
"Apa yang barusan aku katakan? Muridmu itu memang sedikit sinting?" Dewa Rencong menatap ke depan dimana gerbang gaib yang sebelumnya terlihat telah lenyap. Namun sebelum gerbang itu menutup secara sempurna, Geho sama maupun Suro telah berhasil masuk terlebih dahulu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Dewa Rencong menatap ke arah eyang Sindurogo yang masih termangu.
Dia masih tidak mempercayai jika muridnya telah pergi dari hadapannya.
"Sial, kenapa aku tidak meminta kepada Geho sama untuk mengajariku membuka gerbang gaib. Kalau begini aku tidak dapat menyusul angger Suro. Apakah dia baik-baik saja di dunia lain?" Eyang Sindurogo berbicara sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Benar juga tanpa diberi peringatan oleh muridmu yang sinting itu, kita berdua juga tidak dapat menyusul dirinya." Dewa Rencong kembali menggerutu. Dia masih merasa kesal, sebab Suro melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.
"Apakah gagak setan sempat mengucapkan sesuatu sebelum menyusul muridmu tadi?"
Mendengar pertanyaan Dewa Rencong, eyang Sindurogo mencoba menggingat, sesaat sebelum Geho sama melesat mengejar muridnya.
"Tidak sepatah katapun, bahkan dia juga tidak sempat berpamitan. Dia bergegas setelah mendengar perintah muridku." Setelah mengingat-ingat kembali dia segera menyadari jika Geho sama memang selalu begitu patuh kepada muridnya, meskipun mulutnya tidak berhenti mengomel.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan keputusan muridku. Walaupun dia tidak sempat menjelaskan alasan atas keputusannya masuk ke alam kegelapan. Aku yakin dia memiliki alasan kuat, sehingga dia berbuat senekat ini."
"Sesuai apa yang telah dikatakan muridku, kita sebaiknya melanjutkan rencana awal. Salah satunya adalah mengumpulkan bahan yang akan aku gunakan untuk membuat Pill yang mampu meningkatkan kekuatan."
"Setelah itu aku akan meneruskan rencana mencari relik kuno yang tertunda. Karena itu adalah perintah pak tua. Gawat jika perintah itu tidak segera aku laksanakan. Dia bisa menceramaihiku selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti."
"Tapi itu nanti, saat ini kita harus membuat Pill untuk meningkatkan kekuatan pasukan yang ada di pihak kita. Termasuk dirimu, aku yakin dengan bantuan Pill ini kamu akan mendapatkan pencapaian kekuatan yang lebih tinggi."
Mendengar ucapan eyang Sindurogo, kedua mata Dewa Rencong langsung berubah menjadi biru dan berbinar-binar. Dia sudah melupakan kekesalan akibat keputusan Suro yang justru mengejar musuh masuk ke dalam gerbang gaib.
"Namun sebelum mencari bahan ramuan Pill itu, sebaiknya kita masuk ke dalam Perguruan Sembilan Selaksa Racun yang telah ditinggalkan penghuninya. Aku yakin disana kita akan menemukan sesuatu hal yang sangat menarik."
"Aku meminta bantuanmu untuk membawa segala hal yang berharga ke tempat muridku. Aku yakin segala rampasan perang ini akan sangat bermanfaat."
"Maksudnya aku diminta tolong menjadi kuli angkut?"
"Jika itu dibayar dengan Pill yang sangat ampuh meningkatkan kekuatanmu, apakah itu tidak pantas?"
"Nah kalau itu aku setuju, tidak masalah kalau perlu kita pindahkan saja seluruh bangunannya ketempat muridmu."
Mendengar usul Dewa Rencong, eyang Sindurogo mulai memincingkan mata.
"Sepertinya yang sinting itu bukan muridku, tetapi dirimu, Salya?"
"Memang ada yang salah dengan usulku? Bukankah dirimu dulu juga melakukan hal sinting? Mengangkat batu sebesar gunung sindirian, dipindah sebegitu jauh. Kemudian dijadikan sebagai tempat yang kau sebut padepokan. Memang aku tidak mendengar kelakuanmu itu?"
Eyang Sindurogo tertawa mendengar ucapan Dewa Rencong yang mulai tersulut emosi.
"Hahahaha...tapi walaupun kepalamu sinting, sebenarnya usulmu itu lumayan bagus. Kita akan menjadikan gunung batu disebelah selatan dari perguruan ini sebagai tempat segala harta rampasan yang akan kita bawa serta."
"Uhuuuk!"
Giliran Dewa Rencong yang hampir keselek mendengar ucapan eyang Sindurogo yang tanpa beban.
Seperti apa yang diucapkan barusan eyang Sindurogo kemudian memotong puncak gunung yang berupa batu utuh yang sangat besar.
Dengan kekuatan miliknya dan juga ilmu tapak Dewa Matahari, pendekar itu mulai membuat batu besar itu menjadi wadah raksasa yang memungkinkan mereka menempatkan barang ribuan gerobak.
"Akhirnya selesai." Eyang Sindurogo mengelap peluhnya yang bercucuran setelah dia selesai menatah gunung sedemikian rupa, sehingga berubah menjadi semacam sebuah wadah raksasa.
"Ayo kita angkat." Eyang Sindurogo menatap Dewa Rencong yang mulai menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangannya.
"Mengapa aku bisa berurusan dengan orang sinting seperti kalian?" Mendengar makian Dewa Rencong, eyang Sindurogo hanya tertawa kecil.
"Sekarang lebih sinting siapa diberikan istana tinggal duduk manis di atas singgasana. Kemudian kamu justru meninggalkan semua itu dan hidup menggelandang. Memilih kehidupan sebagai pendekar. Nama besarmu sebagai pendekar, bagiku juga tidak ada istimewa-istimewanya. Hahahaha...!"
Dewa Rencong memaki-maki panjang lebar mendengar perkataan eyang Sindurogo barusan.
"Sudah tidak usah merepet, kita sama-sama sinting. Kita angkat potongan gunung ini sekarang."
Potongan gunung itu kemudian dibawa pergi menuju ke Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Mereka kemudian meletakkan potongan gunung itu di tengah lapangan luas yang biasa digunakan untuk berlatih para anggota Perguruan Sembilan Selaksa Racun.
Setelah mereka memasuki perguruan itu, mereka segera menyadari, jika perguruan itu tidak sepenuhnya ditinggalkan seluruh anggota dan tetua perguruan. Ternyata masih ada yang menjaga. Jumlah mereka yang berada dalam perguruan itu tidak lebih dari seperenam dari total keseluruhan pasukan yang dimiliki perguruan itu.
Tetapi kedatangan mereka yang muncul dengan cara yang tidak biasa, membuat siapapun ciut nyalinya.
"Aku tidak berniat menghabisi kalian. Aku hanya akan bertanya sekali, siapa yang menjadi pemimpin sementara perguruan ini, setelah ditinggalkan ketua kalian?" Sengaja eyang Sindurogo bertanya sambil mengalirkan tenaga dalam miliknya untuk melambai suaranya. Hasilnya suara itu menggelegar dengan begitu dahsyat.
Dia sengaja melakukan hal tersebut untuk menjatuhkan mental lawan. Dengan begitu, tentu saja dapat mencegah jatuhnya korban yang jatuh.
Sebab dengan merasakan kekuatan yang begitu mengerikan, telah menghapus keinginan untuk melakukan perlawanan. Keputusan itu tentu dapat dimaklumi, sebab akibat suara yang dilambari tenaga dalam tingkat surga, maka para pendekar dibawah tingkat tinggi langsung kehilangan kesadarannya.
Mereka yang masih berada ditingkat tinggi tidak dapat menegakkan tubuhnya lagi. Para tetua yang telah berada ditingkat shakti yang masih mampu sadar dan tetap berdiri, meski tidak mampu berdiri dengan kokoh.
Selang tidak beberapa lama sesosok manusia melesat ke hadapan eyang Sindurogo. Selang tidak berapa lama, beberapa sosok menyusul dibelakangnya.
"Siapakah dua pendekar yang perkasa ini?"
"Tidak perlu basa-basi kisanak, aku adalah Sindurogo. Seluruh pasukan perguruanmu telah lenyap dari Medan pertempuran. Ketua dan seluruh anggota perguruan ini telah melarikan diri ke alam lain."
Mendengar nama Sindurogo mereka segera memahami, jika mereka berdua adalah pendekar yang sebelumnya hendak dihadapi ketua bersama seluruh pasukan perguruan mereka.
Keputusan ketua perguruan yang mengerahkan seluruh kekuatan perguruan untuk menghadapi beberapa penerobos terasa berlebihan, namun melihat cara mereka datang, keraguan yang sempat muncul langsung musnah tidak tersisa.
Apalagi kini merasakan sendiri seberapa kuat lawan yang ditakutkan itu. Mereka sebenarnya juga pernah mendengar nama besar monster dari Javadwipa, namun tidak pernah merasakan seberapa kuat tokoh dunia persilatan itu.
"Aku tidak perlu menjelaskan lebih detail. Intinya aku datang untuk melemahkan perguruan ini. Aku akan mengambil seluruh buku kitab racun dan juga ilmu Kanuragan perguruan ini yang kalian simpan diperpustakaan."
"Seluruh tawanan yang kalian jadikan sebagai kelinci percobaan ilmu racun kalian, saat ini juga bebaskan. Jangan ada sisa satupun. Beri mereka bekal harta simpanan dari perguruan ini."
Eyang Sindurogo mulai mendikte tetua perguruan yang menjadi ketua sementara. Dia melakukan itu tentu saja sambil melepaskan kekuatan tingkat surga miliknya dan hawa membunuh yang begitu kuat.
Kondisi itu tentu saja membuat tetua yang masih ditingkat langit itu gemetaran tanpa mampu dia kendalikan. Bahkan Dewa Rencong memilih menjauh dari samping eyang Sindurogo. Walaupun tujuan tekanan kekuatan itu tidak ditunjukan kepadanya. Namun dengan dahsyatnya kekuatan yang dimiliki eyang Sindurogo, membuat dirinya merasa nafasnya sesak.
Eyang Sindurogo melakukan seperti itu agar mampu menghindari kejadian yang tidak perlu. Sebab dengan cara seperti itu, ampuh menakuti mereka semua dan segera menuruti semua permintaan yang diucapkan oleh eyang Sindurogo.
Ternyata untuk melaksanakan seluruh permintaan darinya tidak dapat dilakukan dalam sehari. Mereka perlu beberapa hari untuk mengabulkan seluruh permintaan eyang Sindurogo.
Tetapi berkat itu, mereka mendapatkan bahan-bahan yang hendak digunakan untuk membuat Pill. Selain itu wadah yang digunakan untuk menampung harta rampasan berupa potongan gunung batu itu kini telah penuh.
Setelah mengerahkan Langkah Maya yang dia pelajari dari Geho sama, maka mereka berdua dan bawaannya yang mengisi potongan gunung itu ikut lenyap.
"Mereka berdua sepertinya bukan manusia lagi, agaknya perguruan kita mendapatkan balasan karma. Dan dewa langsung yang membalas semua kejahatan kita," Tetua yang kini menjadi ketua sementara menggumam sambil memandang hilangnya eyang Sindurogo dan Geho sama didepan mata mereka barusan.
"Kalau mereka berdua adalah dewa, mengapa bukan membumi hanguskan perguruan ini, tetapi justru merampok perguruan kita tetua?"
"Huuuush...ssstttt jaga mulutmu! Dasar mulut tidak berpendidikan, kalau dua dewa itu mendengar bisa runyam urusan!"