
Dentuman berturut-turut terdengar saat Suro mencoba kembali mengurung gurunya masuk ke dalam bumi. Dia kemudian bersama keempat kembarannya juga lenyap ditelan bumi. Itu adalah salah satu cara untuk dapat memberikan serangan maksimal. Sehingga rencana Suro yang berusaha mengirim tubuh eyang Sindurogo jauh masuk ke dalam bumi dapat berhasil.
Serangan beruntun terus dikerahkan Suro untuk membuat gurunya sibuk dan tidak sempat membongkar formasi penjara tanah yang telah dia kerahkan dengan susah payah. Dinding tanah yang berada diatas kepala gurunya di hantamkan selayaknya sebuah godam raksasa. Pengerahan kekuatan Suro kali ini dibantu oleh keempat kembarannya.
Meski dia ikut masuk ke dalam tanah, tetapi dia tidak berencana untuk berhadapan langsung. Suro cukup sadar dengan tingkat kekuatan miliknya yang terpaut sangat jauh dibandingkan dengan milik gurunya.
Karena itu dia memilih cara yang aman untuk menghadapi gurunya, yaitu dengan cara mengerahkan tehnik perubahan bumi dari jarak jauh yang cukup aman untuknya. Sehingga gurunya tidak menyadari keberadaanya. Meskipun jarak yang dia ambil sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat gurunya dikurung.
Kondisi eyang Sindurogo dikurung dalam ruangan yang tak lebih dari pada sebuah lubang sumur yang cukup sempit. Kondisinya seperti dikerangkeng dan membuatnya sulit untuk dapat bergerak bebas.
Namun dia adalah pendekar yang sebelum mencapai tingkat surga sekalipun, telah dikenal sebagai Lelananging jagat lelaki terkuat di langit Benua Timur. Tentu kondisi seperti itu tidak akan membuatnya menyerah begitu saja. Setiap palu yang menghantam dirinya justru terus dia hancurkan.
Tanah yang berada di bawah kaki gurunya telah dirubah Suro menjadi seperti sesuatu yang hidup. Sehingga saat Suro menghantam dengan palu raksasa dari sisi atas, maka tanah yang ada disisi bawah juga ikut membantu menenggelamkan gurunya semakin dalam.
Semua dikerahkan secara bersamaan dari sisi bawah maupun dari sisi atas. Dari sisi bawah pengerahan tehnik perubahan tanah secara terus menerus mencoba membelit dan menarik tubuh gurunya. Tanah itu dibentuk sedemikian rupa, sehingga berbentuk mirip lengan gurita yang silih berganti berdatangan menyeret dengan sangat kuat.
Meski tangan gurita yang bermunculan tidak terhitung jumlahnya dan terus membelit tubuhnya, namun lelaki itu dapat menghancurkan semuanya dengan mudah.
Suro melakukan semua itu, karena dia tau gurunya sangatlah kuat. Sehingga segala daya dan upaya harus dia lakukan, jika ingin berhasil melumpuhkan gurunya tetap terkurung didalam tanah.
Setelah merasa gurunya berada cukup jauh dari permukaan tanah, maka Suro segera mengambil kesempatan itu untuk melumpuhkannya. Suro kemudian mengerahkan jurus Tapak Selaksa Dewa Racun dengan kekuatan penuh.
Tetapi kali ini bukan jarum yang menerjang ke arah eyang Sindurogo, tetapi lesatan kabut beracun yang sangat pekat. Sehingga tempat yang menjadi Medan pertempuran tak lebih dari sebuah lubang itu langsung penuh dengan asap beracun.
Setelah itu Suro kembali menghantamkan dinding diatas gurunya menyerupai sebuah godam raksasa. Tidak terhitung berapa banyak dia melakukan itu secara terus menerus.
Tetapi setiap kali dinding itu dihantamkan kepada gurunya, maka eyang Sindurogo tidak tinggal diam. Dia akan menghancurkannya dengan pukulan tangan kosong dan juga sinar yang keluar dari jari telunjuknya.
Meskipun begitu, kondisi itu juga membuat dia terdorong ke bawah akibat imbas setiap ledakan yang dia kerahkan. Entah sudah seberapa dalam dia membawa gurunya masuk ke dalam bumi. Kondisi lubang sempit yang seharusnya sangat gelap menjadi cukup terang oleh cahaya dari pengerahan jurus tapak Dewa Matahari.
Suro terus menyerang gurunya tanpa henti. Setiap dinding tanah yang hancur langsung dikembalikan seperti semula, lalu dihantamkan kembali ke arah gurunya. Semua itu dilakukan dengan sangat cepat, agar gurunya tidak memiliki kesempatan untuk mencoba meloloskan diri kembali.
Suro mengira jika racun yang dia kerahkan mampu melumpuhkan gurunya atau minimal membuatnya pingsan. Dia tidak mengetahui jika kekuatan dari Tirta Amerta yang pernah masuk ke dalam tubuh gurunya telah membuatnya kebal.
Bahkan hawa kegelapan yang masuk kedalam tubuhnya tidak berefek seperti manusia lainnya. Padahal hawa kegelapan yang telah berhasil diserap eyang Sinduroo lebih banyak berkali lipat dibandingkan apa yang telah diserap oleh para manusia yang sedang di hadapi Geho sama.
Eyang Sindurogo hanya memiliki tehnik perubahan api dan petir dan Suro mengetahui hal itu. Oleh karena itu tehnik perubahan air dan tanah miliknya sengaja dia kerahkan untuk menghadapi gurunya. Karena gurunya tidak akan mampu melakukan seperti yang dia lakukan.
Saat eyang Sindurogo ditelan masuk ke dalam bumi sebegitu dalam, dia mengatasi semua itu dengan ilmu perubahan api yang salah satunya adalah jurus Tapak Dewa Matahari. Memang apa yang dilakukan Suro telah membuat gurunya cukup kerepotan dan tidak mudah untuk keluar dari tempat itu.
Meskipun saat itu Suro memiliki tingkat kekuatan yang jauh dari gurunya. Namun tehnik Perubahan bumi yang digunakan Suro diperoleh dari dewa penguasa tehnik perubahan bumi terkuat.
Tetapi tetap saja penjara yang dibuat Suro bukanlah sesuatu yang mampu menahan seseorang yang telah mencapai tingkat surga.
Duuuum!
Melihat serangan yang tidak ada habisnya, membuat eyang Sindurogo tidak memiliki pilihan lain. Ia kemudian kembali membuat ledakan energi yang begitu kuat. Dia kembali berusaha menghancurkan seluruh kungkungan penjara yang terus membawanya semakin jauh masuk ke dalam bumi.
Eyang Sindurogo kemudian membuat serangan susulan yang lebih kuat. Serangan susulan itu berupa jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari dengan mengerahkan segenap kekuatan tingkat surga miliknya
Duuuuuuum!!
Energi yang dipadatkan ditelapak tangannya melesat ke atas menghancurkan dinding tanah dan terus melesat menjebol semua lapisan tanah yang susah payah dikerahkan oleh Suro. Serangan susulan yang dia kerahkan kali ini berhasil menghancurkan segala hal yang merintanginya untuk keluar dari dalam tanah.
Dalam satu hentakan tubuh Eyang Sindurogo telah kembali muncul dari dalam bumi. Setelah berhasil keluar dia memilih terus melesat ke atas. Energi yang dia lepaskan telah membuat ledakan besar diatas permukaan tanah, seperti ledakan gunung berapi.
Saat gurunya melesat ke atas itu, sebenarnya Suro sudah berusaha keras menahan sekuat tenaga untuk tetap membuatnya berada didalam tanah. Namun segala daya upaya itu dapat dihalau dengan kekuatan tingkat surga milik gurunya yang perkasa.
Saat gurunya muncul dari dalam tanah, Suro langsung menyusul dan berusaha menyerangnya dengan tehnik pengendalian tanah miliknya. Serangan itu berupa naga bumi yang mencoba membelit tubuh eyang Sindurogo.
"Setan laknat! Bagaimana aku dipecundangi oleh seorang bocah ingusan sepertimu! Manusia jenis apa sebenarnya kau ini mampu memiliki tehnik perubahan tanah sekuat ini?" Eyang Sindurogo menghancurkan naga bumi yang melesat ke arahnya dengan sinar yang keluar dari jari telunjuknya.
Serangan yang dikerahkan Suro secara terus menerus membuat tenaga dalamnya telah terkuras, begitu juga eyang Sindurogo. Mereka berdua segera mengerahkan tehnik empat Sage. Tetapi Suro dibantu oleh Pill tujuh bidadari yang akan membuat tenaga dalamnya cepat pulih.
Diatas permukaan tanah pertempuran yang dilakukan Geho sama telah berakhir semua lawannya telah berhasil dia habisi. Saat Suro bertarung dikedalaman bumi dia sedang menstabilkan seluruh kekuatan musuh yang berhasil diserap semua olehnya. Kesembilan kembarannya telah menghilang.
Saat ledakan dari pengerahan jurus eyang Sindurogo menerjang keluar dari dalam bumi, Geho sama segera menjauh sebelum terkena imbas dari kuatnya jurus itu. Geho sama segera menyadari jika usaha Suro untuk melumpuhkan gurunya telah gagal.
Ledakan kekuatan jurus keempat tapak dewa matahari membuat tempat pertempuran mereka seperti kawah gunung berapi. Ledakan itu juga melontarkan tanah tak terkira banyaknya terlempar ke segala arah. Bahkan lontaran tanah dan batu yang terhantam jurus itu sebagian justru melesat ke langit.
''Kekuatan gurumu sungguh sesuatu yang sangat mengerikan! Bagaimana tuan Suro hendak mengurung kekuatan sebesar ini seorang diri?" Geho sama segera melesat mendekat ke arah Suro.
"Anggap saja latihan sebelum kita mengalahkan Dewa Kegelapan!" Suro menjawab sambil tersenyum kecut.
Sambil mencerna Pill yang telah dia telan, dia juga terus mengerahkan tehnik empat Sage, sebagai salah satu jalan tercepat untuk mengumpulkan kekuatannya kembali.
"Mengapa Sang Hyang Ismaya tidak datang menolong tuan? Bukankah waktu itu sebelum tuan bertemu dengannya telah menyebutkan, jika dialah yang mampu menolong tuan menyadarkan guru tuan?"
Melihat Suro tidak segera menjawab membuat Geho sama meneruskan ucapannya.
"Lalu apa gunanya kalung yang menggantung di leher tuan? Bukankah pusaka itu juga dari Sang Hyang Ismaya?"
Suro menatap sesaat kepada Geho sama sebelum kembali menatap gurunya yang berada diatas ketinggian.
"Memang benar apa yang kamu katakan seperti apa yang dikatakan Sang Hyang Narada padaku. Tetapi dia tidak akan melakukan itu kecuali atas kehendaknya sendiri. Cara berpikir dari Sang Hyang Ismaya tidak sesederhana kita yang hanya manusia biasa. Selain itu...!"
Suro ingin menjelaskan panjang lebar kepada Geho sama, tetapi suara penuh kemarahan terdengar begitu keras menggema ke seluruh wilayah yang berada dalam cakupannya.
Suara itu berasal dari Eyang Sindurogo yang sedang mengerahkan ilmu empat Sage seperti yang Suro lakukan.
"Kurang ajar! Bagaimana kalian mampu mencuri semua kemampuan yang aku miliki? Aku tidak akan membiarkan kalian memiliki tehnik empat Sage dan Tapak Dewa Matahari milikku!!"