
Akan kita apakan mereka tetua?" Suro bertanya ke arah Dewi Anggini sambil menatap ke arah Yang Xiaoma.
Pemuda tampan dengan pakaian bangsawan itu menggigil ketakutan, saat Suro menunjuk tubuhnya dengan ujung pedang Kristal Dewa. Setelah melihat kekuatan yang ditunjukkan Suro ketakutannya berkali lipat dibandingkan ketakutannya terhadap Golok setan.
Dewi Anggini membiarkan Suro mengerjai anak dari walikota Shanxi. Dia ingin mengetahui reaksi apa yang terjadi, setelah melihat kekuatan pemuda itu.
Dia hanya menjawab dengan mengangkat pundaknya, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya menyuapkan makanan kemulutnya.
"Hei kau bocah tengik, apa benar yang dikatakan tetua Dewi Anggini jika kau hendak memotong kepalaku? Mengapa kau diam? Apa lidahmu ingin aku potong sekalian?"
Sorot mata Suro menatap dengan begitu tajam ke arah Yang Xiaoma. Tetapi mimik wajahnya itu justru terlihat lucu. Dia memang sebenarnya hanya mengertak ke arah tiga orang itu.
Apalagi kini mulutnya telah penuh dengan daging dari lengan kepiting. Setelah terhantam senjata milik Golok setan, justru serangan itu seakan hendak membantu Suro menikmati makanannya itu.
Sambil makan daging yang ada dalam cangkang lengan kepiting, Suro mencecar berbagai pertanyaan ke arah Yang Xiaoma. Namun lelaki itu justru semakin bertambah mengigil ketakutan.
Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya, sebab dia kesulitan mengontrol tubuhnya. Ketakutan lelaki itu kepada Suro seakan dia sedang melihat Batara Yamadipati yang hendak mencabut nyawanya.
Suro akhirnya kebingungan sendiri, dia mulai menggaruk-garuk kepalanya 'apa ucapanku tidak dapat mereka mengerti, perasaan aku berbicara sudah sesuai dengan apa yang aku pelajari dari buku milik eyang guru. Aku yakin dia bangsa Han, seperti yang pernah dijelaskan tetua Dewi Anggini.'
Melihat tubuh pemuda itu bergetar dengan grahamnya beradu seperti orang kedinginan , Suro justru semakin bertambah bingung.
"Sebenarnya kamu ini sedang kedinginan apa ketakutan? Sedari tadi mulutmu bergetar seperti sedang berendam di bak air es saja. Mereka semua sudah aku tendang keluar, siapa lagi yang sebenarnya telah membuat dirimu sebegitu takutnya. Lihatlah wajahmu seperti monyet yang telah terperangkap oleh jebakan!"
"Sialan, malah mengompol bocah gendeng," Suro segera meloncat mundur sebab air dari celana pemuda itu melebar ke lantai hendak mengenai kakinya.
"Tidak juga mau berbicara. Bukankah kau bangsa Han, seharusnya kau mampu memahami ucapanku?"
"Be..benar tuan pendekar, tentu saja kami memahami apa yang tuan pendekar ucapkan. Tetapi kami tidak ada sangkut pautnya dengan rencana yang teman kami buat." Bukan Yang Xiaoma yang menjawab, tetapi gadis cantik yang terkulai dikursinya. Sebagian badannya tertelungkup di meja. Seperti juga satu teman lelaki yang terduduk terkulai lemas.
"Benar tuan pendekar kami berdua ini tidak ada sangkut pautnya dengan rencana keji yang hendak dilakukan Yang Xiaoma ini. Itu murni rencana dia sendiri." ucap Yang Jiang sambil menunjuk seorang pemuda yang terduduk dibawah meja.
Yang Jiang tidak mau kalah dengan ucapan wanita cantik yang bernama Yang Xie Ying. Mereka berusaha menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.
Yang Xiaoma meruntuk dengan apa yang diucapkan kedua temannya itu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tubuhnya yang lemas hanya bisa bersandar disalah satu kaki meja tempatnya bersembunyi.
Dipikir-pikir betapa bodohnya dirinya mencoba bersembunyi dibawah meja dari para pembunuh bayaran yang memiliki keahlian mencari jejak yang mengesankan. Sebab mereka mampu melacak kemanapun orang yang berusaha sembunyi, seakan mereka mampu menemukan meskipun orang itu telah bersembunyi dikolong langit.
Pemuda itu tidak segera menjawab pertanyaan Suro, sebab mulutnya tidak juga mau berhenti bergetar. Giginya yang bergemeletukan terdengar begitu jelas.
Dengan mendengar apa yang diucapkan oleh Pedang setan, Yang Xiaoma segera menyadari jati diri pemuda yang kini berada didepannya itu.
Kabar tentang hancurnya markas besar kelompok Mawar telah menyebar ke seluruh Negeri Atap Langit. Karena memang nama besar dari kelompok pembunuh bayaran sudah begitu terkenal dan momok menakutkan bagi siapa saja yang menjadi lawannya.
Karena itulah setelah kabar itu terdengar, maka hebohlah dunia persilatan dan juga para pejabat pemerintahan. Sebab banyak sudah para lawan politik yang berseberangan dengan penguasa telah banyak dihabisi melalui tangan kelompok Mawar Merah itu.
Begitu juga kelompok perguruan aliran putih mereka tidak kalah bahagianya setelah mendengar kabar yang telah tersebar itu. Beberapa dekade sejak kelompok itu berdiri, ratusan tokoh aliran putih telah dihabisi kelompok Mawar Merah.
Kabar itu juga yang membuat Yang Xiaoma dan ayahnya tidak mau membayar upah atas pekerjaan kotor yang diberikan kepada Golok setan. Tetapi mereka tidak menyangka dengan tindakan yang diambil oleh para mantan anggota kelompok Mawar Merah itu.
Dengan tidak belajar dari masalah sebelumnya, kini dia justru telah membuat masalah tambahan dengan pemuda yang mampu menghancurkan markas pusat kelompok Mawar Merah.
Dengan mendengar langsung dari cerita yang tersebar, apa yang dilakukan Suro adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Sebab bagi sebuah perguruan aliran putih sekalipun, menghancurkan markas kelompok itu sesuatu yang sangat sulit dilakukan.
Bukan tidak pernah para perguruan aliran putih bersatu dan menyerbu ke gunung Seribu Labirin. Tetapi mereka justru dibantai oleh kelompok itu, setelah memasuki labirin yang tidak ada ujungnya itu.
"Mati aku, apakah ini yang dimaksud keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau?" suara Yang Xiaoma menggumam pelan terdengar oleh Suro.
"Siapa juga yang mau menelan bocah bau pesing sepertimu."
Suro berbicara sambil melemparkan ke arah Yang Xiaoma sebutir pill. Dia juga memberikan obat penawar racun itu kepada Yang Xie Ying dan juga Yang Jiang.
Mereka masih tidak mengerti, mengapa lelaki itu memberikan sebuah pill. Melihat mereka tidak juga menelan pill yang telah diberikan olehnya, Suro kemudian menjelaskan.
"Kenapa kalian terdiam? Segera telan pill itu. Jangan khawatir itu adalah penawar bagi racun pelumpuh tulang yang telah memasuki tubuh kalian." Setelah berbicara Suro kemudian kembali mendekat ke arah Yang Xie Ying.
Suro segera menyadari jika Gadis cantik dihadapannya itu mulai kehilangan kesadarannya, karena racun yang memasuki tubuhnya. Wajahnya sudah begitu pucat seakan sudah tak berdarah lagi.
Sebab selain racun pelumpuh tulang, ternyata asap beracun yang berasal dari ledakan sebelumnya mengandung racun yang lain. Jenis racun yang cukup mematikan.
Suro segera memberikan pertolongan, sebelum terlambat. Setelah membantu memasukan pill penawar untuk racun pelumpuh tulang, Suro bergegas mengalirkan tenaga dalam untuk mengusir racun itu, agar tidak memasuki jantung dan melindungi organ dalam lainnya.
"Kakang Suro,' suara Mahadewi yang terdengar pelan, tetapi bagi Suro seperti suara petir.
Pemuda itu langsung bangun dengan kecepatan tinggi lalu berputar perlahan sambil melebarkan mulutnya selebar mungkin, lalu membentuk sebuah senyuman terhebat miliknya.