
Setelah memberikan perintah para bayi iblis, sosok dari Tongkat iblis mendadak menghilang dari pandangan.
"Kurang ajar, bagaimana Tingkat iblis memiliki kemampuan menghilang? Apakah dia juga memiliki jurus yang sejenis dengan Langkah Maya?"
Suro terkejut melihat Tongkat iblis dapat menghilang. Dia mencoba mencari keberadaan jagoan aliran hitam itu, namun dia teralihkan oleh serangan yang dikerahkan ratusan bayi iblis yang telah mengepungnya.
"Oweeeeeeeek! Oweeeeeeeek!
Oweeeeeeeek!"
Suara teriakan yang melengking menerjang ke arah Suro dari para makhluk yang telah mengepung dirinya. Tehnik itu mirip sekali dengan tehnik gendam milik Pujangga gila. Entah bagaimana caranya, sepertinya Tongkat iblis sedang berusaha mencoba membangun sebuah pasukan kegelapan yang lain.
Seperti juga gendam iblis milik Pujangga gila, serangan kali ini ini juga dilambari dengan tehnik perubahan angin. Sehingga lengkingan itu membawa serta energi tebasan pedang yang tak terhitung jumlahnya meluluh lantahkan tempat dimana Suro sebelumnya berdiri.
Serangan itu juga dilambari dengan kekuatan sihir yang bekerja lewat lengkingan suara untuk mempengaruhi pikiran lawannya.
Namun Suro sudah menghilang dari pandangan. Tiga manusia yang sebelumnya ditangkap Suro justru terkena serangan dari para makhluk yang mirip bayi iblis itu. Tubuh manusia yang digulung dengan menggunakan kekuatan perubahan tanah milik Suro, kini hancur lebur bersama dinding tanah yang mengurungnya.
Suro masih penasaran dengan makhluk yang katanya telah dimasuki kekuatan Braholo. Setelah menghilang, Suro muncul dibelakang tubuh bayi iblis itu.
"Aku ingin melihat apakah dirimu masih ada sisi manusia atau seluruhnya telah berubah menjadi makhluk kegelapan!"
Suro segera mengerahkan jurus empat Sage untuk menyerap kekuatan yang ada didalam tubuh makhluk kecil itu. Serangan Suro begitu cepat, sehingga makhluk itu langsung terhisap dengan kuat.
Semua bagian tubuhnya menghilang tanpa meninggalkan jasad lagi. Melihat kondisi seperti itu Suro segera menyadari jika para makhluk yang diciptakan dengan mengorbankan tubuh bayi yang masih merah telah berubah seluruhnya menjadi makhluk kegelapan. Sehingga mereka semua tak ubahnya seperti para Braholo.
Kondisi itu semakin membuat Suro tersulut kemarahannya.
"Makhluk biadab?"
Melihat Suro berhasil menghabisi salah satu dari mereka, para makhluk yang lain itu seperti kesetanan dan mulai mengamuk menyerang Suro dari jarak dekat dengan kuku-kuku dan giginya yang menghitam, pertanda jika seluruh bagian dari makhluk itu sangat beracun.
Namun racun yang dimiliki makhluk itu sepertinya tidak berpengaruh pada tubuh Suro, sebab sebelumnya dia telah berhasil menyerap habis tubuh bayi iblis itu.
Terjangan kuku-kuku mungil yang sangat tajam itu mengurung gerakan Suro. Serangan mereka bergerak dengan sangat cepat hendak mencincang tubuh Suro.
Beberapa kuku-kuku itu berhasil mengenai tubuh Suro, namun membentur zirah kavacha dan hanya berhasil merobek beberapa bagian pakaian Suro. Suro yang sempat ragu hendak menyerang balik akhirnya memilih menghilang dan muncul disisi luar dari kerumunan makhluk itu.
Suro sempat ragu, karena menyadari jika para makhluk itu hanyalah para bayi yang tidak berdosa yang digunakan praktik ilmu yang sangat sesat. Sehingga kini mereka telah sempurna menjadi makhluk kegelapan.
Kondisi itu akhirnya membulatkan tekad Suro untuk menghabisi mereka semua. Dia harus menguatkan hatinya untuk menghentikan penderitaan jiwa mereka lebih lanjut, karena telah dipaksa menjadi makhluk kegelapan. Dengan serangan yang dia kerahkan kali ini akan mampu menyempurnakan kematian mereka yang tertunda.
Beberapa kali makhluk itu berusaha menghabisi Suro dengan serangan kombinasi jarum es dan juga lengkingan suara yang terus sahut bersahutan dan juga ada kalanya mereka menyerang Suro dengan kuku-kuku mungil mereka.
"Kalian sepertinya sedang bermimpi hendak mengalahkanku dengan serangan lelucon seperti ini! Lebih baik aku menyempurnakan kematian kalian semua sekarang juga!"
"Lodra mengamuklah! Kemarahan Sang Hyang Garuda!"
Ledakan api hitam segera melesat dari tebasan bilah pedang Suro. Api itu berubah menjadi burung raksasa yang sangat besar sayapnya yang mengembang seperti hendak menutupi seluruh hutan diatas kepala mereka semua.
Suro selama pertempuran melawan makhluk-makhluk bajang yang terus mengepungnya, sebenarnya sambil berusaha mencari keberadaan Tongkat iblis. Namun dia tidak juga menemukan manusia itu.
'Sepertinya ilmu menghilang yang dikerahkan Tongkat iblis sejenis dengan ilmu halimunan?'
Saat Suro sedang memikirkan keberadaan Tongkat iblis, makhluk-makhluk bajang yang diserang dengan api hitam Lodra sebagian berhasil meloloskan diri dari kobaran api yang sangat menakutkan itu.
"Jangan bermimpi dapat meloloskan dari serangan api neraka ini, makhluk terkutuk!"
Suro akhirnya berhasil membakar seluruh makhluk bajang dengan api hitam miliknya, sebab kobaran api hitam yang menyerupai burung raksasa terbang lebih cepat dibandingkan lesatan tubuh makhluk bajang itu.
**
"Mustahil pasukan yang aku bentuk kini tidak tersisa lagi?" Tongkat iblis dari kejauhan terkesima dengan kekuatan yang diperlihatkan Suro.
"Pantas saja Batara Karang dan Batara Antaga dapat dipecundangi oleh pemuda ini. Kekuatannya lebih mengerikan dibandingkan gurunya eyang Sindurogo."
"Bagaimana mungkin tubuhnya kebal oleh racun yang dimiliki Dukun Sesat dari Daha?"
"Padahal dengan racun itu konon tidak akan ada yang bisa lolos dari Kematian begitu terkena racun yang digunakan pada jurus Tapak Dewa Selaksa Racun."
"Sepertinya aku harus mencari tumbal ke daerah yang lebih jauh dari jangkauan manusia ini."
'Aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga, aku tidak mampu mengalahkan pemuda ini. Apalagi kekuatan pemuda ini sudah pada tingkat surga.'
Lelaki itu langsung melesat ke atas awan. Kekuatannya yang telah mencapai tingkat langit, membuatnya mampu terbang dengan leluasa. Dia bergerak dengan kecepatan tinggi melesat ke arah timur.
**
Setelah berhasil membumi hanguskan seluruh pulau itu menjadi lautan api Suro masih penasaran dengan keberadaan Tongkat iblis. Dia mencoba mendeteksi dengan kekuatan jiwa miliknya. Dia berada di atas udara, tepatnya diatas lautan api yang membumi hanguskan pulau tak berpenghuni itu.
"Bagaimana mungkin aku tidak merasakan keberadaannya. Apakah dia telah pergi jauh sejak tadi."
"Aku harus membunuhnya lain kali. Jiwa manusia itu begitu kejam, bagaimana biadabnya makhluk itu karena ratusan bayi manusia yang tidak berdosa dijadikan makhluk yang begitu mengerikan."
Setelah berhasil memasukan dari seluruh makhluk yang diciptakan Tongkat iblis lenyap. Suro mendadak teringat sesuatu.
"Gawat, Maung, apakah dia dapat menyelamatkan dari kebakaran pulau ini?"
Karena begitu bersemangat mencoba menghabisi seluruh bayi iblis, Suro sampai melupakan nasib Maung yang ditinggal dipinggiran pulau.
Suro bergegas melesat kepinggir pulau, dimana dia sebelumnya menyuruh sahabatnya itu untuk menunggu. Suro begitu khawatir dengan keselamatan Maung, namun sedikit ada masalah karena kebakaran sedang melanda seluruh pulau membuat Suro kehilangan arah.
Suro kebingungan dimana sahabatnya itu sedang menunggu. Hal yang bisa dia lakukan sekarang akhirnya adalah mengitari seluruh pinggiran pulau tersebut. Dia melakukannya dengan sangat cepat.
"Waduuuh gawat apa yang aku lakukan?"
"Maung! Maung dimana dirimu Maung! Apakah dirimu mendengarku?!"