
Hampir semua mata yang kondisi masih sadar pandangannya lurus kearah sumber ledakan yang masih tertutupi asap dan debu yang membumbung tinggi. Disaat debu belum menipis sesosok bayangan manusia telah terlihat berdiri ditempat posisi Eyang Sindurogo.
"Formasi Roda Neraka!"
Perintah Bathara Karang memecahkan ketegangan semua orang yang masih terkonsentrasi menatap bayangan manusia tegak berdiri ditempat Eyang Sindurogo sebelumnya berada.
Seluruh anggota perguruan yang mendengar segera menanggapi perintah itu dengan melesatkan roda-roda cakram yang panas kearah sosok tersebut.
Beratus-ratus benda terbang yang menyerupai cakram merah membara yang pastinya sangat panas melesat menghantam kearah Eyang Sindurogo atau sesosok entah siapa karena situasi sekitar masih diselimuti debu tebal.
Sebuah serangan susulan oleh Perguruan Awan Merah membuat musuhnya tidak ada kesempatan baginya untuk bernafas apalagi memulihkan kondisinya. Tentu bagi mereka inilah waktu yang terbaik untuk menyerang musuh karena setelah menahan serangan Tetua Tengkorak Merah pasti kondisi tubuhnya dititik terlemah karena telah menguras chakra yang banyak.
"Jurus Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"
Trang! Trang! Trang!
Suara hantaman logam susul menyusul menghasilkan bunga api disela-sela roda api yang terbang berseliweran mengelilingi sosok yang kemudian terlihat memang Eyang Sindurogo.
Dengan kehebatan ledakan yang dihasilkan dapat diperediksi pasti energi chakra yang dia keluarkan untuk menahan jurus Ajian Gelap Ngampar telah terkuras banyak.
Bisa dilihat dari caranya melayani roda-roda terbang yang panas itu dengan jurus pedang. Bisa dipastikan Eyang Sindurogo belum sempat memulihkan tenaganya.
Jurus pedang dari Dewa Pedang memang sangat kuat beratus-ratus roda api satu-persatu berjatuhan terbelah menjadi dua. Walaupun yang datang menyusul tak terhitung jumlahnya. Seperti kerumunan lebah menutupi sosok Eyang Sindurogo.
Kelihatan dia sedikit kewalahan disebabkan jurus yang barusan dia keluarkan untuk menghadapi jurus dari Tetua Tengkorak Merah telah menguras chakranya yang banyak.
Tetapi Jurus pedang yang dia perlihatkan bukanlah jurus biasa, milik Dewa Pedang yang sangat terkenal diseantero Benua Timur. Jurus yang dia dapatkan langsung dari Dewa Pedang.
Jurus kedua dari Kitab Dewa Pedang ini merupakan jurus pertahanan yang sangat kuat. Diibaratkan kepakan-kepakan sayap induk burung yang sedang melindungi sarangnya dari ancaman yang berbahaya.
Keunikan dari Roda Neraka sendiri adalah kemampuannya dapat menghindar dan menyerang dikendalikan dari jarak jauh. Dan kerjasama yang sangat rapi memperlihatkan formasi ini telah dilakukan latihan ratusan kali .
Tetua Tengkorak Merah tidak mengira jurus andalannya dapat ditahan. Bahkan imbas ledakan sendiri ternyata berefek pada sang tetua. Dia sempat terpental beberapa tombak.
Mendapatkan perlawanan yang sehebat itu telah meninggalkan luka dalam ditubuhnya. Dia segera menelan obat dan bersemedi untuk membantu memepercepat tubuh mencerna sekaligus memulihkan tenaganya.
Tetua Tengkorak Merah merupakan tetua yang paling tinggi ilmu kanuragannya diantara empat tetua lainnya.
"LEBUR SAKETI!!"
Teriakan Bathara Karang disusul sebuah serangan berupa sinar merah membara yang kuat melabrak kearah Eyang Sindurogo. Sepertinya Bathara Karang tidak puas dengan hasil serangan Formasi Roda Neraka yang satu persatu dapat dibelah menjadi dua. Sungguh pedang istimewa karena memang termasuk dalam tingkatan pedang pusaka.
Eyang Sindurogo yang sedang sibuk mengatasi serangan Formasi Roda Neraka menghindari serangan Lebur Saketi dengan berjumpalitan. Tetapi sepertinya dengan konsentrasinya terpecah telah mengakibatkan beberapa luka disekujur tubuhnya, akibat dari Formasi Roda Neraka yang terus mengempur tubuhnya.
Dan dalam kondisi dia bersalto menghindari serangan Bathara Karang, segera digunakan sebaik-baiknya kesempatan itu oleh para penyerangnya dengan serangan yang lebih rapat susul-menyusul. Akibatnya hampir seluruh bagian tubuhnya terkena roda-roda cakram yang panas. Pakaian yang dia gunakan robek dan terbakar disana sini.
Sebuah strategi yang memang disiapkan oleh Bathara Karang untuk mengalihkan perhatian musuh dengan serangan Formasi Roda Neraka. Dan disaat musuh sudah lengah waktu yang tepat memberikan serangan kejutan susulan.
Walaupun Eyang Sindurogo mampu menghindari Jurus Lebur Saketi tetapi dengan hasil luka disekujur tubuhnya telah membuat Bathara Karang tersenyum senang.
"HAHAHAHA! Setan tua berapa lama lagi nafasmu bertahan?"
"Hahahaha....hahaha."
Bathara Karang tertawa senang melihat hasil yang tidak begitu buruk dari rencana serangannya.
Belum selesai Bathara Karang tertawa kembali berlarik-larik sinar seakan cemeti api keluar dari ujung-ujung jarinya silih berganti telah merontokkan seluruh roda-roda cakram menjadi tumpukan besi rongsokan.
Sepertinya pedang yang dipakai Eyang Sindurogo terlepas saat dia menghindari serangan Lebur Saketi yang tiba tiba membokong dirinya. Selain itu tenaganya telah sedikit pulih. Disaat dia bertahan mengatasi Formasi Roda Neraka dia bergerak sambil memulihkan tenaga.
Sebuah tehnik yang sangat hebat yang dikenal dengan Tehnik Empat Sage adalah sebuah tehnik yang menyerap energi chakra langsung dari alam sebuah tehnik rahasia yang sangat membantunya mengatasi pertempuran tanpa jeda. Dimana kondisi tubuh membutuhkan stamina dan kekuatan yang besar terus menerus tanpa henti. Tetapi kondisi dia mengatasi roda-roda api membutuhkan konsentrasi sangat tinggi membuat pemulihan dan pengumpulan chakranya tidak begitu maksimal.
Jurus pertama dari Ilmu Tapak Dewa Matahari memang sangat efektif untuk mengatasi serangan jarak dekat yang telah dibuktikan dengan kemampuannya mengatasi kehebatan Formasi Roda Neraka dapat dipatahkan dengan mudah.
Luka disekujur tubuhnya lumayan banyak tapi itu hanya luka gores ataupun luka bakar yang tidak terlalu dirasakan. Sebuah luka dipinggang yang lumayan dalam membuat darahnya mengucur lumayan banyak.
Belum selesai dia bernafas lega serangan susulan kembali menerjang kali ini lebih dahsyat sebuah serangan gabungan. Rentetan sinar dan bola-bola api begitu dahsyat melabrak ke arah Eyang Sindurogo.
Formasi Ilmu Segoro Geni dari para murid-murid sekte dan petinggi sekte menerjang melontarkan bola-bola api yang menyerupai canon.
Ilmu Ajian Gelap Ngampar serangan berupa kilat petir yang besar dari Tetua Tengkorak Merah ikut andil bagian setelah tenaga dan luka dalamnya pulih.
Ilmu Ajian Lebur Saketi milik ketua sekte Bathara Karang dengan kekuatan penuh menerjang hebat sinar besar merah membara semakin mempersempit kemungkinan Eyang Sindurogo mampu lolos dari serangan segala arah.
"Buuuuum!....Buuuum!......Buuuum!"
Rentetan serangan menghasilkan bunyi yang memekakan telinga. Sebelum ledakan susul menyusul sesosok manusia dari posisi tempat Eyang Sindurogo berada telah melesat sangat cepat lurus keatas tinggi sekali sampai tak terlihat keberadaannya.
Bekas ledakan dari rentetan serangan yang mereka lakukan meninggalkan lubang menganga. Setelah debu yang dihasilkan ledakan mulai menghilang jejak keberadaan Eyang Sindurogo ikut menghilang entah kemana.
Mereka memeriksa dengan teliti bekas ledakan memastikan memang tidak meninggalkan jejak keberadaan Eyang Sindurogo sama sekali. Ketua Perguruan Bathara Karang dan Tetua Tengkorak Merah yang menyadari sesosok manusia telah meloncat sesaat sebelum serangan seporadis itu sampai. Sebuah gerakan yang sangat dahsyat melenting ke atas dengan kecepatan melesat sangat mengagumkan.
Sebelum menyadari apa yang terjadi, dilangit tiba-tiba awan hitam bergulung-gulung terbentuk tepat diatas Perguruan Awan Merah.
Sesuatu yang aneh memang sebab sebelumnya langit sangat bersih dan cerah membuat bulan purnama terlihat lebih terang meminjamkan cahayanya menerangi seluruh kawasan Pergurun Awan Merah kini menjadi gelap gulita. Kemudian suara petir mengelegar berkali-kali menyadarkan semua orang kehadiran sebuah awan badai yang tercipta secara mendadak.
Bathara Karang yang pertama kali menyadari sesuatu yang salah mengingatkan kembali sesuatu jurus yang dulu pernah dia lihat.
"Aku sudah curiga dari awal. Jurus Ini pasti satu jenis dengan sisialan itu yang membuat rohku pun hampir musnah."
Hampir semua anggota perguruan masih belum paham apa yang terjadi sebab setelah serangan terakhir keberadaan musuh menghilang tanpa jejak antara dia musnah karena serangan yang dahsyat tadi atau dia telah mampu menghindari semua serangan itu. Tetapi seandainya dia mampu menghindar setidaknya geraknya dapat diketahui sebab mereka telah mengepung seluruh penjuru mata angin.
Mereka bertanya-tanya sesama mereka sendiri atau kepada diri mereka sendiri tentang keberadaan musuh mereka. Sebelum sebuah teriakan yang mengelegar dari langit.
"JURUS DEWA MATAHARI TURUN DARI LANGIT!!"
Secara sepontan semua manusia yang mendengar mendongakan wajahnya kelangit. Awan hitam yang sebelumnya hadir bergulung-gulung dan sudah mulai menurunkan tetes-tetes air hujan sekarang seakan tergulung membentuk pusaran yang sangat besar diujung pusaran sebuah bentuk bola api yang bersinar sangat terang menyerupai wajah seekor naga menerjang dahsyat ke arah mereka. Dibelakang bola api berbentuk mirip kepala naga, petir seakan berduyun-duyun menyertai membentuk badan naga sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.
Hampir semua orang terkesima menyaksikan peristiwa yang sedahsyat itu dan belum menyadari bahaya yang mengancam mereka. Hanya satu sosok yang diam-diam mundur, menjauh dan melesat secepatnya menjauhi kawasan Perguruan Awan Merah secepat yang dia bisa, dan dia adalah Bathara Karang. Sepertinya dia mengetahui dibalik peristiwa alam tersebut mengandung kekuatan yang sangat mengerikan.
Dan selanjutnya!
"BUUUUUUUMMMMMMMM!!"
Ledakan yang sangat dahsyat menghentakkan seluruh kawasan itu rata dengan tanah. Bahkan sisa-sisa bangunan yang menandakan bahwa dulu pernah ada bekas bangunan itupun hilang tersapu kekuatan ledakan. Radius hempasan ledakan mencapai ratusan tombak. Gempa lokal ikut menyertai efek ledakan sampai ratusan atau mungkin lebih seribu tombak terasa getaran dan suara dentuman itu.
Bahkan penduduk-penduduk mulai memukul kentongan untuk memperingatkan yang lain akan adanya ancaman bencana alam.
***
BERIKUT INI TINGKATAN KEMAMPUAN DALAM OLAH KANURAGAN UNTUK MEMPERMUDAH PEMBACA MEMAHAMI
1.Tingkatan kelas dasar
2.Tingkatan kelas pemula
3.Tingkatan kelas bawah
4.Tingkatan kelas menengah
5.Tingkatan kelas atas
6.Tingkatan kelas satu
7.Tingkat tinggi
8.Tingkat shakti
9.Tingkat Langit
TERIMAKASIH SEMUA YANG TELAH MAMPIR MEMBACA KARYAKU