SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 286 Sosok Tidak Terduga



Hantu Laut memaki tanpa putus setelah Lodra tidak juga mau melepaskan dirinya. Padahal dia sudah beberapa kali mengecohnya dan melesat tanpa henti mencoba lepas dari kejaran api hitam yang selalu membuntutinya.


Namun sejauh apapun Hantu Laut mencoba menghindari, maka kobaran api hitam yang berwujud burung raksasa mampu menyusul dirinya.


"Ghooooaaaar...gheeerrrrhhhh!"


"Ghooooaaaar...gheeerrrrhhhh!"


Suara yang terdengar cukup keras keluar dari paruh api hitam yang sedang dikendalikan oleh Lodra. Reaksi yang dilakukan Suro setelah mendengar suara keras itu adalah tertawa sampai terpingkal-pingkal. Meskipun dia melakukan itu sambil menyerang lawan yang mengepungnya.


Padahal suara itu tidak memiliki arti dan terdengar tidak jelas. Tidak ada yang mengetahui alasan dari kelakuan Suro yang tertawa cukup keras.


Mereka mengira karena melihat Hantu Laut harus pontang-panting melesat dengan cepat kesana-kemari menghindari api hitam yang tidak berhenti mengejarnya.


'Perasaanku saja atau api hitam itu sepertinya bergerak sendiri, dan sepertinya terlihat marah kepada diriku,' Hantu Laut berdecak kesal sebab dirinya saja yang sedari tadi dikejar-kejar terus oleh Lodra.


Dia patut menaruh curiga sebab beberapa kali pasukan perguruan yang berada tidak jauh, justru dibiarkan saja. Api hitam itu seperti tidak memperdulikan pasukan musuh yang lain dan tetap memilih mengejar Hantu Laut.


'Sialan, siluman rendahan sepertimu hendak menjadikanku es balokan. Kau kira aku ini apa, siluman comberan? Aku adalah Lodra yang agung bukanlah sejenis dengan beruang kutub yang tinggal di gunung es!"


Makian Lodra yang merepet panjang lebar tanpa putus mengiringi lesatan Sang Hyang Garuda. Lodra begitu kesal kepada Hantu Laut yang telah memenjarakan dirinya dalam gunung es. Makian panjang itulah yang membuat Suro tertawa terpingkal-pingkal cukup panjang.


Hantu Laut sesungguhnya ahli ilusi kekuatan terhebatnya adalah perubahan air-es yang pernah diperlihatkan saat menghadapi serangan Suro, yaitu jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda.


Karena wujud asli dari Hantu Laut adalah sebangsa makhluk yang kadang disebut sebagai siluman air. Tubuh aslinya itu transparan, karena memang seluruhnya berupa air. Mungkin tidak jauh berbeda dengan bentuk tubuh amoeba yang mirip agar-agar, namun dalam ukuran raksasa atau mungkin sedikit mirip dengan tubuh ubur-ubur yang transparan.


Tanpa diketahui oleh Lodra, sesungguhnya sosok Hantu Laut yang sedari tadi dikejar-kejar adalah tubuh palsunya. Apalagi Lodra dalam keadaan murka yang sudah sampai puncaknya. Jika dia punya jidat mungkin jidatnya sudah mendidih.


Kondisi itu membuat dia tidak sempat lagi berpikir jernih. Tanpa berpikir panjang saat Hantu Laut terpojok, maka Lodra langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menelannya dalam kobaran api hitam. Dalam sekejap tubuh palsu itu menguap tanpa jejak.


Lodra tidak menyadari hal tersebut, namun Suro menangkap kejanggalan tersebut. Dia segera menyadari jika Hantu Laut yang dikejar Lodra bukanlah tubuh aslinya. Karena itulah dia mencoba mencari tubuh yang asli dari Hantu Laut.


Walaupun dia melakukan itu sambil mengendalikan Naga Api miliknya dan juga sambil menyerang pasukan yang mencoba mendekatinya dengan jurus Tapak Selaksa Dewa Racun.


Tubuh Suro kini dilingkupi kabut beracun, sepertinya dia hendak melawan racun dengan racun. Meskipun pihak musuh tidak menganggap seperti itu, sebab dua makhluk ciptaannya yang bergerak seperti memiliki nyawa itu tidak mampu dihabisi jika hanya mengandalkan ilmu racun mereka.


Naga api maupun Sang Hyang Garuda yang terus menghancurkan pasukan musuh, tentu tidak akan bereaksi jika di serang dengan ilmu racun mereka. Pengalaman Suro saat menghadapi Perguruan Racun Neraka memberikan inspirasi bagi Suro untuk menggunakan dua makhluk itu.


Dan itu terbukti dengan kemampuan yang diperlihatkan dua makhluk itu, sebab dengan amukan mereka belum ada yang berhasil menghentikannya. Bahkan Hantu Laut yang sebelumnya berhasil mengunci sekalipun memilih kabur.


Apalagi kekuatan Hantu Laut yang telah mengerahkan dua tehnik sihir untuk memenjarakan Lodra sebelumnya telah menguras kekuatan miliknya cukup banyak.


'Dimana tubuh asli dari Hantu Laut aku tidak dapat menemukannya? Begitu juga dimana keberadaan siluman gurita setelah sebelumnya terhantam jurus milikku?”


Pertanyaan tentang siluman Gurita sebenarnya juga digumamkan oleh Hantu Laut yang bersembunyi setelah mampu menipu Lodra.


'Kurang ajar siluman Gurita itu berani kabur dari Medan pertempuran. Aku sangat yakin tubuhnya tidak akan hancur? Karena aku masih sempat melihat jika dia sudah melindungi dirinya dengan jurus pertahanan tempurung Dewa Kura-Kura.' Hantu Laut yang belum mampu memulihkan kekuatannya dan memilih bersembunyi dari kejaran Lodra yang murka, berharap mendapatkan pertolongan dari Siluman Gurita Cincin Biru.


Harapan Hantu Laut tidak sia-sia, sebab selang tidak beberapa lama muncul manusia yang memiliki lengan tangan berjumlah enam buah. Disetiap lengannya tergenggam sebuah bilah pedang hitam.


Siluman gurita itu muncul begitu saja secara tiba-tiba didekat Dewi Kematian dan siluman ular. Setelah itu ada sosok lain yang juga muncul. Para tetua yang ada didekat kejadian itu terlihat cukup kaget.


Setelah siluman gurita ada sosok lain yang muncul seperti berasal dari kabut. Sejak awal pertempuran hutan yang menjadi medan pertempuran, akhirnya hancur lebur. Namun kabut yang menyelimuti hutan itu tidak juga hilang, meskipun hanya sedikit tipis.


Kabut itu sebenarnya cukup beracun, namun Suro dan lainnya masih mampu mengatasinya dengan Pill penawar racun yang mereka miliki.


Kabut didekat siluman Gurita mulai berputar dan membentuk butiran-butiran es semakin banyak dan segera membentuk sesosok tubuh manusia.


"Hantu Laut apa kau cukup ketakutan, sehingga tidak berani memperlihatkan wajahmu?”


"Tutup mulutmu, memang kau kira aku tidak mengetahui, jika dirimu juga bersembunyi dari bocah itu!" Sosok yang terbentuk dari butiran es dari kabut adalah tubuh asli Hantu Laut.


"Hahaha...! Sialan bocah ingusan itu telah menghancurkan enam lenganku yang melindungi tubuhku. Beruntung aku telah mempelajari ilmu milik Raja siluman Kura-kura yang telah aku bunuh. Jika tidak aku pasti sudah musnah terkena jurus milik bocah itu."


"Aku memerlukan waktu untuk memulihkan seluruh lenganku yang hancur dengan menggunakan ilmu milik siluman Salamander. Lihatlah akhirnya aku berhasil menumbuhkan kembali seluruh lenganku. Aku harus memulihkan lenganku terlebih dahulu jika ingin menghadapi lawan sekuat ini. Jika tidak, maka sama saja aku seperti bunuh diri."


"Serangan jarak jauh sepertinya tidak mampu menghabisi bocah itu, kali ini kita harus mendekatinya. Semua sebaiknya bergerak serentak serang bocah sialan itu!"


Suara Hantu Laut segera dilaksanakan oleh mereka semua. Mereka segera bergerak serentak. Dewi Kematian memimpin para tetua ikut menyerbu Suro. Kali ini mereka berencana menghabisi Suro dengan serangan jarak dekat.


**


"Lodra Kembali!" Setelah melihat musuh bergerak serentak hendak menyerang dirinya dalam jarak dekat Suro segera berteriak memanggil Lodra.


Setelah merasa berhasil menghabisi Hantu Laut, walaupun sebenarnya itu adalah tubuh palsu Lodra segera mencari sasaran lain dan mulai menghancurkan pasukan musuh sebanyak yang dia bisa.


Mendengar perintah Suro wujud api hitam itu lalu lenyap. Bersama Lodra kekuatan api hitam itu kembali kepada bilah pedang yang tergenggam ditangan tuannya. Suro memutuskan meminta Lodra sebab dia hendak berjaga-jaga dari kemungkinan buruk. Sebab dia kini telah dikepung oleh musuh kuat.


Siluman Gurita yang memiliki enam lengan tangan mulai memainkan pedang yang tergenggam disetiap lengannya itu.


Suro segera mengerahkan puluhan bilah pedang yang tergantung dipundaknya. Pedang-pedang itu melesat menyerang musuhnya.


Siluman Gurita tidak menyangka tehnik pedang terbang Suro begitu cepat. Dia yang mengenal siluman laba-laba tidak terkejut musuhnya dapat mengerahkan bilah pedang yang cukup banyak. Namun dia terkejut kecepatan gerakan pedang terbang Suro beberapa tingkat lebih cepat dibandingkan jurus milik siluman Laba-laba. Dia terpaksa tersurut beberapa kali untuk menghancurkan formasi pedang yang dikerahkan Suro.


Selain mengerahkan puluhan pedang terbang miliknya, Suro juga mengerahkan ilmu sedulur papat. Tubuhnya memecah, kini ada empat sosok lain yang menyerupai dirinya.


Walau setiap sosok yang muncul itu memiliki warna kulit yang berbeda-beda. Wajahnya ada yang berwarna putih, kuning, merah dan yang terakhir adalah hitam.


Hantu Laut yang seorang ahli ilusi menganggap apa yang dilakukan Suro adalah bagian dari ilmu ilusi. Karena itu dia segera memberi arahan kepada yang lain mengenai ilmu yang dikerahka Suro.


Disaat puluhan tetua yang dipimpin siluman gurita menghadapi puluhan pedang terbang yang dikerahkan Suro, maka Hantu Laut menyerang dari sisi lain bersama siluman ular dan Dewi Kematian.


"Itu adalah sihir ilusi! Jangan terperdaya dengan pecahan tubuh lainnya! Serang tubuh aslinya saja!"


Suro sebelumnya berada diketinggian, namun melihat musuhnya bergerak hendak menyerang dari jarak dekat, dia kemudian memilih turun ke permukaan tanah.


Mendengar perintah dari Hantu Laut Suro tersenyum.


"Benarkah mereka hanyalah tubuh ilusi? Purbangkara serang makhluk itu!"


Empat penjaga gaib yang dikerahkan Suro itu memiliki kemampuan yang berbeda. Setiap satu sosok itu menguasai satu dari bagian catur maha bhuta. Purbangkara menguasai unsur Teja atau api, Tirtanata menguasai apah atau air, Warudijaya menguasai perthiwi atau tanah , Sinotobroto menguasai Bayu atau angin.


Mereka berempat juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nava Dikpala atau penjaga empat sisi. Disebelah Utara Warudijaya mewakili Sang Hyang Antaboga yang menguasai kekuatan perubahan tanah.


Purbangkara yang berada di selatan mewakili Batara Brahma yang menguasai unsur api terkuat.


Tirtanata yang berada di sisi timur mewakili Batara Baruna yang menguasai laut sungai dan danau.


Sedangkan Sinotobrata yang berada di wilayah barat mewakili Batara Bayu yang merupakan penguasa angin.


Mendengar perintah Suro Purbangkara segera melesat ke arah Hantu Laut. Tubuh dari Purbangkara segera diselimuti oleh api.


"Api lagi, sialan!" Hantu Laut segera mengerahkan tehnik perubahan air-es miliknya. Tetapi kali ini dia berubah kedalam wujud siluman air yang asli. Tubuhnya itu menjulang tinggi seperti sebuah agar-agar.


Saat Purbangkara menyerang Hantu Laut, secara bersamaan penjaga gaib yang lain juga langsung bergerak secara bersamaan. Tirtanata melesat menyerang siluman ular, Warudijaya menyerang Dewi Kematian.


Dan yang terakhir adalah Sinotobrata penguasa angin itu memilih menyerang para tetua dan siluman gurita. Dialah yang mengendalikan jurus pedang milik Suro dan melambari setiap bilah pedangnya dengan penguasaan unsur angin. Sehingga kekuatan jurus itu semakin kuat.


"Coba katakan sekali lagi jika mereka hanyalah tubuh ilusi! Hahahaha...!"


Suro sendiri sebenarnya sedang menunggu sosok yang telah dia rasakan ke hadirannya. Sosok itu begitu kuat, karena itulah dia mencoba menahan yang lain terlebih dahulu.


**


Sosok yang ditunggu oleh Suro juga dirasakan oleh eyang Sindurogo. Eyang Sindurogo langsung menyadari hawa kegelapan yang sangat kuat. Selain mereka berdua Geho sama juga merasakan hal itu. Karena mereka bertiga menguasai ilmu empat Sage, sehingga merasakan kekuatan yang tidak seperti makhluk lainnya.


Sebelumnya bersama Dewa Rencong, akhirnya mereka berhasil menghabisi siluman Kelabang dan siluman Katak.


Pasukan musuh kali ini tidak berani mendekat. Mereka bertiga juga tidak berniat menghabisi musuh kecuali mereka menyerang.


"Muridmu apakah sejak dulu memang sinting seperti itu?" Dewa Rencong menatap eyang Sindurogo yang masih menatap muridnya dikejauhan.


"Maksutnya?"


"Lihatlah sejak dia dikeroyok sebegitu banyaknya musuh dia terus tertawa, seperti yang kita lihat! Apakah urat takutnya sudah putus? Sebab berkali-kali pertempuran yang aku lewati bersamanya tidak sedikitpun tersirat ketakutan diwajahnya!"


"Mungkin saja." Eyang Sindurogo menjawab pertanyaan Dewa Rencong sambil menggaruk-garuk dagunya yang sudah bersih dari jenggot panjangnya.


Setelah dicukur habis, maka terlihat wajah pendekar itu masih seperti orang yang masih berumur tiga puluhan tahun. Dia melakukan itu sesuai permintaan Dewi Anggini.


"Maksudnya memang dia sedikit sinting?" Dewa Rencong kembali bertanya dengan begitu antusias.


"Maksutku angger Suro memang tidak kenal rasa takut." Saat menjawab itu raut muka Eyang Sindurogo segera berubah.


"Gawat, kita harus segera membantu angger Suro!"


Mereka segera menyadari alasan dari ucapan eyang Sindurogo barusan. Sebab tiga sosok secara berturut-turut telah hadir di tengah Medan pertempuran. Mereka bergerak menuju ke arah Suro. Dari kejauhan terlihat jika pemuda tanggung itu masih sibuk menghadapi musuh.


"Siapa yang bersama Batara Antaga dan Batara Karang itu?" Dewa Rencong menatap ke arah tiga sosok itu dengan wajah yang menunjukkan kengerian yang luar biasa, begitu juga Geho sama yang tidak mengucapkan sepatah kata pun karena begitu terkejut.


"Dia adalah Dewa Kegelapan."