SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 451 Kota Louyang



"Maafkan atas kesalahpahaman ini," Suro menjura ke arah pemuda yang menatap penuh selidik. Tetapi tanpa disadari Suro, sebenarnya tatapan pangeran itu justru terpaku ke arah wajah Mahadewi.


Belum selesai Suro berbicara, salah satu prajurit yang mengawal pangeran mahkota, berteriak dengan marah,"Kalian berani sekali melukai pasukan kekaisaran!"


Kali ini para prajurit tidak berani menyerang dari jarak dekat. Setelah sebelumnya Geho Sama dengan mudah berhasil membuat rekan mereka babak belur dihantam kuatnya pukulan dan tendangannya.


Dengan satu teriakan kepala pasukan mereka, para prajurit itu kembali menyerang dari jarak jauh dengan menggunakan anak panah.


Tetapi serangan itu dapat ditangkis dengan mudah oleh Suro. Pangeran Mahkota dibuat terkesima dengan ketangkasan Suro menangkap dan menangkis panah yang menyerang kepadanya hanya dengan tangan kosong.


Para penduduk sudah menjauh sejak Geho Sama mengamuk. Mereka memilih mencari tempat aman sambil mengamati dari kejauhan.


"Sepertinya mereka tidak mampu mengukur kekuatan sendiri dan juga tidak bisa melihat sekuat apa lawannya. Biar aku pastikan kepala mereka ada isinya atau tidak.


Bagaimana mereka masih saja nekad menyerang kita? Kepala mereka benar-benar tidak bisa digunakan untuk berpikir!" Geho Sama kembali hendak mengamuk, tetapi Suro berusaha menahannya.


"Tenangkan dirimu Geho Sama, aku tadi mendengar para prajurit ini menyebut nama pangeran mahkota. Itu artinya pemuda itu adalah putra dari kaisar Yang.


Jangan membuat kericuhan yang tidak perlu dengan seseorang yang hendak ditemui tetua Dewi Anggini. Selagi mereka bertemu dengan sang kaisar, aku tidak ingin membuat masalah yang akan merusak rencana tetua Dewi Anggini maupun Dewa Rencong," sergah Suro mencoba menenangkan Geho Sama yang bergerak mendekati dirinya sambil menangkis serangan anak panah.


Mahadewi juga tidak tinggal diam melihat hujan panah menyerbu Suro, maka dengan lincah dia bergerak menangkis dengan jurus pedang terbang miliknya.


Saat melihat Mahadewi bergerak dengan jurus pedang terbang itulah, pangeran mahkota segera menyadari sesuatu hal mengenai mereka bertiga.


'Jurus ini?' pangeran itu menggumam pelan.


Setelah itu pangeran mahkota memerintahkan para prajurit untuk segera menghentikan serangannya.


"Ampun pangeran, tetapi..."


Ucapan prajurit itu terputus, sebab pangeran mahkota telah memotong ucapannya.


"Tutup mulut kalian! Menghadapi beberapa orang saja kalian tidak becus! Kalian semua lemah dan bodoh!


Benar-benar tidak berguna! Serangan yang kalian lakukan tidak ada artinya. jika mereka mau, kalian semua dapat dihabisinya!" Pangeran mahkota itu menatap tajam kepada kepala pasukan yang berusaha melindunginya.


Para prajurit sudah siap kembali menyerang, melihat Suro berjalan mendekat. Tetapi ucapan dari pangeran mahkota sebelumnya, membuat mereka membatalkan niatnya.


Suro mencoba mencegah kesalahpahaman berlanjut, dia lalu menjura untuk memperlihatkan itikad baiknya.


Sebab kedatangan mereka ke kota kerajaan bertujuan untuk mencegah sedini mungkin terjadinya serangan gabungan dari beberapa kerajaan kepada kekaisaran Yang. Seperti yang sedang dilakukan tetua Dewi Anggini dan juga lainnya.


Karena itu dia mencoba meluruskan masalah yang timbul. Tetapi sebelum Suro berbicara, justru pangeran itu telah mendahului dirinya.


"Begitu juga diriku, kesalah pahaman yang disebabkan pasukanku akan aku coba luruskan. Karena itu aku akan mengundang kalian nanti malam untuk makan bersama diriku di istana.


Tetapi sebelumnya jika aku boleh tau siapa kalian bertiga?"


Suro, Geho Sama dan Mahadewi mulai memperkenalkan diri.


Pangeran itu memberi isyarat kepada pasukan pengawalannya untuk menolong para prajurit yang sebelumnya dihajar oleh Geho Sama.


Suro berpandangan mata dengan Geho Sama. Sebab sikap dari pangeran mahkota diluar perkiraan mereka. Alih-alih marah dia justru mengundang makan di istana.


Suro maupun Geho Sama belum sempat memahami sikap pangeran mahkota yang janggal, dia kembali berbicara kepada mereka," Sebaiknya kalian bertiga tidak menghinaku dengan tidak menolak undanganku."


Pangeran itu sebelum berbalik dia masih menyempatkan diri menatap Mahadewi," ingat jangan sampai kalian tidak datang."


"Ini, berikan kepada penjaga gerbang istana!" Pangeran itu melemparkan sebuah plakat berwarna keemasan ke arah Suro.


Pangeran itu lalu masuk ke dalam kereta, tetapi dia kembali berbicara sambil membuka tirai kereta," dengan plakat itu kalian bisa masuk ke dalam istana."


Suro menjura sebagai bentuk basa-basi. Setelah kereta itu mulai berjalan, Suro lalu menoleh ke arah Geho Sama dan Mahadewi.


"Sudah aku katakan, gunakan ini." ucap Suro sambil menunjuk kepalanya.


"Jangan hanya gunakan otot! Lihat semua masalah dapat diselesaikan. Kita bisa memasuki istana tanpa bersusah payah sekarang,"


Saat berbicara tidak lupa matanya melirik ke arah Geho Sama.


"Untuk apa aku memerlukan hal semacam itu? Dengan Langkah Maya semua tempat bisa aku masuki," balas Geho Sama bersungut-sungut.


"Memang kau pikir kita hendak memasuki hutan? Masuk ke dalam istana dengan cara seperti itu apa tidak dianggap penyusup dan tidak akan membuat keributan?"


"Mengapa kakang tidak menggunakan saja kaca Benggala? Dengan itu kita bisa langsung bergabung dengan guru dan juga Pendekar Dewa Rencong?"


Mahadewi kembali hendak bertanya kepada Suro, sebab dia merasa pangeran itu menatap dirinya dengan tatapan yang menurutnya tidak biasa. Tetapi Mahadewi akhirnya memilih mendiamkannya.


"Apa jadinya jika kita datang, sedang mereka masih berbicara dengan kaisar? Apakah itu hanya akan merusak pembicaraan dengan sang kaisar.


Selain itu mereka bisa saja mengira kita sebangsa siluman, sebab muncul begitu saja ditengah-tengah mereka. Sudahlah, dengan cara seperti ini kita juga bisa masuk ke dalam istana."


Suro lalu memasukan plakat dari pemberian pangeran mahkota ke balik bajunya.


"Waktu masih panjang sampai nanti malam. Jadi sebaiknya kita menggunakan waktu yang ada untuk membaca situasi sekitar istana daan juga kota Louyang. Mungkin saja kita mendapatkan sesuatu petunjuk."


**


Seperti yang telah dijanjikan, menjelang malam Suro dan yang lainnya pergi menuju istana. Mereka mendatangi gerbang istana yang dijaga secara ketat.


Awalnya para prajurit menahan mereka bertiga, tetapi dengan plakat yang diberikan, membuat para prajurit penjaga gerbang buru-buru mempersilahkan mereka bertiga masuk.


Suro baru mengetahui, jika pangeran yang mengundang mereka bertiga bernama Yang Jian.


Mereka bertiga terkagum-kagum melihat kemegahan komplek istana yang begitu luas dan mewah. Tembok pertahanan istana kerajaan berdiri dalam beberapa lapis.


Mereka bertiga sejak masuk ke dalam gerbang istana dikawal dengan begitu ketat. Semakin masuk ke dalam bangunan istana, maka kemegahan semakin membuat mata terpana.


Setiap tiang-tiang besar berukir sebentuk naga melingkar dengan warna kuning keemasan, semakin menambahkan kemegahan seluruh bangunan itu. Warna kuning keemasan itu berasal dari lapisan tipis emas murni.


Selain itu ukiran naga juga bertebaran dibeberapa tempat. Salah satunya di jalan yang membentang dari gerbang pertama menuju gerbang berikutnya. Sehingga mereka yang melewatinya seakan sedang berjalan diatas awan.


Suro merasakan ada yang janggal sejak kejadian yang melibatkan Pangeran Mahkota. Sebab seharian berkeliling kota Louyang, Suro merasakan jika mereka terus diikuti. Kemungkinan itu adalah pasukan pengintai yang mengawasi pergerakan mereka.


Walaupun Suro mengetahuinya, tetapi dia lebih memilih mendiamkan. Sebab mereka hanya mengintai dari kejauhan.


Kini dia juga merasakan kejanggalan lain. Sebab sejak mereka masuk di gerbang terluar istana, saat mereka bertiga masuk dan menunjukkan plakat yang diberikan pangeran mahkota, maka gerbang itu langsung ditutup rapat.


Setelah itu mereka dikawal dua orang prajurit penjaga gerbang dengan tingkat kekuatan setara dengan pendekar tingkat tinggi. Namun dua penjaga gerbang itu hanya mengantarkan beberapa langkah saja.


Setelah itu digantikan oleh prajurit yang jumlahnya lebih banyak. Kekuatan mereka juga tidak tanggung-tanggung. Sebab kesepuluh orang prajurit itu sudah berada pada tingkat shakti.


Itu belum berhenti, pada gerbang berikutnya orang-orang yang mengawal justru bertambah semakin banyak dan semakin kuat. Tiga orang yang ikut bergabung telah mencapai tingkat langit.


Bukan saja para prajurit, kini Suro melihat beberapa pendekar ikut mengawal mereka bertiga. Itu bisa dilihat pakaian mereka yang berbeda dari para prajurit kekaisaran. Kekuatan mereka rata-rata sudah sekelas pendekar tingkat langit, walaupun masih berada pada lapis ke tiga dan keempat.


Tetapi itu sesuatu hal yang sangat berlebihan, sebab mereka datang hanya untuk makan malam. Suro menyadari kejanggalan itu. Tetapi dia bersikap seolah tidak mengetahui dan masih bersikap tenang.


Geho Sama memahami apa yang di pikirkan Suro. Dia juga diperintahkan Suro untuk tetap berlagak sewajarnya.


Suro merasa mereka bertiga hendak dijebak masuk kedalam perangkap. Karena itu dia meminta Geho Sama bersiap jika terjadi hal terburuk.


Geho Sama justru kegirangan, karena itu artinya dia diperbolehkan meneruskan amukannya untuk melampiaskan kekesalannya yang belum tuntas.


Justru lawan yang belum menyadari seberapa kuat lawan yang hendak mereka hadapi. Walaupun kini diantara para pendekar yang ikut mengawal ada yang sudah mencapai kekuatan tingkat surga.


"Silahkan kalian menunggu di sini!" Prajurit yang mengawal memerintahkan Suro dan yang lain untuk masuk ke ruangan besar.


Namun sebelum memasuki ruangan luas itu, mereka diperintahkan untuk melepaskan seluruh senjata yang ada. Mahadewi pada awalnya menolak, tetapi Suro memberi isyarat untuk memberikan seluruh bilah pedangnya.


Setelah seluruh senjata telah dilucuti, maka mereka dipersilahkan masuk dan menunggu pangeran mahkota datang. Mereka semua duduk bersimpuh ditengah ruangan luas.


Didepan mereka bertiga ada meja kecil yang biasa digunakan untuk minum teh sambil duduk bersimpuh.


'Geho Sama, sebaiknya kau mulai waspada. Segera panggil senjata kipas Taru Braja milikmu, jika sesuatu hal mengancam.' Suro terus berbicara melalui suara batin dengan Geho Sama. Mereka sedang bersiap jika hal buruk terjadi.


Mahadewi duduk ditengah diantara Suro dan Geho Sama. Dia juga meminta Geho Sama menjaga Mahadewi, jika ada serangan mendadak.


...Kewaspadaan mereka sengaja tidak diperlihatkan. Walaupun sebelum pintu ruangan itu ditutup rapat, mereka dapat melihat jelas, jika para prajurit dan para pendekar yang menjaga semakin bertambah banyak. Seakan mereka hendak melakukan serangan besar-besaran....


Akhirnya Mahadewi menyadari kejanggalan itu dan menoleh ke arah Suro yang duduk bersimpuh di sebelah kanannya.


"Kakang, jika memang kita hanya diundang makan malam, mengapa para penjaga begitu banyak?"


Suro hanya menganggukkan kepala membenarkan ucapan Mahadewi. Dia lalu memberi isyarat untuk segera menelan pill penawar racun yang dia bagikan.


Sebab sejjak tadi hidung Suro yang sudah terbiasa dengan racun, telah menyadari tempat itu sebenarnya dalam kondisi penuh racun. Indera penciuman miliknya yang cukup tajam, jauh dibandingkan Mahadewi maupun Geho Sama,


Sehingga kondisi itu membuat Suro segera menyadari, jika ruangan itu sudah penuh racun racun. Asap tipis tanpa warna, tanpa bau dan tidak terlihat, membuat siapapun tidak akan menyadarinya.


Tetapi Suro masih mampu mengendus dan menyadarinya, sejak mereka duduk bersimpuh menunggu kedatangan Pangeran Yang Jian.


'Apa yang sebenarnya hendak direncanakan pangeran Yang Jian kepada kita?' Suro membatin sambil menatap ke seluruh ruangan luas yang kini telah tertutup rapat dari segala sisi.


Diluar ruangan para prajurit dan para pendekar terlihat resah, sebab tidak ada tanda-tanda Suro, Geho Sama maupun Mahadewi sudah terpengaruh oleh racun yang telah mereka pasang.


"Ternyata kalian sudah menyadari, jika tempat ini penuh racun!" Suara seorang nenek-nenek dengan tawanya membuat mereka bertiga segera bangkit.


Seorang nenek-nenek dengan tongkat ditangan berjalan mendekat. Suro dan yang lain segera berdiri, sebab nafsu membunuh terpancar kuat darinya.


"Apakah ini sebuah kesalah pahaman juga, sehingga kalian menunjukkan nafsu membunuh kepada kami?" Suro menatap ke arah nenek-nenek itu dengan tajam.


"Tidak ada yang disalah pahami, memang sejak awal pangeran Yang Jian hendak menangkap kalian hidup-hidup. Tetapi sepertinya kalian justru ingin ditangkap dalam keadaan tidak bernyawa!" Ledakan kekuatan nenek-nenek itu segera menyadarkan Suro, jika wanita tua itu telah mencapai tingkat surga.


"Mengapa?" Suro justru kebingungan mendengar ucapan wanita barusan. Sebab pangeran mahkota Yang Jian tidak menunjukan sikap permusuhan dan terlihat begitu ramah.


"Ini artinya sejak awal kita sudah dijebak bocah bodoh! Pakai ini, pakai ini apanya?" Geho Sama menyahut sambil menunjuk-nunjuk kepalanya menirukan ucapan Suro sebelumnya.


"Berbicara dengan mereka cukup dengan ini!" ucap Geho Sama kepada Suro sambil mengepalkan tangan.


"Aku datang kesini untuk memberitahukan akan adanya....!" Suro masih berusaha menjelaskan, tetapi suaranya harus berhenti karena serangan yang menerjang ke arahnya.


Serangan puluhan jarum beracun itu bukanlah dari para prajurit. Tetapi dari para pendekar yang dipimpin nenek tua yang memiliki tongkat berbentuk ular.


"Kurang ajar kalian tidak tau diuntung!" Taru Braja atau kipas besar muncul ditangan Geho Sama langsung menghantam jarum-jarum beracun yang menghujani mereka.


Bersamaan dengan itu Suro juga berteriak memanggil pedang miliknya," Lodra!"


Desir angin terdengar karena lesatan sebilah pedang yang membelah angin dengan kecepatan tinggi.