
Duuuuuuuum!
Ledakan keras menerjang lawan dari Suro, keadaan itu membuat lawannya keterangan dan berupaya untuk lepas namun justru terus dikejar. Dalam kepanikan musuhnya yang berusaha menghindari kobaran api raksasa yang membentuk sebuah wujud naga, maka Suro memanfaatkan keadaan.
Dia segera mengerahkan jurus Langkah Kilat menghadang musuh dan menghujamkan Pedang Akar Dewa. Pedang itu langsung bereaksi cepat membentuk serabut yang memencar ke seluruh tubuh lawannya hinga keluar dari pori-porinya.
“Aaaaaarrrrggggghhhh! Setan alas pedang apa yang kau gunakan ini!” serunya dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat.
“Pedang ini lah yang akan membuat kehidupanmu lebih buruk daripada kematianmu!” seringai Suro yang membuat lawannya bergidik ketakutan. Karena rasa sakit yang menyayat dari sekujur tubuhnya itu melebihi di sayat seribu pedang.
Sialnya Sagra Denta adalah jenis makhluk abadi yang tidak akan mati meskipun tubuhnya hancur sekalipun. Sagra Denta juga seperti anaknya Lembu Jahanam yang mampu mengembalikan tubuhnya yang hancur dan kembali bersatu.
Namun kemampuannya itu justru menjadi senjata makan tuan, sebab kini dia harus merasakan kepedihan yang tidak terkira. Seakan jutaan pedang tengah mengiris setiap inci tubuhnya, tidak terkira sakitnya seperti apa.
Tubuh Sagra Denta itu menegang dengan mata yang melotot dan bercucuran darah dari setiap inci tubuhnya. Apa yang dia bisa lakukan adalah berusaha menahan sakit, karena satu gerakan sedikitpun akan memicu sakit yang tidak terkira.
Suara teriak keras menyayat terdengar dari Sagra Denta yang menggantung di atas udara dengan tubuh yang kini terselubungi Pedang Akar Dewa.
“Ini adalah jurus Sejuta Pedang yang aku kombinasikan dengan menggunakan Pedang Akar Dewa ternyata mengagumkan,” ucap Suro yang melihat lawannya hanya bisa berteriak.
Maha Naga Taksaka yang dikerahkan Suro terus berputar mengelilingi tubuh Sagra Denta menunggu perintah.
“Cepat bunuh aku! Aaaaaarrrggghh!” teriak Sagra Denta yang sambil menahan sakit.
“Ku pikir dengan tubuh yang abadi akan menjadi berkah padamu? Kini aku membuka matamu, jika itu hanya akan menjadi alat bagiku untuk menyiksamu dengan lebih puas!” seringai Suro yang pada akhirnya dia memerintahkan Maha Naga Taksaka melahap tubuh musuhnya yang sudah tidak berdaya.
Api hitam dengan panas yang tidak terkira itu akhirnya melenyapkan tubuh Sagra Denta. Pedang Pelahap Sukma yang dimiliki Sagra Denta pun segera berpindah tangan kepada Suro.
Craaaak!
Tidak disangka pedang itu menolak dipegang Suro. Duri-duri langsung muncul dan melukai tangannya yang sengaja tidak dilindungi dengan perisainya. Dia sebenarnya ingin merasakan langsung kekuatan pedang tersebut.
“Sialan, kau rupanya hendak melawan tuanmu yang baru!” seringai Suro yang langsung mengerahkan kekuatan apinya yang menyelubungi Pedang Pelahap Sukma.
“Kita lihat, apakah kau ingin takluk atau akan aku musnahkan hingga tidak berbekas!” seru Suro yang telah menyelubungi pedang di tangannya. Namun kini pedang itu tidak mampu melukai Suro yang telah terlindungi zirah Batu Giok Dewa.
Api hitam terus membesar dengan begitu hebatnya, namun itu ternyata bukan jurus satu-satunya yang kini tengah dikerahkan oleh Suro, sebab dia juga mengerahkan Pedang Akar Dewa untuk menaklukan senjata bekas milik Sagra Denta.
Pedang Akar Denta mulai bergerak dengan cepat mengikat kuat bilah pedang yang mampu menggeliat seperti ular itu. sehingga serangan yang hendak menghantam Suro dapat dicegah.
Krak! Krak! Krak!
Suara duri-duri yang memenuhi bilah pedang itu berusaha memberikan perlawanan kepada Pedang Akar Dewa yang terus menggulung di sekujur bilah Pedang Pelahap Sukma.
Bukan itu saja Pedang Akar Dewa yang kini telah menjelma menjadi sulur yang tidak terhitung jumlahnya itu bergerak ke arah ujung bilah dan berusaha menyelinap masuk ke dalam mulut Pedang Pelahap Sukma.
“Kita lihat apa yang ada dalam mulutmu sebenarnya pedang terkutuk!” ucap Suro yang masih berusaha menaklukan bilah pedang musuhnya yang terus berusaha memberikan perlawanan. Dia menyadari, jika kemungkinan pedang itu memiliki jiwa seperti halnya Pedang Kristal Dewa yang dihuni Sang Lodra Yang Agung.
“Membukalah!” teriak Suro yang segera mengerahkan teknik perubahan logam untuk memaksa bilah pedang itu mau membuka mulutnya selebar mungkin.
Ggoooooaaarrrrrrhhhgggg!
Kini Suro yang justru terkejut, sebab dengan kemampuan yang diperlihatkan itu seharusnya lawannya dapat melenyapkan serangan Maha Naga Taksaka yang dia kerahkan untuk membakar tubuh Sagra Denta.
“Rupanya dia benar benar tidak sanggup menahan rasa sakit yang di derita dan memilih mati,” ucap Suro yang menyadari pilihan musuhnya yang sengaja ingin mati daripada merasakan rasa sakit yang tidak terperi.
“Aku rasa ini dapat aku gunakan untuk menyerang Dewa Kegelapan,” ucap Suro dengan ekspresi yang penuh percaya diri. Pandangannya segera beralih pada Pedang Pelahap Sukma yang masih memberikan perlawanan.
Suro lalu mengerahkan kekuatan perubahan logam disertai aura dewa yang ada dalam dirinya, keadaan itulah yang kemudian membuat jiwa Pedang Pelahap Sukma itu menyerah.
“Aaaarrrggghhh Ampun Sang Hyang Wenang, aku mengku kalah. Aku akan menghamba kepadamu!” teriak pedang dalam genggamannya.
“Astaga kau mampu berbicara selayaknya manusia!” teriak Suro dengan ekspresi penuh keheranan. Mata Suro menangkap sebuah lidah ternyata ada di dalam mulutnya yang penuh dengan gerigi yang begitu menakutkan.
“Astaga kau ini sebenarnya adalah makhluk hidup atau sebilah pedang? Siapa namamu?” tanyanya lagi dengan penuh keheranan.
“Ampun Sang Hyang Wenang, hamba bernama Sosrobahu, jiwa dari Pedang Pelahap Sukma ini,” jawabnya yang terdengar seperti harimau yang menggerung. Namun entah bagaimana Suro dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakan bilah pedang tersebut.
Angrok memincingkan matanya mendengar jawaban dari Sosrobahu jiwa dari Pedang Pelahap Sukma. Bukan namanya yang terdengar seperti manusia, hanya saja cara jiwa pedang itu memanggil dirinya sejak pertama kali yang membuat bingung Suro.
“Mengapa dirimu memangilku dengan sebutan Sang Hyang Wenang?” tanya Suro menyelidiki.
“Karena aura kekuatan dewa yang baru saja tuan nampakkan dan menekan jiwaku hanya Sang Hyang Wenang yang memiliki kekuatan seperti tuan,” ucap Sosrobahu.
Suro sebenarnya ingin bertanya banyak hal, tetapi saat ini yang terpenting adalah menghentikan Dewa Kegelapan dan yang hendak menuju ke Khayangan. Karena itu yang terpenting baginya yaitu mendapatkan kembali Kapak Pembelah Semesta yang ditelan Sosrobahu.
“Kau bawa kemana Kapak Pembelah Semesta milikku?” tanya Suro dengan keheranan, sebab setelah sulur Pedang Akar Dewa masuk ke dalam mulut dari Sosrobahu dia tidak menemukan senjatanya.
“Aku kirim ke Alam Pusaran Reinkarnasi,” ucap Sosrobahu yang membuat Suro memincingkan matanya.
“Aku tidak mengetahui apa yang kau ucapkan, sebaiknya mutahkan kembali senjataku itu kepadaku.”ucap Suro yang membuat senjata itu segera memutahkan apa yang telah dia telan.
Suro cukup kagum, sebab setelah mulut Sosrobahu membuka lebar mulutnya muncul senjatanya dan segera digenggam oleh tangan kiri Suro. Kini dua senjata yang sama-sama mengerikan telah tergenggam kedua tangannya.
“Saatnya kau membantu diriku menghabisi Dewa Kegelapan Sosrobahu,” ucap Suro yang segera melesat ke bawah tepatnya ke puncak Gunung Mahameru yang kali ini mulai bersuara bergemuruh seakan hendak meletus.
Terlihat Eyang Sindurogo dan Maharesi Acaryanandana sedang bertarung dengan Batara Karang. Mereka berdua begitu kerepotan menghindari serangan rantai hitam yang terus mengejar mereka berdua.
***
Jika ada yang berkenan mampir, ada karya Author lain yang ada di Karyakars#.com dengan nama pena Lelanangjagat_biru
Begitu juga di plat kuning Nov#lme.com ada karya Author dengan nama pena Lelanangjagat
Terima kasih yang masih setia menunggu maaf jika terlalu lama, akan saya selesaikan secepatnya