
"Kita sudah sampai di kaki gunung, seperti yang terukir di belati ini kakang. Tetapi dalam ukiran ini tidak digambarkan lebih terperinci di bagian sebelah mana tempat yang kita cari. Jadi sebaiknya kemana kita akan mencarinya, kakang?"
Mahadewi menatap Suro yang terlihat kebingungan dan memilih menggaruk-garuk kepalanya dibandingkan menjawab pertanyaannya barusan.
"Sebentar, kakang ingin melihat, mungkin saja terlewatkan dari ukiran yang ada dibelati itu."
Mahadewi memberikan belati yang sedari tadi dipelototi, namun dia tidak juga mendapatkan petunjuk apapun.
"Jika melihat dari ukiran di belati ini, penampakan gunung yang ada dihadapan kita sepertinya dilihat dari sisi yang berbeda." Suro mencoba membanding-bandingkan gambar gunung didepannya dengan yang terukir di bilah belati.
Setelah melihat dengan lebih detail, dia segera menyadari jika bentuk gunung yang digambar mengambil dari sudut yang lain.
"Baiklah kita periksa dari sisi dimana gunung ini dilihat seperti dalam ukiran. Adinda berpeganglah dengan erat pada tubuhku."
Setelah Mahadewi berpegangan pada leher Suro, maka pemuda itu segera melesat tinggi. Suro berniat melihat gunung itu dari sisi yang berbeda, persis seperti yang terlihat diukiran.
Setelah melesat naik ke atas udara, Suro dapat melihat lebih jelas gunung tersebut dari berbagai sisi gunung. Dia beberapa kali harus berpindah tempat, hingga akhirnya dia menemukan sisi yang pas, sesuai dengan apa yang terukir.
"Seharusnya batu safir ini menunjukkan tempat yang kita tuju. Tetapi disini kita tidak menemukan apapun.
Memang diukiran ini tidak ada penjelasan apapun. Sepertinya kita akan meneruskan pencarian dengan cara lain." Suro berbicara sendiri sambil mencoba memecahkan teka-teki yang tergambar di bilah belati.
Suro masih mengambang di udara, sedangkan Mahadewi memilih memejamkan mata tidak berani melihat dari tempat yang sebegitu tinggi.
"Buruan kakang jangan lama-lama angin ditempat setinggi ini terlalu kencang. Lihatlah bibirku mulai mengigil kedinginan."
"Baiklah kakang segera turun. Selain itu Kakang akan memeriksa terlebih dahulu tempat yang ditandai dengan batu safir ini. Kemungkinan tempat yang dimaksud ini adalah itu." Suro menoleh ke belakang pundaknya dimana Mahadewi menggantung sambil memegang erat lehernya.
Suro menujukkan tempat tersebut agar Mahadewi melihat tempat yang dimaksud, tetapi dara itu tidak peduli dia semakin erat memegang leher Suro. Dari ketinggian tempat yang dimaksud Suro hanya terlihat seperti garis hitam diantara hamparan salju.
"Kakang yakin itu tempat yang dimaksud, sebab di ukiran ini posisi safir memang menempati sebuah garis lurus, tepat dibawah gunung ini." Suro masih mencoba memastikan apa yang dia lihat.
"Iya, iya adinda setuju, cepatlah kakang anginnya terlalu dingin." Mahadewi tidak memperdulikan ucapan Suro, dia memilih untuk tetap memejamkan mata. Begitu tingginya Suro terbang, membuat Mahadewi tidak dapat menutupi ketakutannya.
Mendengar permintaan Mahadewi Suro langsung melesat ke bawah. Tempat dia mendarat berada dibawah tebing yang cukup curam.
"Coba adinda perhatikan, jika kita melihat dari sudut ini, bukankah batu safir itu melintasi garis yang mewakili jurang itu"
Setelah mendarat, Mahadewi baru membuka matanya dan memandang tempat yang dimaksud Suro saat berada diatas ketinggian tadi.
"Benar kakang ada garis dikanan dan kiri dari batu safir ini, kemungkinan ini memang mewakili jurang yang ada didepan kita." Mahadewi menimpali ucapan Suro dan membenarkan ucapannya setelah membandingkan dengan yang terukir dalam bilah belati miliknya.
"Jurang ini cukup panjang dan lebar. Pantas saja sewaktu diatas tadi kakang dapat menandainya dengan jelas," sambung Mahadewi yang melihat jurang di depan matanya.
Suro kemudian berjalan ke bibir jurang untuk dapat melihat lebih jelas. Dia cukup penasaran, karena dia yakin tempat yang dicari berada di dalam jurang tersebut.
"Sebaiknya adinda berdiri agak menjauh, salju yang berada ditempat ini sangat labil." Melihat Mahadewi hendak menyusul dirinya, Suro bergegas mencegahnya.
"Sebentar, apakah adinda mendengar suara dentuman barusan?" Suro menoleh ke arah Mahadewi yang berada dibelakangnya.
"Suara apa kakang? Aku tidak mendengar apapun?"
Suro segera memperhatikan ke sekitar untuk memastikan, jika apa yang dia dengar memang benar.
"Apapun itu, suara yang baru saja terdengar kemungkinan terjadi dibawah jurang ini."
Suro kemudian membuat tehnik perubahan tanah yang berbentuk Lembuswana. Makhluk ciptaannya yang menyerupai kuda Sembrani lengkap dengan sayap, tetapi memiliki tubuh seperti sapi dan memiliki belalai dan juga gading.
Kali ini Suro memiliki solusi agar Mahadewi bisa tetap mengikuti dirinya, yaitu menaiki Lembuswana. Dengan tanpa Mahadewi dibelakang pundaknya, maka dia dapat bergerak bebas. Karena itulah Suro segera melesat turun ke dalam jurang dengan cara terjun bebas.
Lembu swana terbang mengikuti dibelakang Suro. Pemuda itu cukup yakin jika sumber suara yang dia dengar berada persis di bawah kakinya, yaitu berada didalam jurang itu. Karena alasan itu lah Suro mencoba memastikan hal itu dengan memasukinya.
"Sekarang katakan padaku, bagaimana cara membuka peti ini? Jika tidak, maka kekasihmu yang berjuluk pendekar Tapak Dewa Matahari itu akan aku bunuh!"
Ancaman yang diucapkan iblis racun, kali ini membuat air mata Dewi Anggini tidak kuasa dia tahan "jangan libatkan kakang Sindu, dia tidak mengetahui apapun yang terjadi." Dewi Anggini berbicara begitu pelan, karena kekuatan raganya sudah sampai batasnya.
Meskipun dia adalah seorang pendekar wanita yang tegar, namun dia adalah perempuan. Maka hal terakhir yang dapat dia lakukan hanyalah meneteskan air mata.
Giginya bergemeletukkan menahan segala kemarahannya yang tak tertahankan. Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan segala perasaannya.
"Hahaha...! Akhirnya dia menangis bahagia sebab kekasihnya akan aku habisi!"
"Jangan khawatir, sebelum aku menghabisinya, dia akan menyaksikan pertunjukan yang akan aku lakukan bersamamu. Hahaha...!"
"Berani kau menyentuh adinda Dewi Anggini, maka akan aku potong anggota tubuhmu sedikit demi sedikit!" Eyang Sindurogo menggeram penuh murka.
"Memang kau bisa apa Sindurogo, jika aku akan mengagahi kekasihmu saat ini?"
Lelaki yang berjuluk iblis racun tertawa tergelak. Dia kemudian berjalan ke arah Dewi Anggini yang terkurung didalam sebuah kurungan energi yang diciptakan oleh Batara Karang.
Iblis racun lalu berjongkok sambil menatap Dewi Anggini yang duduk bersila. Kerangkeng energi yang terbuat dari semacam kekuatan petir itu hanya cukup untuk Dewi Anggini duduk.
"Katakan sekali lagi kau tidak mampu membuka peti itu, maka kekasihmu yang sekarang tidak ubahnya seperti ayam sayur itu akan aku potong lehernya."
Kali ini Dewi Anggini tidak menjawab, hanya kedua grahamnya yang beradu menahan marah, begitu juga kedua matanya tidak berhenti terus mengalirkan air mata yang telah membasahi pipinya.
"Atau jika kau tidak menjawab, maka aku akan menikmatimu!"
"Jangan kau berani sentuh adinda Dewi Anggini, jika kau menginginkan aku mati bunuh saja diriku!" Suara eyang Sindurogo berteriak penuh murka.
"Hahaha...ada pahlawan kesiangan. Baiklah, jika dirimu ingin mati lebih cepat akan aku kabulkan Sindurogo!
Tetapi kau yakin akan mati lebih cepat? Sebab sepeningalmu aku akan menikmati kekasihmu. Dia akan melayaniku sampai puas.
Sebenarnya aku ingin kau melihat hal tersebut. Sebab kejadian itu akan aku ingat sebagai kenangan terindah. Setelah itu aku akan habisi dia. Hahaha...!"
Eyang Sindurogo tidak mampu menahan kemarahannya, tetapi dia tidak mampu mengerahkan tenaga dalam miliknya. Bahkan untuk berdiri saja dia tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.
'Bagaimana mungkin aku yang telah meminum Tirta Amerta masih mampu diracuni. Jenis racun apa sebenarnya ini? Mengapa reaksinya begitu kuat?'
Iblis racun tertawa semakin keras melihat eyang Sindurogo tidak mampu melakukan perlawanan. Pandangannya berpindah ke arah Batara Karang yang memilih diam dalam duduknya. Lelaki itu menikmati setiap adegan yang terjadi didepannya.
Lelaki itu cukup puas melihat eyang Sindurogo dilecehkan sedemikian rupa oleh iblis racun.
"Jika kau ingin memenggal Sindurogo, pastikan matanya tidak kau rusak, sebab itu adalah mata kutukan milik Medusa. Aku ingin menjadikannya sebagai milikku."
"Baik tuanku," ucap iblis racun sambil tersenyum dengan lebar.
Dia segera mengeluarkan sebuah senjata berbentuk seperti boomerang berwarna merah. Iblis racun segera melemparkan senjata miliknya.
Wuuung...wuuung...wuuuung...
Setelah melemparkan senjata itu dia tersenyum lebar" Ini akhir riwayatmu Sindurogo hahaha...!"
Traang!
"Mustahil pusakaku tidak mampu membelah tubuhnya? Siapa pemuda itu, bagaimana bisa mendadak muncul?"
Lesatan senjata milik Iblis racun menghantam tubuh seseorang. Tetapi senjata itu seperti menghantam sesuatu yang sangat keras. Sehingga senjata milik iblis racun justru terpental kembali ke arah pemiliknya.
Didepan eyang Sindurogo kini berdiri seorang pemuda yang rambutnya teriap sampai ke bahu. Wajahnya yang putih bersih tersungging sebuah senyuman.