
"Mengapa kau membiarkan bocah itu tetap hidup, justru meminta Sang Hyang Sukmo Ngalemboro menghabisi bocah itu?" Sesosok lelaki yang berdiri disamping Batara Sarawita menatap tajam ke arah dirinya.
Mereka berdua tetap berada diatas Menara ditengah-tengah wilmana. Agaknya mereka berdua sedang menunggu pertarungan yang sebentar lagi terjadi, antara seorang murid melawan gurunya sendiri.
"Apakah Hyang Antaga tidak menyaksikan pertarunganku barusan? Saat aku mencoba mencari tau kemampuan bocah yang bisa sampai di wahana terbang wilmana ini." Batara Sarawita balik menatap tajam ke arah lelaki berbadan tambun disebelahnya itu.
"Ya tentu saja aku melihatnya. Bocah itu menyerangmu dengan jurus Tapak Dewa Matahari. Lalu apa hubungannya keputusanmu untuk tidak segera menghabisinya, justru meminta bantuan Sang Hyang Sukmo Ngalemboro untuk menghabisinya. Apakah kau tidak berpikir, jika keputusanmu ini bisa merusak seluruh rencana besar kita?"
"Apa kau tidak bisa menalar, jika seorang bocah mampu berada ditempat yang setinggi ini, tentu bukan bocah sembarangan. Apalagi dengan kekuatan racun api yang berwujud api hitam itu dengan mudahnya menghancurkan seluruh pasukan siluman yang kita himpun?"
"Lihatlah menara ini jika tanpa kekuatan Sang Hyang Sukmo Ngalemboro tentu wilmana ini juga ikut habis terbakar. Kekuatan bilah Pedang Pembunuh iblis ditangan bocah itu menjadi belipat-lipat setelah berubah menjadi Pedang kristal Dewa. Seharusnya kau mengetahui bocah ini memiliki kemampuan yang bisa merusak rencana besar kita!" Lelaki yang memiliki sebutan Hyang Antaga itu terlihat marah dengan keputusan Batara Sarawita.
"Tenangkan pikiranmu Hyang Antaga. Justru aku sedang memastikan rencana kita berjalan lancar. Setelah kekuatan Sang Hyang Sukmo Ngalemboro mengambil alih kesadaran Sindurogo, kita belum mampu memastikan, apakah jiwa Sindurogo telah tersegel secara sempurna atau tidak." Batara Sarawita berhenti berbicara, matanya menatap ke arah Eyang Sindurogo yang melayang turun dengan pelan. Suro justru terlihat tenang meski lawannya adalah seseorang yang tidak mungkin bisa dikalahkannya, dia justru masih menunggu gurunya yang turun melayang itu dengan tatapan tajamnya.
"Setelah mengukur kekuatan bocah itu, walaupun pedang dan zirah yang menutupi tubuhnya itu kemungkinan besar setara dengan pusaka Dewa, tetapi aku dapat memastikan kekuatannya yang mampu menghabisi siluman sebegitu banyaknya adalah semata-mata api hitam yang terkandung dalam bilah Pedang Kristal Dewa. Kekuatannya untuk saat ini belum menjadi ancaman yang bisa menyebabkan kegagalan rencana kita. Aku bisa menjaminya." Batara Sarawita menatap Hyang Antaga yang masih menunggu seluruh penjelasannya.
"Setelah mengetahui kekuatannya dan mengetahui bahwa dia adalah murid Sindurogo, maka aku justru menemukan sebuah ide untuk menggunakan bocah itu menjadi bahan percobaan. Bocah itu akan membantu kita menguji kesadaran Sindurogo telah tersegel sempurna atau belum. Bocah itu adalah bagian dari masa lalu Sindurogo. Jika dia masih mengenali dan tidak tega menghabisi, tentu itu bisa menjadi tanda jiwanya belum tersegel dengan sempurna. Sehingga masih ada kesempatan bagi kita untuk memperkuat segel jiwa yang mengurung kesadaran Sindurogo. Sehingga dengan itu bisa menjamin rencana besar kita berjalan lancar."
Hyang Antaga mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Batara Sarawita.
"Benar sekali itu, kita harus memastikan jika Sindurogo sepenuhnya tersegel dengan sempurna. Sehingga kekuatan Sang Hyang Sukmo Ngalemboro bisa menguasai wadak Sindurogo, sampai kita bisa melepaskan kekuatan dan juga tubuh Sang Hyang Junjungan yang sejati." Hyang Antaga menanggapi penjelasan Batara Sarawita dengan sebuah senyuman.
"Kita sudah merencanakan ini cukup lama, tentu saja aku tidak membiarkan kesalahan sedikitpun yang bisa merusaknya. Apalagi kita sudah menghabiskan waktu ratusan tahun, hanya untuk memastikan bahwa tubuh Sindurogo benar-benar telah mendapatkan berkat tirta amerta. Tentu aku tidak akan mensia-siakan waktu yang sudah kita gunakan ini."
"Apalagi setelah kekuatan Sang Hyang Sukmo Ngalemboro merasuk kedalam wadak Sindurogo kekuatannya terserap dengan sempurna. Bahkan wadak yang sekarang ini lebih kuat dibandingkan wadaknya yang sebelumnya, yaitu siluman burung yang masih tersegel di alam lain. Tentu ini tidak akan kita biarkan lepas." Batara Sarawita menambahkan perkataannya sambil kembali menatap Hyang Antaga.
"Benar aku setuju dengan keputusanmu. Apalagi tidak mudah mendapatkan wadak sebagus wadak milik Sindurogo ini. Mungkin karena berkat dari tirta amerta yang membuat tubuhnya setara dengan tubuh abadi dan juga tingkat langit yang telah dia capai membuat tubuhnya mampu menampung kekuatan Sang Hyang Sukmo Ngalemboro." Hyang Antaga matanya tidak lepas dari gerakan Eyang Sindurogo yang turun sambil melepaskan aura kegelapan dari tubuhnya.
"Usaha kita menjebaknya dengan mengutus Banteng iblis sangatlah tepat. Beruntung sambil menunggu selama ratusan tahun usaha kita menciptakan makhluk dari campuran segala makhluk dengan daya kehidupan yang begitu mengerikan akhirnya membuahkan hasil."
Batara Sarawita mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman yang sangat janggal. Sebab dua taring yang mencuat dari sela-sela bibirnya, justru membuatnya terlihat mengerikan.
"Benar sekali tanpa Banteng iblis alias si Lembu jahanam itu, tentu rencana kita tidak akan berjalan lancar. Hahahaha..!" Hyang Antaga tertawa lepas dan disusul Batara Sarawita. Mereka tertawa penuh kemenangan melihat hasil rencana mereka terus berjalan mulus.
**
Eyang Sindurogo turun dari ketinggian sambil melayang. Tubuhnya yang turun secara perlahan semakin terlihat lebih jelas. Dari sela tubuhnya, sebuah aura yang begitu kelam telah merembes keluar dengan sangat pekat. Begitu pekatnya aura itu bahkan menyerupai jelaga yang bergerak-gerak sendiri seakan hidup.
Matanya yang menyala merah seperti keluar api dari kedua matanya, semakin menjelaskan bahwa dia bukanlah sosok yang sama dengan Eyang Sindurogo yang juga mendapatkan gelar lelananging jagat itu. Sosok yang hendak menghabisi muridnya sendiri itu adalah sosok yang lain, meski dengan wadak yang sama
"Aku adalah awal dari segala yang ada di alam ini. Aku lah yang seharusnya menjadi penguasa satu-satunya. Karena kalian semua yang berasal dari unsur catur mahabhuta, sesungguhnya dari sebuah ketiadaan. Akulah penguasa akasa yang sebenarnya. Aku sudah menjadi penguasa yang ada, saat bhuana agung, jagat agung ini belum diciptakan."
Suro yang telah melihat dan mendengar suara gurunya menjadi ngeri. Karena aura kekuatan dan juga suara yang keluar dari mulutnya, bukanlah milik gurunya. Bahkan seakan dia sedang berhadapan dengan orang lain.
"Apakah kalian sudah lapar anak-anakku?" Matanya yang memerah itu menatap ke arah kanan dan kiri. Tetapi entah sedang berbicara dengan siapa? Sebab tidak ada siapapun disisi kanan dan kirinya.
Mendadak dari aura kegelapan yang begitu pekat seperti jelaga itu menggumpal menjadi dua gumpalan besar dikedua sisi tubuhnya. Secara cepat gumpalan itu membentuk siluet dua ekor makhluk berkaki enam dan juga memiliki tiga kepala.
"Ghhhhrrrrr...!"
"Hooooaaaarrrrgggghhh...!"
Mendadak enam kepala dari dua ekor serigala itu melesatkan semburan api besar ke arah Suro.
'Lodra cepat bantu aku lesatkan api hitammu untuk menangkis semburan api sebesar rumah ini!'
Tebasan Suro yang dilambari kekuatan api hitam yang melesat langsung menelan seluruh semburan api dari dua ekor serigala dari kegelapan itu,
'Aura ini sepertinya aku mengenalnya. Aura yang keluar dari tubuh Eyang guru ini aku pernah merasakannya. Dimana aku pernah bertemu dengan aura ini?"
Suro yang melihat dua ekor Serigala raksasa ciptaan gurunya merasakan sesuatu yang dia kenal. Dia merasa seperti pernah menghadapinya tetapi dia lupa kapan itu terjadi.
"Aku ingat sekarang aura ini aku pernah menghadapinya saat berada di dimensi lain. Tidak salah lagi, tetapi aura ini begitu kelam. Bahkan begitu kelam dibandingkan yang waktu itu."
"Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa sekarang Eyang guru telah kehilangan ingatannya. Bahkan aku tidak melihat dia mengerahkan jurus Tapak Dewa Matahari jurus andalan miliknya?"
'Lupakan itu bocah matamu apa tidak melihat makhluk dari alam kegelapan sudah bersiap hendak menghabisimu!'
"Tebasan Sejuta Pedang!"
Jurus Suro segera menghentikan gerakan dua ekor serigala itu berlari dengan cepat dan hendak menerkam tubuh Suro yang kecil, dibandingkan tubuh dua serigala itu.
Kekuatan jurus pedang terkuat digabung dengan api terkuat membuat dua ekor hancur lebur. Tetapi tubuh itu kembali utuh dan kembali mencoba menyerang Suro.
Lodra tentu saja tidak membiarkan dua ekor serigala itu terbebas dengan begitu saja. Api hitam miliknya langsung menggulung salah satu serigala itu. Dengan membuat kobaran apinya menyerupai seekor naga yang menggulung dengan cepat. Serigala yang begitu besar langsung ditelan habis oleh Lodra.
Satu ekor bergerak cepat hendak menghindar, tetapi lesatan api hitam yang membentuk naga itu langsung menggulung tubuh serigala berikutnya yang memiliki tubuh yang tidak kalah besar dari yang sebelumnya. Kemudian api itu berkobar menyelimuti seluruh tubuh serigala itu hingga lenyap tidak tersisa.
"Anakku! Kurang ajar kau telah menghabisi anakku yang baru saja aku tetaskan dari kegelapan!"
Kemudian kemarahan dari Eyang Sindurogo hitam meledak bersama hentakan kekuatan yang berasal dari tubuhnya. Bahkan wilmana bergetar hebat, karena kuatnya ledakan aura kegelapan dari tubuhnya.
Mendadak Eyang Sindurogo telah melesat cepat dan sekejap telah berada dihadapan Suro. Dia sempat memandang mata gurunya yang kini terlihat berbeda, sama sekali tidak mirip mata seorang manusia.
Duuuum!
Sebuah pukulan tangan kosong dengan kekuatan begitu besar menghantam tubuh Suro.
"Mati aku!"
Jangan kan menangkis atau menghindar, bahkan untuk melihat tangan gurunya yang menghantam dadanya saja dia tidak sempat. Dia sudah tidak sempat menyadari apapun karena semua telah menjadi gelap, sesaat setelah tangan gurunya menghantam tubuhnya. Tubuh itu langsung terlempar jauh keluar dari wilmana dan meluncur terjun bebas jatuh dari langit.