
Melihat Wulusan begitu murka, Suro justru tersenyum. Karena kini lawan yang harus dia hadapi hanya tinggal seorang.
"Kemampuan ilmu pedang paman begitu mengagumkan. Tetapi sayang, paman justru memilih jalan spiritual iblis membuat kemampuan paman yang seorang ahli pedang tidak akan pernah mencapai tahap puncak seorang ahli pedang." Suro tersenyum sambil menatap Wulusan yang sedang murka setelah Baga akhirnya menemui ajal dengan begitu tragis.
"Setan alas, sebelum bapakmu memimpikan tentang wajahmu, aku sudah menyandang pedang, bocah! Jangan berbicara tentang ilmu pedang kepadaku, apalagi dari seorang bocah tengik sepertimu!" Wulusan mendengus kesal.
"Entah karena mereka sedang sial atau memang keberuntunganmu terlalu tinggi, bocah? Kami tujuh pedang sesat sebelumnya tidak sekalipun dalam setiap pertarungan, kami pernah kalah! Tetapi gara-gara junjungan menuruti permintaan wanita ular sialan itu, agar datang ke tanah Javadwipa ini, kesialan kami datang secara bertubi-tubi!" Suara gemeletuk gigi Wulusan terdengar keras. Agaknya kemarahannya sudah sampai ubun-ubun.
Semua kemarahan dan kekesalan Wulusan semakin bertumpuk-tumpuk dalam kepalanya. Apalagi setelah rencana kedatangan dirinya bersama junjungannya dan juga seluruh rekannya, justru berakhir jauh dari apa yang telah direncanakan sebelumnya. Tidak ada jabatan maupun kekayaan yang didapat seperti yang dijanjikan.
Apalagi jarak tempuh yang mereka lalui untuk sampai di tanah Javadwipa ini sangatlah jauh. Tetapi setelah melalui perjalanan sebegitu jauh, justru kesialan dan kematian terus mengikuti perjalanan mereka.
Dimulai dengan junjungannya sendiri harus kehilangan lengan tangan kanannya yang hancur, setelah bertarung dengan Dewa Pedang. Kemudian diikuti Wanadri, Jenggala, Welasan dan Baga yang harus berakhir dengan kematian. Tragisnya keempat rekannya itu semua berakhir ditangan seorang bocah bau kencur yang sekarang sedang berada didepannya.
"Akan aku habisi kau setan alas!" Wulusan berteriak keras mengawali serangan pamungkasnya.
Wulusan kali ini menyerang Suro dengan kecepatan yang berbeda dari sebelumnya. Tebasan demi tebasan yang dia lakukan semakin bertambah cepat.
Kecepatannya kini sudah tidak mampu lagi ditangkap oleh orang awam. Tetapi pada kecepatan ini Suro masih mampu menangkap semua serangan yang datang.
Namun itu bukanlah kecepatan puncak yang dimiliki Wulusan, dia bergerak semakin cepat. Setiap serangannya mampu ditangkis Suro, maka dia akan menambah kecepatannya.
Jurus perubahan tanah sudah tidak mampu dipakai untuk mengunci tubuh lawannya. Karena pada kecepatan seperti itu tubuhnya seakan tidak menyentuh tanah.
Lesatan ribuan jarum es beracun yang dikerahkan Suro, tidak ada satupun yang mengenai tubuh lawannya. Bahkan api hitam Lodra sekalipun tidak mampu menangkap tubuh Wulusan.
Sebab kecepatan yang dicapai Wulusan sekarang ini, mungkin sudah setara dengan sebuah kilat petir yang menyambar-nyambar. Kecepatan itu sudah tidak mampu lagi ditangkap melalui indera penglihatan.
Untuk mengalahkan lawannya kali ini agaknya dia tidak bisa mengandalkan ilmu yang lain, kecuali hanya dengan ilmu pedang miliknya.
Didalam kitab Dewa Pedang ada satu jurus yang diciptakan khusus untuk menghadapi jurus pedang berkecepatan tinggi sejenis dengan jurus yang dikerahkan Wulusan. Jurus yang dimaksud adalah jurus Pedang Tanpa Wujud.
Jurus pedang itu memiliki keunikan tersendiri, sehingga jurus yang memiliki kecepatan laksana kilat sekalipun dapat dikalahkannya.
Tetapi jurus itu juga dikenal dengan tingkat kesulitannya yang sangat tinggi. Jurus itu dikenal begitu susah dipahami, karena jurus itu memang tidak memiliki bentuk gerakan seperti jurus lain.
Gerakan jurus itu tidak ada pakemnya tidak memiliki kaidah bentuk dari sebuah bentuk jurus. Jurus ini tidak bersifat lembut maupun kasar, tidak bersifat lambat maupun cepat, tidak bersifat yin maupun yang, tidak bersifat shiva maupun shakti, lingga maupun yoni, karena memang jurus ini juga tidak memiliki sifat. Jurus ini adalah hening sebuah kekosongan mutlak yang tidak memperpengaruhi, tetapi justru mengikuti alur karma yang berjalan.
Bukan dirinya yang menggerakan bentuk jurusnya, Justru serangan lawan lah yang membentuk pola gerakan jurusnya.
Jurus ini disebut Pedang Tanpa Wujud, karena jurus itu adalah bentuk penyerahan total pada karma. Jurus ini adalah intisari dari seluruh ilmu pedang.
Jurus ini tidak digerakan oleh keinginan pemilik jurus, tetapi naluri sendiri yang bergerak bebas tanpa keakuan didalamnya.
Penyerahan total pada karma ditandai dengan menutupnya lima panca indera dalam tubuh. Kemudian mulai terbukanya mata ketiga yang akan memicu aktifnya indera keenam. Seperti mematikan diri dalam hidup.
Saat Suro telah mulai menguasai jurus itu, maka secara tanpa sadar tubuhnya bergerak mengikuti kecepatan gerakan Wulusan. Setiap serangan Wulusan yang datang tanpa dia ketahui arahnya telah ditangkis bilah pedang miliknya.
Dua petarung itu secara cepat telah melewati puluhan jurus dalam rentan waktu yang begitu singkat. Tidak banyak yang mampu menangkap kelebat bayangan mereka saat ini.
Bahkan mata Suro sendiri telah terpejam sejak dia memulai memutuskan mengerahkan jurus itu. Ketika pertarungan telah berjalan berpuluh-puluh jurus maka medang pertempuran telah meluas.
Orang-orang yang menyaksikan Pertarungan yang begitu dahsyat semakin terkagum dan semakin merasakan kengerian yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sebab dengan kemampuan barusan, mereka segera menyadari. Seandainya dia mau, bocah ingusan yang sejak awal mereka kepung, mampu menumpas habis mereka semua dengan begitu mudahnya.
Kemudian setelah pertempuran berjalan mendekati hampir seratus jurus, terjadi perubahan alur pertarungan.
"Tidak mungkin, bagaimana kau mampu membaca gerakanku?"
"Kurang ajar, jurus apa yang kau gunakan ini!" Wulusan segera menyadari jika lawannya selama ini memejamkan mata.
Jleb!
Kemudian dalam satu gerakan cepat, Suro akhirnya berhasil mengakhiri pertarungannya dengan Wulusan. Pedang Kristal Dewa telah menancap di dada sebelah kiri.
"Jurus yang aku gunakan ini bernama Jurus Pedang Tanpa Wujud!" Suro tersenyum ke arah Wulusan yang telah lunglai. Bilah pedang miliknya telah lepas dari gengamannya.
"Jurus ini tidak akan bisa paman kuasai selagi jalan spiritual yang paman pilih adalah spiritual iblis. Karena jurus ini mematikan segala keangkara murkaan dalam hati, sehingga mencapai ketenangan hati dipuncak kesucian jiwa tertinggi." Suro kemudian mencabut bilah pedangnya yang diikuti ambruknya tubuh Wulusan.
'Luar biasa bocah ternyata kau sudah mencapai tingkat ilmu pedang ini!" Lodra berteriak penuh kekaguman. Sebab saat Suro memulai menyatu dalam jurus Pedang Tanpa Wujud dirinya telah kehilangan kontak kesadaran dengan Suro, yang artinya dia telah mengosongkan seluruh panca inderanya dan mulai tenggelam dan bersatu dalam intisari seluruh ilmu pedang.
'Hawa kegelapan ini, tidak salah lagi pasti iblis itu! Kau harus membiarkanku menghabisinya bocah!'
"Lodra apa yang kau lakukan!" Mendadak tubuh Suro diseret oleh Lodra terbang ke arah dimana para tetua tadi muncul.
**
"Apa yang terjadi diluar? Mengapa Jenggala tidak segera kembali?" Pedang iblis menatap ke arah pengawal pribadinya.
"Baga, Welahan, Wulusan susul Jenggala. Suruh dia secepatnya menyelesaikan tugas yang aku berikan. Ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengannya!"
"Sendiko dawuh, kanjeng junjungan!" Secara serempak mereka bertiga menjawab dan menjura dilakukan secara berbarengan.
Melihat Pedang iblis memerintahkan pengawalnya untuk melihat keributan diluar, wakil ketua Perguruan Tengkorak Merah ikut memerintahkan lima tetua keluar bersama tiga pedang sesat.
Wakil ketua Dharmatungga sebenarnya sudah cukup gundah sejak tetua Lokapala bersama beberapa tetua tidak segera kembali. Tetapi karena Pedang iblis tidak segera menyelesaikan pembicaraannya membuat dia tidak berani menyela.
Setelah kepergian ketiga pedang sesat bersama lima tetua Tengkorak Merah, mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.
"Apakah kau yakin dengan ilmu yang kau sebutkan barusan mampu menumbuhkan lenganku yang telah putus ini Dharmatungga?" Pedang iblis menatap wakil ketua Dharmatungga dengan begitu tajam.
"Hamba berani menjamin, bahwa ilmu setan pemangsa jasad ampuh memulihkan tubuh kanjeng junjungan Pedang iblis! Bahkan akan membuat tubuh kanjeng junjungan kembali muda!" Wakil ketua Dharmatungga berbicara dengan sangat berhati-hati agar tidak disalah artikan. Dia terlihat begitu ketakutan dengan Pedang iblis.
"Tetapi untuk melakukan hal itu kita memerlukan waktu agak lama. Sebab harus ada tumbal tidak sedikit yang harus dikorbankan. Semakin muda tumbal yang digunakan, maka akan semakin bagus untuk kekuatan kanjeng junjungan."
Pedang iblis tersenyum mendengar penjelasan wakil ketua Dharnatungga. Dia mulai mendongakan kepala ke atas. Agaknya dia ada harapan lebih bisa kembali pulih menjadi Pendekar Pedang yang paling menakutkan.
"Jika apa yang kau katakan itu benar adanya, seperti yang telah aku janjikan kepada kalian di awal, aku akan mengajarkan ilmu iblis kalipurusha. Salah satu alasan aku akan menurunkan ilmu ini kepada kalian, karena jalan spiritual yang kalian pilih sejalan dengan Kitab iblis kalipurusha."
Mereka berbicara panjang lebar cukup lama tanpa peduli dengan pertempuran yang terjadi. Pedang iblis cukup yakin para pengawalnya mampu mengatasi, karena kabarnya yang membuat keributan hanyalah seorang bocah. Karena itulah dia tetap meneruskan pembicaraan tanpa peduli suara pertempuran yang tengah terjadi, meski suara itu semakin terdengar jelas.
Mereka tetap melanjutkan mendengarkan semua ucapan Pedang iblis dengan penuh konsentrasi, hingga sesuatu yang ganjil mereka sadari. Sebuah kekuatan sedang melesat cepat menuju balairung dimana mereka berada.
Blaaar!
Sebuah ledakan menghancurkan atap balairung dan dengan cepat membakar seluruh atap itu dan merembet ke bagian lain.
"Ini kekuatan api hitam!" Pedang iblis segera berdiri. Menatap atap balairung yang telah terbakar api hitam.