SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 283 Formasi Sihir Lima Samudera



Setelah hantaman pukulan tangan kosong milik eyang Sindyrogo mendarat keras dikepala siluman katak, maka tubuh siluman itu langsung melesat jauh kembali terpental kebelakang.


Braak!


Sesaat setelah berhasil melemparkan tubuh siluman katak, mendadak dari dalam tanah melesat wujud kelabang raksasa hendak menelan tubuh eyang Sindurogo yang masih melayang diudara dua tombak diatas permukaan tanah.


"Siluman apa lagi ini?" Eyang Sindurogo mendengus kesal, karena belum sempat bernafas lega musuh lain sudah menyusul.


Eyang Sindurogo langsung menghindari dengan menghilang menggunakan jurus Langkah Maya. Dia kemudian muncul tepat ditengah tubuh siluman itu yang masih melesat ke atas.


Semua terjadi dalam sekejab tanpa ada jeda, eyang Sindurogo segera melesatkan sinar dari ujung jari telunjuknya ke tubuh siluman kelabang.


Bldaaar!


Mendapati serangan yang tidak terduga siluman kelabang itu langsung berlindung dengan mengandalkan perisai miliknya. Perisai itu berupa kulit luar bagian atas yang sangat keras.


Siluman itu langsung menggulungkan tubuhnya menjadi semacam bola, sesaat sebelum sinar itu menghantam dirinya. Tetapi tindakannya itu justru membuat tubuhnya harus rela terlempar menyusul rekannya yang belum lama terhantam pukulan tangan kosong eyang Sindurogo.


Zraaaaat!


Namun sebelum tubuhnya terlempar dengan keras, siluman itu masih sempat melesatkan semacam cairan beracun ke arah eyang Sindurogo dari dalam mulutnya seperti semburan ular kobra.


"Aaaaakhh!"


"Sialan, tidak sempat!"


Wuuuuut!


"Apa? Aku diselamatkan dari semburan racunnya barusan?!"


Eyang Sindurogo tidak sempat menghindar, namun sesuatu yang tidak disangka terjadi. Sebab jubah yang dia gunakan mendadak bergerak sendiri dan menahan racun yang akan mengenai tubuh eyang Sindurogo. Jubah itu entah bagaimana ceritanya sepertinya merespon kepanikan tuannya yang tidak sempat menghindar.


Jubah yang dia pakai merupakan pakaian yang dia gunakan saat masih menjadi wadah dari Dewa Kegelapan. Sebuah jubah kebesaran yang tidak diketahui apa kehebatannya.


Setelah terserang oleh racun milik kelabang, justru membuat eyang Sindurogo dapat mengetahui keistimewaan dari jubah hitam yang menyerupai jubah milik bangsawan dari Benua Barat.


"Ternyata jubah ini memiliki keistimewaan yang tidak terduga sama sekali. Selain dapat bergerak sendiri seperti memiliki pikiran sendiri, jubah ini juga mampu menetralisir racun yang mematikan seperti semburan racun siluman barusan."


"Sungguh mengagumkan sekali, aku baru tau jubah ini ternyata sebuah pusaka tingkat tinggi. Mengapa sejak aku tersadar tidak mengetahuinya?" Eyang Sindurogo cukup terkesima dengan kemampuan jubah yang selama ini dia gunakan.


Eyang Sindurogo memutuskan tetap menggunakan jubah itu dan tidak menggantinya dengan pakaian resi, selain karena merasa nyaman, ada hal lain. Salah satunya adalah terkait keputusannya meninggalkan dunia pertapaannya dan memilih kembali ke kancah dunia persilatan untuk menghentikan bencana yang diakibatkan bangkitnya Dewa Kegelapan.


"Tetapi sepertinya jubah ini hanya bereaksi saat dalam keadaan terpepet saja. Sebab sebelumnya aku tidak pernah melihat kemampuannya yang dia perlihatkan seperti barusan."


Melihat dua siluman menyerang eyang Sindurogo secara berturut-turut, maka Dewa Rencong dan Geho sama segera melesat mendekat ke arah pendekar itu. Mereka melakukan itu setelah berhasil menghabisi lawan masing-masing.


"Tuan guru, apakah kita sebaiknya kembali saja ke arah tuan Suro? Sebab dia sekarang menghadapi seluruh pasukan musuh didepan sana sendirian!" Geho sama cukup khawatir melihat gempuran musuh yang sudah mengepung benteng besar yang dikerahkan Suro.


Geho sama cukup khawatir dengan keselamatan Suro, karena keselamatan bocah tanggung itu memiliki akibat kepada dirinya juga.


"Tidak usah mengkhawatirkan keselamatan angger Suro. Dia sekarang cukup kuat dan kekuatannya cukup mengerikan. Aku yakin dia akan mampu mengatasinya."


"Selain itu, jika kembali ke arah depan, lebih baik kita kurangi kekuatan musuh disisi belakang ini terlebih dahulu. Minimal kita habisi dua siluman itu, sebelum kita kembali ke arah depan!"


"Musuh tidak membiarkan kita meloloskan diri, maka kita akan membuat mereka menyesali atas keputusannya."


"Jangan biarkan siapapun dapat lolos dari amukan kita!"


Mata eyang Sindurogo menatap lurus ke arah dua siluman yang mulai bangkit lagi hendak bersiap melakukan serangan ke arah mereka.


Walaupun saat ini yang berani mendekat hanyalah para tetua yang minimal sudah ditingkat shakti. Karena kekuatan dibawahnya hanya akan tersapu bersih dengan mudah. Apalagi akibat imbas pertarungan mereka barusan, secara tidak sengaja telah membunuh banyak pasukan perguruan. Kebanyakan dari mereka tidak sempat menjauh atau justru terjebak ditengah pertarungan mereka.


**


Saat eyang Sindurogo, Geho sama dan Dewa Rencong sedang bersiap menghadapi dua siluman dibarisan belakang, maka dibarisan depan Suro juga sedang menghadapi musuh yang justru lebih banyak.


"Kita harus menghabisi pengguna jurusnya terlebih dahulu. Sebab jika kita tidak menghabisi penggunanya, maka akan percuma menghadapi naga raksasa itu dan hanya akan membuang-buang tenaga."


"Tidak ada cara lain akan aku hancurkan benteng raksasa ini," Siluman gurita cincin biru cukup kesal melihat para pasukan perguruan tidak juga berhasil menghancurkan pertahanan yang dibuat Suro.


Mereka masih saja disibukkan oleh naga bumi yang justru berhasil mengahancurkan seluruh barisan pasukan yang mencoba mendekati benteng yang diciptakan oleh Suro.


Wujud siluman gurita masih seperti manusia, hanya saja dia memiliki tiga pasang lengan tangan yang terbagi di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Siluman itu lalu memulai serangannya dengan melesatkan tubuhnya ke atas. Dia hendak menghancurkan benteng yang digunakan Suro untuk bersembunyi.


"Musnahlah bersama benteng yang kau buat!" Teriakan siluman gurita mengawali serangannya. Dia meluncur cepat dari ketinggian dan mengantamkan pukulan terkuatnya.


Duuuuum!


Benteng setinggi sekitar tujuh tombak dan seluas hampir lebih dari sepuluh tombak kali sepuluh tombak itu akhirnya hancur dihantam pukulan siluman gurita.


Siluman gurita yang berhasil menghancurkan benteng ciptaan Suro, menghentikkan kerutan wajahnya yang hendak membentuk senyuman lebar. Sebab setelah ledakan dari pukulan yang dia hantamkan, maka saat itu juga melesat cahaya yang sangat menyilaukan mata muncul dari reruntuhan benteng yang baru saja meledak.


"Setan alas!"


"Ilmu Tempurung Dewa Kura-kura!"


Duuuum!


Teriakan siluman hilang ditelan lesatan sinar yang sangat menyilaukan oleh pengerahan jurus milik Suro. Tubuhnya berubah menjadi wujud siluamnya dan segera menggulung seperti sebuah bola besar yang memiliki corak lingkaran biru disetiap sisinya.


Tapak Dewa Matahari jurus keempat berhasil melemparkan siluman gurita tinggi ke angkasa. Ilmu yang dia kerahkan sesaat sebelum terhantam oleh jurus Suro, mungkin saja telah menyelamatkan tubuhnya. Entah nyawanya masih bersemayam atau tidak saat tubuhnya meluncur ke atas seperti sebuah peluru meriam.


Lesatan sinar yang dikerahkan Suro terus melesat menghancurkan formasi awan yang berada diatas udara. Karena memang awan yang merupakan tehnik perubahan air racun terbang cukup rendah.


Sesosok yang telah membuat siluman Gurita terlempar jauh, kini melayang diatas udara diatas ketinggian. Mereka segera menyaksikan di dalam benteng megah yang sejak tadi mereka coba hadapi hanyalah berisi seorang pemuda tanggung.


"Kalian telah melihat wujudku bukan? Sekarang aku perlihatkan pada kalian tarian api neraka."


"Lodra mengamuklah bersama Sang Hyang Garuda!"


Dari tebasan pedang yang digengam Suro meledak kekuatan api hitam membentuk sosok burung raksasa.


Melihat wujud yang begitu mengerikan mereka semua terkejut dengan penampakan itu.


"Mustahil jurus ini, bagaimana ada makhluk sekuat ini? Dewa mana yang ikut dibawa serta oleh Sindurogo monster dari Yawadwipa?" Dewi Kematian menatap penuh ngeri menyaksikan jurus api hitam yang begitu dahsyat.


Kekuatan api hitam milik Suro langsung menukik kebawah dan bergerak ke arah pasukan Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Kobaran api hitam berbentuk burung raksasa itu membuka sayapnya dengan lebar dan mulai menyapu keseluruh pasukan musuh yang ada didepannya.


Kepanikan segera terjadi, sebab tidak ada yang mampu menghentikan serangan api hitam itu. Setiap tubuh manusia yang dilumat api hitam yang berkobar dengan begitu dahsyat, akhirnya berakhir semua menjadi debu.


Hantu Laut segera melesat setelah melihat amukan api hitam yang dikerahkan Suro.


"Formasi sihir Lima Samudera!"


Mendadak muncul ombak besar yang membawa air yang entah datang dari mana menerjang ke arah api hitam yang dikerahkan Suro.