
"Baiklah tujuan terdekat sesuai yang dikatakan pak tua adalah puncak putih tiga saudara spiritual!" Eyang Sindurogo dengan percaya diri segera berniat melaksanakan perintah dari gurunya, yaitu Sang Hyang Ismaya.
"Silahkan eyang guru didepan!" Suro mempersilahkan gurunya untuk melesat lebih dahulu.
Tetapi eyang Sindurogo tidak segera berjalan, dia justru terlihat sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
"Silahkan eyang, Suro akan mengikuti petunjuk eyang dan mengikuti dibelakang saja."
"Anu,... eyang tadi terlalu bergembira menatap pak tua, jadi eyang tidak terlalu memperhatikan apa yang dia bicarakan. Eyang hanya mendengar sekilas nama tujuan terdekat, habis itu eyang pura-pura mendengarkan wejangannya."
"Bukankah tadi eyang terlihat begitu serius mendengarkan semua apa yang dikatakan Sang Hyang Ismaya?"
"Hahaha...seperti biasanya pak tua itu, jika sudah mulai berbicara tidak ada jedanya. Kepalaku yang sudah pusing tentu akan bertambah terasa sakit, jika harus mendengar semua ucapannya. Jadi seperti biasa juga, biar pak tua senang, eyang harus nampak terlihat serius. Kalau tidak kepala eyang akan dijitak."
Kali ini Suro tidak dapat menahan tawanya, dia mulai tertawa cekikikan mendengar penjelasan gurunya. Melihat reaksi muridnya itu, eyang Sindurogo hanya menggaruk-garuk kepala sambil menahan malu.
Setelah cukup lama tertawa, akhirnya Suro dapat menahan tawa, walau kadang masih terdengar tawanya disela-sela ucapannya.
"Tenang eyang,..ihihi.. Suro sudah mengingat semua ucapan Sang Hyang Ismya. Jadi.. ihihi..tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Selain itu Suro dapat menuju ketempat itu dengan lebih praktis dengan mencarinya melalui ini!" Suro lalu memperlihatkan Kaca Benggala kepada gurunya.
Dia kemudian menceritakan darimana dia mendapatkan dan kekuatan apa yang dimiliki pusaka itu.
"Weeedan muridku memang paling jos. Kamu memang selalu membuat eyang bangga dan selalu saja membuat eyang kagum."
Mendengar ucapan eyang Sindurogo barusan, Suro menanggapinya hanya dengan tertawa kecil. Dia kemudian mulai memperlihatkan cara mencari tempat yang dituju. Tentu saja eyang Sindurogo terkejut melihat kemampuan kaca benggala yang begitu mengagumkan.
"Sejak dirimu masih kecil, eyang selalu dibuat kagum oleh dirimu. Kini berarti umurmu sudah genap dua belas tahun jika melihat dari lamanya diriku berada dalam kekuasaan Dewa kegelapan seperti yang kau ceritakan."
"Dan apa yang kau perlihatkan padaku membuat diriku sampai tidak dapat mempercayainya. Karena kemampuanmu dan pusaka yang kau miliki ini sangat mengagumkan. Apalagi peningkatan kekuatanmu ini juga sangat mustahil bisa dimiliki secepat ini. Dirimu benar-benar membuatku bangga memiliki murid sepertimu, le, thole Suro"
"Sudah cukup! Kalian kebanyakkan bicara, sekarang waktunya kita beraksi menuju ke puncak putih tiga saudara spiritual seperti yang telah diperintahkan guru, Sang Hyang Ismaya."
Eyang Sindurogo segera berbalik dan menatap makhluk yang barusan berbicara dibelakangnya. Dia menatap makhluk yang menjulang tinggi itu dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa siluman ini bisa kau jadikan anak buahmu thole Suro?"
Suro tidak segera menjawab dan hanya bisa menggaruk-garuk pipinya sambil menyengir.
"Kau pikir aku suka menjadi budak bocah gendeng seperti muridmu ini? Kau dan muridmu sama-sama gemblung! Kau tau tidak, aku sekarang terpaksa harus mati-matian melindungi muridmu! Kau tau kenapa aku harus melakukannya? Itu semua agar aku juga tidak ikut mati. Semua gara-gara keputusan bodohku mau menyerahkan mustika jiwaku kepada muridmu."
Sebelum Geho sama meluapkan kekesalan, karena mereka berdua justru terus sibuk berbicara dan tidak segera berangkat menuju ke tempat tujuan berikutnya, yaitu sesuai dengan perintah Sang Hyang Ismaya, mendadak sebuah suara terdengar oleh Geho sama. Suara itu begitu ampuh membuat raksasa itu seketika merapatkan paruhnya serapat-rapatnya.
'Apa yang kau ucapkan burung emprit? Ulangi sekali lagi! Dimana rasa terima kasihmu kepada junjunganku ini? Apa kau tidak ingat apa yang telah dilakukan kanjeng junjungan padamu? Sebab karena Kanjeng Junjungan lah akhirnya kekuatanmu dan juga tubuhmu akhirnya dapat kau miliki kembali! Dimana rasa terima kasihmu burung emprit!' Lodra yang sedari tadi diam langsung naik darah mendengar ucapan Geho sama barusan. Dia kemudian mulai ganti memaki-maki Geho sama seperti rentengan petasan yang berentet sangat panjang.
Menyadari kesalahannya Geho sama lalu bersimpuh didepan Suro. Tujuannya dia bersimpuh seperti itu, tentu saja bukan kepada Suro.
Dia terus berusaha meyakinkan Lodra yang tidak percaya begitu saja mendengar ucapan maaf dari Geho sama. Jiwa pedang itu terus memaki. Tentu saja suara makian itu yang mendengar hanya Suro dan Geho sama.
Eyang Sindurogo tentu saja kebingungan mendengar dan melihat tingkah Geho sama. Sebab makhluk raksasa itu terus berbicara sambil memohon-mohon ke arah Suro, tetapi seperti bukan berbicara kepada Suro.
Bahkan dia juga melihat Suro seperti tidak merasa sedang diajak berbicara oleh Geho sama. Adegan itu segera menyadarkan eyang Sindurogo dan membuat satu kesimpulan terkait makhluk raksasa itu, yaitu jika mantan siluman yang sudah bertobat itu ternyata sudah gila.
Karena itulah dia segera menepuk bahu Suro sambil menampakkan wajah yang sedikit sedih.
"Kamu sabar ya, le, thole Suro. Eyang juga ikut prihatin dengan takdir yang kamu jalani. Menampung dan mengurus orang yang sedikit tidak waras itu tidak mudah, perlu kesabaran yang tinggi. Ternyata seluruh wejanganku untuk selalu bersabar meski cobaan bertumpuk-tumpuk selalu kamu ingat dan kamu genggam erat-erat.
Suro yang sedang mendengar ucapan Lodra dan Geho sama tentu saja terkejut dengan tepukan eyang Sindurogo di bahunya. Dia butuh beberapa saat untuk mencerna maksud ucapan dari gurunya.
Kemudian dia mulai tertawa terbahak-bahak, setelah memahami maksud ucapan gurunya.
Suro hendak menjelaskan masalah sebenarnya, tetapi sepertinya tidak mudah. Akhirnya Suro memilih menyudahi semuanya dan segera mengajak semua kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari relik kuno.
Eyang Sindurogo yang tidak memahami maksud dari ucapan Suro, akhirnya menurut ucapan muridnya itu. Sebelum dia hendak melesat terbang, tangannya sudah keburu dipegang oleh Suro. Tindakan itu tentu membuat eyang Sindurogo sedikit bingung dan tidak melanjutkan niatnya untuk melesat terbang.
Namun sebelum eyang Sinduroho sempat bertanya dia justru kembali dikejutkan dengan apa yang terjadi. Sebab setelah satu langkah yang dilakukan muridnya itu, sekejap kemudian telah membawa dirinya dan Geho sama lenyap dan kembali muncul ditempat lain. Tempat yang dituju itu persis seperti yang telah ditunjukan Suro melalui pusaka Kaca Benggala.
"Apa ini barusan? Bagaimana dirimu memiliki kemampuan menajubkan seperti ini?" Eyang Sindurogo menatap Suro tanpa berkedip. Suro tertawa kecil mendapati ekspresi terkejut dari gurunya.
"Nanti Suro akan menceritakan semua kepada eyang guru, tetapi lebih baik sekarang kita selesaikan apa yang ada dihadapan kita ini eyang."
Eyang Sindurogo segera menyadari ada makhluk lain selain mereka ditempat yang baru saja mereka bertiga datangi.
"Sebaiknya setelah menghancurkan tubuh mereka, langsung dihabisi dengan tehnik empat sage, eyang. Sebab untuk saat ini Suro tidak mengetahui cara yang tepat untuk menghabisi makhluk seperti mereka dengan cara itu dan juga satu lagi dengan api hitam milik Suro."
"Apa?! Api hitam?" Eyang Sindurogo masih tidak memahami ucapan Suro.
"Api hitam ini eyang." Suro kemudian mencabut bilah pedang yang menggantung di pundaknya.
"Lodra habisi mereka tanpa sisa! Dan mengamuklah Naga Taksaka!" Suro langsung melesat ke arah depan sambil menebaskan bilah pedang miliknya.
Seketika itu juga ledakan api hitam muncul dari tebasan pedang milik Suro. Energi tebasan itu membelah sebuah sosok raksasa Bhuta kala yang langsung terbelah menjadi dua. Setelah itu tubuh makhluk kegelapan yang masih berdiri menjulang telah lenyap tenggelam ditelan kobaran api hitam. Semua berlangsung sekejap, sebelum kemudian Naga Taksaka kembali menerjang ke arah lain.
Kobaran api hitam itu menggulung dengan cepat dan mulai membakar habis semua musuh yang ada di hadapannya. Karena suhu yang teramat panas dari api hitam itu, membuat salju dipuncak gunung itu mencair semua.
Eyang Sindurogo masih bengong dengan aksi yang dilakukan muridnya. Dia tentu saja terkejut dan kembali tidak mampu memahami bagaimana dan dari mana muridnya itu mendapatkan kemampuan barusan. Sebelum akhirnya dia juga ikut bergerak cepat menghabisi musuh yang muncul dengan wujud berbeda dan juga jumlah lebih banyak.
Mereka bertiga menghancurkan pasukan kegelapan yang hendak menjebol formasi sihir pelindung relik kuno, seperti yang ada di Perguruan Pedang Bayangan waktu itu.