua hal yang dia temui. Termasuk dia juga bercerita mengenai ancaman kebangkitan Dewa Kegelapan seperti yang diceritaakn Geho sama.


"Jadi kisah tentang Geho sama itu memang benar adanya?" Tetua Dewi anggini sampai tidak percaya dengan apa yang di ceritakan Suro.


Dewa Pedang dalam beberapa saat tidak mampu berkata apa-apa. Apa yang diceritakan Suro sesuatu hal yang sangat mengejutkan bagi mereka berdua, tidak sekalipun mereka berdua membayangkan. Ternyata masalah yang sedang mereka hadapi melebar dan menjadi serumit sekarang. Karena melibatkan seluruh jagat raya.


"Itu mereka sudah datang!" Suro menunjuk ke arah datangnya Dewa Rencong yang terlihat berlari diikuti beberapa orang.


Dewa Pedang dan juga tetua Dewi Anggini justru menoleh berkali-kali ke arah Suro dan ke arah Dewa Rencong. Mereka bahkan sampai mengusap-usap kedua matanya seakan mata mereka ada yang salah.


Suro justru memicingkan mata melihat tingkah dua pendekar didepannya.


"Ada apa paman? Sepertinya ada yang aneh?"


"Mataku apa ada yang salah mengapa disana paman melihat nakmas juga? Siapa dia?" Dewa Pedang masih mengucek-ngucek matanya.


'Manusia gemblung bukan jarimu yang salah, tetapi kamu belum bisa memecah tubuhmu lebih dari dua. Kamu perlu latihan lagi untuk menguasai sepenuhnya ilmu sihirku. Tetapi aku cukup kagum kau yang baru menyerap pengetahuanku langsung bisa menggunakannya. Walaupun hanya bisa memecah tubuhmu menjadi dua itu sesuatu keajaiban.' Gagak setan dalam kesadaran Suro memaki-maki melihat Suro mencoba memecah tubuhnya lebih dari dua, dengan menjentikkan jarinya seperti yang pernah dia contohkan.


"Oook begitu...baiklah." Suro menggumam pelan.


"Baikah apanya nakmas?" Dewa pedang menatap Suro yang terlihat termenung sebentar sambil menatap ujung jempolnya yang berkali-kali digunakan untuk menjentikan jari. Melihat hal itu membuat Dewa Pedang menjadi sedikit khawatir.


Dia khawatir jika muridnya itu menjadi sedikit kurang waras karena keberatan ilmu. Mengingat sekarang umurnya masih berumur sebelas tahun. Walaupun dari luar dia terlihat seperti anak berumur tujuh belas atau justru seperti anak sembilan belas tahun, karena postur tubuhnya yang jangkung tetapi berotot.


"Bukan apa-apa paman, itu hanya tubuh ilusiku saja. Ini adalah bagian ilmu sihir yang aku peroleh dari Gagak setan atau Geho sama si tuan penyihir."


"Ilmu sihir dari Geho sama?" Tetua Dewi Anggini terkejut mendengar penuturan Suro dia kembali terkejut.


"Maaf tadi Suro lupa menceritakan bagian dimana Suro telah menghisap mustika jiwa dari Geho sama. Sehingga antara dirinya dan diriku menjadi satu. Bisa dikatakan jika Geho sama sekarang menjadi pengikutku."


Demi mendengar ucapan Suro barusan Dewa Pedang mulai memijat-mijat keningnya.


"Aduuuh kepalaku pusing! Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya kamu itu sebenarnya jenis manusia apa? Selain itu anak siapa sebenarnya kamu ini, nakmas? Bagaimana mungkin siluman sekuat Geho sama, mampu kamu serap jiwanya?"


"Entahlah paman aku ini anak siapa? Sampai sekarang belum ada orang tua yang mengakui aku sebagai anaknya!" Suro menjawab dengan asal sambil menoleh ke arah Dewa Rencong yang berlari semakin mendekat.


"Bagaimana paman lebih menyehatkan bukan jika sambil berlari?"


"Matamu!" Dewa Rencong mendengus kesal.


Hal itu dikarenakan dia dengan terpaksa harus berlari lebih pelan. Sebab sebelumnya saat dia berlari cepat, empat orang dibelakangnya yang mengikuti kecepatan larinya, sampai dibuat tersenggal-senggal nafasnya seperti orang yang sudah hampir mati.


Suro terkekeh mendengar makian Dewa Rencong.


Dewa pedang terlihat takjub menatap kembaran Suro didepannya yang benar-benar mirip, walaupun ekspresi wajahnya tidak ada.


"Luar biasa baru kali ini aku melihat ilmu sihir tingkat tinggi!" Dewa Pedang berdecak kagum.


"Apakah kemampuan yang dimiliki pecahan tubuhmu ini memiliki kekuatan yang setara denganmu nakmas?"


"Entahlah paman guru, tetapi sebaiknya kita keluar dari alam ini sesegera mungkin. Gagak setan alias Geho sama baru saja membisiki diriku. Akan sangat berbahaya bagi paman dan semua jika kita berlama-lama di alam ini. Sebab hawa kegelapan di alam ini mampu merebut jiwa dan menguasai tubuh manusia dengan cepat. Dan hawa kegelapan tanpa paman sadari semua, sebenarnya telah masuk ke dalam tubuh."


"Mumpung jumlahnya belum banyak kita harus segera keluar."


"Keluar lewat mana bocah, aku sudah tidak tau dimana kali pertama kita datang. Kita tidak tahu lagi dimana tepatnya posisi gerbang gaib yang sebelumnya mengantarkan kita. Entah bagaimana caranya kita mampu kembali ketempat semula di Karang ampel?" Dewa Rencong menghela nafas panjang.


"Jangan khawatir paman, Geho sama yang menulis kitab formasi sihir gerbang dimensi. Dia telah menyempurnakan ilmu itu lebih praktis. Dan dia juga yang telah menciptakan penjara untuk dirinya sendiri. Sebab ilmu itu justru digunakan muridnya, yaitu empat ksatria untuk menjebloskan dirinya tertahan di alam ini. Sungguh sial nasib siluman Geho sama. Hahaha...!" Suro tertawa sendiri.


Setelah menyerap jiwa Geho sama, maka semua pengetahuan dan kekuatannya ikut terserap ke dalam tubuhnya. Begitu juga pengalaman dan perasaan yang dimiliki siluman itu bisa diketahui Suro. Karena itulah Suro menertawakan nasib Geho sama sebagai siluman terkuat dan juga makhluk terkuat dimuka bumi pada waktu itu, tetapi justru harus berakhir dan mendekam dialam lain. Dan tragisnya lagi untuk memenjarkan dirinya salah satunya dengan menggunakan ilmu sihirnya yang mampu berpindah ke dimensi alam lain.


'Manusia sialan, kau tau apa yang paling sial dari seluruh perjalanan hidupku? Yaitu harus bersatu dengan manusia gemblung sepertimu!' Demi mendengar makian Geho sama, Suro tertawa bertambah keras.


Semua orang yang melihat menatap penuh khawatir.


'Gawat nakmas Suro sepertinya sudah keberatan ilmu.' Dewa Pedang hanya bisa membatin tidak berani berbicara langsung.


"Bocah gemblung! Kalau gendengmu sudah mau kumat, kamu tunda dulu. Antarkan kami dahulu keluar dari alam sialan ini!"


'Iya keluarkan kita dari alam sialan ini!' Geho sama ikut menyahut ucapan Dewa Rencong, walau yang mendengar hanya Suro sendiri.


Seperti ucapan Suro sebelumnya, jika gerbang gaib yang dibuat Suro kali ini memang lebih sempurna. Sebab kali ini mereka bukan hanya tidak salah alamat, mereka juga langsung sampai di gerbang Perguruan Pedang Surga.