SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 52 DEWA RENCONG DARI BUKIT LAMREH



"Bagaimana nakmas Suro? Apakah cidera Mahadewi sudah membaik?"


"Sejak kemarin malam semua sudah saya pastikan telah kembali pulih. Seharusnya sudah tidak ada masalah lagi tetua."


"Pembengkakan jalur nadi yang sempat terjadi sebelumnya sejak kemarin malam sudah tidak terlihat lagi. Itu karena peredaran pada nadi utama dan juga nadi kecil yang tersebar disekitar luka juga telah selesai Suro rawat. Sehingga membuat semua peredaran darahnya kembali lancar."


"Seharusnya sudah tidak menjadi masalah lagi. Bekas tapak yang membuat luka lebam juga sudah mulai membaik. Sudah tidak terdeteksi lagi adanya tanda-tanda cidera dijalur nadi yang sebelumnya mengalami pembengkakan."


"Tinggal adinda Mahadewi meneruskan minum ramuan untuk memperlancar darah. Selain itu Suro bawakan lagi tambahan obat luar cukup dibalurkan agar bisa meresap kedalam kulit. Obat luar ini mampu memberikan efek relaksasi pada otot-otot dan urat nadi disekitar luka yang sebelumnya kaku."


"Adinda Mahadewi tidak perlu membalurinya dengan tebal cukup dibalurkan tipis-tipis karena efek ramuan ini cukup kuat. Cukup nanti malam saja adinda Mahadewi memakainya. Karena besok pagi Adinda Mahadewi ikut dalam pertarungan. Maka besok pagi obat ini jangan dipakai. Obat yang ini lebih baik dipakai setelah selesai pertarungan."


Suro memberikan ramuan tersebut sudah dalam wadah botol yang terbuat dari tanah liat.


"Terimakasih kakang Suro. Adinda akan melakukan sesuai petunjuk kakang."


Sebelumnya Suro yang selesai mendengarkan wejangan Dewa pedang segera bergegas datang ke kediaman Tetua Dewi Anggini. Sesuai dengan perkiraan Suro mereka berdua sudah menunggu kedatangannya. Bahkan Dewi anggini yang sebelumnya ada urusan memilih membatalkan rencananya dan menunggu kedatangan Suro. Agaknya dia sedikit tidak enak hati karena kemarin malam tidak menemani mengobati muridnya sampai selesai. Justru meninggalkan Suro hanya berdua saja dengan muridnya.


Mereka berbincang-bincang cukup lama tentang segala hal. Dewi anggini menjadi bertambah kagum dengan Suro. Bagaimana dia menyikapi serangan yang dilakukan muridnya dengan sikap yang begitu tenang. Bahkan dalam kondisi diserang begitu rupa justru malah menghawatirkan kondisi orang yang telah menyerangnya. Sebuah sikap yang luar biasa, sedikit orang bisa bereaksi dan bersikap seperti itu.


"Nakmas ada sedikit hal yang mengganjal yang ingin aku tanyakan kepada nakmas!"


"Sesuatu yang mengganjal mengenai apa tetua? Boleh Suro tau?"


"Saat nakmas Suro diserang muridku kenapa sikap nakmas tidak membalasnya? Malah justru sibuk mengoreksi gerakan muridku yang kurang sempurna?"


"Mengenai itu mohon maaf tetua jika sikap Suro membuat tetua tersingung karena terlihat sok pintar."


"Bukan, bukan itu maksudku. Justru aku kagum dengan sikap nakmas Suro yang tetap tenang menghadapi semua serangan muridku yang begitu ganas. Bahkan tidak sekalipun nakmas menyerang balik. Koreksi yang nakmas lakukan disela serangan Mahadewi membuat diriku dan Dewa pedang mengira kalian sedang berlatih."


"Selain itu tak terlihat kemarahan pada wajah nakmas. Karena sikap nakmas tetap begitu tenang, melayani setiap serangan dari muridku yang gampang tersulut emosi ini."


Mahadewi yang disinggung gurunya hanya bisa diam dan menundukan kepalanya karena menahan malu kepada Suro.


"Anu tetua. Mungkin karena sedari awal Suro sudah tau bahwa adinda Mahadewi ini salah satu murid utama yang ikut seleksi tetua muda. Selain itu kemungkinan kemarahan adinda disebabkan dari ucapan saya yang mungkin tidak mengena. Sehingga terjadi kesalah pamahaman yang menyulut kemarahan adinda Mahadewi dan membuatnya menyerang saya."


"Jadi ada faktor dari saya sendiri yang menyumbang kesalahpahaman tersebut. Membuat Suro tentu tidak pantas menyerang balik. Apalagi sesama satu anggota perguruan membuat Suro lebih baik menghindar. Selain itu tidak ada salahnya dalam kesempatan itu Suro gunakan untuk melatih ilmu meringankan tubuhku."


"Karena kecepatan adinda Mahadewi dalam menyerang lumayan bagus. Cuma agak disayangkan pencapaian kecepatannya yang sudah bagus kurang dibarengi dengan kematangan gerakannya."


"Hal itu membuat lidah saya gatal untuk memberikan koreksi kepada adinda. Tetapi sebelumnya saya mengucapkan mohon maaf karena beberapkali sempat melihat bagian tubuh adinda yang terbuka akibat robekan baju dibagian punggung. Menurut Suro yang melihat pertama kali merasa ada potensi berbahaya jika luka pada punggung adinda tidak segera diobati."


"Tetapi agar tidak terjadi kesalahpahaman semakin berlanjut. Maka Suro mencoba memastikan terlebih dahulu bahwa luka lebam yang dipunggung benar-benar membuat cidera jalur nadi atau bukan."


"Untuk memastikan itu tentu Suro membiarkan adinda Mahadewi mengerahkan tenaga dalam dengan jor-joran terlebih dahulu. Agar efeknya bisa terlihat secara kasat mata. Setelah Suro yakin bahwa memang lukanya telah menciderai jalur nadi. Maka buru-buru Suro mencoba mencari celah untuk menotoknya. Hal itu Suro lakukan demi menjaga agar tidak terjadi cidera yang lebih fatal."


"Kamu dengar sendiri Mahadewi bagaimana baiknya nakmas Suro kepadamu?"


"Nuwun injih guru. Murid mengaku khilaf telah membuat kesalahan dan berterima kasih kepada kakang Suro. Karena justru membalas serangan saya dengan sebuah pertolongan yang telah menyelamatkan jalan hidup Mahadewi."


"Sudah tidak mengapa tetua, juga kepada adinda Mahadewi. Tidak perlu dipersoalkan lagi, semua itu hanya sebuah kesalah pahaman."


Suro mencoba meredakan suasana yang mulai agak tidak terasa enak karena tetua kembali memplototi muridnya.


"Sudah tidak mengapa tetua yang terpenting cidera adinda sudah pulih. Justru jika adinda Mahadewi tidak menyerangku kemarin sore. Pasti akan lain ceritanya yang terjadi pada dirinya. Jika besok dia ikut pertarungan seleksi tetua muda tanpa terlebih dahulu diobati."


"Bisa dibayangkan apa yang terjadi padanya! Luka yang sudah dia derita pasti akan menimbulkan runtutan cidera yang lebih serius bahkan sangat berbahaya."


Dewi anggini terhenyak mendengar penuturan Suro yang sangat masuk akal dan menganguk-angukan kepala setuju dengan pendapatnya. Mahadewi juga ikut terkejut mendengar penjelasan Suro.


"Jadi tetua tudak perlu menyalahkan kejadian kemarin sore kepada adinda. Memang semua yang terjadi sudah garis takdir yang harus dijalani tetua."


Dek!


Tetua Dewi anggini dadanya serasa dihantam palu. Bukan karena kata-kata Suro yang terlihat dewasa dalam menyikapi kejadian. Bukan juga karena sikapnya yang begitu ksatria. Bukan pula karena pembawaanya yang membuat hatinya kagum dengan sikap pemuda didepannya itu. Bukan juga penjelasannya yang sangat masuk akal, bukan itu.


Tetua Dewi anggini hatinya serasa dipukul dikarenakan pada kata-kata terakhir Suro yang menyinggung garis takdir yang harus dijalani mengingatkan kata-kata terakhir kakang Sindunya sebelum menghilang dari hidupnya.


Entah mengapa sikap Suro yang menolong muridnya tanpa pamrih mengingatkan pada sikap kakang Sindunya. Bagaimana tidak muridnya yang menyerang Suro dengan begitu brutal. Justru dia tolong tanpa peduli bahwa orang yang dia tolong adalah orang yang begitu semangat ingin membunuhnya.


Sikap itu mengingatkan dirinya pada kejadian saat dia diserang puluhan pembunuh bayaran yang dikirim oleh kaisar. Dalam kejadian itu dia yang pingsan karena serangan satu jarum beracun tidak mengetahui kejadian berikutnya.


Setelah beberapa saat kembali siuman dia begitu histeris melihat gurunya sudah terbujur kaku dengan luka didadanya akibat tertembus senjata musuhnya. Akibat melihat pemandangan yang mengerikan itu membuat Dewi anggini menjadi kalap. Bahkan tidak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya sendiri.


Dia melihat satu sosok lelaki yang masih berdiri tegak menatap dirinya dengan begitu tajam. Membuat dia yakin bahwa lelaki itu adalah sisa dari pembunuh bayaran yang telah menghabisi gurunya. Apalagi dengan tatapannya yang begitu tajam dia yakin ada niat busuk pada lelaki itu. Dalam prasangkanya pasti lelaki itu sedang merencanakan sesuatu hal. Dia pasti berencana sebelum menghabisi dirinya akan merengut keperawananya terlebih dahulu.


Tentu saja dia tidak sudi jika hal itu sampai terjadi. Lebih baik dia memilih mati minimal mati bersama dengan orang yang telah membunuh gurunya tersebut. Segera dia mencecar serangan sekuat yang dia mampu dengan sisa tenaga yang dia miliki. Sebelum kesadarannya pelan-pelan menghilang dan kembali tubuhnya jatuh pingsan lagi.


Tetapi sebelum pingsan dia ingat bahwa lelaki itu tidak menyerang dia balik. Bahkan hanya menghindar dengan raut muka yang mensiratkan sebuah kecemasan. Dia masih ingat sebelum tubuhnya jatuh ke tanah tangan lelaki itulah yang menahannya. Dia masih mencoba menyerangnya sebelum efek racun dari jarum musuh membuatnya kembali tak sadarkan diri.


Setelah dia sadar dari pingsan selama tiga hari tiga malam dia menyadari pandangannya yang keliru terhadap lelaki yang dia serang sebelumnya. Dari cerita penduduk yang rumahnya dijadikan tempat singgah selama dia tidak sadar, justru lelaki itulah yang menolongnya.


Mengobati luka akibat jarum beracun pada tubuhnya. Beruntung dengan keahlian pengobatan yang dimiliki lelaki itu dapat menetralisir racun yang sudah terlanjur masuk kedalam tubuhnya.


Dan lelaki dalam angannya itu tak lain kakang Sindunya yang telah membuat dirinya berhutang nyawa berkali-kali. Sebab setelah itu serangan demi serangan yang menyasar kepadanya seakan gerombolan semut yang mendatangi gula. Seakan tak ada habisnya selama perjalanannya didaratan luas yang merupakan negeri tumpah darahnya.


Dan berkat kakang Sindunya semua pembunuh bayaran yang datang, walau semakin lama semakin bertambah tinggi tingkatanya. Selalu dapat dihabisi sebelum mereka dapat menyentuh meski hanya satu helai dari rambut miliknya.


Dewi Anggini hanya menatap Suro dan menarik nafas panjang sebelum kemudian dihembuskan. Sepertinya dia ingin melupakan kejadian yang kembali mengingatkan kepada kakang Sindunya.


"Apakah nakmas Suro sudah yakin cidera yang diderita muridku sudah benar-benar pulih?"


Kembali tetua Dewi anggini mencoba memastikan kondisi muridnya benar-benar pulih. Sebab jika tidak tentu akan sangat berbahaya bagi dirinya untuk mengikuti pertarungan besok pagi.


"Jangan khawatir tetua, tentu saja sudah pulih dan tidak akan membahayakan dirinya. Adinda Mahadewi dapat melanjutkan proses pertarungan besok dalam seleksi tetua muda perguruan."


"Iya nakmas Suro mohon maaf jika aku kembali memastikan hal tersebut. Karena dirinya masih harus meneruskan pertandingan lanjutan."


"Iya tetua tidak mengapa. Saya paham dengan maksut tetua memastikan hal tersebut. Tetapi sebisa mungkin adinda Mahadewi agar tidak terkena cidera ditempat yang sama untuk mengantisipasi hal yang buruk."


"Baik kakang Suro adinda akan berusaha mengingat pesan kakang."


"Terimakasih sudah mengingatkan hal itu." Mahadewi masih dengan malu menjawab perkataan Suro tanpa berani menatap wajahnya. Walau kadang sesekali mencuri padang saat Suro sibuk menjawab pertanyaan gurunya. Dia diam-diam dibuat kagum dengan sikap lelaki yang sekilas terlihat sedikit hitam seperti anak petani yang kebanyakan terkena sinar matahari.


Tetapi jiwa yang dimiliki lelaki yang berada dihadapannya itu telah membuka mata hatinya bahwa makhluk yang bernama lelaki tidak semuanya buaya.


***


Pertarungan tahap kedua dalam seleksi tetua muda pada pagi ini dihadiri dengan begitu banyak penonton. Bahkan dikarenakan antusias yang luar biasa dengan terpaksa mereka tidak diperkenankan masuk semua. Banyak yang merasa kecewa dengan keputusan tersebut.


Wasit pertandingan kali ini tidak dipimpin oleh Tetua La patiganna tetapi seseorang yang berlainan. Seseorang tetua yang dikenal dengan keterampilannya mengunakan senjata rencong. Namanya telah menggaung dari negeri sebelah barat Swarnabhumi sampai menyebrang jauh ke tanah Javadwipa.


Tetua itu memiliki julukan yang sama dengan julukan yang dipakai gurunya yaitu Dewa Rencong Dari Bukit Lamreh.