
Geho sama yang sebelumnya berusaha keras menghabisi iblis Kalipurusha tidak mampu menyusul Suro, sebab pertama adalah kuatnya terjangan kekuatan kegelapan yang menerjang keluar dari pintu yang sebelumnya dimasuki Suro.
Setelah Suro berhasil masuk ke dalam piramid, maka kekuatan kegelapan yang menerjang keluar, secara ajaib kembali ditarik masuk.
Tetapi kondisi itu tidak juga membuat Geho sama mampu memasuki isi dalam gunung piramid hitam itu. Hal itu kembali karena padatnya kekuatan kegelapan didalamnya.
Dia hanya menatap dari kejauhan pintu yang mengantarkan Suro ke dalam piramid.
"Apa yang terjadi dengan bocah itu, aku tetap tidak mampu memasuki piramid itu. Tubuhku sebagian siluman akan dapat di rasuki kembali kekuatan kegelapan, jika sampai sepadat itu."
"Semoga saja dia dapat bertahan."
Setelah dia menunggu cukup lama, akhirnya hawa kegelapan berhasil menghilang dari dalam piramid. Ketika dia hendak bergegas melesat ke dalam piramid, mendadak sebuah aura dengan berkekuatan yang sangat mengerikan muncul.
Langkah kakinya terhenti, bahkan dia seperti dipaksa berhenti. Bahkan kekuatan itu berhasil membuat Geho sama jatuh terduduk. Tangannya menahan tubuhnya yang terasa begitu berat. Bahkan karena dahsyatnya kekuatan itu untuk sekedar bernafas saja dia kesulitan.
"Gawat, kekuatan macam apa ini mampu membuat diriku yang sudah mencapai tingkat surga dapat ditekan sampai sedemikian ini?"
"Padahal baru saja aku berhasil menyerap kekuatan milik iblis Kalipurusha yang sangat dahsyat. Tetapi kekuatan milikku kini tetap seperti seekor semut melawan gajah, jika dibandingkan dengan kekuatan dahsyat ini."
Duuuuum!
Sesaat kemudian terjadi ledakan besar yang berasal dari dalam piramid. Ledakan itu begitu kuat, sehingga getarannya mampu meruntuhkan goa yang telah hancur oleh pertempuran dahsyat sebelumnya.
Ledakan itu juga akhirnya menghancurkan piramid bagian atas. Sesosok terlihat melesat dengan sangat cepat.
"Bukankah itu adalah Dewa Kegelapan? Kenapa dia justru meninggalkan tempat itu? Perasaanku saja atau memang dia terlihat tergesa-gesa seperti menghindari dari sesuatu yang dia takuti?"
"Apa yang sebenarnya terjadi didalam gunung piramid itu? Semoga saja tuan Suro tidak terjadi apapun..."
"Aku hanya mampu menangkap suara kesakitan yang diderita oleh tuan Suro, dan tidak lebih dari itu."
"Melihat kesadarannya yang timbul tenggelam dan tidak dapat aku ajak bicara, sepertinya dia merasakan kesakitan yang teramat sangat besar. Atau justru dia sedang sekarat setelah terluka oleh hantaman suara ledakan barusan?"
"Tetapi dengan melihat tubuhku masih bernafas, itu artinya dia masih hidup."
Selang tidak beberapa lama tekanan kekuatan mendadak menghilang. Dia tidak mengetahui alasan atas menghilangnya aura kekuatan besar, seperti juga kedatangannya yang tidak diduga.
"Gawat kesadaran tuan Suro menghilang! Apa yang terjadi? Tetapi mengapa aku masih hidup jika dia memang tewas?" Sambil bertanya-tanya sendiri Geho sama bergegas melesat menuju dalam piramid.
Penampakan yang dia lihat didepannya membuat dia sangat terkejut.
"Waduuuh...gawat, bagaimana tubuhnya berubah menjadi sebesar ini?"
"Aneh, walaupun dia tidak sadar, tetapi melihat aliran chakra dalam tubuhnya, aku merasa dia sedang mencoba menguasai kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya."
"Semog saja dia akan baik-baik saja. Aku yakin dia sanggub melalui ini, dia adalah pencipta keajaiban yang selalu membuatku terkejut. Dia memiliki daya kekuatan hidup yang sangat besar."
**
"Dimana ini?"
Suro mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi dengan dirinya. Sebab seharusnya dia sedang berada didalam piramid hitam, setelah ikut menyerap kekuatan kegelapan milik lawannya.
Namun kini dia mendadak berada disuatu tempat yang sangat asing. Begitu asingnya tempat itu, bahkan dia tidak mengetahui apapun yang ada ditempat itu.
Sebab memang tidak ada apapun yang dapat dilihat semua kosong mlompong tidak ada apapun. Sepanjang mata memandang Suro tidak menangkap benda apapun yang dapat dilihat.
Dia merasa seperti mengambang, karena itulah dia tidak mampu membedakan antara atas maupun bawah atau arah manapun.
"Siro wus tumeko ing Kahyangan Alang-alang kumitir"( dirimu telah sampai di khayangan alang-alang kumitir)
'Kumitir? Apa itu alang-alang kumitir?' Suro membatin sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Suro sebenarnya terkejut dengan suara yang barusan terdengar itu. Dia mencoba melihat ke kanan maupun ke sisi kirinya. Tetapi sepanjang mata memandang dia tidak menemukan siapapun.
"Disinilah tempat segala kesunyian dan kekosongan bersemayam"
Suara yang terdengar begitu jelas, seakan lebih dekat dibandingkan berada di dekat daun telinga miliknya sekalipun. Dia kembali melesat kesana kemari, namun sejauh apapun yang dia lihat hanyalah alam raya yang sangat luas tanpa ujung dan tanpa apapun.
"Dinuta tan uninga jatining lampah" ( diutus, tetapi tidak mengetahui hakekat tugasnya)
Suro semakin kebingungan dengan suara yang begitu jelas terdengar. Dia kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Berada dimana dan siapa sebenarnya yang berbicara ini? Selain itu apa maksudnya dengan kumitir dan tugas yang disebutkan barusan?" Dia berkali-kali menengok kekanan ke kiri mencari asal suara yang terdengar begitu berwibawa.
"Carilah arahmu ngger untuk menemukan ulun"
"Bagaimana aku mampu menentukan arah, jika arah selatan dan arah utara saja aku tidak mengetahuinya? Begitu juga arah barat maupun timur. Arah bawah dan atas sekalipun aku kebingungan, karena tidak ada bedanya."
Kemudian nampaklah sesosok yang berwibawa dan dipenuhi dengan sinar yang sangat menyilaukan. Aura kekuatan yang menyertai sosok tersebut begitu kuat, bahkan melebihi apa yang dirasakan saat bertemu dengan Sang Hyang Narada.
Bersama dengan kedatangan sosok itu keempat penjaga gaib miliknya muncul dan memberikan arah kepada Suro dimana selatan, barat, utara dan timur.
Keempat penjaga yang dimaksud adalah Purbangkara, Warudijaya, Tirtanata dan juga Sinotobrata. Karena keempat penjaga gaib itu mewakili empat arah mata angin dalam diri Suro. Keempat penjaga gaib itu kemudian menghilang kembali.
Suro yang ditanya justru sibuk menggaruk-garuk kepalanya. Dia terlihat masih kebingungan dengan segala ucapan yang berasal dari sosok itu.
"Mohon maaf saya tidak mengetahui simbah? Apalagi memahami perkataan simbah, apa yang dimaksud kumitir, tugas dan beberapa hal yang simbah katakan?"
"Simbah..ndasmu"
Suro menyengir sambil mengaruk-garuk kepala mendengar ucapan sosok tersebut. Mendengar sosok itu tidak suka disebut simbah, dia segera mengira-ira sedang berhadapan dengan siapa.
"Mohon maafkan hamba pekulun, aku merasa tempat ini begitu akrab kepada hamba, selain itu kehadiran pekulun yang hamba belum mengenalnya ini juga terasa akrab sekali, seakan kakekku sendiri, entah mengapa perasaanku bisa seperti itu pekulun."
"Jadi maafkan jika ada perkataan hamba yang salah. Karena tidak mampu mengenal sejatinya pekulun ini."
"Sebenarnya tdak ada yang salah ngger, dengan apa yang kau ucapkan barusan."
"Ketidak mampuanmu mengingat adalah sebab awal dari permintaanmu sebelum turun ke marcapada. Saat sira, ulun utus turun ke marcapada ingin hidup selayaknya manusia dan ingin meninggalkan dan melupakan semua hal yang ada disini."
"Itu sengaja kau pilih, agar kemampuanmu menjadi manusia yang fana dapat kau lakukan dengan sebaik-baiknya."
"Ketahuilah cucuku, ulun lah yang disebut sebagai Sang jaji yang bergelar Sang Hyang Wenang dan juga yang bergelar Sang Hyang Jatiwasesa."
"Dan kau tau siapa sejatining Sira?"
"Ampun pekulun, sepanjang pengetahuan yang hamba ketahui mengenai diriku, hamba bernama Suro Bledek."
"Akan ulun wedar sejatining sira, namamu sesungguhnya adalah Jajahsegara, juga disebut Pangruwatdewa, tetapi namamu lebih dikenal sebagai Bambang Wisanggeni, nger."
Sang Hyang Wenang lalu bercerita tentang sejarah kehidupan sebelum dia turun menjadi manusia seperti yang dia ingat. Suro hanya mengangguk-anggukkan kepala, walaupun dia tidak merasa pernah mengalami seperti yang telah dijelaskan kepadanya.
Tetapi demi menghormati sosok dengan penuh wibawa didepannya Suro tidak berusaha membantahnya.
"Ulunlah yang mengutusmu turun ke marcapada untuk mengalahkan Dewa Kegelapan yang akan dapat terbebaskan kembali dari segel para dewa. Karena kami sebagai para dewa tidak diperkanankan turun ke marcapada langsung."
"Salah satu alasan itulah yang membuat ulun mengutusmu, ngger"
"Dia kali ini harus sira sempurnakan kematiannya, sehingga tidak akan membuat kekacauan besar di tiga alam. Kekuatan besarnya sebagai penguasa panca mahabhuta, memang sulit untuk ditandingi. Bahkan jika dia telah memiliki kekuatannya secara sempurna, maka para dewa sekalipun akan kesulitan menghadapinya."
"Jika pekulun telah mengutus hamba, lalu dengan apa hamba dapat mengalahkan dewa kegelapan? Apalagi para dewa sekalipun tidak dapat mengalahkannya, pekulun?"
"Wus anggon aneng siro"( sudah ada semua dalam dirimu)
Kemudian Sang Hyang Wenang menjelaskan cara untuk mengalahkan Dewa Kegelapan. Suro mendengarkan semua penjelasan yang dikatakan Sang Hyang Wenang dengan begitu seksama, karena dia tidak ingin satupun ucapan itu lepas dari ingatannya.
"Yen wus mudheng sira tuhu kabeh ing pratingkah iki, den wingit milwah den sasab tegesireki"( Jika dirimu sungguh-sungguh sudah paham atas segala ilmu ini, maka rahasiakan dan tutupi maknanya)
"Pan pamer, nanging ing batinireki"( janganlah kau pamerkan, tetaplah kau jaga dalam batinmu)
"Nuwun inggih pekulun," Suro menangkupkan tangannya dan menundukan kepala.
Sang Hyang Wenang menganggukan kepala dan tersenyum ramah. Namun Suro tidak melihat senyum ramah tersebut. Karena dia telah menundukkan kepala.
Tetapi jika dia tidak menundukkan kepala sekalipun, Suro tetap tidak sanggup memandang senyuman ramah dari Sang Hyang Wenang. Sebab sinar yang keluar dari wajah dan tubuhnya begitu menyilaukan mata.
"Seperti yang telah ulun jelaskan kepada siro, ilmu itu dapat dilakukan jika mengikuti sabda ulun."
"Apalagi nadi dalam tubuhmu telah terbuka dengan sedemikian lebar, bahkan tidak ada satupun manusia yang terbuka sampai sedemikian lebar seperti yang telah kau alami. Kondisi seperti hidup dan mati ini justru menjadi berkah bagimu untuk mencapai tahap berikutnya"
"Selain itu jiwamu juga sudah mencapai tahap penerangan sempurna setelah melewati jalan arhat. Salah satu alasan itulah, mengapa kini jiwamu tidak dapat teracuni oleh kekuatan kegelapan."
"Semua ini tidak luput dari kewaskitaan ulun. Segalanya telah ulun rancang sedemikian rupa, sehingga mata nujum milik Dewa Kegelapan sekalipun dapat ulun kelabuhi."
"Dengarkan nasehat ulun kepada sira, agar sira mampu melaksanakan tugas yang diemban"
"Lair suksma neng sireki amargo batin siro aneng suksma"( lahirkanlah sukmamu dalam dirimu, karena mata batinmu ada dalam sukmamu)
"Ingkang pramathi satuhu kangge kene kana ugi, amargo lir mati sajero ing gesang, lir urip sajeroning pati"( simpanlah dengan sungguh-sungguh untuk disini dan disana, sebab bagaikan mati dalam hidup, juga bagaikan hidup dalam mati)
"Urip bae salaminya, kang mati punika ugi, yaiku kang marang nepsu." ( hiduplah hingga mencapai hidup yang sejati, yaitu yang bisa mematikan bagian dirimu yang selalu menuju keburukan)
"Ing lair anglakonana katampan badanireki" ( yang hanya mengejar dorongan hawa nafsu lahiriah saja)
"Paworing sawujud tunggal pegene ang rasa mati"( karena itulah jika ingin bersatu dengan yang maha tunggal, matikanlah bagian darimu yang selalu membawa kepada keburukan saat masih hidup)
"Liyane marang Hyang Luhur dadi awak suksma ening, tingkah obah osikira iya iku dadi siji" (semuanya kembalikan kepada Hyang luhur, maka dirimu akan menjadi sukma yang jernih. Segala tingkah laku akan menjadi satu seperti yang dikehendaki yang Maha Satu)
"Jika sira sudah mampu melaksanakan seperti yang telah ulun wejang, maka sira bakal dapat menggunakan kekuatan yang ulun miliki."
"Sendiko dawuh pekulun. Segala yang telah ulun wedar akan berusaha hamba laksanakan."
"Sekarang sudah saatnya ulun antarkan sukma niro kembali ke marcapada."
"Sembah pangabekti hamba kepada pekulun, atas segala pertolongan pekulun kepada hamba"