
“Apa yang kau ingin lakukan bocah?” ucap Geho Sama yang menggaruk-garuk kepalanya.
“Kita membutuhkan segala hal untuk mengalahkan Dewa Kegelapan yang telah mengalami peningkatan kekuatan,” balas Suro yang tidak menggubris perkataan Geho Sama.
Dia sibuk mengamati kapak besar yang berwarna kehijauan yang terus mengalirkan kekuatan kepada Suro. “Lihatlah, kekuatan dari Giok Dewa ini akan mampu membantu kita. Ini aku berikan nama Kapak Pembelah Semesta.”
“Terserah kau saja mau kau berikan nama kapak pembelah Semesta atau Kapak Pembelah Janda. Itu bukan urusanku!” ucap Geho Sama masih kesal karena Suro telah merusak pose tergantengnya.
“Dasar siluman sontoloyo, ini nama aku pikirkan dengan seluruh kepandaianku,” dengus Suro.
“Sebaiknya kita menyusul guru yang ada di Gunung Mahameru kakang, aku khawatir akan terjadi sesuatu hal buruk,” sergah Mahadewi yang segera menghentikan pertikaian dua orang sinting di dekatnya.
“Kau beruntung, jika tidak akan aku rubah dirimu menjadi siluman blekok!”
“Kau pikir aku juga tidak bisa merubahmu menjadi siluman keong! Apa kau sudah lupa aku adalah Raja Penyihir?” ancam balik Geho Sama sambil mencibir.
Mahadewi mulai menepuk-nepuk jidatnya dan menarik Suro untuk tidak menanggapi perkataan Geho Sama yang terus mencerocos seperti petasan renteng.
“Percuma berbicara dengan siluman blekok sepertimu,” dengus Suro sambil mengedumel.
Tidak lama setelah itu Suro pun mengerahkan Langkah Kilat untuk membawa mereka semua menuju Gunung Mahameru. Satu kejap berikutnya mereka telah sampai di kaki Gunung Mahameru.
Dengan cepat Suro segera menebarkan pandangannya ke segala arah. Tatapannya segera terpaku pada sesuatu yang tengah terjadi di langit atas Gunung Mahameru.
“Astaga apa yang terjadi? Bukankah itu adalah Batara Karang?” ucap Suro sambil menunjuk ke atas. Dia segera meminta Mahadewi bergabung dengan pasukan para pendekar aliran putih yang terdekat.
Kebetulan di dekat mereka pasukan Dewa Rencong berada. Mereka merupakan lapis ketiga yang menjadi pasukan pendukung. Di depan mereka pasukan Perguruan Pedang Surga yang dipimpin Dewa Pedang mencoba menembus pertahanan pasukan aliran hitam yang semuanya memiliki tanduk di dahinya.
“Geho Sama! Bantu mereka menghadapi pasukan aliran hitam itu!” ucap Suro yang dia sendiri langsung melesat ke atas langit dimana sejumlah rantai hitam berseliweran hendak menangkap pasukan aliran putih dan termasuk Eyang Sindurogo dan juga Maharesi Acaryanandana.
“Hancurlah!” teriak Suro yang segera melemparkan kapak besarnya.
Wuung ... Wuuuuung ... Wuuuuung!
Trang! Trang! Trang!
Mata Batara Karang terbelalak, sebab kapak berwarna hijau itu mampu memutus dengan mudah rantai jiwa yang dikerahkan olehnya.
“Sekarang aku adalah lawanmu!” ucap Suro yang langsung menebaskan kembali kapaknya yang kali ini bukan ke arah puluhan rantai hitam, namun ke arah Batara Karang.
Trang!
Sebuah pedang besar melesat ke arah kapak besar milik Suro. Pedang berbentuk lengkungan seakan bulan sabit langsung menghadang.
“Kau semakin kuat saja bocah!” ucap Batara Karang segera mengenali Suro.
“Tentu saja, begitu juga dirimu semakin buruk rupa saja,” cibir Suro sambil tertawa. Pandangannya lalu menyapu ke arah gurunya.
“Apakah Eyang guru baik-baik saja?” tanya Suro kepada gurunya.
“Jangan khawatir, ngger aku baik-baik saja,” ucap Eyang Sindurogo langsung mengerahkan jurus Dewa Mataharinya untuk membantu menyerang Batara Karang. Pada saat bersamaan Maharesi Acaryanandana juga mengerahkan jurus panah Brahmastra miliknya.
Duuuum! Duuuuum!
Ledakan itu mendera ke arah Batara karang tanpa sempat menghindar. Sebab dia masih sibuk menghadapi Kapak besar milik Suro yang bergerak seakan memiliki nyawa sendiri. Ledakan dua kekuatan dahsyat itu akhirnya berhasil melemparkan Batara Karang jatuh ke puncak Gunung Mahameru.
Trang! Trang!
Suro berlindung menggunakan kapak Pembelah Semesta miliknya. Begitu juga Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryanandana menggunakan senjata mereka untuk melindungi dirinya.
“Ha! Kalian ada dua?” ucap Suro dengan ekspresi kaget teramat sangat. Karena Suro mengingat, jika dua lelaki yang kini menghadangnya semuanya adalah Batara Sarawita.
Namun akhirnya Suro memahami dengan kemunculan musuhnya yang bisa datang dalam dua wujud lainnya. Karena semua itu berhubungan dengan ilmu Nyalih Cangkang milik musuh yang mampu menggantikan tubuhnya yang mati, namun biasanya tubuh pengganti akan muncul saat tubuh yang lama telah hancur.
Eyang Sindurogo ternyata setelah melihat dua sosok muncul menghadang Suro muridnya, maka dia langsung mengerahkan jurus Dua ledakan Matahari Kembar.
“Makan jurusku ini!” teriak Eyang Sindurogo menerjang lawannya dengan kedua telapak tangannya yang bersinar terang berasal dari bola energi. Energi yang ada di telapak tangannya itu berputar deras dan terlihat begitu menakutkan.
“Pusaran Semesta Hitam!” teriak dua sosok Batara Sarawita.
Tanpa di duga dua sosok Batara Sarawita itu juga telah bersiap dengan kekuatan yang jauh lebih hebat dibandingkan serangan yang dikerahkan Batara Karang sebelumnya. Awan hitam meledak seakan hendak menelan mereka semua.
“Edan seranganku langsung tenggelam tanpa sempat lagi meledak!” ucap penuh keheranan Eyang Sindurogo yang saat itu juga dia kembali mundur.
Maharesi Acaryanandana berupaya menghentikan serangan yang dikerahkan dua Batara Sarwita dengan menghujani menggunakan panah dewa miliknya. Namun serangan miliknya juga seperti tidak berguna ditelan semua oleh awan hitam yang terus bergerak sedemikian cepat ke segala arah.
“Gawat ini tidak bisa dibiarkan!” teriak Suro yang melihat awan hitam itu dengan begitu menakutkannya mampu menelan serangan dari dua gurunya dengan begitu mudah.
Sebelum serangan Pusaran Semesta Hitam milik dua Batara Sarawita menelan semuanya, maka Suro segera melakukan tindakan cepat. Dia segera mengerakan kekuatan keempat mustika dewa yang dia padukan dengan jurus Empat Sage.
Meskipun pertempuran mereka terjadi diatas langit yang begitu tinggi, namun karena kekuatan yang dikerahkan itu begitu dahsyat, maka serangan itu berdampak pada apa yang ada dibawah mereka. Terutama yang berada di sekitar Gunung Mahameru.
Pasukan dari kedua belah pihak yang sedang bertempur tidak sempat menghindar, mereka yang terlalu lemah ikut tertarik pada Pusaran Semesta yang dikerahkan Batara Sarawita.
“Selagi masih ada diriku, langkahmu tidak akan berjalan dengan mudah!” teriak Suro yang segera menerjang ke tengah awan hitam dan menghantamkan kekuatannya.
Duuuuuuuum!
Ledakan pukulan Suro telah berhasil membuyarkan kekuatan pusaran hitam milik musuhnya. Setelah itu dia segera mengerahkan jurus Empat Sage. Seketika itu juga sisa Pusaran Semesta Hitam yang hendak menyapu ke segala arah itu segera tertarik oleh kuatnya jurus yang dikerahkan Suro.
“Mengerikan, mereka memang bukan manusia!” seru Eyang Sindurogo yang melihat betapa mengerikannya kekuatan lawan.
“Begitu juga anak angkatmu itu. Kekuatannya itu sudah melebihi kita semua,” sahut Maharesi Acaryanandana.
“Memang dia bukan makhluk bumi, dia sengaja dikirm oleh para dewa untuk turun ke bumi ini,” ucap Eyang Sindurogo yang masih mengingat bagaimana dahulu saat dia menemukan bayi Suro yang jatuh dari langit.
Pandangan Maharesi Acaryanandana melebar mendengar perkataan Eyang Sindurogo, namun pembicaraan mereka terpaksa terhenti oleh serangan susulan yang kini dilakukan lawannya yang telah berjumlah tiga orang.
Rupanya sosok Batara Karang yang sempat terjatuh dan menghantam bumi sedemikian keras telah bangkit dan terlihat tidak ada luka sama sekali dalam tubuhnya. Padahal dia jatuh sedemikian kuat.
“kalian akan kami habisi sekaligus!” teriak Batara Karang yang baru saja kembali bergabung dalam pertempuran. Saat itulah berlesatan rantai hitam dalam jumlah tak terkira mengejar ke arah Suro, Eyang Sindurogo dan juga Maharesi Acaryanandana.
***
Jika ada yang berkenan mampir, ada karya Author lain yang ada di Karyakars#.com dengan nama pena Lelanangjagat_biru
Begitu juga di plat kuning Nov#lme.com ada karya Author dengan nama pena Lelanangjagat
Terima kasih yang masih setia menunggu maaf jika terlalu lama, akan saya selesaikan secepatnya