SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
528 Kembali Ke Awal



"Manusia sialan, bagaimana caranya kau masih hidup dan membawaku kembali ke awal?" teriak murka Dewa Kegelapan.


"Tentu saja aku bisa, mengenai bagaimana caranya cari tau saja sendiri!" cibir Suro.


"Eyang Guru cepat bawa semua pasukan yang ada mundur sejauh mungkin!" teriak Suro kepada gurunya yang sedang memimpin para pendekar menghadapi pasukan kegelapan.


Awalnya Eyang sedikit ragu, sebab pasukan kegelapan yang bermunculan dari dalam tanah itu semakin banyak. Jika dia harus mundur itu artinya pasukan kegelapan akan menyebar ke segala arah.


"Percayakan padaku Eyang Guru!" teriak Suro kembali yang membuat Eyang Sindurogo akhirnya memerintahkan seluruh pasukan untuk mundur menjauh dari Gunung Mahameru.


"Sepertinya kini aku sudah bisa mengerahkan kekuatanku yang sebenarnya," gumam Suro sambil menghela nafas panjang. Dia yang sudah melihat apa yang terjadi di masa depan seperti apa nasib pasukan para pendekar mencoba menyelamatkan mereka dari kematian.


Pandangan mata Suro lalu berpindah ke arah Dewa Kegelapan yang masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi padanya.


"Sekarang saatnya kau mati!" decak kesal Suro sambil melesat ke depan dan menghantamkan kedua pedangnya ke arah musuhnya.


Tebasan Pedang Akar Dewa segera melesat menerjang ke arah Dewa Kegelapan seakan banjir bandang. Pedang itu berubah menyerupai sulur yang berjumlah tidak terhitung. Melihat hal itu serta merta Dewa Kegelapan segera menciptakan Pedang Kegelapan Abadi yang segera menghancurkan semua pedang yang hendak merajam dirinya.


"Sekarang matilah kau makhluk terkutuk!" teriak Suro yang segera mengambil kesempatan selagi Dewa Kegelapan berusaha menghancurkan serangan yang datang dari tebasan Pedang Akar Dewa.


Kepalan tangan Suro dipenuhi energi yang berupa matahari kembar dari jurus Tapak Dewa Matahari. Suara mendengung yang melebihi kerasnya ribuan lebah menggambarkan betapa mengerikan energi yang dikerahkan Suro.


Duuuuuuuum!


Hantaman tangan Suro yang mendadak muncul diatas kepala Dewa Kegelapan langsung menghajar dengan cepat dan dahsyat. Tubuh Dewa Kegelapan yang terbang mengambang itu langsung amblas menghantam bumi. Serangan Suro tidaklah berhenti dia kembali mengerahkan jurus pedangnya Tebasan Pembelah Langit dengan menggunakan Pedang Pelahap Sukma.


Ledakan berturut-turut menghantam bumi. Selain itu Suro juga mengerahkan jurus perubahan tanah yan tidak kalah dahsyatnya. Bumi secara bergantian menghantam tubuh Dewa Kegelapan yang baru saja terjatuh dihimpit dari segala arah.


"Setan alas manusia sialan, kau pikir ini dapat kau bunuh hanya dengan serangan seperti ini!" teriak Dewa Kegelapan yang ternyata tubuhnya tidak juga terluka.


Tubuhnya telah berubah menjadi berwarna hitam gelap melebihi hitamnya warna malam. Bahkan Pedang Akar Dewa dan Pedang Pelahap Sukma sekalipun tidak mampu menarik roh milik Dewa Kegelapan.


Tubuh Dewa Kegelapan kembali melesat ke langit dimana Suro menatap dari jauh. Terlihat wajah kesal melihat serangannya tidak juga berhasil membunuh Dewa Kegelapan.


Dia langsung menyambut kedatangan musuhnya yang melesat cepat melebihi cepatnya kilat, sehingga semua mata yang melihat dari kejauhan hanya melihat tubuh Dewa Kegelapan telah berada di depan Suro yang berada di ketinggian.


Duuuuuuuum!


Dua kekuatan mengerikan beradu menggetarkan langit dan bumi. Awan hitam akibat ledakan Gunung Mahameru yang melesat menembus awan dan memenuhi langit tersibak oleh kuatnya hempasan energi yang beradu.


Akibat dua kekuatan itu juga membuat tubuh Suro terlempar ke atas sedemikian tinggi. Sedangkan Dewa Kegelapan pun kembali menghantam bumi dan membuat sebuah bukit yang tertimpa di sekitar Gunung Mahameru hancur.


Duuuuuuuum! Duuuuuuuum!


Ledakan berturut-turut kembali terdengar dan membuat bumi kmebali bergoncang sedemikian keras. Hal itu tentu saja semkain membuat Gunung Mahameru semakin menghemat memutahkan Lavanya.


Eyang Sindurogo dan yang lain beruntung telah bergerak menjauh semenjak pertarungan Suro menjadi sedemikian mengerikan. Pasukan Kegelapan juga banyak yang lenyap akibat pertarungan yang terjadi antara Suro dan Dewa Kegelapan.


Seharusnya semua pasukan yang di pimpin Dewa Pedang dan juga Eyang Sindurogo telah tewas semua, kecuali sedikit saja yang selamat. Hanya saja berkat Suro berhasil menggunakan kekuatan Pusaka Kalacakra maka semuanya mundur ke waktu sebelumnya. Keadaan itu membuat semua kembali hidup.


"Semua mundur sejauh mungkin!" teriak Eyang Sindurogo, sebab dia melihat gempa bumi yang meluluh lantakkan sekitaran Gunung Mahameru terlaku mengerikan, sehingga dia merasa jarak dimana mereka berada belumlah aman. Padahal jarak mereka dan Gunung Mahameru sudah lebih dari dua kilometer.


Para prajurit dari beberapa kerajaan juga diperintahkan untuk membantu penduduk segera mengungsi sejauh mungkin. Mereka kini menyadari pertarungan yang terjadi antara Suro dan Dewa Kegelapan sudah sangat mengerikan bagi semua makhluk hidup di sekitarnya.


Keadaan itu juga yang membuat Eyang Sindurogo memilih mundur menyetujui permintaan Suro.


Duuuuuuuum! Duuuuuuuum!


Kembali ledakan Gunung Mahameru terdengar bersahutan bersama ledakan pertarungan yang tidak ada tanda-tanda berhenti. Bumi terguncang dengan bertambah hebatnya.


Kawah kawah bertebaran di sekitaran Gunung Mahameru akibat kuatnya ledakan akibat terhantam oleh tubuh mereka. Beberapa kali tubuh Suro juga terhantam ke bumi oleh pukulan Semesta Hitam milik lawannya.


"Aku tidak mengira engkau mampu bertahan dari serangan ku sampai sejauh ini," decak kesal dan kagum Dewa Kegelapan.


Dia melihat di tubuh Suro tidak terlihat ada luka sedikitpun setelah secara beruntun dia berhasil menghantamkan pukulannya.


"Tetapi ini justru semakin membuat diriku bersemangat!" seringai Dewa Kegelapan yang kembali melesat mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memghabisi Suro.


"Kau terlalu banyak mulut!" seringai Suro sambil menatap lawannya yang melesat ke arahnya dengan sedemiian cepat. Semesta Hitam yang dikerahkan Dewa Kegelapan kali ini begitu mengerikan, sehingga mampu menghancurkan Gunung Mahameru yang sedang bergejolak dahsyat.


Namun Kali ini Suro tidak menghadang serangan lawannya, justru secara mengejutkan dia berbalik dan menghindar. Dia terbang tinggi. Rupanya Suro memahami, jika dirinya melawan dengan keras, maka energi yang meledak akan menghancurkan Gunung Mahameru dan itu tentunya membuat bencana lebih luas.


"Hendak lari kemana kau anak manusia sialan!" teriak Dewa Kegelapan yang tidak mau melepaskan keberadaan Suro yang mengira hendak melarikan diri karena ketakutan melihat jurus yang dia kerahkan.


Suro terus terbang semakin tinggi hingga melewati awan hitam akibat ledakan Gunung Mahameru. Baru saja Dewa Kegelapan muncul diatas mendadak sebuah energi seperti matahari yang bersinar dengan teramat terang menghadang langkahnya.


"Sial, bagaimana dia mampu melakukannya?" ucap Dewa Kegelapan yang sebelumnya dia tidak melihat Suro mengerahkan jurus apapun, kecuali hanya melesat cepat berusaha menjauh darinya.


"Sekarang kau kali ini akan aku pastikan kematiannya!" teriak Dewa Kegelapan sambil menghantamkan bola energi yang merah membara sebesar dua rumah besar.