SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 184 Pujangga Gila



"Bagaimana kakang, apakah kekuatanmu sudah pulih?" Dewa Pedang menatap Dewa Rencong yang telah membuka mata setelah sebelumnya mencoba menghimpun tenaga dalamnya.


"Aku kira sudah cukup." Dewa Rencong kemudian bangkit dari tempat duduknya. Matanya menatap Dewi Anggini yang masih terpejam. Dewi Anggini yang sedang bersamadhi tangannya masih membentuk kurma mudra atau mudra penyembuh.


Kondisi itu sudah menggambarkan jika luka dalamnya belum sepenuhnya sembuh. Karena petir yang menyambar ke arahnya itu, jika manusia biasa, tentu telah merubahnya menjadi seonggok arang.


Kurma dalam bahasa sansekerta artinya adalah kura-kura atau lebih tepatnya adalah penyu. Seperti seekor kura-kura yang dapat hidup di air dan di darat, kurma mudra ini memiliki manfaat untuk membantu keseimbangan air dalam tubuh. Sehingga akan membantu kinerja organ dalam.


Selain itu kurma mudra juga bermanfaat untuk menenangkan pikiran juga memulihkan dan menyembuhkan berbagai rasa sakit.


"Kita sebaiknya segera meninggalkan tempat ini. Menurut nakmas Suro, Bhuta kala dalam jumlah besar mulai mendekat ketempat ini." Dewa Pedang melihat ke arah Dewi Anggini.


Sebelum Dewa Pedang membangunkan Dewi Anggini bulu lentik matanya mulai bergerak-gerak. Mata milik wanita yang begitu ayu itu kemudian terbuka.


"Apakah tetua Dewi Anggini sudah dapat meneruskan perjalanan?" Dewa Rencong menatap wajah yang ayu, tetapi berkesan dingin itu dengan tersenyum.


"Aku rasa sudah cukup kakang, kita bisa kembali meneruskan perjalanan." Dewi anggini menjawab sambil bangkit dari duduknya.


Mereka kemudian bersiap-siap hendak melanjutkan perjalanan, sebelum sebuah suara cukup keras menerjang ke arah mereka.


"Catur atma tumeko ing wana!"


(Empat nyawa datang di hutan)


Suara yang menghentak dengan begitu keras memaksa mereka menghentikan langkah mereka. Padahal mereka sudah akan kembali melanjutkan perjalanan. Persis sebelum mereka melesat terbang.


Entah mengapa mereka tidak langsung saja melesat terbang, mereka seakan terhipnotis dan justru mengurungkan niat untuk melesat terbang. Agaknya Dewa Pedang memutuskan membatalkan niat awalnya, karena mempertimbangan keselamatan semua.


Sebab bersama dengan suara yang barusan terdengar hawa pembunuh yang sangat kuat seakan membekukan apapun yang ada. Bahkan seakan udara sekalipun mampu dibekukan, sehingga membuatnya berhenti berhembus.


Bukan itu saja, entah kebetulan atau tidak, dengan hantaman suara barusan, mendadak hujan yang turun begitu deras sejak tadi langsung berhenti. Namun langit justru semakin bertambah gelap, karena seakan seluruh awan hitam seperti tertarik dan berkumpul diatas mereka.


Suara yang barusan terdengar seakan ditunjukkan kepada mereka. Sebab secara kebetulan, jumlah empat orang yang sedang memasuki hutan, seperti kondisi mereka sekarang. Sebelum mereka menemukan asal suara, kembali terdengar suara yang memekakkan telinga.


"Catur rasekso tumeko ing pati!"


(Empat raksasa datang ajalnya)


Kalimat itu juga seakan menggambarkan empat Bhuta kala yang telah tewas barusan.


Suara yang barusan terdengar lebih keras dari pada sebelumnya. Suara itu menggelegar keras melebihi suara petir. Jika diperhatikan terdengar mirip semacam mantra yang dinyanyikan seperti sebuah kidung.


Secara spontan mereka berempat segera mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi organ dalam mereka. Mereka segera waspada, sebab musuh yang datang kali ini bukanlah dari bangsa Bhuta kala maupun Braholo.


Meskipun kata-katanya seperti serampangan tetapi memiliki makna. Pemilihan kata dalam kalimat terkandung kecerdasan dan juga memiliki nilai seni sastra. Sesuatu yang tidak mungkin dimiliki oleh para Bhuta kala. Sebab menurut Dewa Rencong makhluk itu akalnya setara dengan cacing tanah.


"Lindungi diri kalian!" Dewa Pedang berteriak untuk mengingatkan mereka semua.


Sudah sejak awal Suro telah menutup lubang pendengarannya. Meskipun kuatnya suara itu dapat dikurangi dengan menutup lubang pendengarannya, tetapi imbas kekuatannya mampu membuat tubuh Suro tidak mampu untuk berdiri dengan kokoh. Bahkan untuk bernafas saja dadanya terasa sesak.


Sebab setelah hentakan suara itu berhenti, gaung dari suara itu tak kalah dahsyatnya seakan memecah langit dan menghajar mereka dari berbagai arah.


Dewa Pedang langsung memahami suara itu adalah milik tokoh yang sangat kuat, kemungkinan sudah berada pada tingkat langit. Suara itu adalah sebuah bentuk jurus yang sangat mematikan, bahkan mampu menghancurkan organ dalam manusia meski hanya mendengar saja.


Dewa pedang dan Dewa Rencong tidak bergeming meski suara yang menerjang terasa begitu kuat. Dewi anggini terlihat langsung mengerahkan tenaga dalamnya sekuat mungkin, agar bisa melindungi luka dalamnya yang belum benar-benar pulih.


Padahal dia sudah pada tingkat shakti tahap tinggi. Kondisi itu masih memaksanya harus berusaha keras melindungi pendengaran dan tubuhnya dari kuatnya serangan.


"Aaaaakh...!" Suro berteriak keras penuh rasa sakit.


Dari keempat orang Suro yang paling merasakan betapa mengerikannya imbas kekuatan suara yang menyerang mereka. Dewa Pedang memahami kondisi, dia segera bergerak melindungi Suro.


Begitu kerasnya suara itu menghantam ke arah mereka, membuat dedaunan beringin yang menjadi tempat berteduh mulai banyak berguguran. Semakin keras suara yang terdengar, maka dedaunan yang berguguran semakin bertambah banyak.


"Jalmo moro jalmo mati!"


(Jika manusia datang maka manusia akan dibunuh)


(Jika ada setan datang, maka setan juga akan dibunuh)


Suara yang terdengar seakan penuh makna, tetapi sesungguhnya itu adalah salah satu jenis jurus gendam kematian yang mampu menghancurkan raga maupun jiwa seseorang. Suara yang sekilas seperti kidung atau mantra itu, terdengar menggelegar. Jika Suro tidak segera dibantu Dewa Pedang mungkin dia sudah mutah darah dan gendang telinganya pecah.


"Kakang apakah sudah menemukan asal suara barusan?" Dewa Pedang menatap Dewa Rencong sambil melindungi Suro.


Mereka telah menyadari jika lawan yang datang ini telah menggunakan tehnik pemindah suara. Suatu tehnik yang memungkinkan penggunanya seolah berada didekat mereka, padahal berada ditempat yang jauh. Tetapi dengan melihat kuatnya serangan itu, mereka dapat menakar betapa tinggi kemampuan yang dimiliki lawan.


"Entahlah adimas dimana sebenarnya sosok yang sedang menembangkan syair barusan?" Dewa Rencong masih berusaha menemukan keberadaan musuh.


"Syair? Benar sekali ini adalah sebuah syair!" Dewa Pedang setelah mendengar perkataan Dewa Rencong seakan teringat tentang sesuatu


"Siapa lagi ini? Mengapa musuh satu hilang, muncul musuh lain?" Dewa Rencong merutuk kesal.


"Kakang pernah mendengar tidak, cerita tentang pujanga gila dari hutan Gondo Mayit?"


"Maksud adimas Dewa Pedang yang telah membuat buku tidak bermutu yang berjudul seratus langkah cerdas menaklukan wanita? Salah satu bagian yang masuk dalam Kitab Seribu Cara Menaklukan Wanita."


"Bagaimana kakang bisa tahu?" Dewa Pedang terkejut mendengar jawaban Dewa Rencong barusan.


"Tentu saja, karena aku berhari-hari membaca seluruh kitab perpustakaan pribadimu."


Suro terkejut mendengar kitab yang menjadi andalan untuk menghadapi Mahadewi disebut Dewa Pedang. Tetapi hentakan suara yang menerjang sebelumnya telah membuat kepala terasa seperti mau pecah. Sehingga dia kembali berkonsentrasi untuk memulihkan dan melindungi organ dalamnya. Beberapa pil untuk memperkuat organ tubuh juga memperkuat tenaga dalam segera dia telan.


Sebelum imbas hantaman suara sebelumnya mampu dia atasi kembali hantaman suara datang.


"Iblis moro iblis mati!"


(Jika ada iblis datang maka iblis akan dibunuh)


Hantaman suara kali ini disertai serangan seakan ribuan pedang. Dewa Rencong segera melindungi mereka semua dengan hantaman energi tebasan miliknya.


"Satru moro satru mati!"


(Jika ada musuh yang datang maka musuh akan dibunuh)


"Seprana-seprene, ingsun nora ketemu jalmo manungso"(dari dulu hingga sekarang, aku belum bertemu manusia).


Setiap kalimat yang datang semakin meningkat hawa pembunuh dan energi pembunuh yang menerjang mereka.


"Samubarang menungso kang sinawang amung jalmo"(setiap manusia yang terlihat hanyalah penjelmaan).


Suara itu kemudian berhenti, tetapi pemilik suaranya sendiri belum muncul.


"Aku tidak pernah mendengar kisah orang yang adimas maksud?" Dewa Rencong kembali menatap Dewa Pedang, setelah berhasil menahan serangan yang menerjang barusan.


Akibat terjangan serangan barusan, pohon beringin besar yang mereka gunakan untuk berteduh telah hancur tertebas oleh energi kekuatan yang menyerupai ribuan tebasan pedang.


Sebelum menjawab, Dewa Pedang lebih dahulu melihat situasi dengan penuh waspada.


"Dia adalah jagoan kelas atas karena patah hati dia menjadi gila. Kabarnya dia memilih bunuh diri terjun masuk ke dalam dasar jurang neraka. Tetapi itu terjadi hampir seratus tahun yang lalu."


"Tetapi dewata sepertinya berkehendak lain. Sebab dari desas desus yang terdengar jika disekitaran hutan ini sering terdengar suara orang yang melantunkan syair-syair menjadi sebuah kidung. Mereka percaya jika itu adalah Pujangga gila yang justru tidak mati setelah meloncat ke dalam jurang neraka."


"Agaknya pikirannya yang sudah terlanjur gila semakin bertambah gila oleh kekuatan kegelapan yang sangat pekat didasar jurang."


"Apakah itu dia atau bukan? Aku juga tidak mengetahuinya. Namun kabar mengenai suara kidung itu ternyata benar. Tetapi aku tidak menyangka jika kidungan itu, ternyata terdengar begitu mengerikan! Pantas saja dihutan ini tidak ada makhluk yang hidup yang masih bernafas, kecuali makhluk-makhluk dari kekuatan kegelapan yang berasal dari jurang neraka. Agaknya semua hewan liar kabur ketakutan atau justru telah mati semua." Dewa Pedang berbicara sambil menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Suro.


"Siapa kau kisanak mengapa kau menyerang kami?" Dewa Pedang berteriak mencoba mencari tau. Tetapi tidak terdengar apapun.


Sebelum Dewa Pedang mendapatkan jawaban sebuah gemuruh suara menghentak-hentak dengan begitu keras dan bergerak semakin mendekat ke arah mereka.


Ditunggu komentarnya dan juga sumbangan koin dan point. Jangan lupa untuk like setiap chapternya