
Setelah semua tetua Perguruan Pedang Surga yang dipimpin Dewa Pedang bersiap, maka eyang Sindurogo segera mengerahkan jurus Langkah Maya yang diperoleh dari Gagak setan atau lebih dikenal dengan nama Geho sama.
Mereka muncul di dekat aliran sungai Batang Kuantan yang masuk di sebuah daerah bernama Kerajaan Kandis. Jika sekarang kerajaan ini terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Namun sebelum mencari jejak keberadaan pasukan Jambudwipa, Dewa Pedang meminta agar lebih dahulu pergi ke Perguruan cabang. Dia hendak membawa pasukan perguruan cabang miliknya untuk ikut serta dalam pertempuran melawan pasukan dari negeri yang jauh itu.
Setelah hampir seluruh pasukan perguruan cabang ikut bersamanya, maka mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Tujuan mereka selanjutnya adalah menuju ke pusat pemerintahan Kerajan Kandis. Mereka kemudian bergerak menuju sebuah bukit besar yang diatasnya berdiri sebuah bangunan megah berjuluk Istana Dhamna tempat Raja Dharmaswara dengan julukan Datuk Rajo bertahta.
Istana yang berdiri diatas bukit itu dikelilingi oleh benteng melingkar berlapis-lapis yang mampu melindungi dari serangan luar. Istana yang berada dipuncak bukit menjadi bagian dari pusat pemerintahan Kerajaan Kandis.
Dari kejauhan suara pertempuran telah terdengar. Dentang suara senjata beradu dan teriakan manusia terdengar begitu riuh. Dua pasukan yang bertempur itu adalah pasukan Kerajaan Kandis melawan Pasukan dari Jambudwipa.
Beruntung pasukan Jambudwipa yang datang menyerbu masih tertahan di kaki bukit dibenteng terluar. Pasukan kerajaan Kandis terus berusaha melakukan perlawanan terbaiknya, agar pasukan musuh tidak memiliki kesempatan menguasai istana.
Walaupun saat ini kondisi pasukan Kerajaan Kandis sudah banyak yang gugur, karena memang kalah jumlah dan juga kalah kekuatan tempurnya.
Apalagi dalam pasukan Jambudwipa terdapat para pendekar pilih tanding yang memiliki kekuatan yang tidak dapat ditandingi oleh para senopati Kerajaan Kandis.
Dengan kondisi itu tentu hanya menunggu waktu hingga Kerajaan Kandis benar-benar dapat dikalahkan. Tanda-tanda kekalahan itu sudah mulai terlihat dengan melihat pergerakan pasukan musuh yang terus merangsek maju.
Gelombang demi gelombang pasukan musuh yang menghantam, membuat pasukan Kerajaan Kandis yang sebelumnya berusaha bertahan, akhirnya terpaksa mundur teratur.
Melihat pasukan Kerajaan Kandis keteteran menahan pasukan musuh, maka pasukan yang dipimpin Dewa Pedang segera bergegas membantu.
Kabar tentang pergerakan pasukan dari negeri Bharata atau Jambudwipa telah terdengar oleh Dewa Pedang. Karena itulah, sejak awal dia meminta eyang Sindurogo mengantar mereka semua menuju perguruan cabang miliknya yang berada di dalam wilayah Kerajaan Kandis.
Pasukan Jambudwipa yang bergerak menyerang Kerajaan Kandis itu mereka lakukan setelah berhasil menyerang Kerajaan Lamuri(Kerajaan sebelum Samudera Pasai di Aceh), Kerajaan Teba(Toba), Kerajaan Pariangan, Kerajaan Pane (sekarang masuk wilayah Tapanuli Selatan) dan juga beberapa kerajaan kecil lainnya.
Berkat bantuan dari pasukan yang dipimpin Dewa Pedang, akhirnya pasukan Kerajaan Kandis dapat memukul mundur pasukan musuh.
Pasukan yang bersama Dewa Pedang tidaklah banyak, namun pasukan yang berada digaris terdepan memiliki tingkat kekuatan yang minimal adalah tingkat langit. Karena memang pasukan yang berada digaris terdepan adalah para tetua Perguruan Pedang Surga.
Jurus Pedang Dewa yang mereka kerahkan mampu menghancurkan barisan musuh dengan cepat. Terlihat beberapa kali jurus Sejuta Tebasan Pedang menghajar musuh.
Para tetua dari Perguruan Pedang Surga terus merangsek kedepan seperti air bah, seakan tidak ada yang mampu menahan serangan mereka. Namun itu tidak bertahan lama, sebab sesosok lelaki hadir dengan pakaian yang sangat khas, berbeda dengan para prajurit yang diserang oleh para tetua.
Sesosok lelaki itu teramat kuat. Serangan balik yang dia kerahkan, akhirnya mampu menghentikan pergerakan para tetua. Walaupun para tetua sudah dapat dihentikan, namun pertolongan mereka sangat membantu moral pasukan dari Kerajaan Kandis yang berhasil memukul mundur pasukan musuh.
Pasukan dari negeri Bharata itu dapat didesak menjauh dari kaki bukit. Kondisi itu membantu pasukan Kerajaan Kandis untuk mengatur ulang formasi barisan pasukannya.
Meskipun itu belum memberikan nafas lega, namun mereka memiliki waktu untuk membangun pertahanan mereka yang porak poranda terus didesak pasukan musuh. Mereka sekuat tenaga akan melindungi istana Dhamna, karena istana itu adalah simbol keutuhan kerajaan mereka.
Lelaki yang mampu mengentikan pergerakan para tetua memiliki pakaian yang segera mengingatkan Dewa Pedang kepada sosok Pedang iblis. Karena itu memang seragam dari perguruan yang didirikan Pedang iblis.
Blaar!
Craas! Craas!
Kembali dengan kekuatan serangannya yang dahsyat, sosok lelaki itu berhasil memukul mundur pasukan Kerajaan Kandis dan juga para tetua dari Perguruan Pedang Surga.
"Dimana Dewa Pedang aku ingin memotong kepalanya? Aku akan menuntut balas atas kematian Pedang iblis!"
Blaaar!
Cras! Crass!
Serangan yang dikerahkan sesosok lelaki itu berulang kali menerjang ke arah tetua. Mereka para tetua diantaranya adalah Dewi Anggini, La Patiganna, eyang Kaliki, eyang Tunggak jati, eyang Kebo ijo dan yang lainnya.
Serangan yang bertubi-tubi itu terus menghujani mereka. Para tetua memilih menghindari daripada menghadapi secara frontal.
Para tetua cukup cerdik memilih menghindar, sebab serangan itu dilambari kekuatan tingkat surga. Tentu para tetua yang memiliki kekuatan langit bukan lawan yang mampu menerima serangan secara langsung.
Para tetua dapat selamat dari serangan yang menghujani mereka, namun tidak bagi puluhan prajurit Kerajaan Kandis dan juga para anggota perguruan cabang dari koalisi Pedang Surga.
Mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Serangan yang begitu mengerikan langsung menewaskan puluhan orang dalam sekali tebasnya. Kekuatan tebasan itu memang begitu kuat, sebab kekuatan tebasan itu dapat menghancurkan batu besar, apalagi cuma tubuh manusia.
"Dewa Pedang jangan bersembunyi diketiak para tetuamu ini! Aku akan habisi semua tetuamu ini agar kau keluar dari persembunyianmu!"
Teriakan keras sosok lelaki itu dengan pakaiannya yang sangat khas itu membuat Dewa Pedang segera melesat mendekat ke garis terdepan dimana para tetua berupaya menyerang balik.
Wuuuss...
Trang! Trang!
"Akhirnya aku harus turun langsung! Para tetua, silahkan kalian menghadapi yang lain, biarkan aku yang akan menghadapi lelaki itu!"
Para tetua yang hendak melawan balik segera menganggukan kepala. Mereka kemudian memilih bergerak menyerang para pengikut dari sosok lelaki itu. Para pengikut dari lelaki itu memiliki pakaian yang tidak jauh berbeda dari sosok yang dihadapi Dewa Pedang.
Orang-orang yang memakai pakaian khas itu adalah para tetua Perguruan Pedang Kalipurusha. Kekuatan mereka juga tidak jauh dari kekuatan tingkat langit.
"Aku ingin menanyakan kebenaran mengenai kabar Pedang iblis yang berhasil engkau bunuh! Aku sudah yakin sejak awal jika pelakunya adalah dirimu, apalagi barusan dirimu dapat menangkis seranganku dengan mudah!"
"Pantas saja Pedang iblis dapat kau habisi, ternyata kekuatanmu sudah mencapai tingkat surga."
Setelah melihat kekuatan Dewa Pedang yang menahan serangannya dengan mudah, lelaki itu segera menyadari, jika kekuatan Dewa Pedang setara dengan kekuatan miliknya.
"Kau hanya berani bertarung dan menghabisi orang yang lebih lemah darimu! Cuiiih...!" Lelaki itu meludah ke arah Dewa Pedang mencoba memancing kemarahan lawannya.
Dewa Pedang tersenyum sambil bergeser menghindari ludah yang meluncur cepat seperti peluru itu.
"Saat aku bertarung dengannya dan berhasil memotong tangannya, aku masih ditingkat shakti tahap puncak. Sama seperti yang telah dicapai oleh Pedang iblis.
Selain itu jika pendekar ingin mengetahui kebenaranya, bukan diriku yang menghabisi Pedang iblis. Tetapi orang lain, yaitu muridku sendiri. Namun selain sebagai muridku dia juga murid dari seseorang yang lebih kalian kenal sebagai Pendekar Tapak Dewa Matahari!"
"Jangan membual kepadaku, Pedang iblis kala itu sudah merajai dunia persilatan di Benua Tengah. Bagaimana mungkin dia dapat dihabisi hanya oleh seseorang yang kau anggap sebagai muridmu itu?
Tidak usah bersilat lidah, apakah karena kau takut? Aku juga akan menagih kembali Pedang Hitam atau juga dikenal sebagai Pedang Pembunuh iblis yang telah kalian rampas?"
"Mengenai pedang itu bukan aku yang memegangnya, pedang itu juga telah dimiliki muridku. Dan seandainya kalian melihat wujud bilah pedang yang dipegang muridku itu sekarang, tentu kalian sudah tidak akan mengenalinya.
Bahkan Pedang iblis yang telah memilikinya selama puluhan tahun tidak mengetahui rahasia dari kekuatan sejati pedang itu, sebab pedang itu sesungguhnya dapat berubah menjadi pedang setingkat pusaka dewa."
"Hahaha...sudah lama aku mendengar nama besarmu dan baru pertama kali ini aku bertemu denganmu Dewa Pedang. Tetapi aku tidak menyangka, ternyata kau tak lebih daripada hanya seorang pembual sejati!"
"Lihatlah aku sebentar lagi akan menghabisimu, kemudian akan mencincang muridmu itu sampai tidak tersisa!"
Wuuuss...
Trang! Trang!
Lelaki itu langsung menyerang dengan kekuatan dan kecepatannya yang begitu memukau. Namun kecepatan dan kekuatannya dapat diimbangi oleh Dewa Pedang.
"Benar sekali apa yang kau katakan, hadapi aku dulu sebelum mencoba mencari muridku. Sebab kekuatan muridku berkali lipat lebih kuat dibandingkan diriku!"
Trang! Trang!
Kecepatan dan kekuatan serangan lelaki itu semakin meningkat setiap kali dapat ditahan oleh Dewa Pedang.
"Omong kosong, semakin lama kau berbicara hanya membuat kupingku sakit dengan bualanmu yang tidak dimasuk akal itu! Bagaimana mungkin muridmu lebih kuat dibandingkan gurunya?"
"Selain itu aku tidak pernah mendengar di sekitaran Yawadwipa dan Swarnabhumi ini ada seorang pendekar yang memiliki kekuatan melebihi dirimu , kecuali Pendekar Tapak Dewa Matahari!"
"Jurus pertama pedang jalur iblis!"
Melihat setiap serangannya dapat ditangkis, membuat lelaki itu mengeluarkan jurus serangan yang dahsyat. Namun sebelum serangannya itu mengenai Dewa Pedang, dia segera mengerahkan jurus yang mampu mematahkan serangan lawan.
"Pusaran Pedang Dewa!"
Gerakan tebasan yang berputar dengan sangat cepat, telah mengikis seluruh terjangan tebasan pedang musuh.
"Jika tidak salah pendekar memiliki sebutan, yaitu Pendekar Pedang gila!"
"Hahaha...aku tidak menyangka namaku sampai ke Benua Timur ini! Lalu apa julukan pendekar yang katanya telah berhasil menghabisi pedang iblis?"
"Sebab setelah menghabisimu aku akan mencari muridmu itu? Akan aku tagih kepadanya atas kematian saudaraku Pedang iblis? Agar kau tidak mati penasaran, akan aku pastikan muridmu juga akan menemani kematianmu!"
Dewa Pedang mendengar pertanyaan Pendekar berjuluk Pedang iblis gila sampai mengerutkan dahinya. Dia bahkan bergerak mundur setelah berhasil mematahkan kekuatan serangan lawan.
Dia terlihat berpikir serius mencoba mengingat-ingat selama ini Suro memiliki julukan apa setelah menjalani kehidupannya sebagai pendekar dalam dunia persilatan.
"Dia berjuluk pendekar gemm...blung!"
"Hahahahaha...!"
"Kurang ajar, setan alas, kalian berani sekali mempermainkanku! Aku akan menghabisi seluruh manusia yang hidup di negeri ini!"