
"Sejauh pengetahuanmu jenis makhluk seperti apa yang telah kau hadapi sampai mengakibatkan seluruh kawasan padepokanmu hancur seperti ini?"
Eyang Sindurogo bertanya kepada Dewa Pedang ingin menyelidiki makhluk yang akan dia hadapi. Sebab sejauh ini baru Dewa Pedang yang mampu membuat luka disekujur tubuh Naga raksasa. Bukan sebuah luka biasa tetapi dia berhasil memotong badan makhluk tersebut.
"Aku tidak tau jenis makhluk apa. Seperti seekor naga dan sama memiliki kemampuan menyemburkan api dari mulutnya. Tetapi makhluk ini dapat berdiri dengan kedua kakinya selayaknya manusia. Walau beberapa kali dia berjalan dengan keempat kakinya. Besarnya hampir seperti gunung belum pernah aku lihat makhluk sebesar itu."
"Kekuatan penyembuhnya yang sangat mengagumkan sekaligus menakutkan dimiliki raksasa sebesar itu menjadikannya makhluk tak terkalahkan. Makhluk yang hampir mustahil mampu dibunuh."
"Padahal sudah aku belah berkali-kali tetapi entah kenapa belum ada seperempat seminuman teh semua luka yang timbul akibat seranganku telah pulih kembali."
"Bahkan serangan terakhir telah membuat luka yang cukup banyak dan beberapa bagian tubuhnya mampu kami potong"
"Meskipun begitu anggota tubuh yang terpotong seakan enggan jatuh justru kembali seperti ditarik oleh sesuatu kekuatan yang menyatukan kembali anggota tubuhnya dan tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun."
"Sepertinya Maharesi tidak terkejut mendengar makhluk itu tidak bisa mati. Apakah Maharesi pernah bertempur dengan jenis makhluk yang tak bisa dibunuh?"
Ekspresi Eyang Sindurogo yang tak terkejut justru seakan sedang mengingat sesuatu membuat Dewa Pedang menaruh curiga ada hal yang dia tutupi.
"Aku sudah mendengar cerita dari Maha Patih Lembu Anabrang tentang kemampuan makhluk itu."
"Tetapi kemampuan makhluk itu mengingatkanku pada peristiwa sekitar empat ratus tahun yang lalu. Aku pernah menghadapi manusia yang tak mati walau kepalanya telah putus. Walau kepalanya aku hancurkan tetapi mereka bisa cepat pulih kembali. Sedikit banyak mirip dengan kemampuan makhluk yang barusan kamu ceritakan. Perbedaannya terletak pada wujudnya saja."
"Dalam pertarungan itu aku telah menghabisi hampir semua musuhku tetapi ada satu orang yang telah melarikan diri. Sampai sekarang aku tak menemukan jejaknya kembali dan aku masih mencarinya."
"Dia adalah salah satu dedengkot yang memiliki ilmu sejenis seperti kemampuan makhluk itu dan yang paling bertanggung jawab atas banyaknya korban manusia."
"Apakah mungkin ini berkaitan dengan seseorang yang berasal dari masa lalu Maharesi?"
"Entahlah tetapi ada satu nama yang mencuat didunia persilatan berasal dari Benua Tengah dia memiliki seorang guru yang namanya mirip dengan musuhku yang lolos waktu itu. Nama gurunya sama dengan musuhku yang kabur yang bernama"Bathara Karang".
"Dari kabar yang terdengar sama-sama memiliki kebiasaan mengumpulkan tumbal untuk praktek ilmu sesat mereka."
"Tetapi aku tidak begitu yakin bahwa dia orang yang sama sebab hampir setahun yang lalu telah aku habisi muridnya dengan kondisi hanya menyisahkan kakinya saja. Tetapi saat aku bunuh dia tidak menunjukan kemampuan yang sama seperti yang dimiliki para musuhku."
Eyang Sindurogo sedang berpikir untuk menyusun rencana mengalahkan makhluk yang katanya sebesar gunung. Berbagai kemungkinan untuk rencana terbaik yang bisa dijalankan sudah beberapakali dia pikirkan, tetapi belum menemukan rencana yang tepat.
Selain daripada itu belum ada yang bisa menemukan dimana persembunyian makhluk raksasa tersebut. Dengan bentuknya sebesar gunung adalah sesuatu hal yang aneh bisa menghilang dengan cepat setiap kali melakukan penyerangan.
"Dalam serangan terakhir, kami melakukan sebuah serangan serentak yang mengakibatkan luka yang parah pada makhluk itu. Aku lihat ada jeda waktu sedikit lebih lama kekuatan regeneratifnya dibandingkan serangan yang aku lakukan sendiri."
"Dengan kesimpulan itu jika mampu melukainya dengan lebih parah secara bersama-sama mungkin akan membuka celah waktu yang lebih lama sebelum makhluk itu pulih."
Dewa Pedang menjelaskan fakta yang dia dapat dari efek serangan terakhir. Akhirnya diketahui ada jeda waktu lebih lama untuk memulihkan tubuhnya kembali seperti semula, walau tak begitu terlihat.
"Dengan mengunakan kekuatan jurus yang diciptakan muridmu mungkin kita bisa membuat peluang itu dan kemungkinan jeda waktu yang dibuat akan jauh lebih lama."
"Seberapa yakin dirimu mampu memenangkan pertarungan berikutnya?"
"Aku tidak bisa memperkirakan seberapa besar keberhasilannya karena daya perusak makhluk itu sangat besar."
"Pasti bukan pertarungan yang mudah!"
Dewa Pedang matanya menerawang saat mengucapkannya dia teringat kembali pertempuran yang membuat perguruannya hancur lebur.
"Andai saja potensi muridku sudah mendekati puncak dan terjadi di waktu siang hari mungkin muridku akan menjadi kartu shakti untuk kemenangan pertarungan berikutnya."
"Apakah Maharesi tidak terlalu berlebihan jika kartu shakti kita adalah murid yang masih bocah. Aku memeriksa tulangnya masih berumur hampir delapan tahun walau fisiknya seperti anak lima belas tahun."
"Kau akan tau saat bertempur bersamanya sehebat apa! Tetapi itu mungkin nanti jika sudah mencapai atau minimal mendekati potensi puncaknya."
"Ya...untuk sekarang mungkin belum. Lalu bagaimana dengan tempat persembunyian makhluk itu apakah sudah ada yang telah mampu menemukannya?"
Eyang Sindurogo menanyakan tentang sarang makhluk itu. Sesuatu yang telah dia pikirkan sejak diceritakan Maha Patih Lembu Anabrang tentang makhluk yang begitu besar bisa menghilang setiap selesai melakukan penyerangan.
"Tetapi aku melihat sendiri seberapa cepat dia terbang bahkan susah bagi kita untuk mengejar. Kecuali kita menumpang dibadannya tanpa dia sadari!"
"Ide yang bagus dengan begitu kita bisa menemukan dimana tempat persembunyiannya."
"Itu terlalu beresiko, Maharesi belum melihat seberapa cepat makhluk itu terbang. Kemungkinan untuk jatuh sangat besar."
"Aku sudah berada di tingkat langit. Dengan pencapaian yang aku miliki membuat diriku mampu terbang. Jadi bukan masalah jika seandainya aku sampai terjatuh."
Perbincangan dua tokoh itu panjang lebar membahas kemungkinan yang bisa diambil jika menemukan makhluk raksasa itu. Eyang Sindurogo masih menggali informasi mengenai makhluk tersebut kepada Dewa Pedang walau sebenarnya tidak terlalu banyak, karena hampir semua sudah dikatakan Mahapatih Lembu Anabrang kepadanya.Mereka berdiskusi sampai senja hampir hilang berganti malam.
**
Di Bumi belahan lain malam telah melingkupi daerah itu lebih cepat. Dengan ditandai hilangnya sinar senja matahari di langit dan telah sepenuhnya digantikan perannya oleh purnama yang bercahaya temaram menerangi malam dilangit sekitar Kerajaan Kendan. Sebuah kerajaan yang akan menjadi cikal bakal dari Kerajaan Galuh.
Burung-burung pun sudah mulai kembali kesarangnya. Semua para binatang siang telah diganti perannya oleh para binatang malam yang mulai keluar dari sarangnya. Tetapi sebuah penampakan diufuk timur ditemani cahaya rembulan yang telah datang mengantikan peran sang surya, sebuah teror telah muncul bersama kedatangan cahaya rembulan. Sebuah teror yang akan memakan begitu banyak korban manusia telah mendekat ke kawasan Kerajaan Kendan.
Sebuah sosok yang terbang dengan sangat cepat dengan kekuatan yang begitu luar biasa bahkan awan seperti tercerai berai terhantam efek kepakan sayap yang membentang dengan begitu hebatnya.
Keraton Kendan kini menjadi target serangan makhluk itu. Semburan api segera menghajar menara tempat para prajurit pemanah yang mencoba menghentikan pergerakannya.
Tanda bahaya bertalu-talu mengema bersama teriakan-teriakan minta tolong bercampur baur bersama ledakan dari semburan Naga raksasa yang seakan hantaman meteor yang jatuh dari langit.
Kerajaan Kendan dipimpin seorang raja yang bernama Sang Kandiawan. Disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Layuwatang. Kerajaan Kendan merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanegara.
Para prajurit kerajaan segera mengungsikan sang raja beserta seluruh keluarga dan juga hulu balang kerajaan untuk sesegera mungkin menjauh dari medan tempur menuju tempat yang lebih aman.
Serangan raksasa yang tak mereka duga tentu membuat kelabakan semua pihak. Lemparan batu-batu berapi dari berpuluh-puluh ketapel besar menghantam tubuh Naga yang membalasnya dengan semburan api yang sangat dahsyat. Api segera menghanguskan sisi timur benteng kerajaan.
Kehancuran yang ditimbulkan monster itu seakan tak terhentikan perlawanan dari kerajaan berbentuk lontaran batu-batu yang panas menyala tak menghentikan pergerakan monster itu. Panah-panah api meluncur tak terhitung jumlahnya menghujani tubuh monster tetapi tidak ada satupun yang mampu menancap.
Bahkan tombak-tombak yang dilemparkan para prajurit dari atas tembok kerajaan seakan menghantam dinding batu.
Panglima perang Mahapatih Singaranu bersama adipati Lowo Ireng mengerahkan seluruh prajuritnya berusaha sekeras mungkin menahan serangan raksasa.
Bahkan para jagoan dari pihak kerajaan banyak dari mereka telah dimakan Naga raksasa tersebut.
Ratusan jagoan tingkat tinggi yang dimiliki Kerajaan Kendan terus merangsek ke arah naga yang perhatiannya tertuju kepada para prajurit yang menjaga benteng kerajaan. Berpuluh-puluh sudah prajurit menjadi santapannya.
Para jagoan tingkat tinggi segera menghajar ketubuh rhaksasa itu mengunakan ilmu terkuat dengan tenaga penuh.
Para jagoan itu dipimpin seorang pendekar yang terkenal bernama Eyang Raga Dewa sebilah kujang ditangannya menebarkan aura kekuatan yang mengerikan. Bernama Kujang sakti Roh Harimau putih.
Sosok pendekar yang disegani itu dengan cepat menerjang ke arah Naga raksasa. Gerakannya yang gesit mampu beberapa kali berkelit dari serangan Naga.
Kemampuan meringankan tubuhnya sungguh luar biasa bergerak cepat lari terus naik keatas menuju bahu monster. Kemudian dengan sebuah loncatan melemparkan tubuhnya diatas kepala monster. Dengan gerakan yang cepat dia lalu segera menancapkan Kujang tepat dikepala Naga Itu.
"Bledaar!!
Sesuatu yang tak di sangka Naga itu menghantamkan kujang dan pemiliknya ke arah tembok benteng istana disisi Timur. Benteng itu langsung hancur runtuh sepanjang hampir sepuluh tombak.
Untung Eyang Raga Dewa telah mencabut kujang tersebut sambil menorehkan luka keatas sepanjang hampir satu tombak membelah tengkorak kepala Naga, sebelum dia bersalto dan mendarat di leher Naga tersebut.
"Duuuum!!
Sebuah pukulan keras dari Jurus Pukulan Penghancur Gunung milik Eyang Raga Dewa menghantam leher monster menimbulkan sebuah ledakan yang menghancurkan leher dan kepala bagian belakang. Kekuatan yang sangat mengagumkan.
Selesai itu dengan sangat cepat tangannya kembali menancapkan kujangnya yang besar dan membuat luka sekaligus menghancurkan tulang belakang membentuk garis lurus dari leher sampai tulang belakang disamping tulang belikat.